Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 359_ ....


Neva dan Vano segera melangkah ke ruangan setelah mereka sampai di rumah sakit. Neva mengetuk pintu pelan dan langsung masuk. Ruangan itu hanya diperbolehkan untuk satu orang saja untuk menunggu, jadi Neva masuk sendiri dan Vano menunggu diluar.


Neva membawa langkahnya menuju kakak yang paling dia sayang. Yuna menoleh kearahnya.


"Neva," ujarnya pelan.


Neva memperhatikan kakaknya yang terpejam dengan bantuan alat medis yang menempel ditubuh. Hatinya ngilu, perih dan tersayat. Kemudian, ia menatap Yuna dan langsung menghamburkan pelukannya. Dia menangis. Mereka berdua saling berpelukan dengan tangis dan kekhawatiran yang mencekam.


"Kau ingin bicara dengan dia?" ujar Yuna setelah melepaskan pelukan dan menyeka air matanya. Neva mengangguk. Yuna mempersilahkan Neva, dia beranjak dan keluar ruangan lebih dulu.


"Kak Lee," panggil Neva. Dia mengenggam tangannya Leo. "Kak ... aku datang. Apa kau tidak tidak suka kedatangan ku? Kenapa kau memejamkan matamu Kak? Seharusnya kau menyambut ku dengan senyum lalu memelukku. Aku bahagia saat Mama menceritakan tentang keadaan Kak Lee yang membaik dua hari yang lalu tapi kenapa sekarang kau bahkan tidak menyapa ku?" Neva menatap wajah Leo yang masih saja terpejam. Dia menangis. Hatinya sakit.


"Hmm ada yang ingin ku ceritakan padamu. Sebuah cerita yang mungkin sudah kau dengar dari Papa Mahaeswara. Hmm iya ... aku telah siap untuk menikah," ucap Neva tercekat. Air matanya semakin menetes membasahi pipinya. Dia ingat saat jari kelingking tangan mereka bertemu dan membuat janji. Neva semakin sesenggukan mengingat itu.


"Kak Lee, apa kau ingat tentang janjimu padaku? Kau akan menemaniku berdansa nanti saat aku menikah. Kau harus mengingatnya. Jadi ... bukalah matamu dan temani aku berdansa," Neva menelungkupkan tubuhnya untuk memeluk tubuh Leo yang terbarik.


"Kau harus bangun," Neva terisak-isak memeluk tubuh kakaknya.


Sementara disana ... Yuna duduk di bangku diluar ruangan. Vano yang baru saja dari lantai bawah untuk membeli beberapa potong roti segera menghampiri Yuna dan duduk disampingnya.


"Yuna," panggil Vano pelan. Yuna diam tidak menjawabnya, dia juga tidak menoleh sedikitpun pada Vano, dia bahkan tidak menggerakkan kepalanya sama sekali. Dia mematung dengan tatapan nanar yang entah dia tujukan kemana, dengan kesedihan yang memeluknya.


"Kau belum makan bukan?" tanya Vano pada Yuna. Dia menyodorkan satu bungkus roti yang baru saja dia beli dari bawah. Tidak ada jawab. Yuna masih diam. Vano menatapnya dari samping. Dia memejamkan matanya sebentar melihat Yuna yang duduk mematung disampingnya. Vano menyodorkan lagi roti ditangannya pada Yuna, "Makanlah," ujarnya. Dia menunggu beberapa detik untuk mendapat respon dari Yuna tetapi nihil. Yuna masih saja diam tidak meresponnya.


Vano menarik tangannya kembali, "Kau ingin makan apa?" tanyanya. "Apa ada yang kau inginkan? Aku akan membelinya untuk mu. Apa kau ingin coklat, atau sandwich, burrito, atau Β french fries, at---"


"Aku tidak ingin apa-apa, Vano. Terima kasih," jawab Yuna pada akhirnya. Dia menjawab dengan pelan. Tanpa menoleh dia melanjutkan ucapannya, "Bisakah kau duduk jauh dariku Vano?" pintanya.


Vano menatap Yuna sebentar lalu mengangguk pasti, "Iya," jawabnya. "Yang ku tahu, Leo adalah laki-laki yang kuat dan aku juga yakin kau adalah wanita yang begitu sabar dan kuat, Yuna. Kalian pasti akan bisa melewati ini. Leo pasti sembuh," ucap Vano sebelum dia berdiri dan melangkahkan kaki untuk menjauh dari Yuna.


