
Pertanyaan Hesti malah dibalas dengan ledekan dari Tiara. Membuat gadis itu merenggut kesal.
" Ih apaan sih Ara ? nanya doang juga ".
Tiara tertawa renyah mendengarnya.
" Iya deh, iya kemarin ada Rio juga di Sorong bareng kak Zian. Nggak tahu mereka udah balik atau belum. Soalnya nggak ada info apa-apa". jawab Tiara akhirnya.
" Oh gitu ya, . . . sebenarnya aku mau curhat nih sama kamu Ra' . . . tapi janji nggak ledekin aku lagi ya . . ."
" Iya nek, tenang aja aku bakal dengerin baik-baik kok".
" Em . . . jadi gini, mungkin kamu pernah dengar awal mulanya aku kenal sama Rio kan? sewaktu motor aku mogok malam itu. Nah setelah itu aku merasa Rio tuh diam-diam sering merhatiin aku . . . awalnya aku cuek aja karena aku pikir mungkin akunya aja yang baper jadi respon aku ya biasa aja. Eh, kemarin malam ada nomor baru yang nelpon dan ternyata itu si Rio. Trus katanya ada yang mau diomongin sama aku tapi nggak bisa lewat telepon. Jadi dia nunggu aku balik dulu. Gimana menurut kamu Ra' ?"
Tiara manggut-manggut seolah sedang berhadapan dengan sahabatnya.
" Kalo gitu kamu bukannya baper sih tapi emang bener Rio tuh mungkin aja suka sama kamu, jadi lagi nyari cara buat pedekate gitu. Nggak apa-apa sih ketemu dulu, dengerin aja dulu apa yang mau diomongin".
" Aku juga mikirnya gitu sih, ya udah nunggu aku balik aja baru ketemu. Btw, makasih yaa ".
" Iya sama-sama, jangan lupa oleh-oleh ya, hehehe. . . "
" Tenang aja, untuk kamu dan Dhilla udah disiapin dari kemarin. Semoga nggak lupa dibawa aja ".
" Awas ya kalo lupa ".
" Diusahakan nggak, hehehe ".
" Ya udah Ra, sampai ketemu lusa ya".
" Oke,, bye".
" Bye ".
\*\*\*\*\*
Seperti yang dikatakan Hesti, hari ini dia kembali dan ikut penerbangan pertama.
Rupanya ia sudah tak sabar untuk segera sampai di kota itu.
Dan begitu menginjakkan kaki di bandara, ia dikejutkan dengan munculnya Rio dihadapannya.
" Selamat datang kembali nona Hesti". sapa cowok yang saat ini sedang menjadi trending topik di benaknya.
Rio berdiri di hadapannya dengan senyuman terukir di wajah tampannya.
" Makasih Rio, kebetulan banget ketemu di sini. Mau jemput siapa Rio ?" tanya Hesti seraya balas tersenyum.
" Mau jemput belahan jiwa gue dong". jawab Rio blak-blakan manik matanya menatap lekat gadis itu.
Duh kenapa liatin aku kaya' gitu? bisa pingsan nih. keluh Hesti dalam hati.
" Ya udah, kalo gitu aku pergi dulu. Semoga bertemu dengan dengan yang dicari ya". pamit Hesti dengan nada kecewa. Ia tidak peka dengan maksud Rio tadi.
" Tunggu Hes, kok main kabur aja? kan udah gue jemput". ujar Rio membuat Hesti tersadar kalau belahan jiwa yang dimaksud Rio adalah dirinya.
Gadis itu tak jadi melanjutkan langkahnya. Ia hanya terdiam mematung. Getaran aneh mulai menjalari hatinya hingga membuat pipinya merona merah.
" Hesti gue datang ke bandara buat jemput lo doang, bukan yang lain". tambah Rio sambil mendekat ke arahnya.
" Em . . kalo gitu anterin aku pulang skalian !" ujar Hesti setelah berhasil menguasai hatinya kembali.
" Iya, tapi kita makan dulu ya soalnya gue nggak sempat sarapan tadi, khawatir telat jemput lo".
" Oke ". jawab Hesti tersenyum senang.