Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 349_Lembayung Senja


Tengah malam Yuna terbangun oleh sesuatu yang tiba-tiba membuatnya terkaget. Dia tidak tahu itu apa, seperti mimpi tetapi seolah nyata. Dia seperti terbang tinggi lalu terhempas dengan keras begitu saja.


"Leo," gumamnya. Dia menoleh ke arah Mama yang terlelap dan kemudian menatap putranya yang juga masih terlelap. Pandangannya beralih pada jam yang menggantung di dinding. Pukul dua lima belas menit. Dadanya berdesir. "Kau tidak apa-apa bukan?" gumamnya lagi. Yuna segera mengambil ponselnya dan mencari nama Papa dalam daftar folder phone booknya. Dia tidak perduli jika saat ini adalah dini hari, dia tiba-tiba merasa khawatir. Dia lupa mimpi apa, dia hanya merasakan kaget yang teramat. Entah ini firasat buruk ataukah hanya rasa rindu yang mendalam pada Leo. Tidur malamnya yang tidak pernah nyenyak, tidur malamnya yang terasa begitu dingin, dan terasa begitu hampa.


Papa kaget saat melihat ponselnya berdering karena panggilan Yuna. Beliau segera keluar ruangan untuk menerima panggilan dari Yuna.


"Kenapa nak," jawab Papa perhatian.


"Bagaimana keadaan Leo, Pa?" tanya Yuna langsung. "Ku mohon ceritakan dengan sebenar-benarnya, Pa. Ku mohon jangan membohongi ku," pinta Yuna. Dia duduk di tepi ranjang.


Papa menghela nafasnya. "Pengobatan hari ini berjalan lancar, Leo lebih sehat dari sebelumnya. Dia baik-baik saja," jawab Papa. Yuna menghela nafas sedikit lega.


"Papa tidak sedang membohongi ku kan? Papa tidak sedang menyembunyikan keadaannya bukan?" tanya Yuna lagi. Papa tersenyum lebar diseberang sana. Papa tahu ini adalah salahnya, jika pada akhirnya Yuna dan Neva tidak mempercayainya.


"Tidak ada yang Papa tutup-tutupi, Yuna. Keadaan Lee membaik, dia memiliki semangat yang tinggi dan itu sangat bagus untuk pengobatannya. Jika kau tidak percaya, Papa akan sambungkan panggilan ini pada dokter khusus yang merawat Leo. Bagaimana?"


Yuna mengangguk percaya pada Papa. Dia menghela nafasnya dengan sangat lega. Dia mengucap syukur pada Tuhan dalam hati. Ini sudah dua hari dari yang Papa ceritakan tetapi dia masih belum boleh untuk membesuk. Jadi ... sebenarnya, tingkat kepercayaannya belum seratus persen. Dia takut dibohongi tentang keadaan suaminya. Dia takut menjadi bodoh sendiri karena tidak tahu kondisi suaminya.


Panggilan berakhir. Yuna menggenggam ponselnya dengan erat. Dia menunduk.


"Tuhan, jika aku dan dia tidak bisa dipersatukan oleh semesta, jika aku dan dia tidak diizinkan untuk bersama dalam waktu yang lama. Ku mohon, jangan ambil dia dariku. Pilih aku sebagai gantinya," hatinya tiba-tiba begitu rapuh. Dia ketakutan setiap detik. Air matanya menetes menemani kesedihan hatinya.


Tangan Mama dengan pelan menyentuh pundak Yuna.


"Nak, kau terbangun lagi?" tanya Mama rendah. Beliau tahu jika Yuna selalu terbangun ditengah malam kemudian akan menyembunyikan tangisnya.


Yuna segera menyeka air matanya. "Hmm, Ma," Yuna menoleh ke arah Mama dengan senyum. Mama membalasnya dengan senyuman hangat. Tangan Mama mengusap punggung tangan Yuna dengan kelembutan seorang Ibu.


"Mama selalu berdo'a untuk kesembuhan Lee, untuk senyum dan tawa kalian, untuk kebahagiaan kalian yang tidak ada duka setelahnya. Kau tahu Yuna. Bukankah, do'a seorang Ibu untuk anaknya akan didengar oleh Tuhan. Pun juga dengan do'a seorang istri. Mari sama-sama yakin untuk kesembuhan Lee, mari sama-sama berfikir positif untuk menguatkan dia dan juga diri kita. Kita, dan do'a kita adalah sumber kekuatannya," tutur Mama dengan perhatian dan kelembutan. Yuna menatap Mama dengan setetes air mata. Kemudian dia tersenyum dan mengangguk.


"Ya, kita harus yakin jika dia pasti sembuh," jawab Yuna dengan suaranya yang parau. Mama memeluknya dan mengusap punggung Yuna.


________


Siang hari, dokter sudah siap untuk memeriksa kondisi Leo lagi. Dan dengan senyum Sang dokter bilang jika Leo boleh kembali. Kondisinya sangat baik. Leo boleh melakukan perawatan dirumah dan dua minggu sekali cek up ke rumah sakit.


Ya, Leo di izinkan untuk kembali dengan pengawasan yang ketat. Selama tahap pengobatan lanjutan, Leo tidak boleh lelah, tidak boleh begadang, tidak boleh terbentur oleh apapun, tidak boleh mengangkat sesuatu yang berat, tidak boleh terjatuh, dan masih banyak lagi larangan dari dokter.


