
Kemudian, dia mengambil buku dan membacanya untuk Yuna. Memangku Yuna dengan kasih.
"Pesisir yang kuat adalah cintaku,
Dan aku adalah kekasihnya,
Kami akhirnya bersatu dalam cinta, dan
Lalu bulan mengambilku darinya.
Aku pergi ke bulan dengan enggan, dan
Sedikit perpisahan." *Kahlil Gibran.
Itu adalah satu dari sekian puisi yang keluar dari bibirnya. Yang telah dibaca oleh hati yang sendu dan gelisah.
"Puisi-puisi yang sangat bagus tapi juga sedih," komentar Yuna setelah Leo berhenti membacanya. Puisi tentang cinta dan perpisahan.
Leo mengangguk. Dia meletakkan buku yang ada ditangannya, lalu memeluk Yuna. Mencium rambutnya dengan dalam.
"Pada dasarnya, kita tidak memiliki apa-apa," ucap Leo. "Datang lalu pergi," lanjutnya. "Aku pernah berpikir ... adakah di dunia ini sesuatu yang tanpa batas untuk dimiliki? Adakah kebahagiaan yang bisa terus dipertahankan tanpa ada lagi rintik sedih yang merenggutnya."
Yuna mengehela nafasnya. Kedua tangannya memegang lengan Leo yang memeluknya. Dia menangkap suatu makna yang mereka bicarakan pagi ini. Dadanya berdegup, kenapa pagi sesendu ini? Bukankah biasanya pagi selalu bersajak romantis?
"Cintamu," jawab Yuna rendah. "Bukankah cintamu tanpa batas untuk ku?"
Leo tersenyum lebar mendengar jawab Yuna. Dia kembali membuat kecupan di rambut Yuna.
"Ya, aku pernah berjanji di depan Ayahmu untuk selalu mencintaimu bahkan jika aku tak bernyawa lagi, aku akan tetap mencintaimu," jawab Leo dalam dekapan kasihnya.
Yuna mengangguk, dia ingat janji itu.
"Sayang, ada sesuatu yang ingin ku sampaikan padamu," ucap Leo pelan dan hati-hati.
"Apa?"
Leo mengambil nafasnya dengan dalam, kemudian dengan sangat terpaksa dia membuka mulutnya.
"Aku sakit," pelan dia menyampaikan kabar itu tetapi langsung membuat Yuna membeku. Jantung Yuna seolah terhenti. Sakit? Apakah ini sesuatu yang lain selain demam malam itu?
Pelan, Yuna melepaskan pelukan Leo dan membalik badannya. Dia menatap wajah Leo dengan seksama, menatap kedalam matanya. Tangannya mengulur dan menyentuh pipi Leo dengan lembut.
"Sakit?" tanyanya pelan dan tercekat. Dia bisa menebak jika ini bukan sakit yang sederhana.
Leo tidak menjawab. Dia diam membalas tatapan mata Yuna yang sendu. Wajah cantik itu terlihat sangat cemas. Bibirnya bergetar menahan sesuatu yang menyayat hatinya.
"Sakit apa? Ku mohon jangan berbelit dan beri tahu aku sekarang," Yuna tidak sabar. Dia semakin menatap Leo. Menuntut jawaban jujur dari suaminya.
"Syaraf sum-sum tulangku mengalami kerusakan," jawab Leo sangat pelan dan hati-hati. Namun, itu bagai ombak yang menyapu hati Yuna. Dia termangu, tangan kanannya lemas dan turun begitu saja dari pipi Leo. Dia menunduk dan mencerna apa yang baru saja dia dengar. Kerusakan syaraf sum-sum tulang? Sejak kapan? Hati Yuna tergenggam dalam kesedihan yang rasanya menusuk disetiap dinding hatinya.
"Kemungkinan terburuk, apa yang akan terjadi padamu?" tanya Yuna tercekat. Dia bertanya dengan jantung yang memompa dengan cepat. Dengan hati menderita. Menanti jawaban Leo.
Kedua tangan Leo mengulur dan mengambil tangan Yuna, menggenggamnya erat. Dia sedih melihat Yuna menunduk dan menyembunyikan kesedihannya. Dia tidak tega untuk menyampaikannya. Namun, dia harus menyampaikannya.
