
Malam yang sama di Rumah Alea.
Laki-laki itu menekuk wajahnya dengan sangat kesal. Dia baru saja membanting perabot yang ada di atas meja makan. Saat ini, dia duduk di bangku di teras rumahnya. Dia sudah menghabiskan dua bungkus rokok. Alea membiarkannya. Dia sudah bisa menebak apa yang terjadi. Papanya pasti tidak berhasil dengan usahanya.
Dan benar bukan, bahwa Leo bukanlah laki-laki yang seperti Papanya ceritakan. Leo memiliki wajah yang tampan, dia juga memiliki harta yang berlimpah tetapi dia bukan tipe laki-laki yang tergiur akan kemolekan wanita.
***@***
Pagi hari setelah sarapan, Leo dan Yuna pamit pada Mama, Kak Dimas dan Neva.
"Sehat selalu sayang," ucap Mama mencium Yuna dan kemudian mengusap perut Yuna.
"Iya Ma, Mama juga," jawab Yuna.
Kemudian, Yuna dan Leo masuk ke dalam mobil.
"Bye...," Yuna melambai pada semuanya sebelum mobil Leo benar-benar meninggalkan area.
Perlahan mobil mereka menjauh dari rumah Mama.
Cring, ponsel Yuna mendapat satu pesan baru.
"Selamat pagi, Yuna. Bagaimana acara wisuda Neva kemarin? Lancar bukan?" Pesan dari Alea.
"Hhm iya lancar Alea. Kenapa kamu tidak hadir?" Balasnya.
"Ada pesanan bunga yang tidak bisa di tunda Yuna," balas Alea. Dan chat berakhir, Yuna tidak membalasnya lagi.
Leo mengantar Yuna ke rumah dan kemudian dia segera pergi ke kantor.
Dia telat hari ini dan langsung melakukan meeting. Setelah meeting selesai, dia langsung masuk ke dalam ruangannya. Dia mengecek ponselnya dan ada pesan dari Yuna.
"Sayang, nanti pulang tepat waktu ya. Aku ingin ke kastil pinggir pantai," isi pesan dari Yuna.
"Baik," balas Leo.
Kemudian, pintu ruangannya di ketuk pelan. Dan seseorang langsung masuk begitu mendapat izin. Asisten Dion. Dia melangkah menuju Bossnya dan berdiri di depannya.
"Boss ada pesan dari Tuan muda Mahaeswara, beliau meminta bertemu nanti sore setelah jam kerja berakhir," ucap Asisten Dion dengan teratur. "Apa Boss mau menemuinya?" Tanyanya dengan sopan.
"Jam makan siang saja," jawab Leo. Dia memilih jam makan siang karena dia harus segera kembali ke rumah setelah jam kerja berakhir.
"Baik Boss," jawab asisten Dion. Lalu dia segera menghubungi asisten pribadi Vano. Dia menyampaikan waktu yang di inginkan bossnya.
"Baik," jawab sekertaris Mayla di seberang sana.
Kemudian, sekertaris Mayla segera menyampaikan pesan asisten Dion pada Vano. Saat ini mereka berada dalam perjalanan.
"Maaf, Direktur... Tuan muda Leo menyetujui untuk bertemu di jam istirahat siang ini," ucap sekertaris Mayla yang berada di dalam satu mobil dengan Vano. Vano mengangguk.
"Tunda pertemuan hari ini dan putar balik mobil menuju bandara," perintahnya. Saat ini mereka masih di luar kota.
"Baik," jawab sekertaris Mayla. Kemudian dia memberi tahu supir untuk memutar arah mobil dan segera menuju bandara.
_Di kantor Leo pada jam istirahat.
"Mobil sudah siap Boss," ucap asisten Dion. Leo menjawabnya dengan anggukan pelan. "Apa saya harus ikut atau tidak?" Tanyanya sedikit ragu. Dia tidak tahu... apakah ini pertemuan bisnis atau pertemuan pribadi.
"Ikut saja," jawab Leo singkat. Asisten Dion mengangguk.
Kemudian, Asisten Dion membuntuti Leo di belakangnya. Mereka masuk ke dalam mobil dan menuju tempat di mana Vano sudah membooking sebuah tempat.
"Kau melakukan sesuai yang ku perintahkan?" Tanya Leo ketika mobil berhenti karena lampu merah.
"Iya, Boss," jawab asisten Dion. Vano memilih tempat yang tidak jauh dari kantor Leo. Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di tempat yang Vano pilih untuk mereka bertemu.
