Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 328_Sampaikan 6



Mereka duduk di bangku dibawah pohon dipinggir danau. Neva menyandarkan kepalanya di bahu Vano. Menghirup aroma tubuh Vano dengan dalam. Memandang dedaunan yang bergoyang karena angin. Semakin dalam dia mencintai, rasa cemburu itu semakin menguasainya. Rasa egois itu semakin merantainya. Cemburu, egois, ataukah masih ada lubang ketidakpercayaan dalam hatinya.


"Kenapa kau menangis?" Vano bertanya dengan perhatian. Tangannya merangkul pundak Neva. Ini adalah pertanyaan yang ketiga kalinya dan Neva masih enggan untuk menjawab.


Neva mengambil nafasnya dengan dalam.


"Apa dulu Kak Yuna sering datang ke kantor mu?" dia tidak menjawab pertanyaan Vano tetapi balik bertanya. Pertanyaan yang membuat Vano mengerutkan alisnya.


"Hmm?? kenapa tiba-tiba menanyakan itu?" tanya Vano merasa heran dengan pertanyaan Neva.


"Aku mendengar pembicaraan kalian berdua tadi sore. Sepertinya kalian berdua memiliki hubungan yang lebih dari apa yang aku bayangkan," jawab Neva.


"Kenapa tidak bergabung dan malah hanya mendengarkan pembicaraan ku dan Yuna."


"Aku hanya tidak ingin menganggu kalian," Neva mengangkat kepalanya dan duduk dengan benar.


"Mengganggu bagaimana? Kita hanya berbincang biasa. Dia menemaniku sebagai tamu, dan aku menunggumu yang sedang pergi. Aku ingin mengajak mu jalan, makanya aku menunggu dan tidak langsung pulang. Jika kau melihat Spongebob di tangannya, itu bukan dariku. Itu dari seseorang yang juga menyukai kartun itu." jawab dan jelas Vano. "Jadi itu yang membuatmu menangis? Melihatku bicara berdua dengan Yuna."


"Bukan," Neva menggeleng pelan.


"Bukan itu? Lalu?"


"Aku menangis karena memikirkan ucapanku pada Kak Yuna. Beberapa saat setelah emosiku meledak, aku baru menyadarinya. Menyadari bahwa ucapan ku sangat keterlaluan, aku menyakitinya."


"Menyakiti Yuna?"


Neva mengangguk, "Iya," jawabnya.


"Memangnya apa yang kau ucapkan padanya?" tanya Vano. Dengan perlahan Neva membawa pandangannya pada Vano.


"Kau menghawatirkan dia?" tanya Neva dengan rasa sakit dihatinya.


"Jangan berburuk sangka," jawab Vano. Dia membalas tatapan mata Neva.


"Kau belum menjawabku," tukas Neva.


Vano mengangguk pelan, dia mengalihkan pandangannya. Kemudian, membuka mulutnya untuk menjawab.


"Ya. Jika kau bertanya, apakah Yuna dulu sering datang ke kantor ku, jawabannya adalah iya," jawab Vano. Neva menelan ludahnya dan mendongak sebentar kemudian menunduk. Ngilu. Bagaimana bisa seseorang yang telah menikah sering datang ke kantor laki-laki lain. Neva kembali mengangkat wajahnya, dia kembali menoleh ke arah Vano. Menatap mata laki-laki itu.


"Karena itu ... pada sore yang lalu, aku bilang padanya jika dia wanita murahan yang menjijikkan," ucap Neva mengakui apa yang ia ucapkan tadi sore. Vano terperangah tak percaya dengan apa yang baru saja Neva ucapkan. Matanya semakin menatap Neva. Wanita murahan yang menjijikkan? Vano membatu mendengar kalimat itu.


"A- apa?" Vano lebih mendekat ke arah Neva. Dia berharap jika dia salah mendengar. Kalimat yang tidak pantas Neva ucapkan untuk Yuna.


