Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 240_Nervous


Mama berjalan dengan tergesa masuk ke dalam rumah sakit. Beliau langsung melangkah menuju ruangan Yuna. Mata dan hati beliau dipenuhi kecemasan. Suaminya hanya memberi tahunya jika Yuna sedang dirawat. Ada apa dengan Yuna? Mama memikirkan tentang banyak hal.


Setelah sampai di depan ruangan, beliau segera membuka pintu dan langsung melangkah masuk. Papa, Leo dan Yuna langsung menoleh secara bersamaan setelah tahu ada yang masuk.


Pandangan mata Mama langsung tertuju pada Yuna, menatap Yuna yang tengah duduk dan tersenyum menyapanya. Hati Mama sedikit lega melihat itu.


"Kenapa kau tidak bisa menjaga istri mu," Mama yang baru saja datang langsung memarahi Leo. Beliau memukul bahu Leo dengan kencang. Mama begitu khawatir, tentang Yuna dan calon cucunya. Setelah memukul Leo, beliau meminta Leo untuk menyingkir. Kemudian, Mama duduk di samping Yuna. "Sayang, bagaimana keadaan mu?" Tanya Mama dengan mengusap pundak Yuna.


Yuna tersenyum, "Udah baikan Ma, hanya demam biasa," jawab Yuna. Mama mengangguk dan membawa tangannya untuk mengusap perut Yuna dengan lembut.


___ Sementara disana. Neva tengah memilih gaun yang akan ia kenakan untuk berkunjung ke rumah Vano sebagai kekasihnya. Dia bingung, gaun yang seperti apa yang cocok? Ini adalah pertama kalinya dia menghadapi situasi seperti ini. Bertemu orang tua dari kekasihnya.


Neva sudah mencoba lima baju tetapi dia merasa kurang cocok.


"Ini bukan pesta please," dia berbicara dengan dirinya sendiri. Wajahnya sangat datar menatap pantulan dirinya di cermin. "Huff," dia meniup poninya. Kemudian, dia memilih lagi lalu memakai.


"Ok," ucapnya dengan senyum. Dia merasa percaya diri dengan baju pilihannya kali ini.


White embroidered dress dengan lengan tiga perempat yang dipadukan dengan mules warna merah bata. Sangat cocok dan pas ditubuh ramping dan postur tubuh yang tinggi miliknya.


Dia keluar dengan langkah pelan dan senyum Vano langsung menyambutnya. Senyum penuh dengan kekaguman. Pandangan matanya hanya tertuju pada Neva. Gadis cantik yang sangat anggun malam ini.


Mendapat tatapan mata dan senyum itu, pipi Neva menjadi bersemu merah muda. Bibirnya menahan senyum dengan rapat, itu membuat dirinya terlihat semakin cantik.


"Emm, apa aku norak dengan ini?" Tanyanya pada Vano setelah ia berdiri di depan Vano.


Vano menggeleng, "Sangat cantik," pujinya dengan senyum dan tatapan mata yang indah. Neva semakin merona, dia menunduk menyembunyikan wajahnya.


Kemudian, mereka berdua masuk ke dalam mobil.


Neva menoleh ke arah Vano, menatap laki-laki itu dengan cemas, dia sangat nervous.


Vano membalas tatapan matanya dan menyunggingkan bibirnya.


"Mereka pasti menyukai mu," ucap Vano seolah tahu apa yang Neva khawatirkan. Neva tidak mengangguk, tidak juga menggeleng, dia diam dan masih menatap Vano. Untuk bisa bersama dengan laki-laki ini tidak mudah. Harus melewati kisah rumit dan pemahaman arti dari perasaan dirinya sendiri dan Kakaknya.


"Bagaimana jika mereka tidak menyukai ku?" Tanya Neva rendah. Dia berfikir, pasti ada banyak putri konglomerat yang mungkin mengantri untuk bisa mendapatkan putra semata wayang keluarga Mahaeswara.


Tangan Vano mengulur dan mengusap pundaknya dengan lembut, "Mereka pasti menyukai mu sayang," jawab Vano mencoba menenangkannya. "Mama begitu menyukai mu," lanjut Vano. Dia mengingatkan bagaimana mamanya berusaha mati-matian agar mereka berdua saling dekat. Neva mengangguk.


