
"Sekarang?" tanya Leo.
Yuna mengangguk pelan, "Iya," jawabnya. Dia memperlihatkan pesan alamat yang dokter William kirim pada chatnya. Leo membacanya sekilas. Restoran terkenal di negara ini.
"Kenapa harus sekarang? Tidak bisakah besok? Atau lusa? Aku ingin segera pulang dan bertemu Baby Arai. Mungkin lain kali saja," ucap Leo. Dia duduk kursi roda. Kursi roda yang pas dengan tubuhnya, kursi roda yang bagian punggungnya sangat tepat dan nyaman. Kursi roda yang tidak perlu di bantu oleh orang lain. Kursi ini memiliki sensor dan safety yang sangat baik.
"Biar aku yang bicara padanya," ucap Leo. Dia meminta ponsel Yuna dan mencoba menghubungi dokter William tetapi tidak terhubung. Ponselnya tidak aktif.
"Beliau mungkin tidak memiliki banyak waktu sayang. Tidak bisakah kita bertemu dengannya sebentar sebelum pulang?" ucap Yuna mencoba membujuk Leo untuk menyetujui bertemu dengan dokter William. Yuna sangat merasa memiliki hutang budi pada dokter itu. Dokter William bersedia datang untuk melakukan operasi malam genting itu adalah sebuah anugerah, "Hanya sebentar," lanjut Yuna. Ia menekankan kata sebentar.
Leo menatap Yuna, "Baik," katanya. "Aku juga akan mengucapkan terima kasih padanya."
Yuna mengangguk dengan senyum. Kemudian, Papa masuk ke dalam ruangan.
"Sudah siap?" tanya beliau. Leo mengangguk tapi kemudian ia menjelaskan jika dia tidak bisa pulang berasama karena harus bertemu dengan dokter William terlebih dahulu. Papa mengangguk mengerti dan beliau juga setuju jika Leo menemui dokter William.
"Sampaikan juga terima kasih Papa padanya," ujar Papa.
Kemudian mereka keluar bersama, menemui Dimas dan Vano terlebih dahulu lalu mobil mereka berpisah.
Di dalam mobil, Yuna mengusap rambut depan Leo kemudian memeluknya dari samping. Menghela nafasnya dengan lega. Tangan Leo terangkat dan membalas pelukannya.
"Semoga hari ini kau terlihat jelek," do'a Leo yang terdengar lucu. Yuna tertawa kecil.
"Ya, ya. Aku sangat jelek, tidak perlu khawatir," jawab Yuna. Dia paham apa yang dimaksud suaminya.
"Dan semoga dokter William juga berubah menjadi buruk rupa," do'a Leo lagi yang membuat Yuna tertawa. Leo tidak hanya mendo'akan dirinya jelek tetapi juga mendo'akan dokter William menjadi buruk rupa.
"Hahaaaa kenapa begitu?" tanya Yuna. Tangannya masih melingkar di perut Leo.
"Mana boleh istri ku menatap laki-laki tampan selain diriku," jawab Leo.
"Hmmm, apa aku perlu memakai kaca mata hitam?" tanya Yuna.
"Modus saja kau," Leo memencet hidungnya. Yuna kembali tertawa.
"Dengan memakai kaca mata hitam, kau tidak akan tahu jika aku meliriknya, hahaaa," ucap Yuna.
"Aku akan menghukummu jika kau sampai berani melirik dia," ujar Leo tegas.
"Tidak berani," jawab Yuna. Dia mendongak dan membuat kecupan di pipi Leo. "Aku suka," ucap Yuna dengan masih menempelkan bibirnya di pipi Leo.
"Suka apa?"
"Suka saat kau mengomeliku, posesif padaku," jawab Yuna.
Leo tersenyum lebar, memperlihatkan barisan giginya yang rapi. Tangannya terangkat untuk mengusap rambut Yuna, "Orang lain mungkin tidak suka dengan pasangan yang posesif, kenapa kau malah suka."
"Posesifmu unik dan menggemaskan," jawab Yuna. Tangan Leo turun hingga ke pinggang Yuna lalu menggerakkannya sedikit kebagian depan lalu keatas dan menangkap sesuatu yang indah disana.
"Auuu," Yuna memekik. "Jangan nakal," ucapnya dengan masih belum menyingkirkan bibirnya dari pipi Leo.
"Apa kau juga suka dengan nakal ku sayang?" goda Leo. Mereka saling merayu sepanjang perjalanan. Hingga mobil yang mereka tumpangi telah sampai di depan sebuah restoran berbintang.
Perawat yang membuntuti dari belakang segera menyiapkan kursi roda Leo tetapi Leo enggan untuk menggunakannya. Dia sudah kuat untuk berjalan dengan normal. Namun tetap saja, dia baru keluar rumah.
"Gunakan ini atau aku akan berdandan cantik sebelum masuk," ancam Yuna yang langsung membuat Leo kalah.
