
Neva dan Vano melangkah masuk kedalam setelah Bi Sri membukakan pintu.
"Langsung keruang tengah saja, Nona," ujar Bi Sri menyampaikan pesan Yuna pada Neva.
Neva mengangguk dengan senyum, "Terima kasih," katanya. Kemudian, dia dan Vano langsung melangkah masuk ke ruang tengah. Leo duduk di samping Yuna.
"Hallo, selamat siang Kakak," Neva menyapa Leo dan Yuna.
"Siang, sayang," jawab Yuna. Kemudian, Neva memperlihatkan tentengan yang Vano bawa.
"Hadiah untuk Baby Arai," Neva dengan riang bertepuk dan mengambil satu tentengan yang Vano bawa lalu memberikannya pada Yuna.
"Waah ... banyaknya," ucap Yuna. Ia menerimanya. "Terima kasih."
"Baju bayi sangat lucu-lucu, aku tidak tahan untuk tidak membelinya," cerita Neva.
"Silahkan duduk, Vano," ujar Leo mempersilahkan.
Vano mengangguk, "Terima kasih," jawabnya. Kemudian, ia duduk disamping box bayi milik Baby Arai, sementara Neva duduk di samping Yuna dan membongkar apa yang ia borong. Dari baju, sarung tangan dan kaki, sepatu, handuk, sampai perlengkapan makan bayi.
Yuna setuju jika Neva memborongnya karena memang apa yang Neva pilih sangat lucu.
Tak lama, Bi Sri datang dengan nampan berisi minuman ditangannya. Ia meletakkannya di atas meja dengan sopan.
"Kau sedang longgar?" Tanya Leo pada Vano. Kerena pada jam siang seperti ini, adalah jam kantor.
"Selalu ada waktu untuk untuk yang tersayang," jawabnya dengan melirik ke arah Neva. Tangan Neva langsung terhenti dari segala aktifitasnya. Ia menoleh ke arah Vano. "Ya kan, sayang?" Tanya Vano dengan sengaja. Neva tersenyum dan mengangguk. Yess satu kosong.
"Lupakan, aku tidak akan bertanya lagi," sahut Leo. Ia bergidik. Dia ingat jika dua orang ini memiliki cara merayu yang receh dan menggelikan. Dia tidak ingin mendengarkannya.
Vano terkekeh mendengar Leo. Kemudian, ia menggeser posisi duduk agar menghadap ke box bayi dimana Baby Arai tengah tidur disana.
"Hai Baby cute," suara Vano pelan menyapa Baby Arai yang masih terlelap. Matanya dipenuhi kelembutan menyaksikan Baby Arai terpejam. Tangannya mengusap pipi halus itu dengan sangat hati-hati. Sekilas terlintas dalam pikirannya, bayangan itu tiba-tiba saja hadir. Kenangan yang telah ia kubur dengan sangat dalam dan tidak akan pernah menggalinya lagi. Dia tidak menginginkan ini, dia juga tidak mengharapkan ini ... tapi kenapa kenangan itu hadir begitu saja tanpa permisi pada sang pemilik hati.
Kenangan tentang, dia dan gadis yang dulu. Suaranya khas dalam isaknya kala itu.
"Di masa depan nanti... jika aku memiliki putra, aku ingin dia sebaik diri mu. Di masa depan nanti ... aku akan bercerita kepada anak-anak ku bahwa aku memiliki teman yang sangat baik, teramat baik. Teman itu bernama Vano ... teman yang tidak akan pernah aku lupakan ...."
Ia segera menampiknya, segera membuang bayang ilusi yang tidak seharusnya datang. Ia segera menarik dirinya dan membawa pandangannya pada Neva, menatap gadis itu dengan teduh. Ia tidak akan membiarkan kisah ini kembali rumit, ia tidak akan membiarkan gadis itu terluka oleh apa yang baru saja muncul. Langit tidak selamanya tertutup awan, adakalanya ia begitu biru dan menawan. Wahai hati yang paling susah untuk dimengerti, jangan biarkan sesuatu mengusik mu. Pahami raga dan pikiran ini.
