
"Bagaimana keadaan Baby Arai, Pa," tanya Leo segera setelah papanya duduk di sampingnya. Suaranya masih lemah. Tuan besar Nugraha tersenyum dan kemudian mencium kening putranya dengan sayang.
"Dia baik-baik saja," jawab Tuan besar Nugraha.
"Dia tidak terluka sama sekali kan Pa?" tanya Leo lagi yang dijawab anggukan oleh Papa.
Tuan besar Nugraha kemudian membuat panggilan vidio pada isterinya. Mama di seberang sana tak sabar langsung menanyakan keadaan Leo.
"Dia sudah siuman," jawab Papa. Mama mengucap syukur dalam hati. Beliau berbicara pada Leo dengan air mata bahagia. Lalu Neva dan Dimas yang langsung ikut bergabung. Mereka juga sama, menyapa Leo dengan penuh haru. Setelah bertukar beberapa kata dengan mereka, kemudian, Mama membawa kamera pada Baby Arai. Si kecil imut itu tengah berada di atas ayunan elektrik yang bergerak kekanan dan ke kiri dengan teratur.
Mata bulatnya langsung menatap ke layar ponsel saat Omanya memperlihatkan layar ponsel di depannya. Perlahan dia membuka mulutnya dan menjatuhkan dot yang ada didalam mulutnya.
"Uuuu," katanya dengan menggerakkan tangan dan kakinya dengan semangat hingga kucing tenang langsung lompat kebawah. Suaranya nyaring nun merdu. Dia berteriak semaunya dengan binar mata yang bahagia. "Emmm oooo," bibir mungilnya berbentuk huruf o dengan sempurna. Gerak kakinya seolah ingin berlari.
Leo tersenyum lebar dengan hati yang bahagia melihat putranya. Dia melambaikan tangannya pelan ke arah kamera. Dan Baby Arai semakin heboh.
"Hallo Daddy," Mama yang mewakili Baby Arai menyapa Leo.
Baby Arai dengan bahagia menyapa daddy-nya lewat layar ponsel. Tangan dan kaki imutnya bergerak secara bersamaan. Mulut mungilnya berceloteh dengan menggemaskan.
Bahagia, tentu saja. Kini semuanya bahagia dengan Leo kembali membuka matanya. Harapan yang hampir sirna itu perlahan mulai menyapa lagi dengan membawa sekotak harapan akan akhir yang indah. Membawa sekotak harapan akan akhir yang membahagiakan dengan penuh tawa tanpa menyimpan luka.
"Tunggu Daddy pulang ya Nak," ujar Leo dengan senyum rindu untuk anaknya.
"Selalu Daddy," Mama yang menjawabnya. "Daddy lekas sembuh dan ayo ajari aku berlari," lanjut Mama. Leo mengangguk. Dan kemudian mengakhiri panggilannya.
"Lewat panggilan Vidio saja dia heboh," komentar Papa setelah memasukkan ponselnya kedalam saku kemejanya. "Kau harus segera sembuh, ok."
"Pasti Pa," jawab Leo. Dia juga tidak ingin begini, ia tidak ingin kembali terbaring seperti ini. Dia ingat semua janjinya, dia sudah berjanji untuk tidak membuat orang-orang yang mencintainya mencemaskannya.
Tak lama, pintu ruang Leo terbuka. Yuna melangkah pelan dengan senyum di wajahnya.
Leo berkedip pelan lalu membawa pandangannya pada Yuna. Mata mereka bertemu, saling menyapa mengungkapkan rindu, saling menyapa menyampaikan cinta. Tanpa kata, Yuna semakin mendekat. Tangan kanan Leo dengan lemah menyambutnya, Yuna menahan genangan air matanya agar tidak terjatuh.
Pelan, tangan Yuna menyambut uluran tangan Leo. Menggenggamnya dengan hangat. Kedua tangan itu bertemu membawa beribu pesan dari hati.
Papa pamit keluar dulu untuk memberi waktu pada Yuna.
"Papa sudah makan?" tanya Yuna perhatian.
"Sudah," jawab Papa. "Kamu yang belum Yuna. Mau Papa pesankan?"
"Tidak Pa, terima kasih," jawab Yuna. Kemudian Tuan besar Nugraha keluar ruangan meninggalkan mereka.
Tangan sebelah Leo terangkat dan mengusap pipi Yuna. Menatap gadis itu dengan sedih.
"Kau habis menangis?" tanya Leo pelan, suaranya masih lemah. Dia menyadari wajah Yuna yang sangat sembab.
Yuna mengangguk dengan jujur, "Ya, air mataku menetes lagi dan lagi. Aku menangis lagi dan lagi. Jangan tanya lagi," Yuna memanyunkan bibirnya. Dia menatap Leo, "Tenang saja Tuan muda, aku punya stok banyak air mata jika kau berniat membuatku menangis lagi," ucapnya bergurau.
