Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 166_Pertemuan Ini


Mata itu masih sembab, perasaannya masih terasa sangat sedih. Tapi dia tetap tersenyum, ia membuka kamar Mama dengan pelan. Mama tidak makan belakangan ini, Papa juga tidak mampu membujuknya.


"Ma... Neva bawa sarapan. Mama makan dulu ya," Neva menaruh sarapan Mama diatas meja. Mama yang berdiri didepan jendela kaca segera membalik badan dan melangkah menuju putrinya. Beliau menatap putrinya dengan lembut namun penuh kesedihan. Tangan Mama terangkat dan mengusap rambut putrinya dengan pelan penuh kelembutan seorang Ibu.


"Sayang, maafin Mama," ucap Mama penuh penyesalan. Air mata menggenang di pelupuk matanya. Mama merasa sangat bersalah karena membuat Neva dekat dengan Vano, jika pada akhirnya Neva harus memiliki dua pilihan. Neva mengambil tangan Mama dan menggenggamnya.


"Mama jangan minta maaf. Bukan salah Mama. Aku menyukainya bahkan sebelum Mama dan Tante Mahaeswara punya ide itu."


"Nak... Mama akan mencoba membujuk Kakak mu. Mama akan mencoba berbicara lagi dengannya."


"Tidak perlu Ma. Aku sudah melepas perasaan ini, ini lebih mudah dari pada aku harus melupakannya sebagai Kakak ku. Dia Kakak ku, selamanya akan seperti itu," setetes air mata Neva jatuh dan dia segera menyekanya. Mama langsung memeluknya dengan air mata yang berlinang. "Mama sekarang makan ya, aku janji akan membawa Kakak paling tampan ku itu kembali kesini," Neva mencoba tetap terus tersenyum dalam rasa sedih yang dia rasakan dihatinya.


_Siang hari pada jam istirahat.


Vano menimang ponselnya, sesekali memperhatikan chatnya pada Neva. Dia ingat debaran yang dia miliki ketika ia menyeka ujung bibi Neva malam itu. Ia menggeleng. Tidak... ini tidak boleh terjadi. Gumamnya dan menampik semua yang tiba-tiba hadir dalam pikirannya. Jatuh cinta? Pada gadis itu? Tidak boleh... Neva adalah adik ipar Yuna, wanita yang pernah sangat dia cintai. Dia tidak mungkin berada didekatnya dan kembali masuk dalam kehidupan Yuna, meskipun dalam status yang berbeda. Biar bagaimanapun mereka pernah saling jatuh cinta.


Vano memejamkan matanya. Dia menggeleng lagi. Akan ada banyak hati yang akan terluka jika dia memiliki perasaan ini. Dia bertekad untuk mengusirnya segera sebelum rasa itu semakin menjadi. Tapi bagaimana dengan Neva? Dia tidak mungkin menghilang begitu saja dari gadis itu.


Cring, ponsel Vano mendapat pesan baru.


"Kak Vano... terima kasih untuk semuanya. Untuk kebersamaan kita, terima kasih sudah menjadi Kakak ku yang sangat manis. Selamat siang kakak tampan, teruslah bahagia."


Isi pesan Neva. Ia berada didalam mobil di sebrang kantor Vano saat ini, matanya menatap gedung itu dengan seuntai senyuman yang rumit.


Vano menaikkan alisnya membaca pesan ini. Dia menangkap suatu maksud dari pesan ini. Pesan ini... mengisyaratkan jika sang pengirim seolah tidak akan lagi menghubunginya.


"Neva... aku bahagia memiliki adik manis dan imut seperti mu. Adik... Kakak minta maaf jika pernah membuat mu terluka atau ada sifat yang tidak sengaja melukai mu. Gadis... aku juga berharap kau selalu bahagia."


Balas Vano. Neva membaca balasannya masih dengan senyum dibibirnya tapi sesaat kemudian, air matanya menetes, ia menyekanya berkali-kali dan merayu matanya untuk tidak menangis tapi air mata itu seolah memaksa untuk tetap keluar. Ini adalah akhir dari perasaannya.


Neva... kau harus tahu bahwa cinta tak harus memiliki, cinta tak harus bersama. Semangat Neva... akan datang padamu sebuah kisah yang indah setelah ini. Dalam isaknya ia memberi semangat untuk dirinya sendiri.


Vano memijit keningnya pelan.


"Apa aku terlalu egois? Kenapa aku membiarkan dia pergi begitu saja? Bagaimana jika yang dia maksud mencintai seseorang secara diam-diam adalah aku? Tapi aku tidak mungkin untuk bersamanya."


Vano segera membuat panggilan pada Neva.


"Neva," panggilannya setelah terhubung.


"Hmm," Neva menjawab dengan menyembunyikan suaranya yang serak.


"Apa saat ini kau menangis?" tanya Vano. Ia menyadari suara Neva.


"Tidak, aku hanya sedang flu."


"Bisa kita bertemu?"


"Kak... yang kemarin malam itu adalah yang terakhir kita bertemu. Terima kasih untuk semuanya Kak..." jawab Neva dengan menahan air matanya sekuat tenaga. Vano memahami jawaban itu.