Asisten Dion lebih dulu keluar dan membukakan pintu untuk Leo. Leo melangkah ke dalam dan langsung di sambut secara khusus oleh pelayan.
Leo duduk di tempat yang sudah di pesan Vano.
"Maaf, boss," asisten Dion menghampirinya. "Asistennya Tuan muda Mahaeswara baru saja mengabari jika mereka sedikit telat karena mereka perjalanan dari luar kota," ucap asisten Dion. Leo menjawabnya dengan anggukan. Kemudian, asisten Dion membalik badan dan melangkah keluar.
Leo mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan pada Yuna. Dia tahu jika hari ini, Yuna tidak ketempat Alea.
"Sayang, sedang apa?" dia mengirim pesan pada istrinya. Dan pesannya langsung mendapat balasan. Yuna mengirim foto dirinya bersama Neva, mereka tengah melakukan perawatan Pedi cure, manicure bersama.
"Apa kau sudah makan siang?" tanya Yuna dalam pesannya.
"Belum," balas Leo. Tak lama... dia melihat seseorang berjalan ke arahnya. Dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku jasnya.
"Selamat siang Tuan muda Leo," sapanya dengan ramah dan membungkukkan badannya ketika dia telah sampai di depan Leo.
Leo mengangguk sebagai tanggapan.
"Siang Vano. Santai saja tidak perlu begitu formal," jawabnya. Vano tersenyum kemudian dia duduk berseberangan dengan Leo.
Vano mengangkat tangannya dan meminta pelayan untuk menyiapkan menu siang ini. Dia sudah menerima informasi dari asisten Dion tentang apa yang Leo konsumsi ketika jam makan siang.
"Maaf sudah membuat mu menunggu," ucapnya memulai. Leo mengangguk pelan. "Dan terima kasih untuk waktunya siang ini," lanjutnya. Leo mengangguk lagi.
"Bagaimana dengan kecelakaannya itu?" Tanya Leo langsung. Vano menunduk sebentar dan kembali menatap Leo yang duduk dengan tenang di hadapannya.
Yang terjadi pada pagi itu... pagi dimana Vano harus datang ke acara wisuda Neva. Ponselnya berdering dari Papanya dan memintanya segera keluar kota karena ada kecelakaan dalam proyek Mall terbaru milik perusahaan Mahaeswara. Mall yang digadang-gadang menjadi Mall terbesar di Asia ini dalam pengerjaannya tiba-tiba ambruk dan memakan enam korban nyawa, yang semuanya adalah para pekerja bangunan. Mereka tengah menyelidiki penyebabnya.
Karena musibah itu... Vano tidak bisa hadir di acara wisuda Neva, karena musibah itu, dia hampir tidak memegang ponselnya. Dan dia bahkan hampir tidak tidur.
"Aku pribadi, mengucapkan rasa terima kasih pada mu Direktur Leo. Terima kasih untuk bantuan yang kau berikan pada perusahaan Mahaeswara dengan tepat waktu," ucap Vano dengan tulus. Dia sendiri terkejut pada siang itu ketika asisten khusus Mahaeswara memberi tahunya jika ada dana Milyaran yang masuk atas nama Tuan muda Leo. Kemudian, dia juga dikejutkan dengan datangnya ahli konstruksi untuk ikut mendalami penyebab ambruknya Mall yang baru di bangun itu. Dan satu lagi... pengacara kondang nomor Wahid di negara ini datang juga atas nama Tuan muda Leo.
"Atas nama perusahaan dan atas nama ku pribadi sekali lagi mengucapkan terima kasih," lanjut Vano.
"Kita orang, bisnis. Kau tidak perlu sungkan, tentu ada yang harus kau bayar dengan bantuan yang ku kirim untuk mu," jawab Leo.
"Hhaa... kau tidak berniat sadis dengan memeras ku bukan?" Ujar Vano. Dengan Leo mulai membantunya atas musibah itu, itu berarti... Leo mulai memaafkannya. Dia tahu niat Leo, jika... dia berniat menjebak dalam situasi yang sulit, dia tidak mungkin mengirim pengacara dan ahli konstruksi itu.
Belum sempat Leo menjawab, ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Yuna. Dia segera menggeser tombol hijau.
"Ya, sayang," ucapnya setelah tersambung.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Yuna di seberang sana.
"Kenapa?" Jawab Leo balik bertanya.
"Setelah dari salon, aku berencana untuk datang ke kantor. Kau tidak sibuk bukan?"