Yuna dengan pelan mendorong kursi roda untuk masuk ke dalam. Seorang pelayan menyambut mereka dengan sopan dan langsung menunjukkan posisi tempat yang telah di pesan atas nama William.
Yuna sedikit membungkukkan badannya, "Itu dokter William," ucap Yuna pelan pada Leo. Leo mengangguk. Dia memperlihatkan laki-laki yang berdiri disana menatap kearahnya.
"Selamat sore Tuan muda Leo," sapa dokter William dengan senyum setelah Leo dan Yuna sampai di hadapannya. Leo menatap dokter William dengan jeli dan langsung mengangkat tangan kanannya untuk menunjuk dokter William. Dia menggerakkan jari telunjuknya dan tersenyum lebar.
"Kau ...." ucapnya.
Dokter William tersenyum lebar dengan bahagia. "Yes. It's me," (Ya, ini aku) jawab dokter William dengan anggukan kepala. Mereka lalu berjabat tangan dengan hangat. Yuna melebarkan matanya selebar-lebarnya, mata bulatnya semakin membulat melihat adegan yang ia saksikan ini. Jadi ... dokter William mengenal Leo? Waww. Kejutan apa lagi ini.
Dokter William mempersilahkan Yuna untuk duduk. Dia bahkan menyiapkan kursi untuk Yuna. Leo menatapnya dengan tidak suka, hanya dia yang boleh melayani Yuna.
"Willy, kau sungguh sangat berbeda dari ... emm kapan kita terakhir bertemu?" ucap Leo merasa tidak percaya bahwa yang ia lihat saat ini adalah William yang kala itu sering ia temui di perpustakaan ternama di pusat kota.
Dokter William duduk di kursi berseberangan dengan Leo.
"Sembilan belas tahun? Dua puluh tahun? Dua puluh dua tahun yang lalu, atau lebih dari itu, hahhaaa sangat-sangat lama, hingga aku lupa untuk menghitungnya," jawab dokter William.
"Dan waktu telah banyak mengubah mu," komentar Leo.
Dokter William mengangguk. Dia menatap Leo, "Ya, waktu dan kamu yang mengubahku," jawab dokter William. Dia masih ingat ucapan Leo saat bilang padanya bahwa jika dia cocok jadi dokter karena tulisannya sangat jelek. Gurauan anak kecil yang tercatat oleh langit. Namun bukan hanya itu, Leo adalah orang pertama yang percaya padanya saat orang lain mengatakan jika dia adalah anak ideot bodoh dan cacat.
"Dia istrimu?" tanya dokter William. Dia mengalihkan pandangannya menjadi memperhatikan Yuna.
"Ya, kenalkan. Dia istriku, Yuna."
"Kita sudah saling kenal sebenernya, tapi tidak masalah, ayo kenalan lagi," dokter William dengan senyum mengulurkan tangannya. Dan tangan Leo yang langsung membalas uluran tangan dokter William. "What??" dokter William menoleh ke arah Leo.
"Kau boleh tahu namanya, tapi jangan berani menyentuhnya," ucap Leo.
"Hahaaa, astaga," dokter William tertawa terbahak-bahak. "Kau masih seperti yang dulu, Leo," katanya. Dokter William memperhatikan Yuna, "Tapi dia bukan seperti gadis yang waktu itu kau kenalkan padaku" ucap dokter William menggunakan bahasa Perancis, jadi Yuna tidak tahu artinya. Wanita selalu baper saat pasangannya membahas mantan jadi dokter William sengaja memakai bahasa Perancis agar Yuna tidak paham apa yang ia bahas dengan Leo.
"Ya, mereka berbeda," jawab Leo dengan bahasa Perancis juga. "Aku sudah lama putus dengannya."
"Jodoh memang misteri. Boleh ku tunggu janda istrimu Leo?"
Leo langsung menatap dokter William dengan mencekam, "Pergi saja kau ke neraka Willy," ucapnya dengan memakai bahasa Inggris lagi.
"Hahaaaa, She has beautiful eyes, Leo," (dia memiliki mata yang indah Leo) puji dokter William pada Yuna.
"Kau pernah menatap matanya?"
"Ya. Saat pertama kali aku bertemu dengannya diatap gedung rumah sakit malam itu," jawab dokter William. Leo mengangguk pelan, Yuna pernah menceritakan ini padanya.
"Anggap saja kau sedang beruntung malam itu. Jika kau sampai berani menatap matanya lagi, maka kau akan habis."
Dokter William terkekeh, "If she weren't married to you, i would propose her right away," (Andai dia belum menikah denganmu, aku pasti akan langsung melamarnya)
Kemudian, pesanan datang.
"Aku tahu kalian tidak minum wine jadi aku tidak memesannya," ucap dokter William.
_________________
Catatan Penulis
Kisah singkat pertemuan Leo dan dokter William, besok ya. 🥰🙏
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar 🥰 Terima kasih. Padamu. Luv Luv.