
Toko di depannya terlihat sepi. Di saat Tiara masih ragu untuk masuk, dari dalam nampak Erwin melambai ke arahnya memanggilnya masuk.
Tanpa pikir panjang iapun masuk ke dalam.
" Maaf ya nggak bisa jemput soalnya nggak enak sama adek lo". Erwin membuka obrolan di antara mereka.
" Iya nggak apa-apa". ucap Tiara sambil tersenyum kikuk.
" Ayok duduk ". Erwin mempersilahkan Tiara duduk di depannya.
" Terimakasih".
" Em. . maaf ya kak aku nggak bisa lama-lama di sini entar dicariin kak Nia tuh. Jadi kalau ada yang penting, langsung aja diomongin".
" Iya nggak lama tapi minum dulu dong, lo pasti haus kan jalan ke sini tadi?"
" Duh nggak usah repot-repot kak".
" Nggak repot kok, cuma minum doang". balas Erwin seraya tersenyum aneh.
Setelah itu, ia memanggil pelayan cowok yang ada di situ.
" Mau minum apa Ra?"
" Terserah deh asalkan halal". ucap Tiara tak mau ribet.
Erwin kemudian memesan dua minuman dingin untuk mereka.
" Begini Ra' . . . hari ini gue mau jujur sama lo. Sebenarnya sejak pertama kali gue lihat lo di dalam toko Thio, entah kenapa gue langsung suka. Setelah itu di otak gue hanya mikirin lo terus. Gue sampe uring-uringan seharian karena nggak tahu caranya kenal lebih dekat lagi sama lo. Dan ternyata . . . semesta ngedukung gue, buktinya gue bisa ketemu dengan lo lagi di pantai kemarin. Sebenarnya kemarin gue mau ungkapin semuanya ke lo tapi cowok itu keburu datang". wajah Erwin berubah sedih ketika menyebutkan kalimat terakhirnya.
Tiara hanya diam saja mencoba mencerna kata demi kata yang diucapkan cowok di depannya.
Hening sesaat.
Pelayan tadi datang mendekat membawa minuman pesanan mereka.
Tiara mengangguk mengiyakan.
" Gue lanjut ya, nah kemarin setelah lo ikut dengan cowok itu gue langsung deketin kak Nia nanyain semua tentang lo. Setelah mendengar semuanya, gue tambah yakin untuk lebih dekat lagi dengan lo. Gimana Ra' lo nggak keberatan kan?"
Karena gugup, iapun segera menyeruput minumannya.
" Eh, em . . maaf kak. Bukannya Ara keberatan tapi Ara nggak bisa jawab sekarang. Kalau kakak mau jadi temannya Ara, ya nggak apa-apa sih. Tapi maaf nggak bisa lebih dari itu ". jawab Tiara kemudian setelah menghembuskan nafas panjang.
Dia tak pernah menyangka bakal berhadapan dengan situasi seperti ini.
Erwin tersenyum simpul mendengarnya.
" Nggak apa Ra' gue nggak pernah maksa lo jadi cewek gue kok. Gue sekedar ungkapin semua yang menyiksa gue beberapa hari ini. Lo mau dengerin aja gue udah seneng banget". jawab Erwin dengan sabar.
" Ya udah kak, kalo gitu Ara balik lagi ke tempatnya kak Nia ya?" pamit Tiara.
" Oh, oke . Titip salam buat kak Nia ya". jawab Erwin.
Tiara mengangguk seraya berdiri dari tempat duduknya.
" Ah !" seru Tiara mendadak merasakan pusing di kepalanya.
" Ra' lo kenapa?" tanya Erwin terlihat khawatir.
Namun yang ditanya malah limbung. Untung saja Erwin dengan sigap menahan tubuhnya.
Kemudian memapahnya masuk ke dalam kamar yang terletak di bagian belakang.
" Lo istirahat aja dulu di sini ya". sayup masih terdengar suara Erwin di telinganya setelah itu semuanya menjadi benar-benar gelap dan iapun tak sadarkan diri.
\*\*\*\*\*