Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 316_Sudah atau belum


Sore hari, ketika semuanya telah selesai. Vano menyandarkan punggungnya di kursi kerjanya. Dia mengaktifkan ponselnya. Dan langsung terkejut oleh banyak sekali pesan dan panggilan masuk ke ponselnya. Dia segera membuat panggilan kembali. Namun ... dia harus kecewa karena nomor ponsel yang dia hubungi tidak aktif. Vano mencobanya lagi dan lagi tetapi tetap tidak terhubung. Kemudian, dia mengirimkan pesan.


"Sayang, maaf telat mengabarimu. Aku sampai pukul sembilan dan langsung meeting," send. Pesan itu hanya memperlihatkan centang satu. Tak lama asisten masuk ke dalam ruangannya dan memberitahukan jadwal Vano selama diKota ini.


"Ok," Vano menjawab singkat setelah asistennya selesai membaca semua jadwalnya. Jadwal mundur, dan Vano harus berada di kota ini hingga akhir pekan. Dia mengingat Neva, mengingat gadis itu menawar untuk hanya sehari saja. Dan saat ini, yang ada adalah jika Vano harus berada di kota ini hingga akhir pekan.


___ Malam harinya. Vano merebahkan dirinya di ranjang, setelah dia berbincang-bincang dengan papanya. Vano mengusap ponselnya dan melihat chatnya pada Neva. Centang dua tetapi belum berwarna biru, itu artinya pesannya belum terbaca. Dia melakukan panggilan.


"Selamat malam," sapa suara diseberang sana. "Kenapa baru menghubungi ku?"


"Malam sayang. Hmm setelah sampai, aku langsung meeting," jawab Vano.


Neva mengangguk diseberang sana. Dia tidak lagi kesal. Dia tahu bagaimana sibuknya orang-orang bisnis. Papa dan kakaknya bahkan sering menghabiskan waktu berjam-jam di ruang kerja.


"Apa kau sudah makan?" tanya Neva. Dia yang duduk di sofa ruang tengah beranjak dan menuju kamarnya. Ada Mama diruang tengah, dia tidak ingin obrolannya dikepoin mama.


"Sudah, baru saja," jawab Vano. Kemudian, dia mengalihkan panggilan telepon ke panggilan Vidio. "Hai," ucapnya setelah tersambung pada panggilan Video.


Neva tersenyum di seberang sana. Dia mengarahkan kamera pada wajahnya. Mereka ngobrol santai, Neva bercerita bagaimana kuliahnya hari ini. Bagaimana dia cemas karena Vano tidak mengabarinya.


"Dua orang yang ku hubungi tidak ada yang mengaktifkan ponselnya," ujar Neva.


"Jadi Leo juga tidak mengaktifkan ponselnya?"


"Hu'um. Kalian sangat kompak."


Vano terkekeh disana, "Sayang," panggilannya.


"Ya."


"Sepertinya, aku harus berada disini lebih lama, hingga akhir pekan," ujar Vano menjelaskan. Neva seketika langsung cemberut.


"Kenapa malah mundur, kau bilang cuma dua hari," Neva berkata dengan menekuk wajahnya. Jujur, dia sedih. Dia tidak pernah merasakan rindu yang rasanya tak bertepi. Hatinya dan pikirannya telah dikuasai oleh Vano. Rasanya, perasaan yang ia miliki semakin dalam.


"Ada banyak sekali pertemuan-pertemuan yang harus ku datangi. Aku janji, setelah kembali akan segera menemui mu. Kau mau apa?"


"Tidak ada, aku tidak ingin apa-apa," jawab Neva. Dia masih cemberut.


"Sini ku cubit hidupnya yang cemberut," goda Vano. Dia mendekatkan jarinya ke kamera.


"Cubit saja," jawab Neva dengan langsung menyodorkan hidungnya.


"Muach," Vano mengganti jarinya dengan kecupan jauh dari bibirnya. Neva tersenyum kecil dengan pipi yang merona.


"Itu bukan mencubit."


__________


Di kastil pinggir pantai.


