Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 141_Musim Merindu


"Nona ku...," Lula yang menunggu didepan kampus tersenyum lebar dan langsung berlari menghampiri Neva dan memegang tangannya setelah Neva keluar dari mobil.


"Hiiixx... dia sudah punya pacar, huhuuu," Neva memeluknya dengan sedih.


"Serius?"


"Iya," jawab Neva. Ia melepaskan pelukannya kemudian berjalan meninggalkan Lula.


"Eh, tunggu...," Lula mengejarnya dan merangkul pundaknya. "Coba ceritain apa yang terjadi kemarin malam?"


Mereka berjalan menuju kelas dengan bibir Neva yang tidak berhenti bercerita tentang kisah kemarin malam, bahkan hingga mereka duduk di bangku.


"Hei, mungkin itu mantan pacarnya," Lula berkomentar setelah mendengar semua cerita Neva.


"Tapi tetap saja, di hatinya sudah ada seseorang."


"Hallo, kalau kata orang nih ya. Beli gelang di pasar baru..."


"Cakep..." Neva tertawa kecil melihat Lula.


"Pacar menghilang cari yang baru. Ayoo bossque, bikin dia move on."


"Tapi bagaimana jika 'dia' bukan mantan?"


"Ya ampun... sejak kapan otak mu menjadi bodoh bossque. Jika 'dia' yang Tuan muda Vano maksud adalah pacarnya, maka dia tidak mungkin akan makan cake bersama mu dicafe. Pacarnya itu pasti akan mencekik mu," Lula menepuk pundak Neva dengan semangat. Bola mata Neva manatap Lula dengan ungkapan jika dia setuju dengan ucapan Lula. Kemudian, dia mengeluarkan ponselnya.


"Kakak Vano, apakah pacar mu marah jika dia melihat ku satu mobil dengan mu?" send. Pertanyaan jebakan. Pesan itu terkirim ketika Vano sedang meeting dadakan karena serangan Leo. Itu membuatnya tidak menyentuh ponselnya seharian.


"Ya ampun..." Neva menepuk keningnya pelan. "Sejak kapan aku jadi norak begini? Stop... aku tidak mau melanjutkan lagi. Aku nggak mau jadi cewek yang mengejar-ngejar cowok," Dia kembali menoleh ke arah Lula. "Harusnya kan aku yang di kejar, betul tidak?"


"Aaah, kejar-kejaran malah seru kok dan tengah hitz saat ini," Lula tersenyum jahil namun penuh semangat, ia menepuk pundak Neva.


***@***


Sore hari.


Leo dengan berat meninggalkan istrinya untuk beberapa hari.


"Sayang, maaf untuk liburan kita yang tertunda," dia mengecup kening Yuna.


"Tidak apa-apa," Yuna memeluknya erat. "Sayang, kau tidak lama bukan?"


"Satu minggu," jawab Leo. Drama sore ini berakhir dengan saling berat untuk berpisah.


Leo segera terbang ke Pulau S.


"Sayang, aku sudah sampai," Leo segera menelfon Yuna begitu sampai di pulau S. Dia berjalan dengan dua orang yang membuntutinya, kemudian dia segera masuk kedalam mobil.


"Hati-hati disana, makan yang benar, jangan begadang, tidur yang cukup."


"Baik Nyonya."


"Tuan suami, sekarang kau jauh dari ku. Harap jaga mata mu dan juga hati mu."


"Baik Nyonya."


"Kau harus ingat jika ada singa galak di rumah mu. Kau akan mati mengenaskan jika kau berani macam-macam."


Leo tertawa mendengar ini. Dan setelah mereka saling berbicara dalam telfon, Leo mengakhiri telfonnya.


Dia makan malam di rumah baru Dimas. Setelah makan malam selesai, mereka berdiskusi tentang bisnis semalaman.


"Lee, sudah malam, apa kau tidak menginap di sini saja?" Nora menawarinya ketika Leo pamit.


"Aku sudah menawarinya tapi dia menolak," Dimas yang menjawabnya.


"Terima kasih untuk tawarannya Kak. Aku sudah memesan hotel. Selamat malam." Leo menjawab dengan sopan. Kemudian dia segera kembali ke hotel. Pukul 00:15.


Dia segera membersihkan dirinya dan segera menjatuhkan diri di ranjang putih di kamar hotelnya. Ia memejamkan matanya namun tidak tidur lalu dia membelai Hpnya dan muncul foto istrinya yang tersenyum. Ini baru beberapa jam dan dia sudah merasakan rindu. Ia membuka aplikasi chat dan menemukan Yuna sedang online.


"Ini sudah malam, kenapa belum tidur?" suaranya lembut.


"Aku sudah mencoba tidur, tapi tidak bisa." jawab Yuna. Dia, sedari tadi menimang-nimang Hpnya dan terus menerus menunggu tanda online pada aplikasi perpesanan Leo. "Sayang, apa kau baru kembali?" tanyanya.


"Iya," Leo mengangguk.


"Jangan gila kerja, okey."


"Aku hanya melakukan obrolan ringan dengan Kak Dimas," mata mereka saling menatap lewat layar ponsel. "Sudah malam, Tidurlah, aku akan menemanimu, aku tidak akan mematikan telfonnya." ucapnya penuh kasih. Yuna mengangguk, ia memasang power bank pada ponselnya. Kemudian, ia meletakkan ponsel disampingnya dengan posisi menghadap ke arahnya, sehingga Leo masih bisa memperhatikannya. Yuna menutup kelopak matanya pelan, dia terpejam.


Mata Leo dipenuhi kelembutan menyaksikan itu, dia ingin memeluknya.


Hingga fajar tiba, panggilan Video itu tidak terputus. Yuna mengerjapkan matanya dan langsung menemukan wajah Leo yang tersenyum menyapanya dari balik layar Hp.


