Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 374_Cilukba


Baby Arai ada digendongan Vano saat ini. Baby imut itu baru saja diam dari tangisnya karena memperebutkan Oma dengan kakak Zora. Biasanya dia tidak ada saingan dalam bermanja dengan Omanya.


Vano dengan perhatian mengusap air matanya dan kemudian membawanya ke taman samping.


"Cowok tidak boleh cengeng, okey," kata Vano pada Baby Arai. Dia kemudian merebahkan tubuhnya dilantai gazebo dan meletakkan Baby Arai di kakinya. Mengayunnya keatas dan kebawah. Baby Arai tertawa terbahak-bahak dengan itu.


Kaki Vano turun kebawah, "Ciluuukkk ...." katanya. Kemudian dia mengangkatnya keatas, "Ba ...." Baby Arai tertawa dengan bahagia, dia sudah lupa tentang rebutannya tadi.


"Ternyata kalian disini," Neva menghampiri. Dia membawa satu buah dan minuman ditangannya.


"Hamm mmm chaaahcaa," Baby Arai berceloteh dengan menggerakkan semua anggota tubuhnya. Dia tidak ingin kaki Vano berhenti untuk berayun.


"Kau mencari ku?" tanya Vano. Kakinya terangkat tinggi dan itu membuat Baby Arai tertawa terbahak-bahak dengan pandangan mata yang menggemaskan.


"Ge Er. Aku mencari keponakan ganteng ku," jawab Neva. Dia menyentuh kaki Vano pelan. Memintanya untuk berhenti. Kemudian, dia mencium pipi gembul milik Baby Arai.


"Jadi kau tidak mencari pacar ganteng mu?" tanya Vano lagi. Neva menggelikitik Baby Arai dengan gemas. Kemudian melepaskan dan membiarkan kaki Vano berayun lagi. Neva menoleh ke arahnya.


"Tidak, week," jawaban sambil menjulurkan lidahnya. Vano tertawa kecil dan kembali melakukan ciluk ba dengan Baby Arai. Neva ikut merebahkan tubuhnya di samping Vano.


"Sudah sangat cocok bukan?" tanya Vano.


"Hmmm," Neva mengangguk pelan.


"Nanti ... kau mau Baby berapa?"


"Menikah saja belum, kenapa sudah memikirkan punya Baby," jawab Neva. Dia memiringkan tubuhnya dan menatap Vano. "Kau tidak akan berubah bukan jika kita sudah menikah nanti?" tanyanya cemas.


"Berubah bagaimana?" jawab Vano balik bertanya.


"Aku takut, setelah menikah nanti lalu kau bosan padaku," jawab Neva pelan. Tangannya memeluk Vano. "Jangan pernah berubah, nanti atau kapanpun."


"Perubahan itu pasti akan terjadi, berubah bukan tidak mencintai mu lagi tetapi berubah lebih dan lebih mencintaimu. Benar?"


"Hu'um, harus" Neva mengangguk pasti.


"Jangan ragu lagi, kita sudah mempersiapkan semuanya. Hanya tinggal menunggu dan menghitung hari. Leo sudah sembuh, pulang ke negara I lalu kita menikah," ucap Vano. Neva mengangguk.


"Jangan banyak berfikir yang bukan-bukan. Tidak perlu jauh-jauh untuk melihat contoh hubungan suami istri yang harmonis. Kau bisa melihat kedua orangtua mu," lanjut Vano. Dia menunduk sebentar untuk mencium rambut Neva.


Neva mengangguk lagi, "Undang pernikahan sudah siap cetak setelah kita menemukan hari yang tepat. Setelah itu aku akan segera membagikan undangan pernikahan kita, pada temen-temen, saudara, rekan. Ummm dan Kak Alea," ucap Neva. "Dimana dia tinggal sekarang, apa kau tahu?"


"Tidak, mungkin Yuna tahu. Bukankah mereka bersahabat?"


"Hu'um, aku akan menanyakannya pada Kak Yuna nanti," ucap Neva. "Kak Alea adalah orang yang membuatmu tahu perasaanku, bisa dikatakan jika dia adalah salah satu pahlawan perasaan ku, heheeee," lanjutnya. Vano mengangguk menyetujui. Dia tahu perasaan Neva padanya adalah dari sebuah kertas yang Alea berikan padanya.


