
"Sekarang... aku bahkan takut mencintai mu Yuna." Leo melepaskan pelukannya. Ia menatap Yuna yang masih menyembunyikan wajahnya. "Tidak, bukan sekarang, tapi dari awal ketika aku sadar jika aku mencintaimu. Semakin kesini, semakin membuat ku mengerti bahwa pemikiran kita berbeda. Aku yang tidak ingin kau memiliki hubungan apapun dengan laki-laki selain aku dan kamu yang ingin kebebasan. Kau boleh berteman dengan siapa saja asal jangan dengan laki-laki. Entah itu Vano, Karel atau siapapun. Aku tidak tahu bagaimana caranya membuat mu bahagia, aku tidak tahu caranya membuat mu tertawa lepas seperti saat kau bersama Vano, aku bahkan salah ketika ingin membuat mu merasa senang. Dan inilah aku Yuna... laki-laki yang hanya memiliki cinta untuk mu tetapi tidak mampu membuat mu bahagia. Aku minta maaf." Leo beranjak dan melangkah pergi keluar. Dia menutup pintu kamar kembali dan berjalan menuju ruang belajar.
Yuna menangis dalam diam. Dia masih mengigit bibirnya dan menyembunyikannya wajahnya. Dia sakit mendengar ucapan Leo, apa lagi Leo yang merasakannya.
''Aku bahagia bersama mu, sangat bahagia. Kenapa kau berpikir aku tidak bahagia bersama mu.'' Yuna terisak-isak. Malam seolah membawanya pada kesedihan yang begitu menusuk. Tetesan air matanya semakin membuat kesedihan itu seolah membelenggu, "Maafkan Aku. Aku menyakiti mu berulang kali dengan sifat ku. Aku melukai hati mu berulang kali karena kelakuan ku. Aku selalu saja membuat mu menderita. Permintaan sederhana yang selalu ku langgar."
_Di kamar yang lain.
Neva tertawa kecil membaca komentar-komentar yang membanjiri akunnya.
"Sedang apa?" pesan dari Raizel.
"Membaca dan sesekali membalas komentar temen-temen di akun sosial media ku." balas Neva.
"Apa itu tentang foto ku?" Raizel membalasnya dengan emot PeDe
"Yup, kau membuat akun sosial media ku meledak Raizel." balas Neva dengan emot tepuk tangan.
"Waww...," balas Raizel.
"Hahaaa," balas Neva dan tidak ada balasan lagi dari Raizel tetapi dia malah di kejutkan dengan banjir komen dan seperti bom like di akun sosial medianya. Ini karena... Raizel meninggalkan jejak di sana.
"Waah...," hanya kata itu saja yang tertulis di sana tapi itu membuat teman-temannya menggila. Neva tidak ikut berkomentar di sana. Horror... ada yang membully-nya karena rasa cemburu karena dia mendapat komentar dari Raizel.
"Raizel... kau membuatku diserang," Neva mengiriminya pesan.
"Hahaaa... selamat menikmati Neva, oh... tolong kirimi aku foto kemarin." balas Raizel.
"Jangan di salah gunakan," pesan yang Neva bubuhkan pada foto yang dia kirim untuk Raizel.
"Tidak akan," balas Raizel.
"Kau akan menguploadnya?" tanya asistennya setelah melihat Raizel memasukkan foto dirinya bersama Neva di akun sosial medianya. Saat ini mereka tengah di dalam mobil untuk kembali pulang setelah seharian penuh melakukan kegiatan.
"Ya," jawab Raizel sambil mengetik caption.
"Jangan lakukan atau kau akan kena omelan Mak Cuty hingga pingsan," asisten memperingatkannya.
"Aku tidak perduli," jawab Raizel acuh tak acuh.
"Kau baru saja menandatangani kontrak untuk film baru. Jangan sampai ada kasus. Kau tidak boleh memiliki teman dekat wanita, itu akan menghancurkan reputasi mu. Fans mu akan berkurang, dan itu otomatis akan mengurangi minat PH ( Production House ) untuk menggunakan mu sebagai artisnya" asistennya mencoba memperingatkannya lagi.
"Cerewet... aku tidak perduli sama sekali, tidak jadi artis pun aku kaya raya," Raizel menjawab dengan sombong.
"Okey, terserah kau saja. Tapi jika karirmu hancur karena kau memiliki gadis incaran, kau jangan menangis darah di depanku."
