Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 224_Pemikiran Yang berbeda


Leo menutup pintu dengan keras. Dia melangkah keluar dan menuruni tangga. Dia berjalan ke dapur.


"Selamat pagi, Tuan muda," sapa asisten rumah tangga nya dengan sopan. Leo diam. Dia sedang berada dalam mood yang sangat buruk.


Dia sangat kesal dengan Yuna. Terlalu berlebihan katanya? Dia yang kata Yuna berlebihan saja, Yuna masih begitu ceroboh. Bagaimana jika dia tidak menjaga Yuna dengan baik? Bukankah dia akan semakin ceroboh? Batin Leo.


Dia menakar susu dalam gelas kemudian menuangkan air hangat lalu mengadukannya hingga tercampur sempurna. Dia sangat pandai membuat susu untuk Yuna.


"Selamat pagi, Nyonya muda," sapa asisten rumah tangga yang masih berada di dapur. Mendengar sapaan itu, Leo tahu Yuna ada di belakangnya. Namun dia tidak membalik badan, dia masih mengaduk susu setelah sebelumnya menambahkan sedikit air biasa.


"Sayang," panggil Yuna dengan manja. Setelah asisten rumah tangga itu pergi. Tangannya melingkar di pinggang Leo. Perutnya yang semakin buncit begitu terasa di punggung Leo.


"Susu coklat kesukaan mu, sudah jadi," ucap Leo datar dan tanpa menoleh.


"Hmmm, terima kasih," ucap Yuna. Leo diam, pun setelah dia selesai membuat susu. Kedua telapak tangannya di letakkan di atas meja, sementara pandangannya menatap ke luar jendela kaca yang tidak tertutup gorden. "Sayang," panggil Yuna.


"Hmm," jawab Leo tanpa membuka mulutnya. Kemudian, dengan pelan dia membalik badan tetapi tidak menatap Yuna. Dia menyingkirkan tangan Yuna yang masih berada di pinggang nya. "Minum susu," ucapnya dan membawa susu coklat hangat ke meja makan.


Yuna duduk dengan tenang dan tidak mengeluarkan suara apapun hingga dia selesai makam. Dia menatap Leo yang hanya melayaninya dan tidak memakan apapun.


"Kenapa kau tidak makan?" Tanya Yuna pelan. Dia meletakkan gelas yang baru saja dia minum.


"Tidak, apa-apa," jawab Leo datar.


"Kenapa...," tanya Yuna lagi.


"Aku tidak lapar," jawab Leo masih dengan nada yang datar dalam suaranya. "Kau sudah selesai?" Tanyanya.


Yuna diam dan menatapnya. "Sarapan itu penting, aku akan menyuapi mu, okey," ucap Yuna. kemudian dia segera mengambil menu sarapan untuk Leo. Sarapan oatmeal...


"Tidak perlu. Kau sudah selesai bukan? Aku permisi," ucap Leo lalu menggeser duduknya dan beranjak. Dia membalik badan kemudian melangkah meninggalkan Yuna yang duduk termangu memperhatikan nya yang pergi begitu saja.


Yuna mengigit bibirnya, dan menarik nafasnya. Dia sadar Leo marah. Dia hanya tidak mau Leo terlalu mengkhawatirkan sesuatu secara berlebihan, bahkan sangat berlebihan. Kenapa hanya bersin berulang-ulang saja dia begitu cemas. Bukankah itu sangat berlebihan? Batin Yuna.


Kemudian, dia beranjak dan melangkah meninggalkan meja makan. Dia menaiki tangga dan menuju ruang belajar. Di luar masih hujan, dengan tiupan angin yang berhembus kencang.


Leo berdiri di depan jendela kaca. Menatap keluar memperhatikan hujan dan lautan. Dia hanya ingin Yuna selalu baik-baik saja, apa itu salah. Berlebihan katanya? Di mana letak perhatian yang berlebihan itu? Apa dia salah dengan perhatian itu? Dia selalu mencoba untuk membuat Yuna selalu bahagia dan membuat Yuna selalu merasa aman dan baik-baik saja, dan itu selalu salah dalam pandangan Yuna.