Dengan hati yang teramat bahagia Leo tersenyum. Dia memegangi dadanya yang berdegup. Dia akan bertemu dengan Mama, bertemu dengan Yuna, dan bertemu dengan anaknya, Leo sangat bahagia. Ini ... adalah waktu yang ia nanti. Bisa kembali pulang dan berkumpul dengan keluarganya.


"Apa Papa memberi tahu dia?" tanya Leo pada Papa di sela-sela papanya menyiapkan kursi roda untuknya.


"Tidak," jawab Papa. Beliau tahu putranya suka dengan kejutan.


Leo mengangguk. "Bagus. Papa keren," ucap Leo. Dia memberi jempol kanannya pada papanya.


Papa tertawa kecil, kemudian beliau membantu Leo untuk pindah ke kursi rodanya.


"Sebenarnya tidak perlu kursi roda, Pa. Aku masih kuat berjalan," ucap Leo meyakinkan papanya, tetapi Papa tidak menghiraukannya. Beliau tetap memaksa Leo untuk duduk di kursi roda.


"Berjanjilah, jika kau merasakan hal lain pada dirimu, segera beritahu Papa," ujar Tuan besar Nugraha. "Jangan hal kecil kau sepelekan," lanjut beliau mewanti-wanti Leo untuk tidak menyembunyikan apapun darinya.


"Baik," jawab Leo patuh. Dia ingin segera pulang, jadi dia menurut saja.


Mobil Tuan besar Nugraha meninggalkan rumah sakit dengan segera. Ada dua perawat yang ditugaskan untuk selalu mengawasi kondisi Leo, dua perawat itu yang nantinya akan menjaga Leo dan tinggal di rumah besar keluarga Nugraha.


"Pa, berhenti di toko bunga," pinta Leo. Dia menoleh ke arah Papanya.


"Ok," papa menyetujui. Kemudian, Papa meminta supirnya untuk berhenti di sebuah toko bunga.


"Bunga yang bagaimana yang kau inginkan? Papa akan memilihnya," ucap Papa setelah mobil mereka parkir di depan toko bunga.


"Aku ingin memilihnya sendiri. Ini untuk dia, mana boleh Papa yang memilihnya," jawab Leo.


"Papa hanya perantara saja, Papa akan memilih sesuai selera mu," tukas Papa. Namun Leo tetap keukeh ingin memilihnya sendiri. Dan pada akhirnya Papa kalah dalam perdebatan ini.


Namun Papa tidak kehabisan akal. Leo tetap berada di dalam mobil dan beliau meminta karyawan toko untuk mengeluarkan semua koleksi yang mereka punya dan meletakkan di samping mobil mereka, hingga Leo bisa memilihnya dengan leluasa tanpa keluar dari mobil.


Ok satu buket bunga telah terpilih. Mobil mereka kembali melaju dengan sedang menuju rumah besar keluarga Nugraha.


Tepat saat mobilnya memasuki gerbang tinggi itu, Leo tersenyum dengan bahagia.


"Ingat, kau harus hati-hati," papa mengingatnya lagi.


"Baik," jawab Leo.


Tuan besar Nugraha keluar dari mobil terlebih dahulu untuk menyiapkan kursi roda tapi ... Leo turun setelahnya dan tidak menunggu Papa untuk membuatnya duduk di kursi roda. Dia menunduk sebentar dengan senyum indah yang mewakili keindahan hatinya.



Papa menggelengkan kepalanya melihat Leo yang lebih dulu berjalan tanpa menunggunya.


Lembayung senja menemani setiap langkah kakinya. Cahaya mentari yang perlahan berubah menjadi merah jingga turut tersenyum bersama hatinya dengan kebahagiaan.


Yuna yang menyadari kedatangannya segera berlari dari lantai dua. Menuruni tangga dengan sangat cepat, dia berlari dengan degup jantung yang berdetak kencang. "Dia kembali," teriaknya dalam hati. Keduanya tangannya segera meraih gagang pintu dan segera membukanya. Wajah rupawan yang ia rindukan ada didepannya. Membawa bunga dan senyum indah diwajahnya. Membawa buket rindu yang ia bungkus dengan rapi. Yuna termangu beberapa saat dalam kelegaan hati, nafas dan pikirannya. Matanya berkaca-kaca menatap Leo yang tersenyum didepannya.


Leo melangkah satu dan langsung memeluk Yuna. Memeluknya dengan kerinduan yang mendalam. Dan air mata Yuna luruh dalam pelukannya. Air mata bahagia. Begitu juga dengan Leo. Air mata menetes dari matanya.



"Ku mohon jangan sakit lagi, ku mohon, ku mohon Leo," ucap Yuna terbata. Tangannya memeluk Leo dengan erat. "Jangan tinggalkan aku lagi, jangan pernah," lanjutnya.


_____________


Catatan penulis πŸ₯°


Up awal niihhh 😎 Pukul 00:36 ku serahkan naskah ini.


Sun manjaa jempol jangan lupa ya. Awas aja kalau udah Up awal tapi like n koment dikit πŸ™„πŸ™„


"Ngancem ya Thor?"


"Iya. Like koment gratis pada males ngasiiihhh sih. Kan sedihh 😣"


😍😍😍 Aku padamu semua Sahabat SC. Luv luv.


Kalian luar biasa.