"Aku bilang tidak perduli dengan karir ku. Aku mulai lelah juga dengan semua ini." Setelah selesai mengucapkan ini, tangannya menekan tombol yang ada pada ponselnya dan langsung mengunggah satu foto di akun sosial medianya. Dia tahu itu akan meledak dan banjir komentar. Setelah menguploadnya dia keluar dari akunnya dan tidak memperhatikan komen-komen.
"Kau tahu kenapa aku terjun ke dunia entertainment. Itu bukan karena uang, bukan juga karena popularitas," Raizel menoleh ke arah asistennya. Di masa sekolah dia sering melakukan drama, dia bahkan mengikuti kelas drama, lama-kelamaan ia mulai menyukai dunia satu ini. "Jika aku hancur di dunia entertainment, kau jangan khawatir, kau akan tetap jadi asisten ku," Raizel menepuk pundak asistennya.
"Hahaa... kau paling tahu yang ku inginkan Boss," ucap asisten Raizel dengan tawa.
Ponsel Raizel berdering dan ada panggilan masuk dari Neva.
"Diam kau...," Raizel mengancam asistennya untuk diam setelah tahu siapa yang membuat panggilan.
"Siap," jawabnya. Dia kemudian membuka akun sosial medianya dan membuka foto yang baru saja di upload oleh Raizel. Benar saja... unggahan foto itu langsung meledak.
"Raizel kau gila....," Neva langsung berteriak setelah setelah panggilannya terhubung. Neva gemetar setengah mati karena dia mendapat bully-an dari fans fanatik Raizel. Pesan masuk pada kotak pesannya bahkan ikut meledak, ia mendapat banyak sekali pertanyaan dari teman-temannya. Saat ini dia sudah menghapus foto Raizel diakun sosial medianya tetapi masih saja dia di serang.
"Hahaa... dari mana kau tahu kalau aku gila?" jawab Raizel dengan tawa.
"Hapus sekarang juga foto kita dari akun mu," pinta Neva, dia memohon.
"Itu sudah terlanjur diunggah," jawab Raizel enteng.
"Kau bisa menghapusnya Raizel, ku mohon." Neva menangis tapi tidak mengeluarkan air mata. Raizel hanya tertawa diseberang sana. "Kau akan semakin membuat ku gila jika sampai akun gosip itu mempostingnya ulang unggahan mu. Raizel, ku mohon..." Neva memohon dengan suara yang memelas.
"Biarkan saja, mereka akan lelah sendiri nanti," jawab Raizel enteng. Dia sudah terbiasa dengan itu tapi Neva? Dia tidak akan bisa tidur malam ini dan mungkin malam-malam berikutnya.
"Aku menyesal mengirimi mu foto itu," Neva mengerucutkan bibirnya.
"Hahaa...," Raizel hanya mampu tertawa diseberang sana.
"Hari-hari ku akan buruk setelah ini Raizel...," suara Neva terdengar putus asa. Dia membayangkan akan diserbu fans Raizel di kampus dan bahkan ditempat makan.
"Aku akan menjadikannya kembali indah Neva," jawab Raizel menggombal.
"Tidaaaaak. Kau akan memperburuk keadaan," ujar Neva. Kemudian, asisten Raizel memberikan ponsel miliknya pada Raizel. Ada panggilan masuk dari Mak Cuty menegernya.
"Neva, maaf harus memutus panggilan ini. Ada orang rese yang menganggu," ucap Raizel.
"Okey," jawab Neva dan kemudian mengakhiri panggilan.
Raizel dengan malas menerima panggilan dari Mak Cuty menegernya. Dia tahu jika dia akan kena semprot dan mungkin akan berlangsung beberapa hari kedepan.
"Rai..." Mak Cuty berteriak sangat kencang dari sambungan telepon hingga membuat Raizel menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Simpan omelan mu Mak, aku lelah. Besok saja okey," Raizel menjawab dengan malas.
"Kau terbaik sayang ku, cinta ku, kasih ku yang paling tampan," tidak seperti yang Raizel pikirkan. Mak Cuty malah memujinya. Ada apa ini? "Rai... dari mana kau dapatkan foto itu? Apa kau sungguh bertemu dengannya? Yang kau posting adalah Nona muda dari keluarga Nugraha bukan? Putri salah satu konglomerat di negara ini. Aaaaa... kau akan semakin melejit... kau pandai mencari gebetan sayang ku, cinta ku, manis ku."
"Apa maksud mu?" Raizel menaikkan alisnya.
