Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 147_Kaca Spion


Neva duduk di bangku penumpang dan memainkan ponselnya, dia berbagi pesan pada Lula. Dia merasa sangat bahagia saat ini, ia menunduk seolah sibuk dengan ponsel miliknya, namun sebenarnya matanya lebih sering memperhatikan seseorang yang fokus menyetir itu.


Cring... ponsel milik Vano berbunyi. Satu pesan baru masuk di ponselnya. Dia segera mengambil dengan satu tangannya.


"Kakak... terima kasih untuk makan malamnya." Pesan dari Neva. Vano tertawa kecil setelah membacanya. Dia kemudian melihat ke kaca spion, dan terlihat wajah Neva disana, dia memperhatikannya dari situ. Kemudian, bibirnya mengucapkan kata.


"Sama-sama," ucapnya tanpa suara, hanya gerakan bibir yang terlihat di dalam kaca spion. Neva tersenyum lebar dengan itu, dia lalu membuat gerakan pada jari tangannya, simbol sarangheo. Mereka tertawa kecil bersama.


Kemudian, Neva mengarahkan kamera ponselnya pada kaca spion itu untuk mengambil foto Vano. Wajah dalam kaca spion itu terlihat sangat tampan.


"Kau mengambil foto ku?" ucapnya dan masih memperhatikan Neva dari kaca spion.


"Aishh, ketahuan ya? Maaf Kakak."


"Kau nakal ternyata ya...," Vano berkomentar dengan tertawa ringan.


"Haha nakal tapi ngangenin Kak...," Neva nyengir PeDe. Vano semakin tertawa mendengar jawabannya dan pelan menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Neva.


"Terima kasih Kak Vano," ucap Neva bersiap membuka pintu.


"Neva..." Vano memanggilnya.


"Hemm," dia menjawab dan langsung menoleh. Crik... Kamera Vano membidik wajahnya


"Satu : satu," ucap Vano. Neva mlongo dengan itu.


"Aaaaa... tidak, bagaimana wajah ku? Apa mata ku terlalu lebar. Ahh aku sangat malu." Neva menutup wajahnya.


Mobil Leo baru saja terparkir di halaman, dia keluar dan membukakan pintu untuk Yuna. Tepat saat itu Vano menghentikan mobilnya di depan gerbang. Leo memperhatikannya sekilas, karena jarak dari halaman dan gerbang cukup jauh jadi dia tidak tahu bahwa itu adalah mobil milik Vano. Tapi tidak dengan Yuna, meskipun dari jarak yang cukup jauh, dia tahu itu mobil milik Vano, dia sering berada di dalamnya. Jadi, memang dia sangat akrab dengan mobil itu. Yuna memiliki pertanyaan-pertanyaan baru di dalam hatinya.


"Anak itu tidak bawa supir?" Leo berkomentar setelah adiknya keluar dari mobil dan melambai pada seseorang yang perlahan melajukan mobilnya meninggalkan area.


Neva dengan berlari kecil segera masuk, senyum terus menghias bibirnya. Dan dia semakin tersenyum setelah melihat Kakaknya datang ke rumah.


"Kak Lee...," dia mempercepat larinya dan langsung melompat untuk memeluk Kakaknya.


"Aku melihat mu keluar dari mobil seseorang." Leo langsung berkomentar. Neva mengangguk.


"Aku juga boleh kan sesekali bersenang-senang dengan teman-temanku." jawab Neva dan melepaskan pelukannya. Dia berpindah mencium pipi Yuna.


"Bawa nih..." Leo memberikan dua kantong yang baru saja dia ambil dari dalam mobil. "Dari Kak Dimas."


"Auu, ini berat. Kenapa malah memberikannya pada ku?" Neva memprotes setelah menerimanya.


"Tangan ku hanya untuk menggandeng istri ku," ucap Leo arogan dan langsung meraih tangan Yuna. "Ayo sayang."


Neva menatap Kakaknya dengan kesal dan segera memanggil satpamnya. "Pak tolong bawa ini," ucapnya dan langsung memberikan dua kantong itu pada satpam. Dia segera menyusul Leo dan Yuna yang sudah berjalan lebih dulu.


"Apa kau tidak rajin berolahraga? Kenapa kau masih pendek?" Dia membully adiknya.


"Astaga... bukan aku yang pendek tapi Kak Lee yang kaya' jerapah." jawab Neva tak mau kalah. "Kak Yuna, kau kesulitan bukan jika ingin menciumnya?"


Pletak... Leo langsung menjitak kepalanya.


"Auuu," Neva memekik dan memegangi kepalanya.


Yuna tertawa kecil melihat mereka berdua.


