
Neva pulang dan langsung berlari kecil untuk masuk ke dalam. Dia langsung menuju ruang keluarga, tapi ketika kakinya tepat berada diujung ruangan ia berhenti dan mematung. Entah kenapa dia merasakan ada sesuatu yang berbeda dihatinya ketika melihat Yuna. Yuna tidak lagi murni dalam pandangan matanya, Yuna tidak lagi begitu sempurna dalam kekaguman dihatinya. Bagaimana bisa seseorang yang telah menikah memiliki hubungan dengan laki-laki lain.
Neva menggeleng pelan, ia mencoba menampik apa yang dia pikirkan, namun tetap saja, ada yang berubah dalam pandangannya pada Yuna.
"Neva...," Mama langsung memanggilnya ketika menyadari keberadaannya. Mama melambai dan memamerkan sesuatu ditangannya. Kebahagiaan langsung terpancar dimatanya, dia berjalan cepat dan langsung mengambil sesuatu itu dari tangan Mama. Gambar calon ponakan yang masih berupa gumpalan darah. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangannya, hatinya dibanjiri kebahagiaan melihat ini.
"Baby Lee..." gumamnya. Dia memutar pandangannya untuk menatap Leo dan Yuna secara bergantian. "Kakak...," dia duduk disamping Leo dan memeluknya.
"Hmm, Tante kecil...," ucap Leo menepuk pundaknya pelan. Neva kemudian melepas pelukannya dan melongokkan kepalanya untuk menatap Yuna, dia mengulurkan tangannya dan Yuna langsung membalasnya.
"Selamat Kak Yuna," ucapnya samar namun Yuna memahami ucapnya. Ia mengangguk dengan senyuman. Yuna menatapnya dari tempat duduknya. Neva yang duduk disamping Leo. Yuna sedikit menyadari sesuatu yang terasa aneh antara dirinya dan Neva. Dia tahu bagaimana Neva, mendapat kabar ini... Neva yang biasanya pasti akan melompat dan memeluknya, tidak hanya menjabat tangannya saja.
_Mereka duduk berhadapan digazebo ditaman samping. Saat ini waktu menunjukkan pukul 23.00. Leo lebih dulu memastikan Yuna tertidur sebelum dia mengajak Neva berbicara empat mata.
Leo dengan perhatian menatap adiknya. Dengan tenang, ia menyampaikan bahwa dia tidak lagi melarang Neva jika ingin bersama Vano, dia tidak lagi menghalangi kisah mereka, dia tidak lagi menjegal perjalanan cinta mereka. Dia dengan rela memberikan restunya.
Neva membalas tatapan mata Kakaknya dan tersenyum
"Kakak, bisakah kau ceritakan hubungan kalian bertiga?" ucap Neva dengan tenang.
"Apa maksud mu?" kening Leo berkerut tanda dia belum memahami kemana arah pertanyaan Neva. Namun, terlintas dengan cepat dalam fikirannya bahwa ini adalah hubungan Yuna dengan Vano. Dia menatap Neva dengan tajam, menunggu gadis kecil itu berbicara.
"Kak Lee begitu marah padaku, Kakak berbicara dengan nada tinggi dengan Mama. Kak Lee bahkan tidak ingin menginjakkan kaki di rumah ini lagi. Itu karena Kak Yuna bukan?" Neva bertanya dengan pasti. Leo menatapnya dan langsung tertawa.
"Kau terlalu pandai membaca keadaan anak kecil," ucap Leo. Dia menyesap teh hangat dicangkirnya.
"Jadi... bisakah Kak Lee ceritakan sekarang?"
"Itu hanya masa lalu. Aku sudah melupakannya, begitu juga dengan Yuna dan mungkin juga dengan Vano. Jika dia membuka hatinya untuk mu, itu berarti dia sudah melupakannya bukan?
"Kak Yuna menghianati mu?"
Leo terdiam pada pertanyaan ini, wajahnya berubah menjadi muram. Dia mengambil nafasnya panjang dan mengeluarkannya dengan lembut.
"Tidak," jawabnya. Pandangannya beralih, dia menatap lampu taman dan juga kilauan air danau. "Aku yang salah. Kau tahu sendiri bagaimana awal aku menikahinya. Dia pasti menjadi wanita yang paling menderita di dunia ini. Itu salah ku," lanjutnya.
Neva mengangguk. Dia menunduk dan mengusap wajahnya dengan tangan kanannya.
