
"Jadi apa yang akan kau lakukan Alea?" Tanya Yuna. Ia membalas tatapan Alea padanya.
Sudut bibir Alea terangkat samar.
"Aku berterima kasih padamu Yuna, untuk persahabatan tulus yang kau berikan padaku. Dan aku minta maaf karena menghianati persahabatan itu. Kau tidak perlu khawatir lagi akan hadir ku. Mungkin ini adalah hari terakhir ku ada di Ibu Kota. Aku ... " Alea menghentikan ucapannya. Ia menunduk sebentar lalu kembali menatap Yuna lagi. "Aku akan meninggalkan Ibu Kota, lagi. Seperti dulu."
Alea akan pergi? Rasa haru merayap dan menguasai hati Yuna. Dia sangat mudah sekali tersentuh. Bagian-bagian dari hatinya merasa begitu iba pada perempuan didepannya ini. Namun ada bagian lain yang berbisik, bukankah seharusnya ia bahagia karena jika Alea pergi, itu artinya tidak ada yang mencintai Leo selain dirinya, jika Alea pergi tidak akan ada sepasang mata yang menatap Leo dengan cinta selain dirinya. Separuh hatinya merasa iba, separuhnya lagi merasa tenang.
"Sekali lagi, aku minta maaf padamu Yuna," ujar Alea. Yuna mengambil nafasnya dengan dalam. Dia mengingat saat Alea bercerita padanya malam itu, kisah sulit yang harus ia jalani. Hidup dalam cemoohan karena perbuatan hina Papanya.
"Kenapa kau mengambil keputusan untuk pergi dari Ibu Kota?" Tanya Yuna. Ia masih menatap Alea.
"Mungkin ini yang terbaik, Yuna. Aku tidak akan berada di sekeliling kalian lagi," jawab Alea pelan. Ia menunduk.
"Kau pergi karena perasaan mu pada Leo?" Yuna bertanya dengan rasa sakit dihatinya. Ternyata malah dia sendiri yang menanyakan hal itu. Tentang perasaan Alea pada suaminya.
Alea mengangguk pelan. Yuna memejamkan matanya sebentar dan kembali menatap Alea.
"Aku tidak tahu kenapa sentuhannya saja mampu menggetarkan hatiku, sentuhan tangannya disore itu," ujar Alea. Yuna mengingat kejadian itu, sore dimana tangan Leo melingkar dengan sempurna dipinggang Alea. "Sesuatu yang indah tetapi aku tidak mungkin untuk menggapainya. Aku akan menghapus rasa ini Yuna," lanjut Alea. Yuna mengalihkan pandangannya. Setiap kata yang keluar dari mulut Alea seperti ujung pisau yang mengoyak hatinya.
'Seperti apa cinta yang kau miliki untuk suamiku?' Yuna kembali menatapnya dengan menahan segala emosi yang bercampur dihatinya.
Ia mengambil nafasnya panjang dan mengeluarkan dengan lembut.
"Jika memang keputusan mu pergi dari Ibu Kota adalah karena Leo maka aku berterima kasih dan meminta maaf. Terima kasih karena kau tidak mencoba untuk masuk lebih jauh kedalam rumah tangga ku. Maaf karena keadaan ini membuat mu meninggalkan Ibu Kota, lagi," Yuna berkata dengan tenang. "Pergilah jika itu bisa membuat mu melupakan Leo ku, pergilah jika itu bisa menghapus perasaan mu pada Leo ku. Pergilah Alea, sembuhkan luka tentang cinta yang tak akan pernah kau miliki. Dia milikku dan selamanya akan seperti itu. Pergilah Alea, sambut hari baru mu disana. Aku minta maaf jika sikapku menyakiti mu, aku minta maaf karena tangan ini pernah menamparmu," lanjut Yuna.
"Aku yang menyakitimu Yuna, jangan meminta maaf pada ku. Aku yang salah, aku yang seharusnya meminta maaf pada mu. Aku minta maaf untuk setiap rasa kecewa dalam hati mu pada ku," ucap Alea.
"Aku memaafkan mu, Alea," jawab Yuna.
Alea tersenyum bahagia mendengar itu.
"Terima kasih untuk kemurahan hati mu, Yuna" ucap Alea. Kemudian, dia berdiri dari duduknya. Ia berdiri di depan Yuna dan membungkukkan badannya. "Saya pamit Nyonya muda," ujarnya dengan sopan. Yuna ikut berdiri dan mengangguk.
"Sampai jumpa lagi," jawab Yuna. Alea mengangkat wajahnya mendengar itu. Ia menatap Yuna dengan rasa haru dalam hatinya. 'Jumpa lagi? Wanita yang ia sakiti bahkan berharap untuk berjumpa lagi.'
Yuna memanggil Albar dan memintanya untuk mengantar Alea kembali.
"Kembalilah jika namanya telah musnah dalam hatimu," pesan terakhir Yuna sebelum Alea benar-benar pergi. Mata Alea berkaca-kaca, ia ingin memeluk Yuna mengucapkan ribuan rasa terima kasih untuknya. 'Kenapa kau bahkan menginginkan ku kembali. Aku benar-benar minta maaf karena menghianati persahabatan tulus yang kau berikan pada ku, Yuna.'
