
"Hahaaa iya," Vano terkekeh. Wajah Neva menjadi merah padam. Pasalnya dia sering membiarkan pintu kamar menuju balkonnya terbuka saat dia mengganti baju. Dia tidak tahu jika ternyata letak kamarnya bisa diperhatikan lewat seberang jalan. Bagaimana jika itu terlihat? Aaaa ... dia berteriak malu dalam hati. Kemudian, kedua tangannya menyilang menutupi dadanya.
"Kau ... tukang ngintip, keterlaluan," ucap Neva menyembunyikan wajahnya.
"Tukang ngintip bagaimana? Bukankah aku sangat romantis? Memperhatikanmu dari kejauhan dengan diam-diam," jawab Vano. "Kemudian, aku akan kembali saat lampu kamarmu sudah padam."
"Hentikan ...." Neva berteriak. Dia malu setengah mati membayangkan dia yang tengah mengganti baju dan Vano memperhatikannya dari jauh.
"Kenapa? Kau tidak suka?" tanya Vano dengan polos.
"Tentu saja tidak suka. Kau penguntit, kau pengintip, kau mesuuu ... mm," Neva berteriak malu setengah mati. Vano terkekeh.
"Aku tidak mencuri celana dalammu, kenapa kau menyebutku mesum?"
"Kau mengintip ku."
"Mengintip dan memperhatikan itu beda."
"Sama," Neva melotot kearah Vano. "Kau melihat tubuhku dengan diam-diam itu artinya mengintip."
Vano mengerutkan keningnya, "Maksud mu?"
Neva menoleh lagi kearah Vano dan menatapnya dengan menyelidik. 'Apa dia sungguh tidak melihat tubuhku saat aku mengganti baju?' batin Neva.
"Apa kau melihat keadaan di dalam kamar ku?" tanya Neva.
"Hanya terlihat balkonmu saja. Aku bisa melihatmu jika kau berada di balkon," jawab Vano. Dia memarkirkan mobilnya di taman. Neva menghela nafas lega. Itu berarti, Vano tidak melihat saat dia mengganti baju.
"Sungguh kau tidak melihat keadaan di dalam kamarku?" tanya Neva masih menyelidik. Bisa saja kan, Vano berbohong.
"Memangnya apa yang terjadi di dalam?" Vano balik bertanya. Dia mendekatkan wajahnya.
"Heheee, tidak ada yang terjadi," jawab Neva. Tangannya mendorong bahu Vano agar menjauh.
Kemudian, mereka berdua keluar dari mobil dan berjalan di jalanan setapak.
"Apa ada yang membuat mu bersedih?" tanya Vano saat mereka sudah sampai di pusat taman dan duduk di atas rumput sintetis. Neva menoleh ke arahnya.
"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?" Neva balik bertanya.
Penjual kacang rebus mendekat ke arah mereka dan menjajakan dagangannya. Neva mau satu bungkus.
"Ambil saja kembaliannya," ucap Vano saat memberikan satu lembar uang ratusan ribu. Kemudian, penjual kacang itu pergi setelah mengucapkan terima kasih.
"Kak Dimas menelfon ku," ucap Vano.
"Jadi kau menemui ku karena Kak Dim?"
"Bukan, memang awalnya aku ingin menemuimu dan kebetulan Kak Dimas telfon," jawab Vano. "Apa yang membuat mu bersedih?"
"Aku memikirkan Kak Lee."
"Bagaimana keadaan Leo?"
"Dia lebih baik dari sebelumnya, dia lebih sehat dari sebelumnya, tapi ... kita masih menunggu hasil tess yang terakhir. Jika ada sel yang tidak wajar pada sumsumnya maka terpaksa harus melakukan cangkok, tapi jika hasilnya baik, hanya butuh operasi lanjutan dan terapi," jelas Neva. "Kita memikirkan hal terburuk untuk berjaga-jaga dan menyiapkan hati. Tentu harapan kita adalah yang terbaik. Namun jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, aku siap membagi separuh diriku untuknya."
"Hasilnya akan baik. Percayalah," Vano mengangkat tangannya untuk diletakkan di pundak Neva dengan pelan.
"Bagaimana jika kita kesana? Bukankah sebentar lagi disana musim salju? Bagaimana jika kita berlibur kesana dan menyemangatinya?"
"Hhhmm, kau mau kesana?"
"Ya, kenapa tidak."
Neva tersenyum. "Terima kasih," ucap Neva. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Vano.
"Kenapa berterima kasih. Leo adalah kakak ku. Kak Lee," ujar Vano dengan senyum lebar menyebut Kak Lee.