"Ya, Tante sangat menyukai ku," ucap Neva. "Tapi bagaimana dengan Om Mahaeswara?" Lanjutnya dengan pertanyaan.


"Papa juga pasti akan menyukai mu," jawab Vano.


"Bagaimana jika tidak?" Tanyanya lagi. "Kita kawin lari?" lanjutnya.


Vano terkekeh mendengar ini, "Ngapain kawin lari sayang. Kita akan capek jika begitu, kawin itu di ranjang," jawab Vano dengan senyum lebar. Otak Neva berkedut mendengar itu, astaga, apa yang baru saja Vano ucapkan padanya. Dia langsung mengangkat tangannya dan memukul bahu Vano dengan kencang.


"Pikiran mu mesum," ucapnya dengan malu. Vano tertawa dengan ini.


"Ayolah, rileks sayang. Mereka akan menyukai mu, jangan pikirkan macam-macam," ujar Vano.


Neva masih ragu. Dia menatap Vano lalu membuat suaranya seolah itu adalah suara milik Tuan besar Mahaeswara, "Maaf Neva, kau tidak pantas untuk bersanding dengan putra kami yang tampan," ucapnya.


Kemudian, Vano segera menyahutnya, "Papa, aku mencintainya. Bahkan lebih besar dari rasa cinta qois pada Laila. Aku mencintai dia dan hanya akan mencintainya," jawab Vano seolah berdialog dengan papanya. "Bagaimana? Keren?" Tanyanya.


Vano tersenyum. "Jangan pikirkan lagi, okey," ucap Vano. Neva mengangguk.


Kemudian, mobil Vano melaju dengan sedang meninggalkan area. Neva membuka ponselnya dan mencari pada sistem pencarian di internet.


"Cara mengatasi nervous bertemu dengan calon mertua," ketiknya. Dan langsung ada banyak sekali artikel-artikel tentang itu. Dia membacanya dengan seksama. Dia bahkan sudah menyiapkan kata-kata manis untuk bertemu dengan calon mertua untuk yang pertama kali. Kesan pertama itu harus sempurna, atau kau akan langsung di kick seketika, batin Neva.


Mereka berdua berhenti sebentar di sebuah toko cake dan membeli buah tangan untuk Mama Mahaeswara.


_Mobil Vano melenggang memasuki halaman rumah keluarganya, lalu menghentikan dengan pelan.


Neva menyatukan kedua telapak tangannya, jantungnya berdebar kencang, dia begitu gugup. Sore sudah digantikan dengan senja. Langit biru perlahan seolah berubah warna. Rasa tidak diterima itu pasti sangat menyakitkan.


Tangan Vano mengulur dan memegang pipinya, membawa wajah Neva untuk menatapnya.


"Yakin pada ku," ucap Vano. Neva menatapnya dengan ragu. Kemudian, Vano mendekat dan mencium bibirnya. Menciumnya dengan lembut dan hangat, telapak tangannya mengusap pipi Neva.


"Aku mencintai mu sayang," bisiknya halus di telinga Neva. Neva mengangguk dan menggenggam tangannya.


"Kita keluar, okey," ucap Vano. Neva mengangguk.


Vano lebih dulu keluar dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk Neva.


"Ayo," ajak Vano. Dia mengulurkan tangannya.


"Sebentar," jawab Neva. Dia mengambil kaca dari dalam tas miliknya dan memperhatikan bibirnya. "Aku takut lipstik ku belepotan karena kau habis mencium ku," ujarnya dengan melirik Vano dengan tajam.


"Hahaa, oke," ujar Vano dengan terkekeh.


____


Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )


Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini.


Sekali lagi, aku itu nggak pelit Up selama inspirasi luber ber ber ber. Bisa estafet.


Namun, mungkin akan Up sekali dan bahkan telat jika inspirasi lagi buntu.


Mohon pengertiannya ya kawan.


Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta 💗


Terima kasih yang udah ngirim Vote, like dan komen.


Aku padamu kawan. Luv you full.


Jangan lupa jempol digoyang. Okey.


Masih betah di rumah kan?


#DiRumahSaja