Kemudian Neva bangun dari tidurnya dan mengambil Baby Arai dari kaki Vano. "Sepertinya dia sudah ngantuk," Neva memangku Baby Arai dan menepuk-nepuk pantat baby Arai dengan halus. Mata imut itu terpejam, dengan jari jempol tangan yang masuk kedalam mulutnya. Mengecapnya seperti botol susu. Vano bangkit untuk duduk di depan Neva lalu dengan pelan dia mengambil tangan itu, tapi kemudian Baby Arai membuka matanya lagi dan berusaha mengecap jarinya lagi.


"Tidak apa-apa, yang penting jarinya bersih," ucap Neva. Vano melepaskan tangan Baby Arai dan membiarkan jari itu kembali masuk kedalam mulut baby Arai.


Vano mengeluarkan ponselnya, dia menggeser duduknya dan mereka membuat sebuah foto.


"Hmmm lihatlah," ujar Vano. Dia memperlihatkan hasil bidikannya pada Neva. "Kita, sudah sangat cocok bukan?"


Neva tersenyum dan menoleh menatap Vano.


"Oh ya? Siapa?"


"Penggemarmu."


"Hahaaaa ... aku bukan artis nona," kata Vano.


"Tapi kau sosok yang populer Tuan muda, dan penggemar wanita mu sangat banyak," ucap Neva.


"Apa kau salah satunya?"


"Hhh Ge-Er," jawab Neva. Vano menggeser duduknya. Tangannya mengulur dan memeluk pinggang Neva.


"Sayang," panggilnya.


"Ya," jawab Neva.


"Besok kau mau kemana untuk merayakan pergantian tahun?"


"Di pusat kota biasanya sangat ramai," jawab Neva.


"Kau mau kesana?"


"Hu'um," Neva mengangguk. "Ayo nikmati kembang api di pergantian tahun."


Vano mengangguk. Tangannya kini pindah ke rambut Neva dan membuat usapan lembut disana. Menarik pelan kepala Neva, membuat kepala itu bersandar di bahunya.


"Semoga semuanya lancar hingga hari pernikahan kita nanti," ucap Vano.


"Aamiin," jawab Neva. Dia masih menepuk-nepuk pantat Baby Arai. "Semakin tak sabar untuk membagikan undangan, ya kan?" ucap Neva dengan senyum lebar.


"Tidak juga," jawab Vano datar.


"Eh---"


Belum sempat Neva melanjutkan ucapannya, bibir Vano lebih dulu berbisik pelan ditelinganya.


"Aku lebih tidak sabar menanti malam pertama kita."


Dan sebuah sodokan sikut langsung mendarat di perutnya. Wajah Neva merah padam. Dia merasa malu setengah mati saat Vano mengatakan itu. Malam pertama? Ooooh ... bagaimana dia harus bersikap nanti? Bagaimana jika dia begitu bodoh dimalam pertamanya nanti? Bagaimana jika dia tidak bisa melakukannya dengan baik? Aaaaaa Neva menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tiba-tiba jantungnya berdetak cepat.


"Hei, apa kau sudah membayangkannya?" goda Vano. Dia tersenyum lebar melihat Neva yang tiba-tiba membeku dan menggeleng cepat.


"Tidak," jawab Neva cepat dengan suara yang gemetar. Dia grogi. Tangan Vano kepinggangnya lagi dan semakin menempelkan dirinya.


"Tenang saja sayang, aku akan melakukanya dengan pelan-pelan," godanya dengan senyum tertahan. Neva segera mengangkat tangannya untuk diletakkan di bibir Vano. Menutup bibir Vano dengan telapak tangannya, agar bibir itu tidak berucap sesuatu yang membuatnya malu.


______________


Leo dan Yuna telah meninggalkan restoran itu setelah pamit pada William. William melambaikan tangannya saat mobil yang Leo tumpangi perlahan menjauh darinya. Pertemuan yang indah. Pertemuan yang ia harapkan.


Leo dan Yuna lebih dulu mampir ke toko mainan anak sebelum mereka kembali kerumah.