Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 143_Musim Merindu 3


Mereka duduk berhadapan di sebuah cafe.


"Vano, benar-benar terima kasih sudah menolong ku," ucap Yuna pelan. Dia menunduk.


"Bukan apa-apa kawan. Bagaimana kabar mu?"


"Emm, baik. Kamu?"


"Aku... baik," jawab Vano. Tadi, dia bukan sengaja mengintai Yuna seperti kemarin-kemarin, tadi hanya kebetulan saja, dia lewat dan dia melihat sebuah mobil dari kejauhan yang menyetir dengan ugal-ugalan. Dia segera keluar dari mobil ketika dalam perkiraannya mobil itu menuju Yuna. Vano sebenarnya teramat sibuk saat ini. Setengah jam lagi dia harus terbang ke luar kota namun dia mengesampingkan semuanya ketika dia melihat Yuna dalam bahaya. Dia tidak mungkin diam dan membiarkan mobil itu menabrak Yuna.


"Lengan mu terluka Yuna." Vano memperhatikan Lengannya.


"Oh, bukan apa-apa," Yuna menarik tangannya dari atas meja dan menyembunyikannya. Mereka diam beberapa menit.


"Vano... mari berteman selayaknya seorang teman. Lupakan dan hapus perasaan mu pada ku, aku ingin kamu bahagia Vano," Yuna berucap pelan namun jelas. "Sungguh, aku ingin kamu bahagia Vano."


"Hemm, tentu," Vano mengangguk menatapnya yang menunduk. "Aku pasti melupakan dan menghilangkan perasaan ku pada mu. Aku tidak mungkin egois terus memiliki perasaan ini pada mu yang mustahil untuk ku miliki," lanjutnya. Yuna mengangkat wajahnya dan menatap Vano. "Aku sudah membuka hati ku untuk perempuan lain."


Yuna tersenyum mendengarnya. "Sangat bagus, aku sangat bahagia mendengarnya. Teman... teruslah bahagia dengan cinta baru dalam hati mu."


"Terima kasih." ucapnya, Yuna mengangguk dengan senyum. "Yuna...,"


"Iya."


"Aku bahagia, melihat mu sangat bahagia bersamanya," ucap Vano tulus. Meskipun pada awalnya kata itu teramat menyakitinya, meskipun pada awalnya kata itu membuatnya menderita namun akhirnya dia sadar, bahwa kebahagiaan Yuna bukanlah bersamanya tetapi bersama Leo. Dan akhirnya dia berhenti pada perasaannya, itu... ketika dia mengintai beberapa hari lalu di depan tempat Yuna melukis. Dia hanya ingin melihat Yuna untuk yang terakhir kali sebagai seseorang yang istimewa di hatinya, itu yang terakhir kali, dan pemandangan siang itu membuatnya sungguh rela menghapus perasaan yang dia miliki.


Untuk saat ini, perasaannya adalah tentang sahabat tidak ada yang lain. Dia tidak lagi menginginkan Yuna. Ini adalah tentang cinta yang tidak harus saling memiliki. Yuna dari awal adalah milik Leo, dan tidak ada yang bisa mengubah itu kecuali Tuhan.


"Vano, aku berterima kasih untuk semua kebaikan mu pada ku. Aku berterima kasih untuk waktu kita yang pernah terlalui. Vano... setelah ini, mari tidak saling bertemu, abaikan aku jika kau melihat ku."


"Baik, itu yang terbaik, kawan. Senang bisa mengenal mu Yuna."


***@***


Yuna sudah mewanti-wantinya untuk tidak lembur di kantor hingga tengah malam. Dia menurut dan sangat patuh, pukul 18.00 dia sudah kembali ke hotel dan bekerja disana. Dia sangat licik bukan... dia memang tidak lembur di kantor tapi tetap saja terus bekerja ketika dia sampai di hotel, itu tidak ada bedanya, hanya beda tempatnya saja.


Tidak ada ampun pada matanya yang bahkan terasa sangat perih. Dia terus bekerja hingga pukul satu dini hari. Dia menyandarkan punggungnya sebentar dan mengecek ponselnya, Yuna terakhir online pukul 23.00. Saat ini dia pasti sudah tidur, Leo mengurungkan niatnya untuk membuat panggilan Video. Lalu, dia kembali sibuk dengan pekerjaannya, hingga tanpa sadar, dia tertidur dengan posisi duduk di lantai dan menyandarkan kepalanya di meja.