"Maafkan aku Neva."


"Tidak apa-apa Kak. Aku cukup bahagia bisa mengenal Kakak secara langsung. Tidak banyak gadis seberuntung aku bukan? Hehee." Neva memutus panggilannya setelah bertukar beberapa kalimat dengan Vano.


Tiba-tiba... pintu mobilnya terbuka dan seseorang masuk begitu saja, ia duduk disebelah Neva dengan nafas yang terengah-engah. Neva shock bukan main, dia lupa tidak mengunci pintu mobilnya. Supir segera sigap dan menodongkan pisau pada seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam mobil. Seseorang itu mengangkat kedua tangannya.


Wajah supir dan Neva seketika shock berat setelah sadar siapa seseorang yang menyusup kedalam mobil ini.


Dia dengan senyum manisnya menyapa Neva dan Supir.


"Pisaunya pak, tolong turunkan," ujarnya sambil melihat kearah pisau dan supir. Supir melihat ke arah Neva. Dan Neva mengangguk memberinya izin untuk menyimpan pisaunya kembali.


"Rei..." Neva menunjuknya. "Raizel," lanjutnya.


Seseorang yang disebut Raizel itu tersenyum padanya. Namun sebelum Neva memahami situasi segerombolan orang-orang mengerubungi mobilnya dan bahkan ada yang menggedor kacanya.


"Pak tolong jalankan mobilnya." ucap Raizel meminta supir segera menjalankan mobilnya. Supir melihat Neva dari kaca spion dan Neva mengangguk. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi atas permintaan Raizel.


"Hei," Neva memanggil Raizel yang terlihat masih ngos-ngosan. Raizel menoleh untuk menatapnya. "Nih...," Neva memberinya sebotol air mineral.


"Terima kasih Nona," ucapnya dan menerima sebotol air mineral dari tangan Neva. Kemudian, ia meminumnya hingga habis, seolah ia belum minum seharian.


Raizel. Artis muda papan atas yang saat ini tengah digemari disegala penjuru. Kesuksesannya membawakan tokoh dalam Film layar lebar membuatnya digandrungi para wanita bahkan hingga ibu-ibu. Neva dan teman-temannya adalah salah satu penggemar Film romantis itu. Film yang memiliki kata-kata puitis yang melelehkan hati. Dua hari yang lalu Raizel baru saja mendapatkan piala kategori pemeran terbaik pria, kategori aktor terpopuler, dan banyak kategori yang ia menangkan.


"Nona, terima kasih untuk ini," ujarnya memperhatikan botol kosong ditangannya. Ia menoleh kearah Neva. "Dan untuk tumpangannya," lanjutnya. Neva mengangguk.


"Apa kau tidak membawa asisten?" tanya Neva pelan. Yang dia tahu, jika artis ini keluar maka akan selalu memiliki pengawal dibelakangnya.


"Bukankah itu bagus. Itu karena mereka menyukai mu."


"Oohhh. Kau tidak tahu bagaimana capeknya aku Nona, hampir satu jam aku melayani mereka, hingga rasanya gigiku mengering,"ucapnya sambil memperlihatkan barisan giginya yang rapi dan putih bak mutiara. Neva menahan tawanya dengan itu. "Kerumunan mulai tak terbendung dan malah menarik-narik baju ku, lengan ku dan bahkan mencubit pipiku," lanjutnya sambil menggosok pipinya yang terasa sakit. "Aku tidak bisa menuju mobil ku, dan akhirnya aku berlari." jelasnya. Neva mengangguk tanda mengerti apa yang Rei ceritakan.


"Mas Rei lebih ganteng aslinya dari pada yang diTv," supir memujinya. Raizel tertawa renyah mendengar pujian pak supir. Dia kemudian menoleh ke arah Neva.


"Nona bagaimana menurut mu? Apa kau setuju dengan ucapan supir mu?" tanya Raizel. Ia menatap Neva. Dia tahu siapa Neva, adik dari Tuan muda Leo J yang misterius. Dia tidak menyangka jika mobil yang tidak sengaja ia tumpangi adalah mobil milik Nona muda keluarga Nugraha.


Neva menunduk dan kemudian mengangguk pelan, menyetujui ucapan supirnya.


Raizel tersenyum puas melihat anggukan Neva.


"Kemana kita harus mengantar mu?" tanya Neva. Ia mengangkat wajahnya, sepasang bola matanya langsung menemukan wajah super tampan milik Raizel. Pipinya langsung memerah dan ia kembali menunduk. Raizel tidak melepas pandanganya sama sekali, ia terus menatap Neva yang menunduk.


"Gedung Teater AA aku ada acara disana," jawabnya. Kemudian, ia membuat panggilan pada asisten dan menegernya. Sepuluh menit kemudian, mobil Neva berhenti di depan gedung yang Raizel maksud.


"Mas Rei, boleh minta foto sebentar?" Pak supir mengeluarkan ponselnya dan langsung melakukan foto bersama Raizel. "Terima kasih Mas," ujarnya setelah mengambil beberapa foto.


