Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 70. Mama Pamit


Akhirnya sampai juga di kota mereka setelah sehari semalam terombang-ambing di atas kapal.


Pemandangan yang sama terpampang di di depan mereka.


Buruh-buruh pelabuhan berlomba mencari penumpang untuk menawarkan jasa mereka mengangkat barang bawaan.


Penjaja makanan dan minuman yang hilir mudik menjajakan dagangannya, penumpang yang berdesakan ingin segera naik ke kapal ditambah lagi para penjemput yang berharap orang yang ditunggu segera turun.


Sungguh,, keruwetan yang tidak ingin selalu dilihat Tiara.


Setelah sabar menunggu beberapa saat, mereka akhirnya berhasil turun dengan sedikit oleng efek ombak yang menguasai mereka semalaman.


Tanah yang dipijak seolah sedikit bergoyang ketika melangkah.


Sampai di pelataran parkir pelabuhan, rombongan kak Ami berpamitan. Masing-masing rombongan mencari mobil angkutan kota untuk mengantarkan mereka pulang ke rumah masing-masing.


Sesampainya di rumah . . .


Mereka di sambut oleh tantenya eh, tumben ada mamanya juga di situ.


Kak Nia mulai bercerita tentang liburan mereka dengan hebohnya, walau tak menceritakan kejadian yang menimpa Tiara sesuai permintaan dari adiknya itu agar mamanya tak khawatir dan bertanya lebih jauh.


Setelah melepas rindu dengan semua kerabat yang ada, Tiara bergegas menuju ke kamarnya sekedar mengistirahatkan tubuh dan kepalanya yang masih berasa oleng.


" Ah, lumayanlah masih ada beberapa hari untuk bersantai ". gumamnya lirih tak terasa matanya mulai terpejam.


Tok tok tok


Tok tok tok


Ketukan berulang kali di pintu memaksa matanya membuka kembali.


Namun ia belum beranjak membukakannya.


Tok tok tok


" Ara, ini mama. Boleh masuk nggak?" terdengar suara mamanya dari balik pintu.


" Iya ma, bentar !" jawabnya kemudian dengan perlahan mulai bangkit berdiri menuju ke pintu.


Sosok mamanya muncul setelah pintu terkuak.


" Kenapa lemas gitu Ra, ada masalah apa ?" selidik mamanya.


Tiara menggeleng dengan cepat.


" Nggak ada apa-apa ma, cuma pusing aja". jawab Tiara pelan.


" Kamu mabuk laut ya kemarin?"


" Iya ma, soalnya udah lama banget kan naik kapalnya, hehehe ". Tiara terkekeh.


Suasana asing itu mulai mencair kini.


" Em . . . mama gimana kabarnya?"


" Alhamdulillah mama baik nak. Mama tadi ke sini mau ngasih tahu berita baik ini sama kamu nak ".


Mata Tiara membulat kaget.


" Berita baik apa ma?" tanyanya tak sabar.


Mamanya tersenyum melihat reaksi dari anaknya.


" Papa mendapatkan proyek pembangunan perkantoran di kota sebelah. Mama nggak mungkin dong biarin papa pergi sendiri. Nanti nggak ada yang ngurus keperluan makan dan lainnya. Jadi mau nggak mau, mama harus ikut juga ke sana". jelas mamanya.


Jeda sejenak untuk menunggu reaksi dari Tiara.


" Tujuan mama ke sini ya itu tadi, untuk ngasih kabar ini sama kamu, gimana menurut Ara?" tanya mama dengan lembut sambil memandang wajah anak gadisnya yang mulai beranjak dewasa.


" Kalo Ara sih nggak masalah selama mama baik-baik aja ". jawab Tiara singkat.


" Ara doain aja biar mama dan papa di sana baik-baik aja. Karena niat kita juga untuk memulai kembali dari nol. Yang sudah terjadi kemarin, lupakan saja".


" Iya ma, Ara bakal selalu doain yang terbaik untuk mama". balas Tiara sambil memeluk mamanya dengan erat.


Mamanya membalas pelukannya seraya mengelus lembut rambut dan punggungnya.


Setelah itu, mamanya berpamitan dengan adiknya yang selama ini menjaga Tiara.