
"Sebenarnya, aku sedikit kecewa karena Kakak tidak hadir kemarin, tapi tak apa...," Neva berkata setelah minuman pesanannya datang. Kemudian, dia membuka tas miliknya dan mengeluarkan sesuatu. "Ini untuk Kakak...," dia menaruh bunga baby breath di atas meja tepat di depan Vano. Vano menunduk dan memperhatikan bunga di atas meja yang baru saja di taruh oleh Neva. Tangannya terangkat dan mengambil bunga kecil berwarna putih itu.
"Kenapa kau memberi ku ini?" tanyanya. Dia masih memperhatikan bunga kecil itu yang sekarang berada di telapak tangannya.
"Itu adalah bagian dari buket bunga pengantin. Aku mencurinya untuk Kakak... Ummm, aku hanya merasa kasihan pada Kakak jadi aku mencurinya. Kakak Lee sudah menikah dan bahagia, ku harap... Kakak Vano juga demikian."
Vano tersenyum mendengar penjelasannya.
"Kau percaya mitos itu?" tanya Vano, wajahnya terangkat dan menatap Neva.
"Huum," Neva mengangguk. "Mitos yang baik-baik, aku mempercayainya."
Mitos Bunga pengantin... yang siapa saja bisa mencurinya tanpa ketahuan maka, siapapun yang menerima bunga itu akan segera mendapatkan jodoh dan tertular kebahagiaan sang pengantin yang melimpah.
Diam-diam, Neva mengambilnya dua. Satu, dia berikan pada Vano dan satunya lagi untuk dia simpan sendiri.
"Okey, aku akan menyimpannya." ucap Vano dan dengan hati-hati menaruh di saku jaketnya.
Di sudut cafe di lantai dua. Dua Nyonya memperhatikan mereka dengan sangat bahagia. Mereka baru duduk beberapa menit yang lalu dan sangat kebetulan, mereka melihat Vano dan Neva duduk bersama. Mereka ingin dua insan itu saling jatuh cinta.
"Calon besan, bagaimana jika kita atur makan malam romantis buat mereka?" Nyonya Mahaeswara memberi ide. Dia tidak ingin salah memilih wanita untuk putranya, dia pernah menyukai seorang artis yang luarnya sangat sopan dan baik, dia lemah lembut dengan paras yang cantik, tapi siapa sangka ternyata dia adalah seorang kriminal. Dari kejadian itu, Nyonya Mahaeswara tidak lagi sembarangan menyukai seorang gadis. Neva ini... dia sudah tahu latar belakangnya dan tentunya dari keluarga yang baik.
"Sepertinya itu terlalu berlebihan, mereka belum sampai ke tahap itu," Nyonya Nugraha memberikan pendapatnya, tangannya terus mengaduk minuman tapi pandangannya tak lepas dari putri tercintanya. "Bagaimana jika nonton?" dia mengusulkan ide.
"Tepat, ide yang sangat bagus. Aku akan mengatur semuanya." Nyonya Mahaeswara menyetujui.
Sepuluh menit kemudian, seorang waiters dengan membawa dua tiket nonton film romantis menghampiri Vano dan Neva dengan sopan. Dia menyampaikan bahwa, cafe ini sedang mengadakan program pasangan romantis dan Vano dan Neva adalah pasangan yang terpilih menjadi pasangan terKeren dan terRomantis.
Neva menerimanya dengan bingung, dan memberi beberapa pertanyaan pada sang waiters. Lidah sang waiters sangat lincah menjelaskan semuanya dan sangat meyakinkan.
Sementara Vano dengan tenang membelai ponselnya dan membuat panggilan video pada Mamanya.
"Ya ampun anak itu...," Nyonya Mahaeswara menatap putranya dari lantai dua dengan kesal. Dia tahu jika Vano menyadari jika waiters itu adalah suruhannya.
"Ada apa? Apa Vano tahu jika ini adalah ulah kita?" Nyonya Nugraha menatapnya. Nyonya Mahaeswara mengangguk memperhatikan ponselnya yang terus berdering. Ketika panggilan itu berakhir dan dua Nyonya menoleh untuk memperhatikan mereka lagi, dengan sekejap mata mereka sudah tidak menemukan dua anak yang mereka awasi. Namun mereka berdua cukup puas karena ternyata Neva dan Vano saling bertemu di belakang mereka.