Leo duduk di sofa dihalaman kastilnya. Halaman yang mengarah langsung ke pantai. Dari tempat duduknya, dia bisa menikmati keindahan cakrawala yang berhiaskan kerlip bintang dan sinar bulan yang terlukis dengan begitu cantik.


"Kau disini," ujar Yuna setelah meletakkan secangkir teh hijau diatas meja. Leo menatapnya. Yuna langsung menempatkan dirinya dipangkuan Leo. "Ku pikir di ruang belajar," kata Yuna.


"Aku benar-benar cuti seminggu ini," jawab Leo. Kedua tangannya melingkari pinggang Yuna. Dia menurunkan kepalanya dan mencium pundak halus Yuna. Yuna memakai dress tanpa lengan. Dress mini diatas lutut. Bersama Leo, dia suka mengekspos tubuhnya. Dan itu membuat Leo semakin menggilainya.


"Sangat bagus," ujar Yuna. Dia setuju jika Leo benar-benar menikmati liburannya dan tidak memikirkan pekerjaan sementara ini. Biasanya, Tuan suami tetap akan bekerja dalam masa liburannya. Yuna mengambil teh dan memberikannya pada Leo. Leo menyesapnya sedikit langsung dari tangan Yuna.


"Papa tahu kau cuti?"


Leo mengangguk, "Ya," jawabnya.


"Papa bilang apa?"


"Selamat bulan madu," jawab Leo dengan terkekeh. Dia mengingat betapa jahil papanya yang sering meledeknya. Namun sedetik kemudian wajah Leo berubah menjadi serius, dia merasa sangat bodoh karena baru mengingatnya sekarang. "Yuna," panggilnya serius.


"Hmm?"


Leo melepas pelukan dan meminta Yuna untuk menghadapnya.


"Kita melupakan sesuatu." kata Leo dengan serius. Kedua tangannya kembali melingkar di pinggang Yuna.


"Melupakan sesuatu?" Yuna mengerutkan keningnya.


"Sayang, kau belum memasang kontrasepsi dan aku tidak memasang pengaman," kata Leo dengan frustasi. Kenapa dia bisa sampai melupakan hal sepenting itu.


Yuna langsung berteriak mendengar itu. Kedua tangannya memegang kepalanya. "Ohh, kenapa bisa sampai lupa?!! bagaimana ini," ujar Yuna sama cemasnya dengan Leo. Lalu kedua tangannya memukul dada Leo bertubi, "Kenapa kau baru mengingatnya sekarang? Kenapa kau tidak mengingatnya sebelum kita melakukan itu untuk yang pertama kalinya kemarin. Kenapa kau melupakan itu ... kenapa kau tidak mengingatkan ku," Yuna mencerocos dengan sangat kesal.


"Aku minta maaf," ujar Leo. Tangannya mengambil tangan Yuna yang berada di dadanya. Mereka bertukar pandangan dengan cemas.


"Bagaimana jika aku hamil lagi?" kata Yuna. Manik matanya menatap kedalam mata Leo. Mereka berdua diliputi rasa khawatir. Tangan kanan Leo mengusap pipi Yuna dengan lembut.


"Maafkan aku yang baru mengingatnya," jawab Leo sedih.


Yuna menunduk dan menempelkan keningnya di dada Leo. "Baby kita masih kecil," ucap Yuna.


Leo semakin merasa bersalah, dia mendekap Yuna. Selain anak mereka yang masih bayi, Leo juga tidak tahan jika harus melihat Yuna kesakitan lagi. Yang kemarin saja, masih begitu menyayat hatinya.


"Aku minta maaf," ucap Leo. Dia mencium rambut Yuna. "Kita kembali ke Ibu Kota sekarang, kita langsung periksa," ajak Leo. Yuna mengangguk. Kemudian, mereka berdua segera masuk ke dalam kamar.


Leo memakai jaketnya, dia mengambil dua ponsel dalam laci. Lalu memakaikan jaket untuk Yuna. Tangannya menggenggam jemari Yuna dan membawa kedua tangan Yuna pada bibirnya. Dia mencium tangan Yuna dengan kasih.


