
"Kenapa menyuruhnya pergi," tanya Neva.
"Kau mau dia jadi obat nyamuk?" jawab Vano. "Makan ini saja mumpung masih hangat," lanjutnya. Dia melepaskan pelukannya. Neva mengerucutkan bibirnya dengan lucu. Dia merasa Vano menjadi unik sekarang.
"Hmmm, manisnya," kata Neva setelah menyuap bubur kacang hijau kedalam mulutnya. Dia menyendok lagi dan memberikannya pada Vano.
"Hmm, lebih manis yang nyuapin," kata Vano.
"Hahaaa, pastinya," jawab Neva. Mereka berdua menghabiskan satu mangkok bubur kacang hijau.
"Kau masih sibuk di kantor?" tanya Vano. Dia menyandarkan punggungnya di dinding.
Neva mengangguk. Dia menyesap minumannya di gelas. "Masih," ucap Neva. "Bagaimana kabar Mama Mahaeswara?" tanyanya kemudian.
Tangan Vano mengulur dan mengusap rambut Neva, mengambilnya sedikit lalu memainkannya. "Kenapa tidak mengunjunginya sendiri Nona," jawab Vano. "Dia merindukan mu," lanjutnya. Neva menatap wajah Vano dan kemudian dia menunduk.
"Hanya Mama saja yang merindukanku?" katanya datar.
"Hmmm iya," jawab Vano dengan sengaja. Neva segera mengangkat wajahnya dan menoleh ke arah Vano dengan cemberut. Vano tertawa ringan melihatnya cemberut.
"Kau jahat," ucap Neva. Dia kemudian berpaling dan meletakkan kepalanya di atas meja. Masih dengan tawa ringankan Vano mengusap punggung Neva, Kemudian dia menyusul meletakkan kepalanya di atas meja. Dia menghadap ke arah Neva. Diam beberapa detik hanya untuk saling menatap.
Tangan Vano mengulur dan mengusap pipi Neva.
"Uuu ... cantiknya," pujinya dengan senyum.
"Bohong," jawab Neva.
"Kenapa tidak percaya?"
"Kenapa hanya Mama Mahaeswara yang merindukanku dan kau tidak?"
Vano terkekeh, "Kau percaya itu?" tangannya masih mengusap-usap pipi Neva dengan lembut.
"Ya. Kau memang tidak merindukan ku," jawab Neva.
"Jika aku tidak merindukan mu, mana mungkin aku kesini tengah malam begini," jawab Vano skak. Neva mengerutkan bibirnya dengan senyum yang tertahan.
"Tapi tadi Kakak---"
"Sttt ...." Vano memotong ucapan Neva. Tangannya berpindah ke bibir gadis itu. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu," pinta Vano.
"Kau yang membuat ku kembali memanggilmu dengan sebutan itu," jawab Neva dengan pelan-pelan karena jari telunjuk Vano masih berada di bibirnya.
"Sekarang jangan panggil begitu lagi."
Pendingin ruangan terasa semakin dingin seiring waktu yang berjalan semakin malam tetapi hangat pandangan dan sentuhannya selalu hangat.
"Aku pasti sangat lelah," ucap Vano. "Kau harus kuliah dan bekerja," tangan Vano kembali berpindah. Dia mengusap rambut Neva dengan halus.
Neva menggeleng pelan, "Aku tidak merasakan lelah. Aku bersemangat," jawab Neva. "Hanya ini yang bisa ku lakukan untuk Kak Lee," lanjutnya dengan sedih. Dia menatap kedalam mata Vano. Vano membalas tatapan matanya dengan dalam. Dia semakin tahu jika sakitnya Leo bukan sakit biasa.
"Leo pasti akan sangat bangga padamu," ujarnya mencoba menghibur Neva.
"Aku hanya ingin dia segera sembuh," suara Neva pelan. Hatinya menjadi berkecamuk, dia takut terjadi sesuatu dengan kakaknya.
"Pasti, dia pasti akan segera sembuh," ucap Vano. Neva mengangguk dan mengamini. Mereka diam beberapa saat. "Neva ...."
"Hmmm."
Vano mengambil nafasnya dalam sebelum ia bertanya, "Bolehkah aku tahu sakit apa yang Leo derita?" tanyanya pelan dan hati-hati. Dia ingin berkata jika Neva tidak berkenan memberitahunya maka tidak perlu beri tahu tetapi sebelum Vano kembali membuka mulutnya gadis itu lebih dulu menjawab pertanyaan Vano.
Vano termangu beberapa saat setelah mendengar jawab dari Neva. Dia memproses ucapan itu. Kemudian, dadanya terasa sesak. Dia tahu efek dari sakit yang Leo derita jika pengobatannya gagal.
"Kakak ku sangat menyedihkan, aku benci dia," ucap Neva tercekat. "Dia sangat ceroboh."
Vano mendekatkan dirinya dan memeluk Neva.