Vano menghela nafasnya berat. Jika ada yang harus disalahkan dan dimaki, seharusnya bukan Yuna tetapi dirinya. Dirinya yang dengan tidak tahu malu masih mendekati wanita yang telah termiliki. Batin Vano. Vano mengalihkan pandangannya, dia menatap daun teratai yang bercengkrama dengan air danau.


"Jangan salahkan dia," ucapnya memulai. Vano mengambil nafasnya panjang. "Aku yang salah. Aku yang memintanya untuk sering datang ke kantor ku. Karena dengan itulah aku bisa bertemu dengan dia. Karena dengan alasan membawakan makan siang, dia mau ke datang kantor ku," jelas Vano. "Aku akan menceritakan semuanya padamu. Agar, kau tak lagi memiliki pemikiran negatif padanya. Bukan aku membela dia tetapi agar kau mengerti dan tidak lagi memandang dia dengan pandangan seperti itu," lanjutnya. Vano menoleh ke arah Neva dan menatap kedalam mata gadis itu.


"Kau pernah bilang padaku jika kau tidak suka seseorang memandangku dengan kebencian, dan pandangan itu dari kakakmu sendiri. Aku berharap, kau juga tidak memandang Yuna dengan kebencian. Aku yang salah," ucap Vano. Neva diam. Dia tidak memberi tanggapan, tidak juga mengangguk. Dia ingin mendengar penjelasan Vano.


"Siang pertama pada waktu itu, dia datang ke kantor ku ... dia membawa kotak nasi. Makan siang yang tadinya dia antar untuk Leo tetapi pada akhirnya dia membawanya padaku. Apa kau tahu kenapa? Kakakmu menolaknya," ujar Vano memulai kisahnya. Dia juga sakit ketika tahu Yuna dimaki sebagai wanita murahan yang menjijikkan. Yuna, wanita yang pernah begitu indah dalam hatinya.


Neva berkedip pelan, matanya mulai berkaca-kaca. Dia ingat ucapan kakaknya beberapa jam yang lalu. Yuna yang tersisih dan tercampakkan.


"Awalnya kita sebatas teman. Aku hanya tidak ingin dia bersedih. Setiap kali aku melihatnya, matanya menyimpan kesedihan. Sebuah kesedihan yang mencoba ia nikmati dan aku ingin menghiburnya. Bagaimana bisa seseorang menikmati kesedihan? Aku hanya berniat untuk sedikit bisa menghapus rasa sedihnya. Dan entah kapan perasaan itu ada, aku tidak pernah menyadarinya. Perasaan itu tiba-tiba telah menguasai hatiku. Membelenggu jiwaku. Aku mencoba melawannya karena aku tahu dia telah termiliki. Namun aku kalah setiap kali memikirkan wajahnya yang tersenyum tetapi menyimpan luka. Pesan menyedihkan siang itu, tangannya yang tergores, tangisnya saat Leo bersama Kiara dalam bioskop. Aku tidak bisa membiarkan dia menikmati dan tenggelam dalam kesedihan. Aku ingin dia bahagia, maka aku pernah menantang Leo untuk mengambil Yuna dari dia. Leo terus menyakiti dia dan aku tidak ingin dia terluka. Aku menghargai setiap senyum tulus dari wajahnya tetapi dengan sekejap Leo mematahkannya," Vano berkata dengan teratur dan masih menatap wajah Neva. "Aku bahkan pernah menemukannya menangis di pinggir jalan dengan keputusasaan. Dalam tunduk wajahnya dia menyimpan air mata dan luka dihatinya. Leo menyakitinya lagi dan lagi. Kemudian, setelah malam itu, dia menghilang," lanjut Vano.


Neva menunduk, air matanya menetes. Ternyata, begitu menyakitkan perjalanan Yuna untuk mendapatkan cinta kakaknya. Neva hanya tahu akhir, saat Yuna telah berhasil memiliki hati kakaknya. Sejenak dia lupa bahwa Yuna pernah menyerah dan kembali ke kota K. Neva merasa semakin keterlaluan pada Yuna. Bukankah dulu dia sendiri yang menyemangati Yuna. Bukankah dulu dia sendiri yang memiliki ide untuk kakaknya. Hingga akhirnya Leo menemukan Yuna dan menyeretnya untuk ikut masuk kedalam masalah hati yang seolah membeku.