Yuna mengamini dalam hati. Leo harus sembuh, atau Yuna juga akan menghilang bersama cintanya.


Vano masih berada di lantai dan dan koridor yang sama dengan Yuna, tetapi jarak mereka jauh. Vano menatapnya dari kejauhan. Tak lama, Tuan Nugraha datang. Beliau menyapa Vano dan berbincang sebentar kemudian menghampiri Yuna. Beliau mengajak Yuna untuk ikut ke ruangan dokter.


___________


Yuna diam dengan degupan jantung yang tidak teratur. Dia terus berdo'a dalam hati, berharap hasilnya baik.


Tentang respon Leo yang Yuna ceritakan, itu cukup bagus. Leo memiliki semangat yang luar biasa untuk melawan rasa sakitnya. Dokter berpesan, agar terus memberi rangsangan berupa sentuhan dan ucapan.


Yuna berkaca-kaca mendenger penjelasan sang dokter. Dia mengucap syukur dalam hati, dia bahagia mendapatkan respon Leo meskipun hanya gerakan halus pada satu jarinya saja.


"Bagaimana dengan syaraf tulang belakangnya? Apakah masih bisa untuk diselamatkan? Dia tidak mungkin cacat permanen bukan Dokter?" tanya Tuan Nugraha tidak sabar. Kemudian, Sang dokter mengeluarkan hasil pemeriksaan satu lagi. Sang dokter memperlihatkan foto X syaraf tulang belakang Leo.


Sang dokter menjelaskan jika saat ini Leo dalam masa yang sangat sulit. Jika pun nyawanya bisa diselamatkan, tapi kemungkinan dia akan mengalami kelumpuhan.


Badai itu datang dan menghantam hati Yuna dengan kejam. Dia terpaku ditempatnya dengan wajah yang berselimut kesedihan. Lumpuh? Jika bisa, dia ingin Leo kembali normal tetapi jika tidak bisa maka keselamatan nyawa Leo sudah cukup untuk Yuna. Leo pernah berkata padanya ... jika suatu saat nanti kakinya tak lagi mampu untuk berpijak, masih ada tangan yang akan terus menggenggamnya. Masih ada jemari yang akan menuntunnya melewati hari demi hari hingga mereka menua bersama. Melewati tahun demi tahun hingga semesta membawa mereka pergi dari dunia. Ya, tangan mereka akan terus menggenggam menapaki jalan takdir yang telah digariskan.


Tuan besar Nugraha terlihat menyeka air matanya. Beliau mencoba untuk tetap tegar. "Jika ... sakitnya Leo adalah karena kesalahan pada masa lalunya, maka biarkan aku yang menanggung dosa yang ia lakukan. Aku adalah Ayahnya, biarkan aku yang menanggungnya," batin Papa dengan rasa sesak di dadanya. Kemudian, beliau mengangkat wajahnya dan kembali menatap Sang dokter.


"Tidak adakah cara lain untuk membuatnya kembali seperti semula?" tanya Tuan besar Nugraha.


"Ada," jawab Sang dokter dengan keyakinan. Secercah cahaya itu menghampiri. Yuna dan Tuan besar Nugraha semakin menatap dokter meminta jawaban yang lebih.


"Namun ini sulit," lanjut Sang dokter.


"Bagaimanapun itu, akan kami lakukan. Semahal apapun biayanya akan kami tanggung," sahut Tuan besar Nugraha. Dokter membalas tatapan matanya kemudian menghela nafas pelan.


"Ini diluar dari kesanggupan tim kami. Dan juga ini bukan masalah uang," ucap Sang dokter. "Ada dokter ahli di negara ini. Mungkin beliau bisa menyelamatkan Tuan muda Leo dan bisa menjalankan operasi segera, tapi ...." Sang dokter menggantung ucapannya. Tuan besar Nugraha dan Yuna menunggu penjelasannya dengan harap-harap cemas. "Beliau tidak bisa dibayar dengan uang. Dan sangat susah untuk membuatnya datang, jadwalnya ...."


"Siapa dokter itu?" tanya Yuna memotong. Sang dokter mengalihkan pandangannya pada Yuna.


__________________


Catatan penulis πŸ₯°


Goyang jempolnya ya Mbeb.. kasih like koment. Ok. Terima kasih πŸ₯°πŸ™ Mohon koreksi jika ada typo-typo. Ilupyu... Kalian luar biasa πŸ₯°


Judulnya nyusul πŸ˜„πŸ˜„πŸ˜„ yang penting Up dulu ya. Nggak pada sabar nunggu kan.