Alea mengangguk dengan penuh haru, hatinya dipenuhi oleh rasa bersalah.
"Saya pamit Nyonya muda," ujar Alea pamit lagi yang di jawab anggukan kecil oleh Yuna.
Kemudian, ia masuk mobil dan Albar mengantarnya. Yuna menghembuskan nafasnya dengan halus dan dengan perasaan yang lega ketika mobil itu membawa Alea pergi dari dari rumahnya.
Albar menyetir dengan pelan, sesekali matanya memperhatikan Alea yang duduk di belakang.
"Albar," panggil Alea pelan. Ia melihat ke arah spion dan mata mereka saling bertemu.
"Ya," jawab Albar.
"Esok aku akan pergi," ucap Alea.
Albar mengerutkan keningnya dengan terkejut.
"Pergi?" Tanyanya.
Alea mengangguk. Pandangan matanya beralih. Ia memperhatikan jalanan yang padat.
"Berapa lama?" Albar bertanya saat mobil yang dikendarainya berhenti karena lampu merah.
"Aku tidak akan kembali lagi Albar," jawab Alea. Ia merasa getir saat mengucapkan itu. Ibu Kota yang telah lama ia tinggalkan, lalu kembali lagi, lalu pergi lagi. Ibu Kota menyimpan kisah cintanya yang pahit.
"Tidak kembali?" Tanya Albar dengan terkejut. Ia menoleh ke arah Alea. "Apa maksudnya tidak kembali?"
"Aku akan pergi dari Ibu Kota untuk selamanya," jawab Alea.
"Kenapa? Kenapa kau pergi?" Tanya Albar. Ada rasa tidak rela dalam hatinya ketika mengetahui jika Alea akan pergi dari Ibu Kota untuk selamanya. Ia menjadi sangat gelisah.
"Aku ingin pergi saja," jawab Alea. Dia membalas tatapan mata Albar, tetapi itu tidak lama karena lampu sudah kembali berubah hijau.
Albar melajukan mobilnya kembali. Pikirannya menjadi tidak tenang. Dia menyalahkan audio untuk mengurangi rasa gelisah yang tiba-tiba muncul di dirinya.
"Kemana aku harus mengantar mu, Alea?" Tanya Albar.
"Rumah bunga," jawab Alea. Albar mengangguk. Beberapa menit kemudian, mobil yang ia kendarai parkir di depan rumah bunga milik Alea. Mereka berdua turun. Alea lebih dulu berjalan lalu Albar menyusulnya.
Rumah bunga itu tertutup dan bertuliskan.
"Aku adalah bagian dari kisah di dunia ini. Datang kemudian pergi adalah hal yang sangat wajar. Maaf rumah bunga harus pamit pada semuanya"
Alea berdiri di depan rumah bunga miliknya, pandangan matanya nanar. Sejujurnya berat untuk meninggalkan semua ini tetapi harus.
"Sungguh kau tidak akan kembali?" Tanya Albar. Dia berdiri menjejeri Alea.
Alea mengangguk sebagai jawaban. Kemudian, hening sesaat.
"Aku pergi karena menghindari seseorang," kata Alea dengan senyum samar. Ia masih memperhatikan rumah bunga yang ia kelola selama ini. Albar menoleh ke arahnya, menatap Alea dari samping.
"Senang bisa mengenalmu, Alea," ucap Albar.
Alea mengangguk dengan senyum, "Aku juga senang bisa mengenalmu, Albar," jawabnya.
"Jam berapa besok kau akan berangkat?" Albar bertanya dengan sedikit ragu.
"Jam dua siang," jawab Alea.
____
Sore hari pukul setengah enam, mobil Leo perlahan parkir di garasi. Kemudian, ia melangkah dan menuju ke terasnya. Dia mengulum senyum saat berdiri di depan pintu, ia tahu ada Yuna di balik pintu itu.
Pelan, pintu itu terbuka dan memperlihatkan seseorang dengan senyum cantiknya.
"Selamat datang, Daddy," sapa Yuna. Sebuah senyuman cantik nan hangat menyambut kedatangan suaminya. Sudut bibir Leo terangkat membentuk senyuman yang indah. Hatinya dipenuhi kebahagiaan mendengar sapaan Yuna padanya. Daddy, panggilan yang akan ia sandang sebentar lagi. Ia menatap Yuna dengan kelembutan dimatanya. Ia melangkah masuk dan mencium kening Yuna.
"Terima kasih, sayang," ucapnya setelah meninggalkan kecupan di kening Yuna. Tangannya mengusap perut Yuna dengan lembut. "Hmmm rasanya tak sabar lagi."
____
Catatan Penulis
Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini π₯° Padamu kesayangan π₯°π
Jan lupa like komen ya kesayangannya Nanas π₯° π Luv luv π₯°ππ Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta πΉ Padamu π₯°
Hallo Sahabat Sebenarnya Cinta πΉ Izinkan Author promo novel milik sahabat Author ya. Novel kece berjudul. Meadow by.Quin