"Yuna tidak salah. Jangan salahkan dia. Dia terjebak dalam situasi yang sulit saat itu dan aku malah memanfaatkan itu untuk mengambilnya dari Leo. Aku yang dengan caraku membuat dia terus hadir dalam hari-hariku. Aku ingin dia terus nyaman bersamaku dan berharap dia mau meninggalkan Leo tapi ternyata aku tidak mampu. Dia tetap memilih Leo dan menolak ku berkali-kali. Bukankah itu sudah cukup untuk membuktikan bahwa dia adalah wanita hebat dan baik. Dia tetap bertahan meskipun banyak kesakitan dalam hatinya," lanjut Vano. Tangannya mengambil sapu tangan dalam saku jaket yang ia kenakan. Kemudian, mengangkat wajah Neva dan mengusap air matanya.


"Kenapa kau tidak bertanya langsung padaku tadi? Atau kau bisa langsung marah padaku tadi. Kenapa kau malah mencaci dia? Melukai hatinya," tanya Vano.


"Aku tidak ingin marah padamu," jawab Neva pelan dalam isaknya.


Vano menghela nafasnya. "Tapi kau malah menyakiti dia," Vano menatap lekat kedalam mata Neva. "Jujur, aku kecewa padamu, Neva. Kau meragukan kesetiaan Yuna pada Leo, kau meragukan hubungan kita. Kau masih saja curiga dengan aku dan Yuna," Vano mengambil nafasnya dengan sangat dalam kemudian dia melanjutkan ucapannya. "Pahami hatimu Neva, seberapa besar kau yakin padaku, pada Yuna pada hubungan kita berempat. Kau yang lebih tahu hati dan dirimu sendiri. Kita ...." ucapan Vano menggantung. Dia mengambil nafasnya lagi. "Mungkin, sebaiknya kita break dulu. Bukan berpisah, bukan. Aku mencintaimu dan aku serius dengan mu. Ku mohon pahami dulu hatimu dengan semua masa laluku, dengan kisah yang pernah terjadi," lanjut Vano dengan hati-hati. Matanya nanar menatap Neva yang langsung menunduk didepannya. Air mata Neva kembali menetes, hatinya terluka. Memang ini adalah salahnya, menyimpan keraguan dalam hatinya. Break? Hubungan macam apa yang akan ia jalani. Neva diam, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Ini bukan salahmu. Ini salahku yang tidak mampu menjaga dan meyakinkan hatimu. Aku minta maaf," ucap Vano lagi. "Mari saling memahami hati kita. Hatimu dan hatiku."


Angin malam bagai ribuan pisau yang menyayat hati. Perih dan menyakitkan. Neva masih menangis menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Pada akhirnya inilah yang mereka putuskan. Break? Ini adalah ucapan halus untuk berada pada jurang perpisahan.


***** @ *****



Hari yang lelah dengan tangis dan tangis seolah masih enggan untuk pergi. Neva menekuk kedua kakinya dan menangis sesenggukan dikamarnya. Dia mendongak dan menatap langit malam. Merasakan degupan jantungnya yang terasa menyakitkan.


Rasanya baru kemarin dia merasakan manisnya jatuh cinta. Rasanya baru kemarin dia begitu bahagia dengan ucapan cinta dan hari-hari yang penuh bahagia apakah harus secepat ini meredup. Bunga-bunga yang indah bermekaran itu, harus secepat inikah berguguran. Neva menggeleng, bukan ... bukan gugur. Vano bilang, ini bukan perpisahan tetapi hanya memberi jeda pada hubungan mereka. Memahami hati masing-masing.


___________________


Catatan penulis πŸ₯°πŸ™


Maaf ya kemaren nggak Up πŸ€— Terima kasih udah begitu setia dengan kisah ini πŸ₯° Ilupyu, muach muach.


Yuhuuuu... Jangan lupa like koment ya kawan tersayang πŸ₯°πŸ˜˜ Terima kasih πŸ™