"Apa yang kau pikirkan?" Leo menatapnya. "Itu masa lalu dan kita telah berdamai dengan semua keadaan itu."
"Tapi masa lalu tidak akan pernah bisa diubah Kak Lee," Neva langsung menyahutnya, dia masih menunduk.
"Tapi kita berpijak pada hari ini Neva, dan kita melangkah kedepan."
"Tapi masa lalu tetap menjadi bayangan Kak Lee."
"Apa yang kau khawatirkan? Kau mencintainya bukan? Kau bilang sudah sangat lama menyukainya, kau bilang penantian mu hampir finis dan saat ini aku memberikan restu ku. Apa yang kau khawatirkan?"
"Kalian bertiga."
"Neva... semua orang memiliki masa lalu bukan? Tak terkecuali kita bertiga. Itu akan terhapus dengan sendirinya."
"Aku masih belum bisa membayangkannya. Pikiranku kacau," Neva menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kedua sikunya bertumpu pada meja kayu eksotik Ebony. Leo menarik nafasnya panjang dan mengusap pundak Neva dengan perhatian. Adik kecil yang selalu ceria kini begitu muram dan menyimpan kesedihan di wajahnya.
"Kita sudah melupakan semuanya Neva. Jadi... jika kalian saling mencintai, teruslah bersama," Leo berkata dengan rendah dan lembut. Dia ingin Neva bahagia.
"Kak Lee...," Neva mengangkat wajahnya. Sepanjang bola matanya menatap Leo dengan dalam. "Bagaimana jika yang menjadi istri Kak Dimas adalah Kiara?" tanya Neva dengan penekanan. Leo tersentak dengan pertanyaan yang diajukan oleh Neva.
"Apa Kak Lee akan bisa mengatasi perasaan Kakak? Apa Kiara akan begitu saja menatap mu seolah tidak pernah terjadi sesuatu? Apa Kak Dimas bisa menahan rasa cemburunya? Apa Kak Yuna akan bisa mengendalikan rasa khawatirnya. Apa kalian berempat akan selalu baik-baik saja? Apa akan berjalan tanpa kecanggungan dalam keluarga?"
"Jangan hiraukan aku. Ketika kau menikah... kau akan keluar dari rumah ini dan ikut dengan suami mu. Kita hanya akan bertemu sesekali."
"Kau tetap Kakak ku yang paling bodoh," ucap Neva terkekeh. Leo langsung menjitak kepalanya. "Kak Lee... aku bukan dirimu yang akan buta dengan apapun ketika jatuh cinta. Keluar dari rumah ini dan ikut suami? Mengabaikan mu? Apa kau bergurau? Apa kau pikir, hubungan keluarga hanya sebatas itu? Ketika aku menikah, aku tetap adik mu. Kau, tetap Kakak ku. Jika aku merindukan mu... aku akan berkunjung kerumah mu, Jika kau merindukan ku, kau akan berkunjung kerumah ku. Jika Mama merindukan kita, kita berdua akan mengunjunginya. Lalu... apa itu akan mudah dengan kisah kalian bertiga?"
Leo beranjak dari duduknya. Dia berpindah dan duduk disamping Neva. Tangannya terangkat untuk diletakkan dipundak adiknya dengan lembut, ia merangkulnya.
"Maafkan aku...," ucapnya pelan pada Neva. Neva mengigit bibirnya, dia memeluk Leo dan menangis. Leo menjadi sangat bersedih dan bersalah dengan ini.
"Kenapa aku malah membuat mu menderita," ucapnya tercekat, ia mendekap Neva yang menangis sesenggukan. "Kita akan selalu baik-baik saja. Jangan mengkhawatirkan apapun. Kau hanya perlu memikirkan perasaan mu dan hidup bahagia dengan orang yang kamu cintai dan mencintai mu. Tentang perasaan ku... itu tidak penting. Kau pernah bilang pada ku bahwa kau melepaskan perasaan mu, demi aku. Sekarang, aku melepas ego ku demi kamu. Selama dia bisa mencintai mu dengan tulus, selama dia bisa melindungi mu dengan baik... Aku akan merestui dengan sepenuh hati. Sekarang terserah kamu... berhenti atau tetap memilih bersamanya."
"Kak Lee...,"
"Hmm?"
"Kakak pernah mencintai Kiara begitu dalam, kalian pernah saling mencintai satu sama lain. Jika Kiara menjadi Kakak ipar mu, apa itu akan mudah?"
"Apakah kalian bertiga bisa mengatasi perasaan kalian?"
