Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 252_Matahari Terbit


Udara masih sangat murni, membawanya ke rongga dada dan melepaskan dengan perlahan. Leo dan Yuna berdiri di pinggir pantai, tangan mereka masih bergandengan, sementara mata mereka menatap lurus ke depan. Ke arah Surya yang perlahan menyapa.


Leo melepaskan genggaman tangannya, kemudian beralih memeluk pinggang Yuna yang tidak lagi ramping. Dia menarik Yuna dengan pelan untuk menjadi begitu dekat dengannya.


"Sayang," panggilannya. "Kau cantik," lanjutnya berbisik mesra di telinga Yuna. Suara Leo terdengar begitu halus pada telinga Yuna lalu merambat ke hatinya. Indah dan semakin indah. Yuna mengigit bibirnya untuk menahan senyum merona pada kedua pipinya. Leo selalu berlaku manis, selalu membuatnya jatuh cinta berkali-kali. Dalam suaranya, dalam kecupannya, dalam sentuhannya, dan semua hal yang Leo lakukan padanya adalah keindahan yang terus-menerus membuatnya jatuh hati.


"Jika aku tidak cantik, kau tidak mungkin tertarik pada ku," jawab Yuna dengan PeDe , "Kau dulu pernah bilang ... kau mengalah berdebat dengan ku di minimarket karena aku cantik," lanjutnya. Leo terkekeh.


"Hmmm," dia mengangguk membenarkan ucapan Yuna. Surya dengan sinar paginya yang lembut perlahan menyapa dan menyentuh wajah mereka berdua dengan hangat. Cahaya nyata yang setiap hari memberi penerangan pada jalan yang gelap jika tanpanya. Itu, seperti jika mereka berdua saling terpisah. Akan selalu gelap jika Surya tidak hadir disisinya.


"Aku telah berterima kasih kepada Kiara," ujar Yuna. Dia masih menatap kedepan. Air laut yang saat ini seolah berwarna kuning keemasan dan berkilauan. Surya yang memberikan cahaya pada semesta. Leo menoleh ke arahnya. Dia menatap Yuna, perasaannya mulai tidak tenang.


"Kau menemuinya?" Tanya Leo dengan tidak sabar. Dia akan menghukum Yuna jika Yuna sampai menemui Kiara.


Yuna menggeleng, "Tidak," Jawabanya pasti. "Saat aku bertemu dengannya di restoran kala itu," lanjutnya.


"Lalu."


"Aku berterima kasih kepadanya karena dia telah membuat mu patah hati, aku juga berterima kasih kepadanya karena dia mencampakkan mu," ujar Yuna. Dia sedikit menarik ujung bibirnya, ia tersenyum tipis kemudian membawa pandangannya pada Leo. "Aku pernah bilang pada mu jika aku ingin mengucapkan itu padanya dan sudah ku lakukan," matanya menatap wajah Leo secara menyeluruh. Dia selalu mengagumi wajah ini. Kemudian, dia kembali menatap kedepan. "Seperti matahari dan rembulan aku mencintaimu. Aku tidak ingin kau meninggalkan ku, kau adalah milikku. Hanya milik ku," ujar Yuna.


"Apa ada yang menggangu pikiran mu?" Tanya Leo. Dia masih menatap Yuna dari samping.


"Kau tampan, kau baik dan kau sangat kaya. Siapa wanita di dunia ini yang tidak menginginkan mu," jawab Yuna.


"Ada masalah dengan itu?"


"Bagaimana jika suatu saat nanti ada wanita yang mampu masuk ke dalam hatimu?" Ujar Yuna dengan khawatir. Dia bukan wanita yang sering menonton sinetron atau FTV tentang perselingkuhan dan penghianatan, tetapi tiba-tiba pikiran itu muncul begitu saja. Harta, tahta dan wanita. Bukankah seperti itu lakon godaan lelaki?


"Bagaimana bisa aku tergoda jika kau merawat hatiku dengan sangat baik," jawab Leo. Mendengar itu, membuat Yuna langsung membawa pandangannya pada Leo. Mata mereka bertemu dan saling menatap. Tangan Leo terangkat untuk di letakkan di pipi Yuna. Ia mengusap pipi itu dengan kasih.


Yuna menatapnya, menatap wajah Leo yang selalu dia kagumi, "Aku akan berusaha untuk selalu merawat hatimu dengan sangat baik hingga tidak ada celah untuk siapapun mampu masuk ke dalam sini," jawab Yuna. Telapak tangannya menempel di dada Leo.


Leo mengangguk, "Jangan khawatirkan apapun," ucap Leo. Tangannya masih mengusap pipi Yuna. Dan kemudian dia menunduk dengan anggun. Bibirnya menyentuh bibir Yuna. Menciumnya dengan lembut dan penuh kasih. Tidak ada kata, tidak ada juga puisi tentang cinta, hanya ada ciuman romantis di pagi ini. Dibawah sorot surya yang begitu hangat, siluet dua insan yang saling terpaut terlukis di atas pasir putih yang mereka pijak. Leo semakin mendekapnya, mendekap raga wanita yang sangat dia cintai, mendekap raga wanita yang didalam rahimnya ada benih cintanya. Leo melepaskan ciumannya, bibirnya menyusuri pipi Yuna dan berhenti di telinganya. "Esok atau kapanpun aku hanya akan mencintai mu, Yuna," bisik Leo dengan kelembutan dalam suaranya.


Yuna mengangguk, tangan kirinya memeluk pinggang Leo sementara yang satunya lagi mengusap pipi Leo.


"Leo J, kau milikku," balas Yuna dengan berbisik. Dan Leo kembali menciumnya. Tidak ada rasa puas dalam dirinya pada Yuna. Dia ingin lagi dan lagi. Yuna telah membuatnya jatuh cinta dengan begitu dalam.