Mati katanya?? Kenapa dia bahkan sampai membawa kata itu? Apa sebegitu menyebalkan nya perhatian yang dia berikan, hingga Yuna membawa-bawa kata itu. Leo tahu... kematian pasti akan menghampiri pada setiap makhluk yang bernyawa. Tetapi, bukankah harapan semua orang adalah berumur panjang dan menua bersama dengan orang yang mereka cintai.


Leo kesal, sangat-sangat kesal pada Yuna. Dia perhatian, dia salah. Apa memang seharusnya dia hanya diam dan membiarkan Yuna semaunya. Begitu?


Dua pemikiran yang berada.


Pintu ruangannya di ketuk pelan.


"Sayang, boleh aku masuk," suara Yuna terdengar dari balik pintu. Tidak ada jawaban. "Sayang," ulang Yuna. Tidak ada jawaban. "Sayang...," panggilannya lagi dan masih tidak ada jawaban.


Pelan, akhirnya Yuna membuka pintu ruang belajar yang tidak terkunci dan perlahan masuk ke dalam nya. Dengan langkah pelan dia berdiri di belakang Leo, menarik nafasnya panjang dan kemudian, dia melangkah dan menempatkan dirinya di depan Leo.


Dengan manis dia mendongak untuk menatap Leo dengan senyum di bibirnya. Leo menunduk dan membalas tatapan mata Yuna padanya.


"Kau marah...," ucapnya dengan teraniaya dan begitu sedih. Tidak ada jawaban. "Kau marah," ucapnya lagi dengan sedih. "Sayang, aku minta maaf. Aku ... hanya tidak ingin kau menghawatirkan sesuatu secara berlebihan. Aku ... hanya tidak ingin kau mencemaskan hal-hal kecil tentang ku. Aku ... hanya tidak ingin kau berlebih-lebihan tentang ku. Tolong jangan salah paham," ujar Yuna mencoba menjelaskannya. Mata mereka masih bertemu. Leo masih menatapnya tetapi tidak mengatakan apa-apa. "Sayang, jika aku salah, aku minta maaf," lanjut Yuna.


Leo masih menatap Yuna. Dia menarik nafasnya panjang. Yuna selalu menganggap nya berlebihan. Padahal, dia hanya ingin Yuna selalu baik-baik saja. Bahkan seekor nyamuk tidak boleh mengigitnya. Kenapa perhatian nya di anggap berlebihan oleh Yuna, apa Yuna tidak suka dengan itu? Lalu dia harus bagaimana?


"Sayang," Yuna menggoyangkan lengannya. "Hei, kenapa kau diam," ucap Yuna lagi. Dia menunggu dan menghitung hingga dua puluh tetapi Leo masih diam. Kemudian, dia merasakan gerakan lucu di perutnya. Dengan segera, dia meraih tangan Leo dan meletakkan di perut nya.


Ini ... langsung membuat sudut-sudut bibir Leo terangkat dan melengkung dengan cantik. Hatinya menjadi begitu hangat. Dia mengusap perut Yuna dengan sangat lembut dan penuh kasih. Dia membungkuk dan menciumnya.


Yuna memperhatikan nya dengan tersenyum. Kemudian, kedua tangannya memegang pipi Leo dan membawa pandangan Leo padanya.


"Sayang, aku minta maaf," ucapnya dengan sungguh-sungguh. Leo mengeluarkan nafasnya dan memejamkan matanya sebentar, lalu tangannya terangkat dan memeluk Yuna.


"Kapan kau memenuhi janji mu untuk tidak ceroboh Yuna?" ujarnya. Dia meninggalkan kecupan lembut di rambut Yuna.