"Tentu saja, kenapa tidak? Ayolaah... berhenti berdebat dengan ku," Leo melepaskan pelukannya dan memberi Neva tissue. "Intinya adalah... aku sudah memberi mu restu. Sekarang terserah pada mu. Kau mau berhenti atau tetap bersamanya," Leo menepuk pundaknya pelan. "Aku tidak ingin berlama-lama di sini. Rasanya aku hampir gila karena merindukan istriku," ucap Leo dengan tawa ringan. Neva mengusap hidungnya dan memukul bahu Kakaknya dengan kencang.
"Keterlaluan...," ucapnya. Sudut bibirnya mulai terangkat menjadi senyuman. "Rasanya, aku ingin menculik Kak Yuna dan menyembunyikannya dari mu, agar kau mati mengenaskan."
"Jika kau sampai berani melakukannya, aku akan menghantui mu setiap hari gadis kecil...," Leo menempatkan kedua tangannya disamping wajahnya dan membuat matanya melotot. "Mana istriku... mana istriku...," ujarnya dengan suara mirip hantu. Itu langsung membuat Neva tertawa terbahak-bahak. Leo bahagia melihatnya tertawa kembali. Negara ini sangat luas, dan bahkan dunia ini teramat luas tapi kenapa terasa sangat sempit.
Leo beranjak dari duduknya.
"Ayo."
"Kak Lee duluan saja. Aku masih ingin disini."
"Okey."
Leo berbalik untuk melangkah meninggalkan Neva. Dia segera mempercepat langkahnya agar segera sampai pada istrinya.
Dengan sangat pelan dan hati-hati, Leo membuka pintu kamarnya. Dia melangkah masuk dan menutup pintu kembali. Tapi tak ada Yuna diranjangnya, dia melangkah menuju kamar mandi, berdiri didepan pintu.
"Sayang, apa kau di dalam?" dia bertanya dengan rendah.
"Iya...," jawab Yuna dan tak lama dia membuka kamar mandi dan keluar.
Leo menatapnya dengan senyum lalu membawanya ke atas ranjang.
"Kau terbangun?"
"Huum, aku ingin buang air kecil. Ini sudah yang keempat kalinya," jawab Yuna. Leo mengusap rambutnya dengan kasih yang melimpah, ia mencium kening Yuna.
"Tidur mu bahkan tidak bisa nyenyak," Leo menatapnya dengan kasih. Yuna tersenyum dan memeluknya.
"Ini sangat indah Tuan suami, menikmati setiap prosesnya begitu membahagiakan. Hatiku... menjadi sangat bahagia."
Kemudian, Yuna memutar badannya menjadi membelakangi Leo, ia meletakkan kepalanya di lengan kiri Leo. Sementara tangan kanan Leo menyusup kedalam piyamanya dan mengusap perutnya dengan sangat lembut dan hati-hati.
"Sekarang tidurlah."
"Sayang," panggil Yuna pelan.
"Hmm."
"Apa kau baru saja berbicara dengan Neva?"
"Iya."
"Kau merestuinya kan?"
"Iya."
Mendengar jawaban itu membuat bibir Yuna tersenyum bahagia. "Terima kasih sayang," ucapnya.
"Hmm, sekarang tidurlah. Jika kau ingin ke kamar kecil lagi, bangunkan aku."
"Apa hubungannya?" tanya Yuna. Ia menaikkan alisnya, dia merasa aneh dengan permintaan Leo. Itu hanya kekamar kecil, kenapa sampai harus membangunkannya.
"Aku tidak akan membiarkan mu terbangun sendirian."
Hati Yuna langsung meleleh mendengar jawaban Leo. Bibirnya tersenyum lebar dan sangat terharu.
"Aaah, Tuan suami... kau manis sekali," ucapnya.
Kemudian, kelompok matanya menutup dengan pelan. Berada di dalam pelukan suaminya membuat dirinya sangat tenang.
Leo memejamkan matanya namun tidak tidur.
Jika Vano menjadi adik iparnya, apakah sungguh tidak akan ada kecanggungan? Apakah mereka berempat akan bisa dengan mudah mengatasi itu? Nora dan Kak Dimas. Leo menjadi tidak begitu nyaman bertemu Kak Dimas karena Nora lalu mereka menjadi jauh.
Setelah memastikan Yuna tertidur, dia beranjak dengan pelan dan pergi ke kamar mandi. Ia membasuh dirinya dibawah shower.