"Umm," Yuna semakin mengeratkan genggaman tangannya pada pinggang Leo. Bibir mereka terpaut, saling membalas dengan lembut. Berayun dalam lingkar kemesraan. Yuna tidak memejamkan matanya, dalam indah gigitan bibirnya ia menatap Leo dengan penuh cinta. Dia juga sama dengan Leo, tidak ada rasa puas dalam dirinya. Dia ingin lagi dan lagi. Leo telah membuatnya jatuh cinta dengan begitu dalam.


"Sayang," ucapnya setelah Leo melepaskan bibirnya.


"Hmm," jawab Leo.


"Bagaimana jika nanti aku bertemu dengan Alea?" Tanya Yuna. "Aku berharap tidak bertemu dengan dia tapi bagaimana jika dengan tidak sengaja aku bertemu dia?"


"Aku tidak tahu," jawab Leo. Dia mengangkat bahunya. Kemudian, mereka berdua duduk di atas pasir.


"Apa aku harus memakinya?" Tanya Yuna lagi.


"Kau bisa memaki?" Balas Leo bertanya. Yuna mengerutkan keningnya.


"Bisa," jawab Yuna.


"Apa kau akan berkata kotor padanya?" Tanya Leo lagi.


Leo mengambil tangan Yuna dan menepuk-nepuk punggung tangannya pelan. "Sayang, kau wanita yang anggun dan tetaplah seperti itu," ujar Leo. Tangan kanannya mengulur dan menyentuh bibir Yuna dengan lembut. Ibu jarinya mengusap bibir Yuna penuh kasih. "Jangan kotori bibir manis ini dengan sumpah serapah. Bibir manis ini hanya untuk berujar sesuatu yang baik. Bibir manis ini hanya boleh melafalkan sesuatu yang indah, menyebut namaku, misalnya," ujar Leo. Pada kalimat terakhirnya, Yuna tersenyum dan langsung mengigit jari Leo yang berada di bibirnya dengan gemas.


"Au, au," pekik Leo. Dan Yuna langsung melepaskan gigitannya pada jari Leo.


"Contoh mu mengandung rasa narsis Tuan tampan," ucap Yuna tertawa kecil. Ibu jari Leo kembali mengusap bibirnya.


"Aku sangat mengilai bibir ini," ujarnya dengan suara yang seksi. Jemarinya mulai turun untuk mengusap dagu Yuna, bermain-main sekilas di sana lalu lebih turun lagi, "Bukan hanya bibirmu, aku menggilai semua yang ada pada diri mu," ucapnya dengan suara yang semakin seksi. Jemarinya mulai melewati leher jenjang nan halus milik Yuna, ia membawa jemarinya untuk lebih turun ke bawah.


"Sayang," ujar Yuna. Dia menangkap tangan Leo yang mulai nakal. "Ini ... " Yuna menatap matanya. Suara seksi dan sentuhan Leo mengandung godaan yang mematikan. Mantra yang selalu menghipnotis dirinya untuk pasrah.


"Apa?"


"Ummm, kau jangan nakal disini," ujar Yuna. "Lagi pula ini masih sangat pagi kenapa kau sudah mulai nakal." lanjutnya dengan mengambil tangan Leo dari dadanya.


"Ayo kembali," ajak Leo.


"Kau mau melanjutkan aksi nakal mu?"


"Aku tidak mengatakan itu, atau kau menginginkannya? Aku dengan senang hati akan memuaskan mu Ratuku," ucap Leo semakin menggoda Yuna.


Kedua pipi Yuna bersemu merah, dengan hidung yang kembang kempis karena tersipu.


"Aku tidak menginginkannya," sangkal Yuna dengan langsung memalingkan wajahnya. Kemudian, ia segera beranjak dan melangkah menuju pantai. Leo segera menyusulnya.


"Kau baru sembuh, jangan bermain air," cegah Leo.


"Tidak, aku hanya ingin membasahi kakiku," jawab Yuna.


Mereka berdua berjalan beriringan dengan bergandengan tangan menyusuri sepanjang bibir pantai. Kaki mereka termanjakan oleh sapuan ombak yang berkejaran dengan halus.


"Jadi, apa yang harus ku lakukan jika bertemu dengan Alea?" Tanya Yuna lagi.


"Kau bisa menjambak rambutnya," jawab Leo dengan menahan tawa.


"Apppa?!!" Yuna terkejut dengan jawaban yang Leo berikan.


"Hahaaaa, aku bercanda," ucap Leo. "Biarkan saja. Kau tidak perlu capek-capek mengeluarkan suara untuk memakinya, kau juga tidak perlu capek-capek membuat dirimu mencakarnya .... "


"Siapa yang berniat untuk mencakarnya?" sahut Yuna segera. "Aku hanya suka mencakar mu," lanjut Yuna dengan menahan senyum.


"Aku akan langsung memakan mu setelah kita sampai nanti," kata Leo dengan gemas. Dan Yuna langsung melepaskan genggaman tangannya. Dia berlari ...


"Mimpi saja," ujarnya dengan sedikit menjulurkan lidah, "Weeek," dia langsung berlari dan Leo langsung mengejarnya.


___


Catatan Penulis ( Curhatan πŸ₯° )


Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini 😍😘πŸ₯°πŸ™ Terima kasih yang udah like komen dan vote.


Terima kasih untuk semua Sahabat Sebenarnya Cinta 🌹 mohon dukungan terus novel kesayangan ini ya, agar tetap berada di posisi pedasnya. 😘πŸ₯° I luv you kawan. Saaaaayang kalian semua. Sayang banget pokoknya dah πŸ₯°πŸ˜˜.


PLAGIAT JANGAN MAMPIR SINI 😠 😀