"Aku akan selalu baik-baik saja sayang," jawab Yuna. Tangannya membalas pelukan Leo padanya.


Di luar, hujan masih begitu deras. Ombak bergulung berkejaran.


"Aku ambilin sarapan okey," ucap Yuna dengan perhatian.


Leo menggeleng, "Tidak perlu," jawabnya.


"Kenapa, kau harus sarapan? Atau kau tidak ingin oatmeal? Aku akan membuat kan mu menu yang lain? Apa kau ingin soupe rumput laut? Atau sup jagung?" Tanya Yuna.


Leo menggeleng. Kemudian, dia melepaskan pelukannya dan dengan anggukan menunduk untuk mencium bibir Yuna. Sedikit mendorong nya ke jendela kaca dan menekan bibirnya.


"Aku sudah mengambil sarapan ku," ucapnya dengan senyum setelah menyudahi ciumannya. Membuat Yuna tersipu dan langsung menghambur kedalam pelukannya. Dia menyembunyikan wajahnya di dada Leo.


"Kau...," ucapnya dengan malu. "Kenapa sarapan mu begitu aneh?"


"Tidak ada yang aneh. Bukankah yang tadi itu... sarapan yang paling manis?" Jawab Leo dengan berbisik di telinganya.


"Hmmm, sangat manis," jawab Yuna. Di luar hujan masih sangat deras. Entah kapan akan berhenti dan dan menampakkan sang Mentari. "Sayang, serius ... aku ambilkan sarapan untuk mu, okey," ucap Yuna lagi.


"Tidak perlu, aku akan mengambilnya sendiri," jawab Leo. "Apa kau mau buah? Aku akan mengupasnya untuk mu," dia melepaskan pelukannya.


Yuna menatapnya dan dengan senyum dia mengangguk.


__Di pagi yang sama di Ibu Kota.


Sepertinya hujan begitu rata menyapa bumi. Kilatnya yang bercahaya membuat suara menggelegar dari langit.


"Sepertinya semalam ada tamu," ujar Mama pada Neva setelah mereka selesai sarapan dan duduk bersama di ruang televisi.


"Ya," jawab Neva.


"Adik," Mama memanggilnya.


"Hmm," jawab Neva yang langsung menoleh ke arah mamanya.


"Semalam ...., Mama berbicara dengan Kak Lee, Mama bilang padanya jika kamu dan Vano jalan bersama," ujar Mama menatap putrinya.


"Mama bilang sama Kakak?" Sahut Neva shock dan merasa keberatan. Dia sama halnya dengan Mama, masih merasa takut dengan keberatan Leo pada Vano. Dia masih merasa takut jika Leo akan marah.


Mama mengangguk, "Mama melihat, kau masih menyukai Vano, dan Vano juga menyukai mu jadi Mama mencoba untuk berbicara lagi dengannya," jelas Mama.


"Mama...," Neva menatap Mamanya dengan frustasi. Wajahnya berubah muram. "Kenapa Mama tidak mencari waktu yang tepat. Bagaimana jika Kak Lee marah lagi," lanjut Neva. Mama tersenyum dan mengusap pundak Neva lembut.


"Pada awalnya Mama juga ragu, tapi cepat atau lambat Kak Lee harus tahu. Dan Mama sangat bersyukur bahwa Kak Lee tidak mempermasalahkan nya lagi," jelas Mama. Neva terdiam, dia baru mengingat cerita Vano semalam bahwa Leo mengirim bantuan kemudian, mereka berdua saling bertemu di siang itu. Apakah ... itu artinya Kakaknya sudah benar-benar memaafkan dan mulai menerima semuanya.


"Bagaimana menurut mu?" Lanjut Mama bertanya. Neva mengangguk.


"Sangat bagus," jawabnya. "Aku sangat bersyukur dan bahagia," lanjutnya.


