Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 88. Camping


Zian masih terdiam mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Rio sebelum pergi.


" Ah, kenapa kucing nakal itu harus ikutan sih ?" gumamnya beberapa saat kemudian. Ia tak setuju dengan pilihan Tiara kali ini.


Masalahnya Zian masih khawatir dengan Tiara. Walaupun setelah keributan di kantin waktu itu, semua tampak baik-baik saja. Justru itulah yang membuat Zian semakin curiga dengan Nayla.


Pasti ada rencana besar yang disembunyikan gadis licik itu. Zian tahu betul sifat Nayla. Dia tidak mungkin diam saja setelah diperlakukan seperti itu.


Pasti dalam diamnya, gadis itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk membalas Tiara.


Hem . . .


Cowok itu kehilangan konsentrasi untuk melanjutkan kegiatan membacanya.


Di sisi lain, Tiara dan kedua sahabatnya malah asik menyusun rencana kegiatan mereka selama camping nanti.


Kebiasaan kaum cewek.


\*\*\*\*\*


Beberapa hari kemudian.


Waktunya camping tiba. Seluruh siswa berkumpul dulu di sekolah. Mereka dikoordinir oleh beberapa orang guru. Beberapa bus sudah bersiap untuk mengantarkan mereka ke tempat tujuan.


Setelah mendengarkan pengarahan dari Bapak kepala sekolah dan guru yang menjadi ketua kegiatan tersebut, rombongan pun mulai berangkat menuju ke arah luar kota.


Tak lupa satu persatu siswa diabsen agar guru bisa mengetahui jumlah siswa yang ikut serta.


Mentari yang bersinar cerah, mengiringi perjalanan mereka. Ada yang bernyanyi di bus ada juga yang asik ngobrol dengan teman yang duduk berdekatan.


Tiara dan kedua sahabatnya, sengaja memilih tempat duduk paling belakang.


Ketiganya asik memperhatikan tingkah teman-teman sekelasnya sambil sesekali ikut bernyanyi.


Waktu yang bergulir begitu cepatnya, hingga


tak terasa tibalah mereka di tempat tujuan.


Semuanya terperangah kagum melihat pemandangan yang tersaji di depan sana.


Di sekeliling tempat itu terdapat banyak pepohonan yang tak begitu rindang.


Sungguh, pemandangan yang sangat memukau mata.


" Wah indahnya ". ucap Tiara dengan takjub seraya melayangkan pandangan ke sekeliling tempat itu. Begitu juga dengan Hesti dan Dhilla. Ketiganya tak henti memuja Sang Pencipta yang sudah menciptakan surga kecil di tempat itu.


Perhatian mereka teralihkan mendengar panggilan berkumpul dari seorang guru yang ingin memberikan pengarahan selanjutnya.


Bergegas mereka bergabung dengan teman lain yang sudah berada di dalam barisan.


" Hai !" ujar Wisnu dan Rio yang mendadak muncul di belakang ketiga gadis itu.


" Eh, kalian ikut juga ya ?" tanya Tiara menoleh ke arah dua cowok itu berharap ada Zian juga di situ.


Namun harapannya sia-sia saat tak menemukan sosoknya.


Wajahnya berubah datar kembali.


" Rio, mana kak Zian ?" tanya Hesti mengerti pikiran sahabatnya.


" Kemarin katanya nggak mau ikut". jawab Rio pelan seolah takut membuat Tiara kecewa.


" Dasar cowok aneh !" Hesti kesal.


Rio hanya mengangkat bahu enggan mengomentari saudara angkatnya itu.


Beberapa menit kemudian, barisan dibubarkan. Mereka terbagi menjadi beberapa kelompok.


Setiap kelompok mulai memasang tenda masing-masing. Sebagian lagi pergi di bawah pepohonan untuk mencari ranting-ranting kering.


Rio dan Wisnu membantu Hesti dan Dhilla memasang tenda. Tiara membersihkan permukaan tanah di dalam tenda.


Tak jauh dari situ, nampak ketiga gadis licik sedang asik memperhatikan mereka.


\*\*\*\*\*