"Nona, ayo foto bersama," Raizel menawari Neva. Dengan sedikit canggung, Neva mengangguk dan kemudian tersenyum manis pada kamera pada ponsel Raizel. "Terima kasih Nona," ucap Raizel. Hah? Apakah tidak kebalik? batin Neva. Raizel kemudian, meminta telapak tangan Neva dan menuliskan sesuatu.


"Terima kasih tumpangannya Nona," ucapnya dan membuka pintu mobil. "Nona Neva, senang bisa bertemu dengan mu," lanjutnya kemudian keluar dari mobil. Neva memperhatikan punggung itu. Raizel keluar mobil dan langsung disambut beberapa orang yang mengawalnya.


Setelah mobilnya melaju kembali, Neva memperhatikan telapak tangannya.


"Hubungi aku."


Tulisan yang tertera di telapak tangannya. Neva tersenyum lebar melihat ini. Hmm... Raizel artis papan atas ini baru saja menumpang di mobilnya, ia juga melakukan selfie dan bahkan saat ini ia memiliki nomor ponsel Raizel. Auuu, dia tidak bisa membayangkan bagaimana irinya teman-teman kampusnya, dan juga jutaan fans Raizel diluar sana jika mengetahui dirinya memiliki nomor ponsel Raizel secara pribadi.


"Ups, dia tahu nama ku?" gumam Neva.


__Sore hari.


Mobil Vano melaju dengan sedang. Ia bersama supirnya menuju bandara, ada pertemuan diluar kota. Jalan yang macet membuat Vano memperhatikan kesekeliling. Ia mengerutkan alisnya dan menatap dengan jeli sesuatu yang ditangkap oleh penglihatannya.


"Pak berhenti," ucapnya pada supir. Kemudian, ia melangkah keluar. Ia membawa langkahnya pada seorang gadis yang sedang mengumpulkan bunga-bunga yang berantakan ditrotoar jalan. Melihat kondisinya, sepertinya gadis ini baru saja menjatuhkan keranjang bunganya.


Gadis itu dengan diam segera memunguti bunga-bunganya yang berserakan. Dan tangannya terhenti ketika ia akan mengambil satu bunga mawar merah yang masih tergeletak dijalan. Sebuah tangan lebih dulu mengambilnya. Dengan pelan, wajahnya terangkat dan menatap seseorang yang mengambil bunga mawar terakhir itu. Matanya membulat dan ia segera berdiri kemudian sedikit membungkukkan badannya.


"Selamat sore, Tuan muda Vano," sapanya sopan. Vano tersenyum dan memberikan bunga mawar merah ditangannya. Seseorang itu mengulurkan tangannya untuk menerima bunga itu dari tangan Vano.


__Vano duduk diruangan yang penuh dengan bunga. Dia memperhatikan sekeliling. Ada berbagai macam bunga disini dan beberapa tulisan cinta.


"Maaf tidak ada apa-apa di sini Tuan muda," ucap gadis itu setelah menaruh teh hangat di depan Vano.


"Apa aku merepotkan mu Alea?" tanya Vano bersahabat setelah gadis yang bernama Alea itu duduk di sebrangnya.


"Tentu saja tidak. Aku senang bertemu dengan mu," jawabnya menunduk.


"Kapan kau kembali?" tanya Vano, matanya memperhatikan Alea yang menunduk.


"Setengah tahun yang lalu," jawabnya singkat. Kemudian, ada seseorang yang datang dan memilih bunga. Seorang cowok yang akan menyatakan perasaannya. Dia bercerita panjang lebar tentang karakter cewek yang akan ia tembak, dengan telaten Alea mendengarkannya dan memberinya saran untuk bunga yang cocok dengan karakter sang cewek. Alea juga memberikan kata-kata puitis gratis pada sang pembeli.


Setelah sang pembeli pergi. Vano beranjak dari tempat duduknya, ia menghampiri Alea yang masih berdiri menata bunga.


"Nona, aku mencari bunga untuk seseorang yang ku rindukan. Bisakah kau memberi ku saran?"


"Hmm, bagaimana karakter seseorang yang kau rindukan?"


"Dia cukup manis dan cantik."


"Lalu?"


"Hanya itu."


"Oh, okey." Alea kemudian mengambil bunga Camelia kuning dan memberinya pada Vano. "Ini... bunga dengan arti kerinduan yang mendalam. Tidak perduli bagaimana karakter si wanita, bunga ini sangat cantik untuk mengungkapkan sebuah kerinduan," jelasnya. Vano mengangguk dan menerimanya.


"Permisi," seorang pelanggan datang lagi. Alea dengan telaten mencarikan bunga yang tepat yang diinginkan oleh pelanggannya.


Setelah hampir setengah jam dia berkutat dengan pelanggan, ia kemudian menoleh kearah mejanya namun sudah tidak ada Vano disana. Dia melangkah kearah meja dan menemukan memo dengan bunga Camelia kuning diatasnya.


"Hubungi aku," tulisan yang tertera dimemo itu dengan menyertakan sebuah nomor ponsel.


Alea tersenyum lebar membacanya dan mendekap bunga Camelia cantik ditangannya.


"Vano...," gumamnya pelan dengan seuntai senyum indah dibibirnya.