
Waktu sudah menunjukkan pukul delapan lewat 30 menit.
Tiara kembali ke sekolah setelah mengganti pakaian olahraga yang tadi dipakainya.
Di depan gerbang ia melihat Sandra yang sedang ngobrol dengan Nina. Khawatir terjadi masalah, iapun bergegas melewati mereka.
" Kenapa Sandra nggak balik ke sekolah ya, lo tahu nggak dia kemana?" tanya Nayla.
" Oh tadi, waktu di perjalanan pulang ada yang nabrak Sandra ".
" Hah? yang bener?!" pekik Nayla.
" Trus, gimana keadaannya sekarang?"
" Nggak fatal sih, cuma luka-luka doang ". jawab Nina sembari membayangkan yang ia lihat tadi.
" Di rawat di rumah sakit mana dia sekarang?"
" Di rumahnya aja".
" Oke, pulang sekolah nanti kita singgah ke rumahnya".
Nina mengangguk setuju. Kedua gadis itu kemudian menuju ke kelas.
Siswa lainnya mulai berdatangan.
Begitu juga dengan Ilham yang mulai memasuki kelas.
Cowok itu segera menuju ke tempat duduknya tanpa mempedulikan siswa lainnya.
Tanpa kecuali Nayla yang memandangnya dengan tatapan kagumnya, hal yang sering membuatnya muak.
Ia duduk termenung menatap keluar jendela. Masih dengan pikiran yang sama.
" Semoga kamu baik-baik aja Ra ". gumamnya lirih seraya menghembuskan nafas berat.
Sebenarnya ia ingin sekali melindungi gadis itu namun kembali lagi ia terhempas pada realita mengingat posisi dirinya yang tak mungkin melakukan inginnya. Tak peduli seberapa besar pun itu. Miris memang.
" Hei, dari tadi melamun aja". suara Nayla membuyarkan semua lamunannya.
Nayla menatapnya mesra seraya bergelayut manja di lengannya.
" Lepasin Nayla, ini di sekolah !" ujar Ilham seraya berusaha melepaskan tangan tunangannya.
" Gue juga tahu kok ini di sekolah. Bodoh amat ! gue nggak peduli dengan penilaian mereka !" jawabnya mulai kesal dengan respon Ilham yang selalu melarangnya bermanja-manja.
Melihat wajah Ilham yang mulai emosi, terpaksa ia melepaskan tangannya dari lengan cowok itu.
" Pacaran melulu kerjanya !" seru Hendra yang baru saja masuk ke dalam kelas dan dibalas tatapan tak suka dari Ilham.
Zian juga masuk ke dalam kelas diikuti tatapan dan decak kagum dari siswi lainnya.
Nayla yang duduk di sebelah Ilham pun ikut menatap cowok tampan itu.
Tak bisa dipungkiri, visual Zian memang tiada tandingannya di seantero sekolah. Bahkan mengalahkan artis Korea idola mereka.
Sayangnya, Zian bukanlah sosok yang mudah digapai, oleh Nayla sekalipun.
Sikapnya yang dingin bak kulkas berjalan membuat semua siswi yang tergila-gila padanya terpaksa menahan diri untuk mendekat.
Nayla yang tergolong cantik dan tajir saja ditolaknya mentah-mentah apalagi mereka yang levelnya di bawah Nayla.
" Hai Zian !" sapa Nina yang dilewati Zian tadi pas masuk.
Cowok itu tak peduli, ia menuju ke tempat duduknya seolah tak mendengar apapun. Dengan santai ia meletakkan tas ranselnya dan duduk di bangkunya.
Nina hanya bisa menggerutu dicuekin seperti itu.
" Udah tahu orangnya kayak gitu, masih aja ngebet banget mau negur ". sindir Nayla yang sudah kembali duduk di sebelahnya.
" Namanya juga usaha, siapa tahu kan dibalas". bela Nina tak mau kalah.
Nayla terkekeh mendengar jawaban Nina yang menurutnya sia-sia banget.
" Ya udah terusin aja usahanya ". godanya lagi padahal di dalam hatinya geram dengan sikap Nina yang seolah sedang mencari perhatian dari Zian .
\*\*\*\*\*