"Siapa yang berniat membuat mu menangis?" sahut Leo. Tangannya berada diujung mata Yuna, mengusapnya dengan halus.
"Kau."
"Tidak, mana ada."
"Ada."
Tangan Yuna terulur dan menyentuh dada Leo, "Ini buktinya," ucap Yuna. "Kau sakit lagi, kau bahkan tidak membuka matamu, kau membuatku ketakutan setiap detik, kau membiarkanku sedih," lanjut Yuna. "Tapi ... kau adalah Daddy yang luar biasa. Aku yang salah karena meninggalkan mu bersama Baby Arai sendirian. Andai sore itu aku tidak meninggalkan kalian, maka ini tidak akan terjadi."
"Hei," Leo menggeleng pelan. "Bukan salahmu," ujar Leo sepotong-sepotong. Dia belum mampu berbicara banyak. Tubuhnya masih terasa begitu lemah. "Kemari," tangannya menarik pelan tengkuk Yuna. Meminta Yuna untuk mendekat ke arahnya. Yuna mengikuti tarikan halus itu, membuat wajahnya dekat dengan wajah Leo. Dan kecupan lembut singgah di keningnya. "I love you," ucap Leo.
Yuna mengangguk, kemudian menempatkan kepalanya disamping kepala Leo. Tangannya memeluk tubuh Leo dengan hati-hati.
"Istirahatlah yang banyak sayang, aku akan disini menjagamu," ucap Yuna.
"Kau belum makan, makan dulu," ucap Leo. Yuna menggeleng pelan.
"Aku tidak ada nafsu untuk makan. Aku hanya disamping mu."
"Aku sudah baik-baik saja, kau bisa lihat sendiri."
Yuna masih menggeleng. "Mau ku ceritakan sesuatu?" tanyanya mengalihkan. Sebenarnya Leo tahu itu tetapi saat ini rasanya dia tidak mampu untuk berdebat dengan Yuna.
"Apa?" tanyanya. Leo menyetujui Yuna bercerita.
"Aku seperti melangkah tanpa henti untuk menemukan arti Sebenarnya Cinta. Seperti apa wujudnya Sebenarnya Cinta itu? Aku tidak pernah tahu, yang aku tahu ... aku hanya ingin kamu, kamu saja."
Leo mengusap tangan Yuna yang berada di atas perutnya. Dia mengambil nafasnya dengan dalam. Yuna pasti melewati hari-hari yang membuatnya ketakutan, hari-hari yang membuatnya bersedih dan itu adalah karena dirinya, batin Leo.
"Aku menyelimutimu dengan cintaku, mendekapmu dengan kasihku, menjagamu dengan setiaku. Beri tahu aku ... apa lagi yang harus ku persembahkan untukmu. Hingga aku tidak lagi takut untuk kehilangan dirimu," ucap Yuna lagi.
"Yuna," Leo mengusap lengannya. "Kau tidak akan kehilangan diriku, pun jika maut memisahkan kita. Karena sebagian dari diriku adalah dirimu. Pandangan mu, sentuhanmu, semuanya."
"Terkadang aku lelah menangis, rasanya air mataku telah mengering, tetapi ... saat kau terluka aku merasakan sakit yang luar biasa dalam hatiku. Aku berharap, ini adalah yang terakhir aku menangis karenamu."
Pelan, kelopak mata Yuna terpejam. Dia letih sepanjang malam terjaga dengan kecemasan dan kekhawatiran yang dengan keji mencabik-cabik hatinya.
Esok ... adalah hari baru. Tinggalkan hari ini dengan ribuan duri yang pernah menyakitimu. Buka kotak kebahagiaan yang kau impikan.
Leo menoleh sedikit dan membuat kecupan di rambut Yuna. "Selamat tidur sayang," ucapnya.
___________
Siang hari Mama dan Dimas bersiap untuk mengunjungi Leo. Beliau menunggu Baby Arai tertidur. Jika tidak, maka mungkin Baby Arai akan menangis saat melihat Omanya pergi tanpa membawa dirinya.
"Sayang, tampannya Oma ... jangan rewel ya. Baby ganteng di rumah dulu sama Tante cantik dan Paman Vano," Nyonya besar Nugraha pamit pada Baby Arai. Beliau mencium cucunya pelan dan hati-hati.
Kemudian, Mama memberi panduan momong pada Neva sekali lagi.
"Jika kau lelah, biar perawat yang mengasuhnya," ujar Mama.
"Tidak akan Ma. Aku akan mengasuhnya sendiri," jawab Neva.
"Biar latihan Ma," sambung Vano dengan senyum lebar. Mama tertawa kecil dan mengangguk.
"Hahaaa ... ok, ok. Segera menikah lalu buruan beri mama cucu dari kalian," goda Mama.
Dan setelah itu Mama pergi ke rumah sakit dengan Dimas.
___________________
Catatan Penulis 🥰🙏
Jangan lupa like komen ya kawan tersayang 🥰 Terima kasih padamu 🥰 luv luv