Mama tersenyum, "Jadi, nona... jika kau suka katakan suka. Jika kau tidak suka, katakan tidak tidak suka. Kau tidak perlu lagi menyimpan nya. Kak Lee sudah tidak mempermasalahkan. Jika, kau tetap ingin melanjutkan studi mu di luar negeri, tidak masalah. Hanya saja, kau harus memberinya kepastian nak. Jika dia bersedia menunggu, maka jalani saja. Namun jika tidak, lepaskan saja," ujar Mama dengan penuh perhatian pada putrinya. Neva diam memperhatikan mamanya. "Atau ... kau tetap disini, meneruskan studi mu di sini dan jalani hubungan mu dengan dia. Mama terserah pada mu saja," lanjut Mama. Neva tersenyum dan memeluk mamanya.


"Mama terbaik...," ucapnya.


"Jadi, mana yang akan kau pilih?" Tanya Mama.


"Aku akan memikirkannya lagi. Aku belum bertemu dengan Kak Lee dan berbicara tentang inu," jawab Neva. Mama mengangguk dan mengusap punggungnya.


"Oh ya. akhir pekan nanti, Mama mau berkunjung ke rumah Kak Dim, kau mau ikut?"


"Hmmm, tentu saja," jawab Neva semangat.


__Di kastil di pinggir pantai. Pada pukul 18.45


"Liburan akhir bulan nanti, kita habiskan di sini lagi, okey," ucap Leo melihat Yuna yang seperti enggan meninggalkan kastil. Tangannya menggandeng Yuna untuk menuju mobil mereka.


Mereka hanya menghabiskan dua hari di kastil di pinggir pantai. Selama dua hari itu juga, ponsel keduanya sama sekali tidak aktif.


Sebelum kembali ke Ibu Kota, mereka berdua mampir terlebih dahulu ke sebuah restoran untuk makan malam.


"Sayang," panggil Yuna setelah mereka selesai makan.


"Ya," jawab Leo. Dia menyeka bibir Yuna dengan lembut.


"Aku ke toilet dulu, sebentar," ucap Yuna meminta izin.


Leo mengangguk, "Hati-hati," jawabnya. Yuna tersenyum dan mengangguk. Kemudian, dia beranjak dan berjalan menuju toilet.


Setelah buang air kecil, Yuna berbelok dan berhenti sebentar di depan cermin wastafel, dia memperhatikan dirinya di cermin dan memakai lipblam. Setelah selesai, dia segera memasukkan nya kembali ke dalam tas miliknya.


Sedetik kemudian, matanya melihat pantulan sosok wanita cantik di dalam cermin, sosok yang tengah memperhatikan dirinya, dia berdiri tepat di belakang Yuna. Sosok itu tersenyum dengan sangat manis namun terasa sangat sadis dan penuh dengan dendam.


"Yuna," panggilnya. Bibirnya tersungging dengan sinis lalu dia melangkah maju mendekati Yuna.


"Kiara," jawab Yuna tanpa menoleh. Mereka beradu pandangan mata di dalam cermin.


"Hai, Nyonya muda," sapanya pada Yuna dengan senyum di bibirnya.


"Hai, Kiara," jawab Yuna. Kiara memperhatikan perut Yuna dan itu membuatnya sangat kesal. Yuna hamil? Dia merasa buruk dengan itu.


"Apa kau sendirian? Apa Tuan muda Lee tidak mengantar mu ke toilet?"


___


Catatan Penulis ( Curhatan πŸ₯° )


Jangan lupa sun manjah jempol ya kesayangannya Nanas...


udah gitu aja. Terima kasih... 😘 Luv luv.


Sehat semuanya yach kawan... hati-hati terhadap virus yang jahat itu. Jaga diri dan selalu berdoa.


Semoga kita semua selalu dalam lindungan-Nya. Aamiin.


Salam hangat... πŸ˜˜πŸ™


Persembahan Up bonus untuk dua pembaca yang berjuang. Kalian membuat ku terharu...πŸ₯ΊπŸ₯Ί


Luv.