Kemudian, mereka berpisah di ruang tengah. Neva naik ke atas untuk mengganti baju. Sedangkan Leo dan Yuna bersama Mama di ke ruang keluarga.


"Sayang, mama berencana membuat pesta pernikahan untuk kalian. Kalian menikah hampir satu tahun dan kita belum memberi perayaan untuk kalian. Lee... setiap wanita pasti mempunyai impian pesta pernikahan yang indah," Mama berbicara dengan putranya. Leo menoleh ke arah Yuna, dia menjadi merasa bersalah padanya. Dulu dia hanya berfikir bagaimana segera menikahi Yuna dan membawanya ke Ibu kota, dia tidak ingin terekspos jadi memang hanya ada keluarga Yuna yang menjadi saksinya.


"Sayang, pesta pernikahan seperti apa yang kau impikan?" Leo menggenggam tangan Yuna lembut. Dia akan menebus semuanya, semua kesalahan yang dari awal dia lakukan.


Yuna menatap matanya dan tersenyum.


"Aku bahkan sudah tidak memikirkannya, itu sudah berlalu," jawabannya membuat Leo putus asa, dia langsung menjatuhkan kepalanya di pundak Yuna.


"Aku minta maaf Yuna."


"Kenapa minta maaf?" Yuna mengusap punggungnya.


"Niat awal ku yang salah telah banyak membuat mu menderita. Aku bahkan mengambil impian mu."


"Hei, aku sudah pernah bilang pada mu bahwa sepanjang aku hidup, aku hampir tidak memiliki harapan...,"


"Yuna," Leo memotong ucapannya. Dia mengangkat wajahnya. "Tidak bisakah kau sedikit matre? Tidak bisakah kau sedikit berlebihan? Oohhh sayang... hamburkanlah uang ku."


"Pesta itu sudah berlalu dan aku tidak menginginkannya. Iya, memang dulu aku sempat kecewa karena tidak memiliki pesta pernikahan impian selayaknya para wanita ketika menikah, tapi sekarang tidak lagi. Arah pemikiran ku bukan kesitu. Itu hanya menarik mundur sebuah kejadian. Sayang, bagaimana jika kita membiarkan sesuatu yang sudah berlalu dan mewujudkan impian kita di masa depan? Aku ingin terus bersama mu, bersama anak-anak kita kelak dan terus bahagia. Emmm... bagaimana jika uang yang ingin kita habiskan untuk pesta, kita sumbangkan saja pada badan amal?" jelas Yuna. Leo dan Mama terbengong mendengarnya, sungguh ada wanita yang seperti ini? Dan dia ada di depan mereka sekarang. Kenapa dia bahkan tidak ingin mewujudkan pesta pernikahan yang banyak di impikan para wanita dan malah berniat menyumbangkannya pada amal.


"Uhh sayang, kenapa kau sangat baik, nakal sedikit boleh kok," Leo sangat gemas padanya, tangannya berpindah dan mencubit pipi Yuna.


Mama sebenarnya kurang setuju dengan ini. Leo adalah putranya, beliau ingin merayakan pernikahan putranya dengan megah. Mama sedikit kecewa dengan keputusan menantunya ini. Pernikahan putranya harus di ketahui oleh banyak orang.


"Yuna...," suara Mama lembut memanggilnya. "Begini..., Lee adalah putra kami dan kamu adalah menantu kami. Ini bukan tentang sesuatu yang telah lalu dan yang akan datang. Pesta pernikahan kalian adalah simbol bahwa kau tidak hanya masuk dalam keluarga Nugraha tetapi juga masuk ke dalam semua bagian dari kehidupan kita. Kau akan dikenal oleh semua orang bahwa kau adalah menantu dari keluarga Nugraha, bahwa kau adalah istri dari Leo J putra kami. Lagi pula, keluarga kita belum saling mengenal satu sama lain bukan? Papa Lee bahkan belum berkesempatan bertemu dengan orang tua mu nak," Mama berkata dengan tenang, beliau menatap Yuna dengan hangat.


"Nak... Mama akan memberikan amal dengan nominal yang sama yang kita habiskan untuk merayakan pernikahan kalian. Bagaimana? Bukankah itu cukup adil?" lanjut Mama.


Yuna sangat memahami dan mengerti arti ucapan Mama. Dia menikah dengan putra dari keluarga Nugraha, Yuna menjadi tidak enak karena tadi sempat menolaknya.


"Baik Ma...," jawabnya. Mama tersenyum lega mendengar jawabannya dan bersemangat untuk pesta putranya.


"Gadis pintar," Leo mencolek hidungnya.