"Aku ... bisa lumpuh permanen atau ... bahkan meninggal," Leo menyampaikannya dengan pelan dan tercekat. Suaranya serak, penyampaian dalam sedih.
Yuna mengigit bibirnya, badai menghantam hatinya. Meluluh lantahkan jiwanya. Air mata lolos begitu saja dari pelupuk matanya. Dia membisu dalam tangis. Leo langsung merengkuhnya, memeluk Yuna dengan kasih.
"Jangan menangis," bisiknya. "Maafkan aku."
Yuna diam dan menahan sesak dalam dadanya, air mata terus menetes menemani hatinya yang begitu terluka. Dia ingin meraung dan berteriak. Bagaimana ini bisa terjadi pada suaminya.
Yuna memeluk Leo dengan erat. Menyandarkan kepalanya di bahu suaminya. Dia menangis, tidak lagi menahan isaknya. Dia membiarkan air matanya terus menetes.
"Tidak, itu tidak akan terjadi," ucap Yuna dalam isaknya. "Kau akan baik-baik saja. Kau akan sehat kembali, kau tidak akan mengalami keduanya. Kau kuat, kau adalah Leo J yang tidak akan mudah menyerahkan hidupmu begitu saja."
Leo mengangguk. Air matanya menetes menemani kesedihan hatinya. Dia memeluk Yuna dengan erat. Dia tidak ingin dunia membawanya pergi dari Yuna. Tidak ingin dunia membawanya pergi dari anaknya. Dia ingin tetap disini. Dia memiliki janji untuk membuat Yuna selalu bahagia.
"Aku yakin kau akan sembuh, aku yakin kau akan baik-baik saja. Aku bersama mu, kau tidak perlu cemas menghadapinya. Kita lewati dan lawan ini bersama. Kau tidak boleh menyerah. Jangan lemah. Anak kita masih kecil, kau masih harus terus menggendongnya. Melatihnya berjalan, membawanya berlari, dan akan menggandeng tangannya untuk tumbuh dewasa dengan cinta kita. Kau akan baik-baik saja, untuk ku, untuk anak kita," ucap Yuna dengan terisak. Dia mencoba menekan rasa sedihnya didepan Leo saat ini. Jika dia terlihat terpuruk, bukankah itu malah akan melemahkan Leo. Yuna menyeka air matanya. Kemudian, dia melepaskan pelukannya. Mata sendunya menatap Leo dengan lembut penuh kasih. Tangannya terangkat dan menyeka air mata yang menetes di pipi Leo.
Dengan senyum Yuna berkata, "Kau tidak akan mengalami keduanya, atau aku akan mengutukmu," ancam Yuna. Dia mencoba tersenyum kecil untuk memperlihatkan jika dia kuat. "Bukankah kau tahu, jika kutukan ku sangat manjur, hmmm? Jadi ... kau jangan mencoba untuk mengalami keduanya," suaranya Yuna tercekat. Dia menahan kesakitan hatinya.
Leo mengangguk, kedua tangannya mengusap pipi Yuna, menyeka sisa air matanya dan kemudian menempelkan keningnya di kening Yuna.
"Aku tidak berani macam-macam padamu Nyonya jahil," ucap Leo dengan juga mencoba tersenyum disudut bibirnya.
Yuna mengangguk cepat, dan air mata lolos begitu saja. Dia langsung memeluk Leo dengan erat.
"Jangan pernah kenapa-kenapa. Kau harus baik-baik saja. Untuk bisa bersamamu, tidaklah mudah jadi jangan renggut dirimu dariku. Atau aku juga akan musnah. Berjuanglah," ucap Yuna dengan tangis yang tidak bisa ia tahan. "Kau kuat, aku kuat. Kita jalani ujian ini bersama hingga tak ada lagi yang mampu mengambil bahagia dari hidup kita. Leo Januar aku mencintaimu dan jangan pernah mencoba untuk meninggalkan ku."
_______________________
Catatan penulis 🥰🙏
🥺🥺🥺🥺🥺
Jangan lupa like komen ya kawan tersayang 🥰 padamu luv luv 🥰🙏 Terima kasih.
Gambar/Ilustrasi di ambil dari internet dan Aplk Pint. Jika ada kesamaan gambar harap maklum. 🤗🙏