Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 277_Kau Sudah Siap Bukan?


Keluarga Mahaeswara dan Keluarga Nora kembali bersama, begitu juga dengan Dimas. Saat ini di dalam ruangan hanya tinggal Mama, papa, Neva , Vano, Leo dan Yuna. Mama masih sangat betah memanggku cucunya.


Baby Arai masih terlelap namun perlahan, mata indah yang masih tertutup rapat itu mengerjap dan terbuka dengan sempurna. Ia berkedip dengan pelan dan teratur. Semua yang menunggunya sedikit menahan nafas dan langsung meleleh oleh keindahan mata sangat murni.


"Aaahhh ... tampannya," Neva berseru dengan bahagia. Ia segera mengambil ponsel miliknya dan membidik keindahan sang pemilik mata. Malaikat kecil yang tampan. Nyonya Nugraha meletakkan kedua tangannya di dada. Beliau speechless dan langsung jatuh hati pada makhluk imut yang begitu menawan.


"Mama mau menginap di sini saja," ujar Mama. Tuan Nugraha langsung menoleh ke arahnya. "Mereka berdua orang tua baru, belum mengerti bagaimana memperlakukan bayi," lanjut Mama. Tuan Nugraha mengangguk setuju. Kemudian, Baby Arai mengeluarkan suaranya dengan pelan. Ia menangis kecil.


"Sepertinya dia mau ASI," ucap Mama. Beliau langsung beranjak dan membawa Baby Arai pada Yuna. Leo langsung menarik sekat penutup.


Yuna duduk dan memangku putra kecilnya. Bibirnya tersenyum dengan sangat bahagia. Isapan mulut kecil itu begitu membuatnya bahagia. Ia telah sempurna menjadi seorang wanita. Menjadi seorang istri dan juga ibu. Leo yang duduk tepat di sampingnya, mengusap rambut Baby Arai. Matanya dan hatinya dipenuhi kelembutan memperhatikan bayinya.


Mata indah itu berkedip dengan teratur, Leo mendekatkan wajahnya dan mencium pipi halus milik baby Arai. Kemudian ia berpindah untuk mencium kening Yuna.


"Aku sangat bahagia," ujarnya. Yuna mengangguk dengan senyum. Dia menatap wajah Leo kemudian menatap wajahnya bayinya.


"Aku teramat bahagia," ucap Yuna. "Aku memiliki dua Tuan Tampan sekarang," lanjutnya dalam suara penuh kekaguman. Leo kembali mencium keningnya. Dia berfikir dan membatin dalam hatinya bahwa cukup satu saja yang ia miliki. Ia sudah sangat-sangat bahagia dengan kehadiran baby Arai. Ia tidak menuntut untuk ingin lagi dan jika dipikirkan, ia bahkan tidak ingin lagi. Dia tidak ingin Yuna merasa kesakitan yang luar biasa. Ia tidak ingin Yuna merasa tersiksa. Dan itu sungguh membuatnya frustasi.


"Matanya indah seperti milikmu," ucap Yuna. Ia menatap wajah baby Arai dengan rasa yang tidak bisa ia gambarkan. Sembilan bulan ia mengandung, tendangan lucu yang sering ia rasakan, dan saat ini ... malaikat kecil ada dalam pangkuannya.


"Tetapi teduh seperti mata milikmu," jawab Leo. Tangannya mengusap-usap pipi putranya dengan lembut.


Di luar sekat. Mereka yang duduk di sofa.


"Sudah malam, sebaiknya kalian segera kembali," ujar Mama.


"Izinkan saya yang mengantar Neva kembali, Tante," sambung Vano meminta izin. Neva langsung menoleh kearahnya. Sementara Nyonya Nugraha langsung membawa pandangannya pada suaminya. Seolah meminta pendapat. Tuan Nugraha berkedip memberi isyarat untuk mengizinkan Vano mengantar putrinya. Nyonya Nugraha mengangguk samar.


"Hmm, baiklah. Jadi Papa biar kembali sendiri," jawab Mama. Vano berterima kasih dengan hormat. Kemudian, setelah Leo kembali membuka sekat, Vano dan Neva pamit untuk kembali.


"Terima kasih sudah berkunjung," ujar Leo.


Vano mengangguk dengan senyum, "Sama-sama Kak Lee," jawabnya. Leo menatapnya dengan tajam tetapi tidak memprotes. Cukup bagus, itu perkembangan baru.


"Baby, Tante cantik pamit dulu ya. Tante tunggu di rumah, muach," Neva mencium pipi halus Baby Rai.


"Hati-hati Tante cantik," jawab Yuna. Neva mengangguk dan mencium pipi Yuna.


"Selamat malam, Leo, Yuna. Kami pamit," ucap Vano. Leo dan Yuna mengangguk dengan kompak.


Kemudian, Vano dan Neva melangkah keluar ruangan setelah pamit pada Papa dan Mama.


"Emmm, sedikit," jawab Neva. Mereka berdua masuk ke dalam lift. Tidak ada siapapun, hanya ada mereka berdua.


"Mau makan?" Tanya Vano. Ia mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Neva. Neva mendongak dan menatapnya. "Ada bedak," ujar Vano sambil memperlihatkan jarinya.


"Bedak Baby Arai," Neva tertawa kecil dan mengusap pipinya. Kemudian, ia menatap Vano. "Apa sudah bersih" tanyanya.


"Belum," Vano menjawab dengan gelengan. Mendengar jawaban Vano, Neva segera mengusap wajahnya lagi. Namun, tangan Vano langsung mengambil tangan Neva dan menggenggamnya. Ia menunduk dan mencium pipi Neva dengan kecupan lembut.


Jantung Neva berdebar.


"Wangi," ucap Vano. Neva menunduk, ia menahan senyumnya.


"Dasar," ucapnya.


"Dasar hatiku ada namamu," jawab Vano. Neva tertawa dengan lebar. Ia mengangkat wajahnya.


"Mulai, mulai ...." ia meledek.


"Mulai detik ini, aku akan selalu ada untuk mu," jawan Vano lagi. Neva tertawa kecil dengan rona dikedua pipinya.


Pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar. Mobil Vano melaju dengan sedang. Pada akhirnya mereka berdua memutuskan untuk santai terlebih dahulu di sebuah cafe.


"Aku berencana mengajak orangtuaku minggu depan untuk melamar mu," ucap Vano disela obrolan mereka. Neva sedikit terbatuk mendengar itu.


"M - Minggu depan?" Tanyanya. Matanya menatap Vano dengan tegang.


"Iya," jawab Vano. Tangannya mengulur dan menggenggam tangan Neva diatas meja. "Kau sudah siap bukan?" Tanya Vano. Suaranya lembut tetapi penuh keyakinan.


_____


Catatan Penulis


Tidak terasa hari ini adalah Ramadhan terakhir di tahun ini. Semoga puasa kita sebulan ini diterima Allah dan membawa keberkahan.


Semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan tahun-tahun yang akan datang, Aamiin.


Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta πŸ’– Selamat menanti datangnya hari yang fitri dengan suka cita πŸ₯°πŸ™


Jan lupa like komen dan vote ya kesayangan Nanas πŸ₯°πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ™ Padamu πŸ₯°