"Ini keuntungan untuk mu. Gosip akan meluas, mereka pasti akan mengira kau sungguh memiliki hubungan khusus dengan putri dari konglomerat itu. Mereka semua akan memburu mu...," jelas Mak Cuty. Mendengar itu, Raizel segera memutus panggilan Mak Cuty dan segera membuka akun sosial medianya. Ia menekan tombol hapus. Dan foto itu langsung lenyap dari akunnya.
"Sial...," dia mengumpat dengan sangat kesal.
"Kenapa menghapusnya?" tanya asistennya. Si asisten baru tahu jika foto gadis yang di posting Raizel adalah Nona muda putri dari salah satu konglomerat negara ini. Banyak yang mengenalinya, banyak juga yang tidak mengenalinya dan langsung membully karena berhasil masuk menjadi seseorang yang fotonya di unggah oleh Raizel.
Di sana... Neva mengira bahwa Raizel menghapus fotonya karena permintaan nya tadi. Dia menonaktifkan semua komentar pada akun sosial medianya.
"Terima kasih Raizel," dia mengirim pesan pada Raizel. Kemudian, dia langsung menonaktifkan ponselnya.
_Dini hari.
Leo tidak tidur sama sekali. Bagaimana dia bisa tidur sedangkan hatinya berkecamuk. Dia menyesal karena membentak Yuna.
Curiga? Curiga dengan Yuna dan Vano? Dia hanya tidak suka ketika mereka bertemu apa lagi saling menatap, saling bicara dan bahkan saling bercerita dan tertawa. Apa dia salah dengan itu? Curiga? Cemburu? Posesif? Entah apa namanya. Inti dari semuanya adalah bahwa Yuna tidak boleh dekat dengan laki-laki lain selain dirinya. Seperti dia yang tidak dekat dengan wanita selain istrinya. Ketika dia sadar dengan cintanya untuk Yuna, dia tidak lagi pernah berurusan dengan Kiara, sebisa mungkin dia menghindar. Tidak bisakah Yuna seperti itu?
Egoiskah jika dia menginginkan itu dari Yuna?
Dia beranjak dari duduknya dan melangkah untuk keluar. Ia menuju kamar Yuna. Dia berdiri beberapa saat, hanya berdiri di depan pintu tanpa membukanya. Hingga beberapa menit, akhirnya dia meraih gagang pintu itu dan dengan pelan membukanya.
Lampu masih menyala. Ia melangkah masuk dan menghampiri Yuna. Saat ini, Yuna sudah tertidur. Dia tidur meringkuk dengan mata yang sembab. Leo memperhatikan wajah itu, wajah cantik yang selalu ia rindukan. Matanya dipenuhi kelembutan menyaksikan istrinya. Tangannya mengulur untuk membenarkan rambut Yuna yang terjatuh di pipinya. Kemudian, dengan sangat hati-hati, dia mengangkat tubuh Yuna dan membawanya ke kamar mereka.
Ia memeluk Yuna dan mengecup keningnya. Tangan hangatnya menyusup kedalam baju Yuna dan mengusap dengan lembut perut indah itu. Sudut-sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman, "Baby Lee," gumamnya. Kemudian, ia memejamkan mata.
Malam masih menyisakan gelisah, ia juga masih menyisakan pilu, bahwa ia juga masih menyisakan rasa takut. Takut mencintai karena takut kehilangan. Ia berjanji akan selalu menjaga cinta yang ia miliki, hingga tak ada celah untuk kehilangan.
"Sayang," Yuna memanggilnya.
"Hmm? Apa aku membangunkan mu?" jawab Leo. Ia semakin mendekatkan dirinya pada Yuna. Ia memeluk istrinya dengan hangat.
"Sayang, aku minta maaf," ucap Yuna. Ia menyandarkan kepalanya di dada Leo.
"Tidak apa-apa, aku yang salah," Jawab Leo. Ia menunduk dan mencium kening Yuna. "Sekarang, tidurlah," ucapnya penuh kasih. Yuna mengangguk dan membalas pelukan Leo padanya.
Tidak ada yang lebih indah daripada memeluk tubuh mu, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada mendekap tubuhmu.
Tenang... rasa ini sangat tenang. Teruslah seperti ini. Saling mendekap, saling mengerti, dan saling memahami. Dua pemikiran otak manusia tidak mungkin bisa sama secara sempurna. Dan kita tidak bisa memaksanya untuk selalu sama.
"Sayang," Yuna memanggil lagi.