Pukul empat dini hari, seseorang datang mengetuk pintu kamar hotelnya. Dia menjadi sangat kaget dan dengan malas beranjak untuk membuka pintunya, dia terbangun dengan perasaan kaget hingga membuatnya membuka pintu begitu saja seperti orang ling-lung, dalam pikirannya, yang mengetuk pintunya adalah petugas kebersihan namun ternyata bukan.


"Kiara?" suaranya terkejut namun dingin. Leo menoleh dan memperhatikan jam, kemudian kembali menoleh kearah Kiara. Kiara tersenyum manis padanya, dia memakai kemeja kedodoran berwarna putih dan membiarkan kancing bagian atasnya terbuka.


"Kenapa kau ada di sini Kiara?"


"Karena aku merindukan mu sayang, aku menyewa kamar di sebelah mu."


"Okey, silahkan kembali ke kamar mu," Leo menunjuk pintu, menyuruhnya untuk segera keluar. Namun, Kiara dengan keras kepala malah masuk kedalam. "Kiara, tolong jaga sikap mu, keluar sekarang dari kamar ku."


"Aku tidak mau," jawab Kiara. Dia berdiri di sebelah ranjang Leo.


"Kau mau keluar baik-baik atau aku meminta security untuk membawa mu keluar dari sini!!"


"Sayang, kenapa kau begitu cepat berubah pada ku. Kau masih mencintai ku kan? Sayang... apa kau ingat ketika kita kecil hingga kita remaja? Kau selalu ada untuk ku, dimana ada aku pasti ada kamu. Lee ingatlah semua kenangan kita, kau tidak boleh melupakannya," tangan Kiara membuka kancing kemejanya, satu... dua... lalu tiga. Leo menahan nafasnya melihat itu. Dia melangkah maju, satu langkah, dan kemudian dua langkah.


"Kiara, apa yang kau lakukan? Kau adalah wanita. Tolong jaga kehormatan mu."


"Aku tidak perduli, kau harus kembali pada ku. Kau tidak boleh meninggalkan ku Lee. Sayang...," Kiara dengan gemulai melangkah menuju Leo. Semua kancing bajunya telah terlepas, memperlihatkan tubuh seksinya dengan sangat jelas, kemeja yang menempel di tubuhnya langsung jatuh dengan indah.


"Jangan gila, Kiara. Pakai kembali baju mu."


"Sayang, kau tidak pernah menyentuh seluruh tubuh ku bukan? Sekarang, milikilah aku..."


"Kiara, jangan gila. Aku tidak mencintai mu lagi dan aku tidak menginginkan mu lagi. Sekarang, aku bahkan muak melihat mu," Leo dengan cepat menyambar jaket yang berada di sofa dan mengambil laptop dan Hp miliknya. Dia dengan cepat berjalan keluar dari kamar hotelnya, meninggalkan Kiara yang terus memakinya.


Gila... benar-benar gila. Kiara hampir telanjang di depannya. Leo menyetir mobilnya menjauh dari hotel. Malam itu juga dia pindah hotel. Setelah mendapatkan kamar hotel yang baru, dia menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur, ia memejamkan matanya sebentar dan kemudian dia membelai ponselnya. Dia melakukan panggilan video pada istrinya. Senyum Yuna langsung menyapanya. Yuna baru terbangun dari tidurnya tapi wajahnya tetap saja secantik bidadari.


"Sayang...," Leo memanggilnya pelan.


"Hmm," jawab Yuna. Dia masih di atas tempat tidur dan memeluk guling.


"Aku mencintai mu," ucap Leo. Ia menatap kedalam matanya lewat layar ponsel. Namun, itu sangat nyata, pandangan matanya sangat dalam penuh cinta. Yuna langsung membenamkan wajahnya di bantal dan menangis. Entah kenapa dia menjadi sentimentil dan sangat terharu mendengar suara dan ucapan cinta Leo pagi ini.


Leo menyaksikan Yuna dengan pandangan yang nanar, matanya menjadi berkaca-kaca. Dia tahu Yuna menangis.


"Sayang," suara serak Leo mamanggilnya. Yuna tidak meresponnya, dia masih membenamkan wajahnya di bantal dan sesenggukan. Hati Leo sakit melihat itu, dia ingin memeluknya dan tidak akan membiarkannya menangis.


Tanpa mengangkat wajahnya, tangan Yuna mengulur dan memutus panggilan video pagi ini. Setelah panggilannya berakhir, dia menangis sejadi-jadinya.


'Kenapa hati ku begitu rapuh sekarang? Kenapa aku menjadi sangat cengeng. Aku merindukan mu Leo, kau terus saja hadir dalam fikiran ku setiap waktu. Segeralah kembali...' dia menggumam pelan dalam isaknya.