Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 96. Terimakasih


" Zian, ini rekaman pembicaraan tadi mungkin bisa lo pake buat menangkap basah si nenek lampir ". ucap Wisnu seraya menyerahkan handycam miliknya.


" Oke, thanks. Lo dengan lainnya ikut Rio aja, biar gue yang nganterin Tiara. Oh ya jangan lupa utus seseorang ke area camping buat ngabarin pak Dirman, Hesti dan Dhilla kalau Tiara sudah berhasil ditemukan. Tapi dirahasiakan dulu dari siswa lainnya. Biarkan nenek lampir itu mengira rencananya sudah berhasil ".


" Oke ". jawab Wisnu mengerti.


Mereka akhirnya menuju ke tempat tujuan masing-masing dengan kendaraan terpisah.


" Terimakasih kak, udah berhasil nemuin Ara ". ucap Tiara saat keduanya dalam perjalanan pulang.


" Hem . . . " balas Zian singkat tatapannya tetap fokus ke depan, entah apa yang sedang bergelut di benaknya.


Ditambah lagi dengan jalanan yang gelap memaksa Zian untuk tetap fokus ke depan. Meskipun banyak hal yang ingin dia tanyakan ke Tiara.


Lama terdiam, tanpa sadar Tiara mulai tertidur. Mungkin karena kelelahan. Zian menyadarinya ketika mendengar dengkuran halus gadis di sampingnya itu.


Dengan hati-hati ia mengendarai mobilnya hingga beberapa saat kemudian, tibalah mereka di rumahnya Zian.


Tadinya Zian hendak mengantar Tiara pulang ke rumahnya namun setelah dipikir-pikir lagi nanti akan menimbulkan pertanyaan dari keluarganya karena setahu mereka malam ini Tiara masih berada di area camping bareng teman-teman sekolahnya.


Akhirnya Zian memutuskan untuk membawa Tiara ke rumahnya.


Mobil sudah berhenti namun gadis itu masih terlelap. Zian kemudian menggendongnya masuk. Bibi Ratih dengan cekatan menyiapkan kamar tamu untuknya.


Setelah meletakkan Tiara di kamar, Zian beranjak keluar diikuti oleh bibi Ratih.


" Bi, tolong siapkan makanan untuk berjaga-jaga kalau Ara terbangun nanti. Soalnya tuh bocah belum makan ". pinta Zian dengan sopan.


" Baik tuan muda, akan bibi siapkan". bibi Ratih segera berlalu menuju ke dapur.


Zian kemudian berjalan ke kamarnya, untuk mengganti baju yang dipakainya tadi.


Cukup lama Tiara tertidur. Zian yang menunggunya malah ketiduran di sofa ruang tengah. Televisi yang tadi ditontonnya tak sempat lagi dimatikan.


" Kenapa aku tidur di rumahnya kak Zian?" gumamnya lirih.


Perlahan ia bangkit berdiri melihat jam dinding, pukul 10 malam.


" Oh iya tadi aku ketiduran di mobil setelah itu . . . berakhir di kamar ini ". ia mencoba mengingat kembali yang terjadi tadi.


Tiara keluar dari kamar menuju ke ruang tengah. Di sana kak Zian sudah tertidur.


Dipandanginya wajah tampan itu.


" Ah, kenapa sekarang sulit banget menghindari sosok itu ? sosok yang selalu muncul di saat aku membutuhkan bantuan. Di mana saja aku berada, tersembunyi sekalipun kak Zian pasti bisa menemukan aku. Apakah benar kak Zian adalah takdir terindahku?" Tiara sibuk dengan pikirannya sendiri tanpa sadar Zian sedang menatapnya dari jauh.


" Udah bangun?" tanyanya menyadarkan Tiara.


" Eh, iya kak ". balas Tiara seraya berjalan mendekat.


Kini mereka duduk berhadapan.


" Sori, gue bawa lo kemari. Soalnya kalau gue anterin pulang ke rumah lo, entar ditanyain macam - macam lagi ". jelas Zian menatap lekat wajah Tiara.


" Aku ngerti kok, btw makasih ya ".


" Nggak usah berlebihan gitu, udah tanggung jawab gue buat jagain calon istri gue sendiri kan ?" jawab Zian dengan santainya.


" Dih mulai lagi gombalnya ".


Zian terkekeh mendengarnya.


\*\*\*\*\*