"Bagaimana jika aku hamil lagi," ucap Yuna dengan kecemasan diwajahnya. Leo merapatkan bibirnya dengan perasaan yang bersalah.


"Sayang aku minta maaf," ucapnya mengulangi kata maaf untuk yang kesekian kali. Dia langsung memeluk Yuna. Dia menjadi sangat frustasi mengingat bahwa Baby Arai baru dua bulan dan semakin frustasi jika mengingat bagaimana perjuangan Yuna saat melahirkan.


"Kenapa meminta maaf terus, apa kau tidak ingin bertanggung jawab," kata Yuna cemberut.


Leo mengerutkan keningnya. Lalu segera melepaskan pelukannya. Kedua tangannya memegang pundak Yuna dengan erat. Sepasang bola matanya menatap Yuna dengan tajam.


"Katakan padaku. Apa kau sudah memasang kontrasepsi?" tanya Leo tegas. Dia sangat tahu Yuna. Pertanyaan Yuna tadi ... menunjukkan jika Yuna mengerjainya. Tapi dia harus memastikan terlebih dahulu. Yuna diam. "Yuna katakan," ucap Leo lagi.


"Bagaimana jika aku hamil lagi?" ucap Yuna malah balik bertanya. Leo gemas dan tidak tahan melihatnya, dia mendorong Yuna ke dinding dan menahan dengan kedua tangannya.


"Jawab," kata Leo. Dia ingin Yuna segera menjawabnya. "Apa kau sudah memasang kontrasepsi?" tanya Leo lagi. Dia gemas dan bercampur kesal karena Yuna tidak segera menjawabnya. Jantungnya hampir meledak membayangkan Yuna hamil lagi dalam kondisi anak mereka yang baru berusia dua bulan. Dan dia masih tersiksa dengan kesakitan Yuna. Bayangan di lantai empat itu masih sangat jelas dalam ingatannya.


"Kenapa baru mengingatnya sekarang?" Yuna balik bertanya lagi.


"Sudah atau belum?" Leo menekankan pertanyaannya. Dia ingin Yuna segera menjawab ....


"Jadi ... sudah atau belum Yuna?" Leo kesal karena Yuna tidak segera menjawabnya. Jantungnya masih berdegup dengan cepat.


"Kau sudah melakukannya berkali-kali dan baru mengingatnya," jawab Yuna lagi. Leo mulai frustasi. Kenapa sangat susah sekali untuk bilang, sudah atau belum.


"Ok, aku minta maaf. Jadi ... apa jawabanmu. Sudah atau belum?"


Yuna menatap mata Leo dengan lekat, dan dengan senyum dia bilang, "Sudah."


"Hhhhhhh," Leo bernafas dengan sangat lega. Dia menghembuskan nafasnya yang sempat tertahan dengan perlahan. Dia memeluk Yuna. Yuna tersenyum dalam pelukan suaminya. "Kau puas mengerjaiku?" tanya Leo.


"Bagaimana jika aku hamil lagi?" kata Yuna. Dan langsung membuat Leo menggelikitik pinggang Yuna.


"Aaaaaa, geli sayang," Yuna berteriak dan mencoba menghindar. Tapi Leo tidak melepaskan. Dia langsung menggendong Yuna dan melemparkannya ke atas ranjang.


"Kau nakal," ucap Leo dan langsung menindih tubuh Yuna.


"Kau yang nakal," kata Yuna.


"Mana ada. Kau mengerjaiku."


Yuna mengerucutkan bibirnya, tangannya memainkan rambut Leo, "Kau tidak perhatian padaku," ucapnya cemberut.


"Kapan aku tidak perhatian padamu?" Leo menatap matanya. Dia mencium pipi Yuna.


"Kau baru mengingat pengaman sekarang. Bagaimana jika aku sungguh lupa dan tidak memasang kontrasepsi," kata Yuna dengan masih cemberut.


"Iya, aku bersalah," Leo mengakui kesalahannya. Dia membawa ciumannya ke telinga Yuna. "Jadi ... karena sudah aman ...." bisiknya halus ditelinga Yuna. "Kita nikmati malam panjang ini."