
Pukul 23.30 Wit
Semua masih hanyut dalam obrolan mereka. Lain halnya dengan Tiara yang mulai tak nyaman dengan keramaian.
" Ra, ikut gue yuk ada yang mau gue
omongin ". bisik Rey lembut. Ia sadar Tiara mulai bosan dengan berisiknya tempat itu.
Tiara mengangguk setuju.
" Eh, mau dibawa kemana tuh si Ara ?" tanya Hesti saat melihat keduanya berdiri dan bersiap pergi.
" Bentar aja kok Hes, deket situ aja ". Rey tersenyum kikuk saat ditatap oleh semua yang ada di situ.
" Oke, jagain Ara ya, awas !" ujar Hesti menunjukkan kepalan tangannya ke arah Rey.
Rey terkekeh melihat aksi sepupunya.
Keduanya mulai berjalan menjauh menyusuri trotoar jalan yang mulai dipenuhi pedagang musiman hingga sesekali keduanya harus turun ke badan jalan.
Untungnya di malam perayaan seperti ini, kendaraan dilarang melewati jalan itu agar para pengunjung tetap aman.
" Ra' duduk di situ yuk !" tunjuk Rey pada sebuah batu besar berbentuk datar dan luas permukaannya hingga bisa diduduki empat orang.
" Aman nggak nih ?" raut wajah Tiara nampak ragu.
" Tenang aja, aman kok. Kan ada gue yang bakal jagain lo".
" Dih mulai kumat ".
" Hehehe !".
Rey mengulurkan tangannya untuk membantu Tiara menuju ke atas batu namun ditepis Tiara dengan halus.
" Thanks Rey, aku bisa sendiri kok. Ehm . . . sepertinya batu ini nggak asing ". ucap Tiara mencoba mengingat kembali dan yah . . .
" Beneran ? pasti duduknya bareng orang spesial kan ?" tebak Rey getir.
" Rey, sekarang kita sudah lumayan jauh nih, mau ngomong apa tadi ?" tanya Tiara mencoba mengalihkan arah pembicaraan.
" Ehm gini Ra' maybe lo udah tahu juga apa yang mau gue omongin, tapi gue hanya mau mastiin aja. Lo mau nggak jadi orang spesial gue ?" Rey menatap lekat wajah Tiara berharap bisa menemukan kejujuran nanti di sana.
Yang ditatap mulai salah tingkah tapi Tiara berusaha menekan rasa yang hadir bersamaan. Karena sebelum ia datang ke tempat itu, keputusannya sudah bulat.
" Maaf Rey, aku nggak pantas nyakitin kamu. Aku nggak bisa maksain diri menerima cinta yang begitu tulus dari kamu. Kamu terlalu baik untuk aku ". jawab Tiara perlahan tak ingin menyakiti hati sosok di depannya.
" Lo masih nungguin dia kan ?"
" Aku juga nggak tahu Rey ".
" Baiklah, gue juga nggak mau maksain lo. Bohong kalau gue bilang saat ini gue baik-baik aja tapi gue hargai keputusan lo. Gue doain, lo bisa hidup bahagia ke
depannya ".
" Thanks Rey, udah ngertiin aku. aku juga doain nantinya kamu bisa bertemu dengan seseorang yang pantas dapetin cinta kamu ".
" Baiklah, balik yuk !" ujar Rey kemudian bangkit berdiri.
" Nggak ah, aku mau di sini dulu sebentar. Kamu duluan aja, nggak apa-apa ". tolak Tiara.
" Oke Ra' gue duluan ya, cepetan nyusulnya jangan sampai Hestinya ngamuk ".
" Hehehe, iya ". balas Tiara seraya melambaikan tangannya.
" Lo Hati-hati ya ".
Tiara mengangguk tersenyum.
Tiba - tiba . . .
" Ra' !"
Tiara menengadahkan wajahnya melihat siapa yang berdiri di sampingnya.
" Kak Zian?" matanya membulat indah begitu menggemaskan di mata Zian.
" Iya, ini gue ". jawab Zian sembari duduk di sebelah gadis itu.
" Maafin gue Ra' sumpah gue nggak ada maksud untuk nyakitin lo!" ujar zian sembari menatap wajah Tiara dengan penuh kerinduan. Mereka kini duduk berhadapan.
Tiara hanya bisa mengangguk balas menatap wajah tampan di depannya.
" Thanks Ra' gue sayang banget sama lo ". Zian tersenyum senang serta merta ia memeluk Tiara dengan eratnya.
" Jangan pergi lagi kak, aku nggak bakalan sanggup". pinta Tiara lirih setelah Zian melepaskan pelukannya.
" Nggak akan pernah, honey".
Tepat pukul 00.00 Wit
Perlahan wajah Zian mendekat, Tiara hanya bisa memejamkan matanya saat Zian mencium bibirnya dengan lembut.
Bersamaan dengan itu terdengar suara kembang api yang mengudara dan meledak di atas sana.
" Lihat Ra' itu khusus buat lo !" tunjuk Zian.
Tiara menengadahkan kepalanya, mulutnya terbuka saat melihat kembang api yang meledak membentuk hati.
" Wow . . . indahnya !"
Pengunjung di sekitar mereka juga berdecak kagum melihat kembang api itu.
" I love you kucing nakal ". ucap Zian merengkuh bahu Tiara.
" Love you too . . "
" Mau nggak lo nikah sama gue ?"
" Mau banget !" ujar Tiara tanpa pikir panjang lagi.
Kembang api yang meledak di atas sana nampak indah dengan berbagai warna seperti halnya suasana hati Tiara saat ini.
" Cieee . . . yang baru ketemuan, pantas nggak balik-balik dari tadi !" suara Hesti di belakang mengagetkan mereka.
Keduanya menoleh dan mendapati Hesti, Rio, Dhilla dan Wisnu berdiri tak jauh. Rey tak ada lagi di antara mereka.
Belakangan Tiara tahu ia berangkat keesokan harinya ke Makassar. Hanya salam perpisahan yang ia titipkan lewat Hesti.
Rio menunjukkan jempolnya ke arah Zian.
Zian tersenyum melihat tingkahnya.
Malam itu awal episode baru dalam hidup Tiara dan Zian.
Keduanya pun akhirnya menikah beberapa minggu kemudian, yang dirayakan dengan sederhana namun meriah dan penuh dengan kebahagiaan.
\*\*\*\*\*
TAMAT