"Hmm, okey. Menunggu mu," jawab Leo.
"Kau mau makan apa?" Tanya Yuna.
"Memakan mu," jawab Leo.
"Boss, kau selalu rakus pada ku," jawab Yuna dengan suara yang manja. Leo melirik Vano yang menahan senyumnya. Jika dia tidak bersama Vano saat ini, maka dia akan menggoda Yuna hingga Yuna sampai di kantor nya.
"Hmmm, nggak jadi. Aku takut akan habis dalam terkaman mu," jawab Yuna masih dengan suaranya yang manja.
"Nyonya, kau ke kantor atau aku yang pulang?" Suara Leo mulai gemas padanya.
"Hmmm, okey. Aku yang ke kantor," jawab Yuna.
"Bagus," ucap Leo dan panggilan berakhir. Yuna memutus panggilannya. Kemudian, dia memasukkan kembali ponselnya. "Uhum," Leo terbatuk dengan pelan. "Aku harus segera kembali," ucapnya pada Vano.
"Baik," jawab Vano. "Terima kasih sekali lagi untuk bantuannya dan waktu yang kau luangkan di siang ini," ucap Vano.
Leo mengangguk dan menggeser duduknya. Dia berdiri dan Vano langsung mengikutinya berdiri.
"Selamat siang," ucap Leo.
"Siang," jawab Vano dengan membungkukkan badannya. Kemudian, Leo melangkah untuk keluar tetapi tepat ketika dia berada di samping Vano, dia menghentikan langkahnya.
"Dia menunggu mu," ucapnya pelan dan langsung kembali melangkah lagi untuk keluar.
Asisten Dion segera berdiri dari duduknya ketika melihat si Boss melangkah untuk keluar.
"Mayla, sampai jumpa lagi," ucapnya pamit pada Mayla.
"Selamat siang, Dion. Sampai jumpa lagi," jawab Mayla. Mereka berdua berjabat tangan dan kemudian berpisah.
Dion segera membukakan pintu untuk Bossnya.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang untuk kembali ke kantor Leo.
"Sepertinya bakal ada yang punya pacar baru," Leo tiba-tiba berkomentar. Asisten Dion langsung menoleh ke arahnya dengan keterkejutan di wajahnya. Si Boss meledeknya? Si Boss berbicara padanya selain tentang kerjaan? Dan itu adalah tentang ledekkan. Omg... apakah dunia akan kiamat, batinnya.
"Singkirkan pandangan mu itu. Atau berhenti bekerja dengan ku," ucap dingin. Nahh... ini baru Bossnya, batin Dion lagi. Dia segera menunduk dan memalingkan wajahnya.
"Maaf Boss," ucapnya. "Sekertaris Mayla cakep boss, aku akan memepetnya," ucap Dion kemudian memberikan jawab atas ledekan Bossnya. Namun tidak ada jawaban.
___ Malam hari. Pukul 19.15 di rumah besar keluarga Nugraha. Neva baru saja menyaksikan acara konser artis idolanya live di salah satu stasiun televisi. Di pangkuannya ada keripik kentang rasa rumput laut kesukaannya. Dia ikut bernyanyi dengan suara yang penuh semangat.
Mama yang baru turun dari tangga langsung menghampirinya.
"Sayang, ada tamu kenapa tidak menyapanya?" Tanya Mama. Neva langsung menoleh ke arah Mamanya.
"Eh, maaf Ma. Aku tidak tahu jika ada tamu. Lagi asik itu...," jawabnya. Dia menunjuk televisi yang menayangkan konser penyanyi idolanya. "Tamu buat Papa? Apa Mama?" Tanya Neva.
"Bukan," jawab Mama. Beliau melangkah ke arah Neva dan kemudian duduk di samping Neva. "Tamu untuk mu," ucap Mama melanjutkan. Neva mengerutkan keningnya.
"Untuk ku?" Tanyanya yang di jawab anggukan oleh Mama. Kemudian, Neva segera meletakkan toples keripik kentangnya di atas meja. Dia beranjak dari duduknya dan berdiri. Dia berpikir jika tamu yang Mamanya maksud adalah teman kuliahnya.
"Uhum," Mama berdehem sedang. "Apa kau tidak merapikan rambut mu dulu Nona?" Tanya Mama.
"Hmm?" Neva menoleh ke arah Mamanya. Dan langsung merapikan rambutnya dengan singkat.
"Vano yang bertamu," ucap Mama yang langsung membuat mata Neva melebar.