"Selamat pagi...," sapanya.


"Hmm, sayang, apa kau tidak tidur semalaman?" tanya Yuna memperhatikan Leo di sebrang sana.


"Aku tidak bisa tidur."


"Uhhh, sayang, segeralah kembali."


"Pasti. Nyonya, segeralah mandi, lalu sarapan, okey," Ucap Leo dengan senyum. Si Nyonya mengangguk. Kemudian, Leo memutus panggilannya dan segera membersihkan dirinya.


_Mobilnya terparkir pelan di kantor baru yang sangat megah. Dia menurunkan satu kakinya, sepatu mengkilat warna hitam membuat semuanya penasaran dengan sang pemilik. Kemudian, dia benar-benar keluar dari mobil. Ia berdiri dengan gagah, cahaya matahari pagi membutnya semakin bercahaya. Lusinan karyawan yang menyambutnya seketika terpana dengan adik dari Direktur mereka.


Leo berjalan dengan tenang setelah menyapa para karyawan yang menunggunya. Kemudian, seseorang menghampirinya.


"Selamat pagi Tuan muda, saya Lidia. Saya yang bertugas menemani anda selama anda berada di sini," ucapnya sangat sopan, dia membungkuk penuh hormat. Leo sedikit mengangguk sebagai tanggapan dan kemudian melangkah untuk masuk. Lidia membuntutinya dengan pelan. Keberadaannya membuat para karyawan wanita merasa iri, dia sedikit sombong dengan ini. Mereka berada di dalam lift dengan dua asisten yang sedari kemarin mengikuti. Lidia terus menerus melirik ke arah Leo, ia memperhatikan wajah halus itu.


Ponsel milik Leo berbunyi, pesan masuk dari Yuna. Leo tersenyum membaca pesannya. Senyumannya semakin membuat mata Lidia meleleh tak tertahan.


Pesan dari Yuna adalah foto dirinya yang memonyongkan bibirnya. 'Sarapan pagi mu sayang, muach.' Leo segera membalasnya.


'Selamat pagi cinta." dan chat berakhir sampai disitu.


Leo melakukan meeting pagi bersama Dimas. Hampir lima jam meeting itu baru selesai. Kemudian, Leo diantar oleh Lidia ke ruangannya.


"Saya akan membacakan poin-poinnya kembali Pak," ucap Lidia. Dia duduk manis di depan meja kerja Leo. Wajahnya cantik dengan bentuk tubuh yang aduhai, apalagi dia memakai bawahan yang mini dan hem berwarna putih yang ketat, itu menonjolkan bagian tubuhnya yang seksi. Dia membaca satu persatu dari ratusan poin didalam dokumen ditangannya. Leo sudah sibuk dengan laptop, jari-jarinya terus menari di atas keyboard. Dia tidak membuang waktu sedikitpun, ia langsung bekerja dengan cepat.


Lidia disisi lain terus membaca poin-poin sambil terus melirik Leo.


"Maaf Pak, apa anda mendengarkan saya?" merasa dicuekin, dia akhirnya bertanya. Leo mengangguk sedikit.


"Lanjutkan," ucapnya singkat. Suaranya membuat telinga Lidia meleleh. Ya ampun... apa yang tidak indah dari makhluk satu ini? Bahkan suaranya saja sangat indah dan menggoda. Sikap dinginnya membuat Lidia semakin penasaran. 'Dia hanya tersenyum sekali ketika di dalam lift. Apakah dia sudah punya pacar?' Matanya terus menatap Leo yang bahkan tidak mengangkat wajahnya sama sekali. Dia tidak memperhatikan bahwa ada cincin yang sudah melingkar dijari manis laki-laki ini tapi jikapun dia memperhatikannya, dia tidak perduli. Lidia, tipe perempuan yang menyukai kehidupan glamour dengan instan. Dia menginginkan laki-laki tampan yang kaya raya. Dia tidak segan untuk mengambilnya dari seseorang.


"Silahkan keluar jika tidak ada yang perlu kau laporan lagi," suara dingin Leo menyadarkan Lidia yang terus memperhatikannya.


"Oh, maaf pak," jawab Lidia lalu dia segera kembali membacakan dokumen di tangannya.


Setelah selesai dengan tugasnya, Lidia dengan berat hati meninggalkan ruangan itu. Namun, dia segera kembali ketika jam istirahat tiba, ia mengetuk pintu pelan dan segera masuk ketika Leo mempersilahkannya. 'Ya ampun, dia bahkan masih saja bekerja pada jam istirahat.'


"Pak, waktunya istirahat. Saya... membawakan kopi untuk anda," dia melangkah penuh drama dalam setiap langkah kakinya.


"Silahkan bawa kembali. Saya tidak minum kopi," jawab Leo jelas. Lidia berhenti dari langkahnya dan tidak menaruh kopi itu di meja Leo.


"Oh, maaf Pak, saya tidak tahu. Jadi, apa yang Bapak inginkan? Biar saya buatkan untuk anda."


"Tidak ada, silahkan keluar."


Gila... Lidia tidak habis pikir jika adik dari Direkturnya lebih dingin dari es. 'Apakah dia rabun? Atau apakah dia gay? Kenapa dia bahkan tidak menatap ku sama sekali. Apakah dia tidak tahu bahwa aku memiliki bentuk tubuh yang sangat indah, yang membuat laki-laki selalu menyukai ku?' Dia semakin penasaran dengan adik bossnya ini. Seberapa setiakah dia?


____


Selamat tahun baru kawan semuanya...🎉🎉 Semoga di tahun ini apa yang diinginkan semua teman-teman terkabul dan semoga kita diberi kehidupan yang barokah dan bermanfaat.


Lope-lope semuanya🥰😘