
Seminggu kemudian
Mentari pagi bersinar cerah menyambut hari yang baru.
Udara sejuk masih mendominasi menyeruak celah rongga penciuman.
Jalanan belum terlalu ramai oleh hiruk pikuk dan jerit klakson kendaraan yang lalu lalang.
Tiara kembali melangkahkan kakinya menuju ke sekolah mengikuti rute biasanya.
Benaknya terasa ringan kini, setelah hampir sebulan dipenuhi oleh rumus-rumus dan beragam hafalan dari berbagai macam ilmu pengetahuan.
Sesampainya di sekolah . . .
Suasana santai mulai terasa. Mungkin seperti itulah nuansa sekolah setiap kali selesai ulangan semester. Tidak ada lagi proses pembelajaran di dalam kelas. Mereka hanya menghabiskan waktu bersama teman-teman sambil menunggu hasil ulangan yang akan dibagikan oleh guru masing-masing.
" Ra!" teriak Hesti begitu melihat Tiara muncul dari balik pintu kelas.
Tiara segera mendekati kedua sahabatnya.
" Tumben kalian rajin banget hari ini". ledek Tiara.
"Ya ela Ra' hari ini kan jadwal piket kita, kamu aja yang nggak pernah nyadar". celetuk Hesti tanpa dosa.
"Hehehehe..." Tiara hanya tertawa mendengarnya.
" Trus hari ini kita mau ngapain?" tanya Dhilla sambil memandangi kedua sahabatnya.
" Yang jelas hari ini nggak ada yang boleh gangguin kita ya, mo kak Ilham kek atau kak Wisnu aku nggak mau tahu. Pokoknya hanya kita bertiga titik !"tegas Hesti yang masih sebal karena belakangan ini ditinggal sendirian terus.
Tiara dan Dhilla hanya tersenyum mendengarnya.
" Oke deh, janji nggak ada siapa-siapa". balas Tiara.
Dhilla terlihat gelisah. Ia sengaja memainkan gantungan tasnya.
" La?" sentak Hesti.
" Eh, iya kenapa?" jawab Dhilla kaget dengan suara cemprengnya Hesti.
Hesti mulai melotot ke arahnya dia sudah tahu pasti Dhilla sudah punya rencana lain hari ini.
" Kamu kok mendadak diam gitu?" selidik Hesti. Ditatapnya Dhilla dengan tajam.
" Nggak, nggak ada apa-apa kok".elak Dhilla.
" Jangan bilang kamu ada janji dengan kak Wisnu". ucap Hesti dengan nada kecewa.
" Eh nggak . . nggak kok Hes, bener ". Dhilla jadi serba salah dibuatnya. Buru-buru ia mendekati sahabatnya itu.
" Kok jadi melow sih, ke kantin yuk!" Dhilla menarik tangan Hesti. Ketiganya pun keluar dari kelas menuju ke kantin.
Di kantin sudah lumayan banyak siswa yang datang.
Diam-diam Tiara melayangkan pandangan ke seluruh ruangan itu.
Tak sengaja tatapannya bertemu dengan Ilham yang juga sedang memandangnya dari salah satu sudut. Di sebelahnya nampak Nayla yang bergelayut manja di lengannya.
Sontak Tiara memalingkan wajahnya.
Tiara hanya mengangguk diam.
Setelah mengambil pesanan, ketiga gadis itu segera menuju ke tempat duduk yang agak jauh dari kelompoknya Ilham.
Menikmati makanan mereka dengan hening.
Obrolan dan candaan Nayla bareng teman-temannya terdengar jelas di seantero ruangan.
Tiara dan kedua sahabatnya terus saja menikmati makanan mereka tanpa menghiraukan keberadaan Nayla cs.
" Eh Ra' . . gorengannya kok nggak di makan?" tanya Dhilla yang melihat Tiara diam saja setelah menghabiskan gado-gado kesukaannya.
" Udah kenyang La, kalian aja yang makan". jawab Tiara kemudian menyeruput minumannya.
" Suara berisik itu emang bikin ilang napsu makan ". ujar Hesti kesal.
" Hus udah ah,, nggak usah nyari ribut. Biarin aja mereka". balas Dhilla mencoba menenangkan sahabatnya. Sementara Tiara susah payah menahan cemburu yang tiba-tiba muncul.
" Ah, sudahlah Ra. Nggak usah dipikirin. Lupain aja kak Ilham. Emang harusnya begitu kan? dia tetap ada dalam ikatan yang sebenarnya, bersama tunangannya. Bukankah itu yang kamu inginkan?" batinnya pelan-pelan menyadarkannya dari rasa sakit yang hampir berhasil menguasainya.
Ditariknya napas dalam-dalam agar merasakan lega di dadanya yang sedari tadi terasa sesak.
Tiba-tiba
" Hai Tiara ". sebuah suara mengalihkan fokus ketiga gadis itu.
Kini di depan mereka telah berdiri Sandra yang sedang memegang sebuah amplop berwarna merah jambu.
" Nih ada titipan undangan ultah dari Nayla. Katanya kamu harus datang ya". ujar Sandra sambil tersenyum aneh.
Ia mengulurkan tangan yang memegang amplop itu ke depan Tiara.
Perlahan Tiara menerimanya dengan wajah masih tak mengerti.
" Ya udah, aku cabut dulu bye bye . . " ujar Sandra sok imut sambil melenggang pergi dari situ.
" Ra' coba dibuka". Hesti mendekatkan kepalanya ke arah Tiara.
" Oh, iya sabar ".
Perlahan Tiara membuka amplop merah jambu di tangannya.
Ketiganya lalu membaca apa yang tertulis di situ.
" Hari Sabtu, hem . . rasanya aneh banget deh. Tumben nenek sihir itu mau ngundang Ara. Bukannya dia paling benci dengan Ara ya?" gumam Hesti namun terdengar jelas di kuping kedua sahabatnya.
" Kayaknya ada yang direncanain nenek gerondong itu Ra. Mending kamu nggak usah pergi deh". tambah Dhilla dengan wajah khawatir.
" Aku juga mikirnya gitu . Tapi apa? nggak mungkin kan dia bisa ngelakuin yang aneh-aneh di hadapan tamu yang lainnya?" Tiara mencoba berpikir positif.
Jeda tercipta di antara mereka. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri.
" Ya udah lihat aja nanti. Masih ada waktu beberapa hari untuk mikirin hal ini ". ucap Tiara.
*****