Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 38. Beri aku waktu


Kring ! kring ! kring !


Bel pulang sekolah berbunyi berkali-kali membuat kelas riuh dengan sorakan senang. Seolah terbebas dari penjara yang menakutkan.


Ilham bergegas menuju ke kelasnya Tiara.Hendak mengajaknya pulang bareng.


Namun sesampainya di sana, gadis itu tak terlihat. Ia celingak-celinguk mencari di semua penjuru kelas.


" Kak ! ". panggil Dhilla membuatnya menoleh ke arah suara itu.


" Dhilla ! Ara mana?"


" Udah pulang duluan kak ".


" Kok bisa ? tadi udah janji pulang bareng". dahinya Ilham berkerut bingung.


" Eh itu kak, tadi ada yang ngerjain Ara". Hesti yang menjawab dengan antusias.


" Apa? trus Ara gimana?"


" Tadi shock gitu mungkin karena kejadiannya tiba-tiba banget ".


Hesti lalu menceritakan kejadian tadi pagi yang menimpa Tiara. Ilham jadi geram mendengarnya dan berusaha menebak siapa pelakunya.


" Kenapa nggak langsung kasih tahu aku tadi ?"


" Ara sendiri yang melarang karena nggak mau kakak terganggu belajarnya".


" Ya udah kalo gitu aku mau ke rumahnya dulu, thanks ya ". ucap Ilham sekalian pamit dan bergegas menuju ke rumahnya Tiara.


Hesti dan Dhilla mengangguk tanda mengerti.


Sepeninggal Ilham kedua sahabat Tiara itu melanjutkan beres-beres tas mereka. Setelah itu keduanya keluar dari kelas. Baru beberapa langkah tiba-tiba . . .


" Hai Dhilla, Hesti . . . " Wisnu mendadak muncul di depan mereka.


" Eh ? hai kak . . " Dhilla dan Hesti berpandangan seolah saling bertanya ada apa dengan sosok yang mendadak sok akrab itu. Selama ini yang mereka tahu, dia salah satu kakak kelas mereka seangkatan dengan Ilham. Namun tak pernah bertegur sapa dengan mereka.


Melihat kedua gadis di depannya jadi terdiam, ia pun tersenyum.


" Udah mau pulang ya ?"


" Hehehe iya ". jawab Hesti.


" Hesti, maaf . . . boleh nggak kamu pulangnya sendiri aja soalnya gue mau ngomong sesuatu sama Dhilla nih".


" Boleh aja sih yang penting kakak harus janji nganterin Dhilla sampai di rumahnya tanpa kekurangan apapun ". Hesti mengedipkan matanya ke arah Dhilla yang berdiri tersipu dibuatnya.


" Siap bos !" ujar Wisnu dengan lantang.


" Maaf . . ada perlu apa ya kak, kayaknya penting banget ". ujar Dhilla sepeninggal Hesti meninggalkannya berdua saja dengan Wisnu.


" Gini Dhilla, em . . sebenarnya sejak pertama kali lihat lo waktu itu di aula, gue langsung suka. Jadi . . . mau nggak lo jadi pacar gue ?"


Wah Wisnu auto nembak Dhilla.


" Apa ?" Dhilla kaget sampai tak sadar keceplosan teriak. Beberapa siswa yang masih ada di tempat itu sontak menoleh ke arah mereka. Buru-buru gadis itu menutup mulutnya.


" Sori . . sori. Tadi itu aku kaget banget, sumpah ". ia jadi salah tingkah sendiri.


Wisnu yang melihatnya bukannya tersinggung eh malah tertawa melihat tingkah gadis yang menggemaskan itu.


" Nggak apa-apa kok. By the way, jawab dulu dong yang tadi tuh. Mau nggak?"


Dasar si Nunu tak sabaran banget sih.


" Maaf kak kasih aku waktu boleh nggak ?"


" Oke nggak apa-apa gue tunggu ya jangan sampai kelamaan".


Dhilla hanya mengangguk mengiyakan. Dia sudah tak sanggup lagi mengeluarkan suaranya yang mulai terasa berat.


" Oiya boleh dong minta nomor handphonenya". ujar Wisnu.


Setelah keduanya bertukar nomor handphone, keduanya beranjak ke area parkiran.


Dhilla diantar pulang dengan motornya Wisnu.


Selama perjalanan keduanya hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Wisnu yang sudah tak sabar menunggu jawaban dari Dhilla sedangkan Dhilla gelisah harus jawab apa nantinya.


" Oke kak dah sampai". Dhilla menepuk bahu Wisnu agar menghentikan motornya.


" Bener yang ini rumahnya?" tanya Wisnu.


" Iya, kak aku masuk dulu ya makasih udah nganterin".


" Sama-sama Dhilla, bye". ujarnya kemudian melajukan motornya pergi dari situ.


\*\*\*\*\*