
Setelah selesai makan malam bersama, mereka berbincang-bincang di ruang keluarga.
Papa memberi hadiah pada mereka sebuah villa mewah di kawasan kota B dan juga mentransfer sejumlah uang untuk melakukan perjalanan, mereka bebas kemanapun yang mereka inginkan. Tak mau kalah... Kak Dimas memberinya mobil mewah edisi terbatas yang sudah dia pesan jauh-jauh hari setelah tahu pernikahan adiknya. Kemudian, Mama... beliau tidak memberi hadiah pada Leo, tapi beliau memberi hadiah pada Yuna. Memperhatikan Yuna, beliau tahu jika Yuna bukan perempuan yang hobi mengoleksi perhiasan dan bahkan tidak memakai secara berlebihan. Yuna, wanita yang santai dengan gaya yang sederhana dan natural. Jadi... Mama memberinya sebuah anting berlian berwarna hijau. Bentuknya menyerupai buah pir dengan hiasan batu zamrud dibagian tengahnya, modelnya terlihat sederhana namun menawan, itu sangat cocok dengan karakter Yuna yang cantik dan rendah hati.
Setelah berbincang-bincang ringan di ruang keluarga. Papa, Kak Dimas dan Leo pergi keruang belajar. Hanya tinggal Yuna dan Nora di ruang keluarga. Nora duduk di sebelah Yuna.
"Yuna... aku minta maaf atas sikap ku pada mu," Nora berujar dengan pelan.
"Tidak apa-apa Kak... itu sudah berlalu."
"Aku merasa sangat keterlaluan pada mu, dan terlebih pada Lee," Nora sedikit menunduk. "Aku mencintainya jauh sebelum kau datang. Dia adalah seseorang yang menyelamatkan ku pada kecelakaan di atas puncak ketika aku dan teman-teman melakukan pendakian. Dia bahkan menggendong ku untuk turun kebawah. Aku tahu, dia melakukannya hanya karena aku adalah teman Kiara, dia melakukan itu untuk Kiara, dia mau menggendong ku karena Kiara yang memintanya. Dan ternyata... setelah itu, aku mulai jatuh cinta padanya. Aku menyukainya dengan diam-diam dan terus mencintainya. Persahabatan ku dengan Kiara hancur karena aku memiliki perasaan itu pada Lee. Lama kelamaan perasaan ku padanya tidak hanya sekedar diam-diam, aku sangat ingin memilikinya atau paling tidak, aku bisa terus melihatnya. Dia sangat sulit untuk di dekati. Yuna..," Nora mengangkat wajahnya dan menatap Yuna dengan bersahabat. "Yuna, aku tahu perjuangan mu mendapatkan hati Lee tidak mudah. Laki-laki itu sedari dulu tidak pernah tertarik dengan wanita manapun selain Kiara. Dan saat ini, kau berhasil memiliki hatinya. Yuna... sejuah yang ku tahu, ketika Lee mencintai seorang wanita, maka dia akan sangat mencintainya, mencintai wanita dengan jiwanya. Kiara adalah masa lalunya, saat ini, kamu adalah wanitanya. Aku berharap kalian bahagia selamanya tanpa ada penganggu...,"
Yuna mengangguk dan mengamini dalam hatinya, dia tersenyum dan mengusap perut Nora dengan lembut. Masih belum terlihat karena baru sebelas minggu.
"Mari berteman mulai saat ini Kak Nora...," Yuna mengulurkan tangannya. Nora tidak membalasnya, tapi sebagai gantinya dia langsung memeluk Yuna. Mereka saling berpelukan dengan hati yang tenang dan damai.
"Aku ketinggalan...," Neva datang dan langsung duduk di antara mereka berdua. Dia dengan penuh cinta mengusap perut Nora, rasanya tak sabar lagi ingin menggendong keponakan.
"Sayang sudah malam, kau harus istirahat lebih awal," Dimas datang dan membawa Nora untuk istirahat. Tak lama, Leo datang dan langsung menjatuhkan dirinya di sofa. Dia memeluk istrinya dengan manja dan mencium pipi Yuna dengan gemas.
"Aahh... kaki ku sangat pegal," Leo dengan sengaja menyelonjorkan kakinya. "Hei... adik bandel, pijitin," perintahnya pada Neva. Neva menatapnya dengan cemberut, namun dia segera berdiri.
"Baik paduka," jawabnya patuh. Biar bagaimanapun, dia sudah janji pada Kakaknya untuk menjadi adik yang manis.
"Hei, kenapa kau begitu patuh? Ini bukan seperti diri mu Neva," Yuna merasa heran.
"Aku menyelamatkan nyawanya, jadi dia akan melakukan apapun yang ku inginkan," Leo langsung menjelaskannya.
"Waaahh, kau keren sayang. Apa itu juga berlaku pada ku?"
"Okey...," Yuna kemudian ikut menyelonjorkan kakinya. "Tolong sekalian Neva," ucap Yuna dengan tawa kecil.
"Baik permaisuri...," Neva menjawab dengan kesal. "Oh ya ampun... kalian adalah pasangan yang sangat kompak dalam membully adik sendiri," tangan Neva mulai memijit kaki Leo namun mulutnya tak berhenti mengomel.
***@***
Mereka telah kembali ke rumah pagi buta. Bi Sri sangat bahagia dengan kehadiran Yuna.
Pagi hari setelah selesai sarapan.
"Sayang, kau mau kemana hari ini?"
"Umm... belum ada rencana."
"Maaf tidak bisa membawa mu ke kantor. Banyak yang harus dikerjakan. Jadi, aku takut kamu akan bosan disana."
"Kau tak perlu khawatir, aku mungkin akan tidur seharian di rumah, hehehe."
Leo mengusap rambutnya dengan perhatian.
"Kau tidak boleh lagi menggunakan taksi, ada supir yang akan mengantar mu. Kau mengerti?"
"Huum" Yuna mengangguk. Leo meninggalkan ciuman di keningnya dan kemudian segera berangkat.
Yuna menonton kartun di pagi hari. Kartun kotak berwarna kuning, si Spongebob dan Patrick yang sedang tertawa dengan kelucuan yang mereka buat. Yuna tersenyum menyaksikan itu, kemudian, dia segera menggantinya.
***@***