Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 92. Gavin dan Tiara


" Lo duduk di sini aja, udah gue bersihin !". ujar cowok itu seraya menepuk-nepuk kedua tangannya membersihkan debu yang masih menempel.


" Eh, iya kak makasih". jawab Tiara menuju ke bangku kayu yang ditunjukkan Gavin.


" Ngomong-ngomong, nama lo siapa ?" tanyanya memulai pembicaraan.


" Tiara kak, kakak sendiri siapa?" Tiara balik bertanya.


Duh, kepo banget sih nih mulut. gerutunya dalam hati.


" Gue Gavin ". jawab cowok itu.


" Gimana ceritanya sih, sampe lo bisa terpisah dari kelompok lo sendiri?" tanyanya kemudian.


"Itu karena kelompok kita terlalu bersemangat buat dapetin bendera yang disembunyikan. Eh nggak sadar udah jalan sendiri-sendiri ". jawab Tiara blak-blakan sambil tersenyum.


Duh, kenapa cewek ini gemesin banget sih? pake senyum segala lagi. Gavin membatin.


Dari awal bertemu tadi memang Gavin sudah tertarik dengan Tiara, entah kenapa.


" Oh gitu ya, by the way. . . kalo lo mau baring sebentar nggak apa-apa biar gue jagain ". ucap Gavin dengan santainya namun wajahnya terlihat tak sedingin pertama kali bertemu.


Tiara menggeleng cepat.


" Nggak usah kak, biar duduk aja ". ucapnya pelan.


Di dalam hati Tiara merasa khawatir karena sering ia mendengar cerita yang menurutnya menakutkan. Tentang gadis yang berduaan dengan seorang cowok dan akhirnya diapa-apain, oh my God help me please.


Benaknya mulai kacau dengan segala kemungkinan. Membuat hatinya mulai menciut. Tanpa sadar ia memeluk kakinya agar merapat ke tubuh mungilnya.


Rupanya Gavin mengerti apa yang ditakutkan Tiara.


" Nggak usah mikir yang aneh-aneh, gue nggak ada niat buruk sama lo. Tapi kalau lo nggak percaya, ya udah terserah ". ucap cowok itu dengan santainya.


Tiara hanya tersenyum kikuk dengan kewaspadaannya.


Jeda sejenak.


Gavin mengitari pondok yang hanya terdiri dari satu ruangan itu. Di atur sedemikian rupa hingga yang melihat langsung paham area mana yang dipakai untuk tidur, dan memasak.


Tidak banyak perabot yang ada di situ, mungkin karena si empunya hanya berkunjung sesekali di waktu-waktu tertentu.


Puas meneliti seluruh ruangan, Gavin pun kembali ke tempat duduknya. Sejauh ini nggak ada yang aneh dengan tempat itu, pikir Gavin mulai merasa lega.


Keduanya masih terdiam, asik bergulat dengan pikiran masing-masing.


\*\*\*


# Zian


Setibanya di area camping, Zian turun dari mobil dengan terburu-buru. Ia segera mencari Rio.


Sosok yang dicari sedang berdiri gelisah. Sesekali ia berjalan hilir mudik seolah sedang berpikir keras.


" Rio !"


Rio cukup kaget melihat kedatangan Zian namun ia merasa lega karenanya.


" Zian ! syukurlah lo datang. Tiara


menghilang barusan ". ucap Rio sedikit tegang.


" Kok bisa?"


" Ceritanya nih, tadi kita dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mencari jejak. Tiara terpisah dari Hesti dan Dhilla. Nggak tahu juga gimana jelasnya tapi tadi mulai heboh karena setelah pak Dirman mengabsen ternyata ada dua siswa yang nggak kembali. Tiara dan Gavin ". jelas Rio panjang lebar.


" Hah? Gavin . . . Gavin . . . ah sudahlah. Sekarang lo bawa beberapa teman lo bareng gue nyariin mereka ".


" Oke !" ujar Rio bergegas pergi.


" Gue ikut !" tiba-tiba Wisnu muncul.


" Hem . . .


Hanya itu yang keluar dari mulut Zian.


Ketika melewati deretan tenda . . .


" Kak Zian, cepetan nyariin Ara. Aku nggak mau terjadi apa-apa dengan Ara". ucap Dhilla sendu yang diiyakan Hesti.


\*\*\*\*\*