'Aku hanya ingin kamu gadis,' ucap Vano dalam hati. Matanya tidak lepas dari wajah Neva. Tentang Yuna ... tentang teman, ya mereka adalah teman hingga saat ini tanpa perasaan apapun.
"Perusahaan keluarga Kiara mengalami pailit," ujar Vano pada Leo.
"Kak Lee," Neva menoleh ke arah Leo dan memelototinya.
"Tidak berani," jawab Vano dengan menguncupkan kedua tangannya. Ulah Leo yang dulu saja masih berdampak hingga saat ini.
"Jangan hiraukan Tuan muda angkuh ini," ucap Neva pada Vano. Apa-apaan kakaknya mengancam pacarnya. Neva siap maju jadi yang terdepan.
"Pastikan adik ku, bahagia bersamamu jika kau tidak ingin hancur," lanjut Leo masih dengan nada angkuhnya. Neva langsung menoleh ke arah Leo dan beranjak dari duduknya. Ia berpindah untuk duduk di samping Leo dan memeluknya. Ucapan kakaknya bukan ancaman, itu hanya sebuah pesan. Hanya saja, tuan muda ini terlalu gengsi untuk menyampaikan pesan itu pada Vano dengan suara yang lembut.
"Aku bahagia," ucap Neva pelan pada kakaknya. Kedua tangannya melingkar memeluk Leo. "Aku sangat bahagia," lanjutnya.
Tangan Leo terangkat dan mengusap rambut Neva.
"Bagus," ucapnya singkat. Sejujurnya ada banyak sekali kata yang ingin ia sampaikan tetapi dia tidak tahu bagaimana menyampaikannya. Dia bukan laki-laki yang melow dan pandai mengungkapkan apa yang ia pikirkan. Ia hanya berbicara dengan singkat.
Yuna tersenyum melihat mereka berdua. Kemudian, ia menoleh ke arah Vano.
'Bahagialah selalu kawan,' batinnya.
_____
Malam hari. Keluarga besar Nugraha berkumpul di rumah Leo. Mama seperti biasa menguasai Baby Arai dan tidak ingin membaginya. Meskipun Baby Arai tertidur, beliau tetap memangkunya. Mereka mengobrol dengan seru, terkadang tertawa terbahak-bahak oleh celoteh lucu Baby Dim. Tak lama, mata indah yang terpejam itu perlahan terbuka dan berkedip dengan pelan dan teratur. Neva selalu suka saat Baby Arai membuka matanya. Baby Arai memiliki sepasang bola mata yang sangat indah, jernih dan murni.
"Si tampan banguuun," Neva langsung menyerbunya dengan ciuman. "Mama berikan padaku," Neva ingin memangku keponakannya.
"Kamu masih kecil, belum bisa memegang bayi," tolak Mama.
"Ah, Mama curang," sahut Neva dengan memanyunkan bibirnya kerena permintaannya ditolak Mama. Setelah puas bercanda, Mama memberikan Baby Arai pada Yuna untuk ASI. Yuna segera membawa Baby Arai kedalam kamarnya sendiri di lantai satu.
Di Ruang tengah, Mama mulai bercerita pada semuanya tentang niat Vano yang ingin melamar Neva secara resmi. Dan tentang Nyonya Mahaeswara yang memberikan penawaran pada Neva. Jepang, Korea atau Paris?
Semua menyetujui untuk menerima lamaran Vano dalam waktu dekat ini. Tentang dimana dan seperti apa konsepnya ... mereka semua dengan kompak menoleh ke arah Neva.
____
Catatan Penulis π₯°
Terima kasih untuk sahabat Sebenarnya Cinta π yang masih setia menunggu kisah ini π₯° padamu kesayangan π₯°π
Jangan lupa like komen ya kawan tersayang, terima kasih π₯°π Luv luv.