"Iya," jawab Leo.
"Aku mencintai mu dan sangat bahagia bersama mu," ucapnya rendah. Leo mengusap rambutnya dan mencium keningnya.
"Terima kasih, sayang," ucapnya lembut penuh cinta.
__Pagi hari Yuna terbangun dan langsung membersihkan dirinya. Kemudian, dia turun ke bawah.
"Pagi Kak Yuna...," Neva tersenyum menyapanya dari ruang tengah.
"Pagi, Neva...," balas Yuna. Matanya mencari Leo.
"Kak Lee ada di dapur," ucap Neva seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Yuna. Yuna mengangguk dan tersenyum. Dia segera melangkah ke dapur, dan menemukan Leo berada di sana. Yuna mendekatinya dan memeluknya dari belakang. Dia menyandarkan kepalanya di punggung Leo.
"Sayang, kau sedang apa?" tanyanya. "Bukankah sarapan sudah siap," lanjutnya.
"Membuat susu untuk mu," jawab Leo. Tangannya mengaduk pelan susu rasa coklat di dalam gelas yang dia buat.
"Hhmmm, Tuan manis...," ucap Yuna. Dia menggosok-gosokkan hidungnya di punggung Leo.
"Nyonya, apa kau sudah mandi?" tanya Leo. Kemudian ia membalikk badannya. Ia mengangkat Yuna dan menggendongnya di depan, kedua tangannya menopang tubuh Yuna. Sementara kaki Yuna mengapit pinggangnya, posisi Yuna lebih tinggi darinya saat ini.
"Sudah," jawab Yuna. Tangannya memainkan rambut Leo. "Aroma tubuh ku sudah wangi," lanjut Yuna.
"Benarkah?" tanya Leo menggodanya. Ia membawa Yuna ke ruang makan.
"Tentu saja," jawab Yuna dan dia langsung menunduk. "Kau bisa langsung menciumnya," bisiknya lembut.
Leo tertawa kecil, "Kau semakin pandai merayu ku Nyonya," ujar Leo. Ia mendongak menatap Yuna penuh kasih. Kemudian, Yuna menunduk dan mencium bibirnya. Sarapan pagi yang paling lezat. Leo mengunci bibir merah muda itu, dia tidak membiarkannya lepas.
Hingga sebuah teriakan menghentikan mereka.
"Aaaaaaaa..... Ya ampun," Neva yang tidak tahu yang sedang terjadi menyelonong masuk ke ruang makan begitu saja. Dia segera menutup matanya dengan rapat. "Aah, mataku... kasihan mataku. Dia ternodai. Mataku telah ternoda oleh kelakuan kalian yang tidak tahu tempat," dia menahan senyumnya.
Yuna langsung memeluk Leo dan menyembunyikan wajahnya yang memerah seperti apel.
"Anak kecil, kau adalah setan pengganggu," ucap Leo dan kemudian menurunkan Yuna.
Neva membuka matanya dan duduk di bangku.
"Hah, keterlaluan. Kalian membuat mata ku tak suci lagi," ucap Neva dengan sedikit tawa. Bayangan Kakaknya yang mencium Yuna dengan rakus bergentayangan di otaknya.
Yuna duduk di bangku dengan perasaan malu setengah mati. Dia menyembunyikan wajahnya, dia tidak berani menatap Neva karena dia merasa sangat malu. Sementara Leo kembali ke dapur untuk mengambil susu.
"Sayang, apa kau akan ke rumah bunga Alea lagi hari ini?" tanya Leo. Dia meletakkan susu diatas meja dan kemudian duduk di samping Yuna.
"Iya," jawab Yuna.
Seperti biasa, Leo yang melayani Nyonya... ia mengambil sarapan untuk Yuna dan akan menyeka bibirnya segera jika ada makanan yang tak sengaja mengenai bibirnya yang indah.
"Hufff... kalian terlalu harmonis. Itu membuat ku frustasi sebagai jomblo," Neva memprotes mereka.
"Diam dan selesaikan sarapan mu gadis kecil," jawab Leo.
"Mama... anak mu yang paling cantik sedang teraniaya," Neva sedikit mengeraskan suaranya. Kemudian mereka tertawa kecil.
___
Catatan Penulis
Thor udah ngasih Bab dobel yang banyaaaak. Jempolnya di goyang jangan lupa ya Beib kesayangan 😘 Vote juga dooong... muach😘😉 Koment jangan ketinggalan. Okey. Luv🥰😘