"Apa, Kak Vano? Mama serius? Dia datang?" Tanyanya semangat.
"Heem," jawab Mama dengan anggukan. Neva langsung menjatuhkan dirinya kembali di atas sofa. Dia cemberut.
"Hmmm, bilang pada dia jika aku sudah tidur," ucap Neva.
"Kenapa?"
"Aku tidak mau bertemu dengannya," jawab Neva.
"Kamu sedang ngambek sama dia?" Tanya Mama. Neva semakin mengerucutkan bibirnya. "Mama jadi ingat jaman Mama muda," ucap Mama sambil mencubit pipinya. Kemudian, Mama beranjak dari duduknya. "Baik, akan Mama sampaikan. Mama harus bilang padanya jika kau tidak ingin bertemu dengan dia bukan. Hmm baik...," Mama pura-pura sedikit melangkah.
"Ma...," cegah Neva. "Berhenti, aku akan menemuinya," lanjut Neva. Mama tersenyum lebar melihat Neva. Mama muda juga seperti itu, dia berpura-pura untuk tidak ingin bertemu tetapi dalam hati sangat rindu.
Neva membenarkan rambutnya dengan benar dan mengusap wajahnya. Kemudian, dia berdiri dan berdiri di depan mamanya.
"Ma, apa aku terlihat kusam?" tanyanya pada Mama. Mama terkekeh dan mengusap pundaknya lembut.
"Tidak, kau sangat cantik," jawab Mama. Neva tersenyum. Dan kemudian dia melangkah pelan menuju ruang tamu. Dia mengambil nafas panjang dan mengeluarkannya dengan lembut.
Vano tersenyum dan langsung berdiri ketika melihat Neva datang dan berdiri di depannya.
"Hai...," sapanya dengan senyum. Mata mereka bertemu.
"Hai," jawab Neva.
Neva kesal, tentu saja. Dia sangat kesal. Bukankah Vano sudah berjanji padanya untuk datang di acara wisudanya tetapi nyatanya hanya mengirimkan pesan singkat permintaan maaf dan itu hanya satu kali lalu tidak ada kabar. "Silahkan duduk, Tuan muda Vano," ucap Neva dengan formal.
"Terima kasih Nona," jawab Vano. Kemudian, mereka berdua duduk berseberangan. Di depan Vano sudah ada minuman, itu berarti jika mereka ngobrol tidak akan ada iklan minuman yang tiba-tiba datang.
"Apa Tuan muda mencari Papa? Mohon maaf beliau masih di luar negeri. Ada yang bisa saya bantu" Tanya Neva dengan tegas dan berbicara seolah dia akan mewakili Papanya untuk membicarakan bisnis.
Vano memperhatikannya dengan seuntai senyum di bibirnya. Terlihat sangat jelas jika gadis ini tengah ngambek. Wajahnya di tekuk dengan bibir mengerucut lancip.
"Siapa yang bilang aku kesini mencari Tuan besar Nugraha? Aku kesini untuk menemui mu," jawab Vano. Matanya tidak lepas dari wajah cantik di hadapannya.
"Menemui ku? Tidak salah?"
"Ayo keluar," ajak Vano. Neva menatapnya dengan tajam. "Aku minta maaf karena tidak bisa hadir di acara wisuda mu. Ada sesuatu yang tiba-tiba terjadi dan aku tidak bisa meninggalkannya," Vano mencoba menjelaskan.
"Aku tidak menanyakan itu. Kenapa Kakak menjelaskannya. Lagi pula, aku tidak menunggu mu," jawab Neva dengan sinis. Vano tersenyum mendengar itu. Dia ingat bisikan pelan Leo padanya tadi siang.
"Aku hanya ingin menjelaskannya saja," jawab Vano. "Ayo keluar," ajaknya lagi. Neva mengalihkan pandangannya.
"Untuk apa?" Tanya Neva. Dia masih berpaling.
"Mentraktir mu ice cream," jawab Vano. "Kau boleh makan ice cream sampai puas," lanjut Vano.
"Mmmmm," Neva menaikkan alisnya untuk berfikir menerima ajakan Vano atau tidak.
____
Catatan Penulis ( curhatan 🥰 )
Yang kangen Bang Vano... doi udah muncul... silahkan di serbu.
💐🌹🌷
"Nggak mau bunga...."
"Mau nya apa dong."
"Like, koment dan vote." ( sttt... ini Thor yang nyuruh) bisik Vano pada perindunya.