_____________
Siang harinya. Vano membawa Neva kerumahnya. Mama selalu menanyakan gadis ini. Dan setelah mereka bertemu, mereka berdua langsung asik mengontrol. Tentang gosip artis, tentang tas branded yang baru saja keluar, tentang perawatan, dan segala macam rumpian wanita. Neva sudah seperti ibu-ibu arisan yang ceriwis mengimbangi cerita Mama Mahaeswara.
Inilah uniknya gadis ini. Dia bisa menempatkan dirinya dengan baik, hingga orang bisa ngobrol nyaman bersamanya.
Kemudian, mereka makan siang bersama. Kebetulan, Tuan besar Mahaeswara juga tengah berada dirumah.
Mama Mahaeswara dengan perhatian menawari menu pada Neva. Neva sudah seperti putrinya sendiri. Dia dimanja oleh Nyonya Mahaeswara.
Setelah selesai makan siang. Mereka semua diminta Papa untuk berkumpul di ruang tengah.
"Apa ada kabar bahagia tentang hubungan kalian berdua?" tanya Tuan besar Mahaeswara setelah sesi makan siang selesai. Beliau bertanya dengan tegas. Vano dan Neva saling menoleh dan bertukar pandangan sebentar, lalu mengalihkan pandangan untuk menatap Tuan besar Mahaeswara.
Vano tahu apa yang papanya maksud.
"Dia masih kuliah, Pa," jawab Vano mencoba menjelaskannya dan ingin juga Papanya mengerti.
"Banyak sekali wanita yang kuliah dengan status istri. Bukankah itu tidak masalah?" jawab Tuan besar Mahaeswara. Neva diam dia masih memperhatikan Tuan besar Mahaeswara tetapi kemudian dia menunduk. "Jadi sebenarnya, Neva siap atau tidak? Vano bukan lagi remaja yang masih bersenang-senang dengan status sendirinya," lanjut Tuan besar Mahaeswara.
"Pa---"
"Kamu diam dulu Vano. Biar Papa yang bicara," Tuan besar Mahaeswara menatap putranya. Vano mengangguk samar dan kemudian diam. Tuan besar Mahaeswara mengalihkan pandangannya pada gadis muda yang menunduk disebelah Vano.
Sementara Nyonya Mahaeswara mengupas jeruk. Tidak ingin memakannya, hanya saja ... beliau merasa khawatir tentang putra dan suaminya. Jadi sebagai pelampiasan kecemasannya, beliau mengupas jeruk. Sebenarnya, beliau juga ingin Vano dan Neva segera menikah tetapi beliau menyerahkan semuanya pada Vano. Lain halnya dengan Tuan besar Mahaeswara yang tidak ingin putranya menunda menikah. Jika Neva belum siap, lepaskan saja, begitu pikirnya. Vano laki-laki dewasa yang sudah matang dan dia adalah putra tunggal.
"Neva," panggil Tuan besar Mahaeswara halus tetapi terdengar menyeramkan di telinga Neva. Dia takut.
"Ya, Pa," jawabnya pelan. Dia mengangkat wajahnya.
"Kau mencintai Vano?" tanya Tuan besar Mahaeswara. Neva mengangguk. Rasanya dia tidak bisa membuka mulutnya untuk bilang, iya. "Kau ingin bersama dia?" tanya Tuan besar Mahaeswara lagi, dan dijawab lagi dengan anggukan oleh Neva. Tuan besar Mahaeswara menghela nafasnya dalam. Beliau menatap Vano sebentar lalu kembali menatap Neva.
"Vano putra tunggal kami, dia bukan lagi remaja. Usianya terus bertambah, jika kau benar ingin bersama dia, segeralah menikah. Atau akhiri hubungan kalian. Jadi kalian tidak perlu menggantung hubungan yang entah akan kalian bawa kemana ujungnya. Kau sudah berusia dua puluh tiga tahun Neva, usia yang sudah cukup untuk menikah. Kami orang tua, ingin Vano segera menikah. Mohon pertimbangkan. Terima Vano sebagai suamimu dan segera menikah atau lepaskan dia, akhiri hubungan kalian."
Suasana menjadi sangat hening dengan pikiran masing-masing. Neva menunduk lagi. Dia mengigit bibirnya untuk menahan sesuatu yang terasa dihatinya. Memang dia yang menggantung hubungan ini. Dia yang terlalu lama membuat Vano menunggu. Tuan besar Mahaeswara benar. Namun, saat ini ...
_______________
Catatan penulis π₯°π
Sun jempol jangan lupa... π₯°π Like komen.
Maaf jika ada typo-typo ya ππ
Terima kasih. Luv luv.