Neva tertawa terbahak-bahak setelah Vano memberi tahunya jika tiket nonton itu sebenarnya adalah ulah Mamanya. Neva semakin menyukai Nyonya satu ini. Vano melajukan mobilnya dengan sedang, diiringi alunan musik pop yang tengah hitz. Saat ini, Neva duduk di sebelahnya, tidak lagi duduk di bangku penumpang.
"Jadi apakah kita akan nonton akhir pekan ini?" Neva bertanya dan memperlihatkan dua tiket di tangannya.
"Ide bagus," Vano menyetujui.
"Tidak-tidak. Aku tidak mau nonton bareng Kakak, ini film romantis dan sepertinya kita tidak cocok dengan film ini," dia jaim dan sok menolak.
"Tapi ini cuma ada dua tiket." ucapnya kemudian.
"Jadi, kau tinggal memilih. Kau memilih nonton bersama pacar mu atau nonton bersama Papa mu," ucap Vano, tangan kirinya terangkat dan menepuk lembut kepala Neva.
"Oohh, Papa... aku akan durhaka jika aku memilih bersama pacar ku dan meninggalkan diri mu."
"Anak pintar," Vano menoleh untuk menatapnya. Mata mereka bertemu dan saling tertawa bersama.
___Malam hari, pukul 23.15 ketika Vano bersiap untuk tidur, ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Arnis. Setelah berbicara beberapa kata, dia segera menyambar jaketnya dan mengendarai mobilnya dengan cepat. Dia menuju ke kantor polisi keamanan kota.
"Kau... tidak apa-apa?" Vano bertanya dengan cemas ketika dia telah sampai di kantor polisi.
"Tidak apa-apa," jawab Arnis santai sambil mengemut permen lollipop di mulutnya. Kemudian, Vano memutar matanya dan di ruangan yang terpisah dia melihat seorang laki-laki yang duduk di sofa meringis kesakitan sambil memegangi pipinya yang lebam, dan bibirnya bahkan berdarah-darah. Laki-laki itu mengomel dan menyumpah tidak karuan.
"Sungguh kau yang melakukannya?" merasa tidak yakin, dia bertanya pada Arnis.
"Iya," Arnis mengangguk. "Dia menawari ku uang dan mengajak ku tidur. Kurang ajar dia... aku bahkan ingin membunuhnya, dia masih beruntung karena ada polisi berpatroli. Laki-laki seperti dia adalah sampah. Aku mendengar percakapannya bahwa dia adalah pegawai mu, bikin dia membayar semuanya karena melecehkan perempuan."
Vano duduk di sofa di sebelahnya. "Kau perempuan, ngapain tengah malam keluyuran?"
"Keluarkan aku dari sini dulu, setelah itu kau boleh ceramah."
"Siapa yang bilang aku akan mengeluarkan mu?"
"Apa maksud mu? Kau tidak mau membantu ku? Ck... keterlaluan. Hanya kau yang ku punya satu-satunya, aku tidak mungkin meminta orang tua ku yang menjamin ku bukan?" Arnis dengan kesal menatap Vano yang duduk bersandar di sampingnya.
"Aku akan menjamin mu tapi kau harus janji pada ku." Vano memberikan penawaran.
"Hahaaa... siapa kau? Kenapa aku harus membuat janji pada mu?" Arnis makin kesal pada Vano. Permen lollipop tak lagi berada di mulutnya.
"Aku teman mu, dan aku yang akan menjamin mu. Tapi jika kau tidak mau menerima tawaran ku, baiklah lupakan. Cari orang lain untuk menjamin mu." ucap Vano tenang dan bersiap untuk berdiri.
"Okey, katakan."
"Kau wanita, jangan keluyuran tengah malam lagi." Vano mengucapkan syaratnya dan langsung di sambut tawa oleh Arnis
"Ya ampun... hidup mu terlalu kuno dan membosankan kawan... please, ak...."
"Jadi, kau mau berjanji atau tidak?" Vano memotong ucapan Arnis, dia tidak memberikan kesempatan pada Arnis untuk berargumen atau mengomentari kehidupannya. Dia dengan tenang melangkah meninggalkannya, pada langkah ke tiga, Arnis menghentikannya dan menyetujui syarat yang dia berikan.