"Tidak akan ada hal buruk, Leo pasti sembuh," dia menghibur Neva lagi. Neva mengigit bibirnya menahan sesuatu yang membuat hatinya cemas. Hal yang paling diinginkan adalah kesembuhan yang sempurna, kesembuhan yang tidak meninggalkan rasa sakit lagi. Namun ... jika kisah semesta berkata lain, maka dengan segala kasihnya dia akan mendonorkan sum-sumnya untuk kakaknya. Dia telah membuat janji untuk dirinya sendiri.
"Sudah larut malam. Kau harus segera istirahat. Besok ku jemput okey," ucap Vano dengan perhatian.
"Aku belum ngantuk," jawab Neva pelan.
"Kau harus jaga kesehatanmu, jangan sampai sakit. Siapa yang akan membuat Leo bangga jika kau sakit dan kantornya diurus oleh orang lain," ujar Vano. Namun Neva masih menolak untuk tidur. "Mau ku gendong seperti waktu itu?" gurau Vano dan dia langsung mendapatkan pukulan dibahunya. Dan pada akhirnya, Neva menyetujui untuk tidur. Dia beranjak dan disusul Vano.
Neva mengantar Vano keluar lebih dulu.
"Hati-hati," ucapnya.
Vano mengangguk, "Selamat tidur sayang," balas Vano. Dia meninggalkan kecupan ringan di kening Neva. Kemudian dia masuk ke dalam mobil dan pamit untuk pulang.
"Bye," tangan Neva melambai.
____________
Sore hari di Negara A.
Hari ini Tuan besar Nugraha pulang dan hanya Yuna yang menjaga Leo. Papa berani meninggalkan Leo karena hasil pemeriksaan, kondisi Leo mulai membaik. Jika baik dan selalu baik maka besar kemungkinan, beberapa hari kedepan, Leo sudah diizinkan untuk kembali ke rumah dan menjalani pengobatan dirumah dengan pengawasan ketat.
"Sayang," panggil Yuna. Dia tengah menyisir rambut Leo.
"Hmm," jawab Leo. Tangannya melingkar di pinggang Yuna.
"Kata Mama, sebentar lagi disini musim salju," ucap Yuna yang dijawab anggukan oleh Leo. "Jika nanti turun salju, itu ... adalah salju pertama yang ku lihat," lanjut Yuna. Dia telah selesai menyisir rambut Leo. Leo mendongak untuk menatap wajah Yuna. Mata mereka bertemu. "Aku ingin menikmati keindahan salju dalam pandangan mataku bersama mu," bibir Yuna tersenyum meskipun hatinya masih dipenuhi kecemasan.
Leo menarik pelan tangan Yuna dan membuat Yuna duduk didepannya. Tangannya dengan lembut mengusap pipi Yuna.
"Aku pasti akan menemanimu menyaksikan salju pertama yang kau lihat," ucap Leo dengan keyakinan. Dia harus sembuh, lalu menemani istrinya untuk melihat salju turun dari langit dengan indah. Ada tempat indah yang menawan di negara ini untuk menikmati salju. Dia akan membawa Yuna kesana.
Yuna mengangguk, "Harus, kau harus menemaniku," kata Yuna. "Semangat," serunya dengan semangat. Dia mencium pipi Leo. "Harus selalu semangat dan segera sembuh," ucapnya lagi dengan semangat.
"Semangat," ujar Leo mengikuti Yuna dengan semangat. Mereka berdua tersenyum dengan lebar.
Tak lama kemudian, pintu kamar ruang rawat Leo terketuk pelan. Seseorang mengucapkan salam diluar ruangan. Dia menampakkan wajahnya sedikit dipintu kaca. Yuna dan Leo menoleh berbarengan untuk melihat siapa yang datang. Kemudian, mereka saling menatap setelah tahu siapa yang datang. Yuna mengangguk sebagai tanggapan memberi izin seseorang itu untuk masuk.
Pelan, pintu ruangan terbuka dan seseorang itu masuk dengan senyum ramah.
"Selamat sore Tuan muda Leo, Nyonya muda Yuna," seseorang itu memberi salam ramah.
"Sore," jawab Yuna dengan senyum.
___________
Catatan penulis π₯°π
Terima kasih kawan tersayang yang masih dengan setia menunggu kelanjutan kisah ini π₯°
Oh, iya ... berkat dukungan dari teman-teman semua, Alhamdulillah Sebenarnya Cinta masuk dalam rank ke 18 dalam preode minggu lalu. π₯°π Terima kasih tak terhingga untuk cinta kalian pada novel ini dan dengan rela memberikan poinnya π₯°π Aku padamu kawan tersayang... ilupyu full.
Selamat Tahun Baru Hijriyah sahabat Sebenarnya Cinta π Author minta maaf jika ada salah ya. π₯°π Semoga tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Aamiin.
Kalian luar biasa π₯°