
Zian bergegas masuk menuju ke ruangan yang ditunjukkan resepsionis tadi.
Ruangan Owner sekaligus CEO perusahaan megah itu.
" Selamat datang tuan muda Zian ". sambut tuan Hadi Brata tersenyum simpul.
" Terimakasih sambutannya tapi maaf, kalau kedatangan saya ke sini bakalan bikin bapak nggak nyaman ".
" Mari kita bicarakan baik-baik tuan muda, silahkan duduk dulu ". ucap Pak Hadi Brata masih berusaha bersikap ramah. Mengingat siapa tamunya saat ini.
Zian duduk dengan santainya.
" Ada masalah apa sebenarnya sampai tuan muda berkenan datang berkunjung kemari ?" tanya pak Hadi Brata dengan hati-hati.
" Begini . . .
Zian memulai pembicaraan dengan serius.
. . . ini tentang Nayla putri bapak ".
" Ada apa dengan Nayla?"
" Nayla sudah melakukan kejahatan yang serius saat ini, bahkan sebelumnya banyak tindakannya di sekolah yang merugikan orang lain. Dia sering mengerjai anak lain yang dekat dengan Ilham ". jelas Zian.
" Ah ya saya pikir itu nggak masalah karena yah begitulah anak-anak muda jaman sekarang nggak pernah ada yang serius, bercanda melulu ". kilah pak Hadi Brata dengan santainya.
Zian mulai gerah mendengar ucapan sosok di depannya.
" Baiklah kalau seperti itu pemikiran bapak, bukti rekaman yang ada ini akan saya serahkan ke kantor polisi biarkan mereka yang memutuskan apakah tindakannya itu bercanda atau serius ". ujar Zian seraya bangkit berdiri hendak pergi.
Pak Hadi Brata buru-buru menahannya lengannya.
" Hem . . . baiklah. Jadi kemarin Nayla menyewa beberapa orang preman untuk menculik salah satu adik kelasnya. Di dalam kesepakatan yang dibuat, Nayla memberikan kuasa penuh kepada para preman itu untuk melakukan apa saja dengan gadis itu termasuk membunuhnya.
Apakah bapak masih menganggap hal itu sebuah candaan konyol ?" Zian tersenyum aneh.
Terlihat kebencian di dalam manik mata indahnya.
Pak Hadi Brata sampai gelagapan ditatap seperti itu.
" Bapak tahu kan itu sama saja dengan penculikan dan pembunuhan berencana? wah kira-kira berapa tahun bakal dihabiskan Nayla di penjara kalau sampai papa ikut campur dengan urusan ini ?"
Nyali pak Hadi Brata seketika menciut apalagi kalau harus berurusan dengan papanya Zian. Bakal kacau nantinya. Keringat dingin mulai bergulir di dahinya, bergulir turun namun buru-buru dilap dengan sapu tangan yang dirogoh dari saku celananya.
" Be . . begini saja maunya tuan muda, bapak harus bagaimana agar bukti itu tidak diserahkan ke pihak kepolisian?" tanyanya dengan wajah memelas.
Zian tersenyum sumringah mendengar pertanyaan yang ditunggunya.
" Bawa Nayla sejauh mungkin dari sini dan urus kedua sahabatnya agar keluar dari sekolah sekarang juga , terserah mau dipindahkan ke mana. Yang terakhir, Nayla dan kedua sahabatnya harus berjanji nggak akan pernah mengganggu gadis itu lagi. Kalau sampai melanggar janji, siap-siap perusahaan ini bakal berganti pemiliknya !" ujar Zian tegas dengan rahang mengeras.
Deg.
Zian tak main-main dengan ancamannya.
Tanpa protes apapun pak Hadi langsung menyanggupi permintaan Zian. Dia tidak mungkin mengorbankan perusahaan yang dengan susah payah ia rintis.
" Baiklah pak Hadi Brata, saya kira pembicaraan kita sudah selesai. Bukti rekamannya akan saya simpan dengan baik untuk berjaga-jaga jika suatu saat nanti, bapak ingkar janji". ucap Zian seraya pamit pergi dari situ.
\*\*\*\*\*