Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 17. Ibarat langit dan bumi


Nayla masuk ke dalam rumah dengan riang.


Ya, kebenciannya sudah tersalurkan tadi. Rasanya seneng banget bisa menampar cewek gembel itu. Ucapnya dalam hati. Senyuman kemenangan terukir di wajah cantiknya. Hatinya juga agak tenang karena sudah menugaskan Nina dan Sandra untuk memata-matai cewek itu setiap hari di sekolah.


Rumah keluarga Hadi brata nampak besar dan mewah. Memiliki halaman yang sangat luas di batasi dengan pagar beton yang tinggi dan kokoh menandakan rumah tersebut hanya bisa dimasuki orang-orang tertentu saja.


Di bagian depan terdapat taman bunga dan kolam ikan hias. Di parkiran berjejer mobil - mobil mewah milik masing-masing anggota keluarga. Nayla sendiri juga memiliki sebuah mobil yang dikendarai sopir pribadinya untuk antar jemput ke sekolah ataupun ke mana saja. Walaupun Nayla sudah bisa mengendarai mobil , namun mama Rita belum memberikan ijin khusus untuknya mengendarai mobil sendiri.


Rumah tersebut dilengkapi dengan berbagai perabotan mahal. Lantainya berkilau dan selalu bersih berkat kerja keras mbok Inem dan mas Parjo pembantu rumah tangga mereka yang bekerja khusus membersihkan semua ruangan.


Selain mereka, ada beberapa pembantu juga yang dipekerjakan di bagian dapur dan lain sebagainya.


" Eh anak mama udah pulang". ucap mamanya melihat putri kesayangannya memasuki rumah.


" Iya ma". jawab Nayla sambil memeluk mamanya.


" Ganti baju dulu sana, bau ". ujar mamanya pura-pura memencet hidungnya.


" Apaan sih ma, harum gini juga". Nayla cemberut seraya melepaskan pelukannya dan beranjak ke kamarnya. Mama Rita hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya yang manja.


Nayla adalah putri tunggal dari keluarga Hadi brata. Jadi sudah pasti dialah pewaris dari semua kekayaan keluarganya. Keluarga Ini merupakan salah satu keluarga terkaya di kota itu. Tak heran banyak yang segan bertentangan dengan keluarga ini. Ayahnya Nayla adalah seorang pebisnis handal yang memiliki berbagai macam jenis usaha.


Tak heran, Nayla hidup dengan bergelimang harta. Apapun yang dia mau pasti diberikan orang tuanya. Maklum, anak sultan. Hehehehe.


*****


Berbanding terbalik dengan Tiara.


Keduanya diibaratkan langit dan bumi. Tiara sendiri tinggal menumpang di rumah tantenya. Bersyukur pamannya seorang pegawai negeri sipil di kota itu, sehingga memiliki penghasilan yang lumayan untuk memenuhi keperluan rumah tangga mereka selama sebulan.


Tiara sendiri sudah bersyukur banget bisa makan sehari dua kali. Itupun kadang tanpa lauk ataupun sayuran. Jangan tanya buah atau susu ya, tidak akan ketemu di rumah itu.


Minum teh saja udah jarang banget.


Tiara cukup tahu diri dengan keberadaannya dalam keluarga itu. Karena itu ia tak pernah meminta uang jajan atau pun ongkos angkot ke sekolah. Sejak masih sekolah di sekolah menengah pertama, ia hanya berjalan kaki saja. Hingga kini sudah masuk di sekolah menengah atas. Mengenai jajan selama di sekolah, biasanya ada aja teman yang mentraktirnya.


Kadang ada rasa iri yang menyelinap ke dalam hatinya melihat teman-teman lain yang hidup berkecukupan. Namun rasa itu biasanya hilang dengan sendirinya berganti dengan rasa syukur saat melihat orang lain yang keadaannya lebih sulit darinya. Semua itu memotivasi dirinya untuk belajar lebih giat lagi agar bisa mendapatkan penghidupan yang layak nantinya. Itulah doa dan harapan yang tanpa ia sadari selalu menguatkan tekadnya selama ini. Berjuang.


*****