Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 110. Reuni dadakan


Cafe


Pukul 16.10 WIT


Hesti dan Rey duduk memperhatikan Tiara yang sedang sibuk melayani pengunjung cafe. Walaupun lelah, ia tetap tersenyum saat berhadapan dengan pengunjung.


Hari ini pengunjung cafe memang lumayan banyak dari biasanya.


Saat tatapan Tiara tertuju ke tempat duduk mereka, matanya membelalak senang.


Bergegas ia menemui seniornya untuk meminta ijin sebentar.


Tak lama kemudian, nampak ia menemui Hesti yang menyambutnya dengan pelukan.


Keduanya berpelukan cukup lama untuk melepas kerinduan yang menumpuk.


" Gue boleh dipeluk juga nggak?" goda Rey yang gemas melihat tingkah mereka.


" Nih peluk !" ujar Hesti menunjukkan tinjunya seraya melotot ke arah Rey.


Tiara terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya yang belum berubah.


" Habisnya, gue dicuekin sih ".


" Siapa suruh mau ikutan ?"


" Gue juga kangen sama Tiara ".


" What ?" Tiara kaget dengan ucapan Rey yang blak-blakan.


" Dih mulai deh gombalannya ".


" Beneran kok, Ra. Nggak usah dengerin Hesti ya ".


Tiara dan Hesti saling pandang seolah sedang bertukar pikiran.


" Eh Hes, gimana tempat kuliah kamu? banyak cowok ganteng nggak?" Tiara mencoba mengalihkan pembicaraan.


Hesti dengan heboh mulai menceritakan pengalamannya di sana sejak ia mulai mendaftar hingga kesehariannya di sana. Tiara mendengarkan dengan antusias.


Tanpa mereka sadari, Zian sedang memperhatikan ketiganya dari sudut ruangan cafe yang terhalang bunga hias.


Rey yang tidak sabaran memberikan kode pada Hesti agar memberikan ia kesempatan untuk berduaan dengan Tiara.


" Eh Ra, toiletnya di sebelah mana ya ?" tanya Hesti dengan mimik seolah lagi kebelet.


" Mau Ara anterin ?"


" Eh, nggak usah, biar aku aja nggak apa-apa. Kamu temenin Rey dulu deh ". tolak Hesti kemudian bergegas pergi.


Tinggallah Tiara dan Rey yang duduk berhadapan dengan kikuk.


Hesti berjalan menuju toilet namun ketika ia baru saja melewati dinding penghalang di ujung lorong, seseorang menarik tangannya dengan cepat.


Baru saja ia hendak melayangkan pukulan keras ke wajah sosok itu, ia terkejut melihat siapa sebenarnya orang yang begitu lancang menyeretnya.


" Kak Zian ?" matanya membelalak melihat Zian yang kini menatapnya dengan pandangan menyelidik.


" Hes, sebenarnya apa maksud lo deketin Tiara dengan cowok itu? jawab gue !" ujar zian menahan emosi karena merasa dikhianati oleh orang yang ia percaya.


" Lepasin !" Hesti menghentakkan tangan Zian yang tadi mencengkeramnya hingga terlepas.


" Emang kenapa ? kak Zian nggak suka ? sakit hati ? baguslah kalau begitu. Tapi sayangnya sakit hati yang kak Zian rasakan sekarang ini nggak sepadan dengan sakit yang Ara harus tanggung selama ini !" balas Hesti ketus.


Zian terdiam mencoba mencerna kata-kata Hesti yang menohok hati.


" Kemana saja selama ini hah ? mengabaikan Tiara begitu saja seperti orang bodoh yang tiap hari menangisi orang egois seperti kakak. Aku nggak nyangka ya kak Zian tega ngelakuin hal ini sama Ara yang cinta banget sama kakak ". Hesti mencurahkan semua emosi yang ia pendam selama ini.


" Gue tahu gue salah tapi dengerin dulu penjelasan gue ". balas Zian dengan wajah sendu.


Akhirnya Hesti mulai luluh juga, dan mulai mendengarkan cerita Zian yang sebenarnya.


" Baiklah sekarang kak Zian yang harus berusaha keras untuk meminta maaf dan memperbaiki hubungan kalian. Aku ingin melihat Tiara bahagia lagi seperti dulu kak, please jangan ulangi lagi ya !"


" Iya, thanks atas pengertiannya Hes. Gue bakal berusaha memperbaiki semuanya kembali seperti semula ". janji Zian dengan wajah serius.


" Hem . . oke. Kalau perlu bantuan bilang aja. Aku balik dulu ya, udah kelamaan nih entar dicariin ".


" Oke, sampai ketemu lusa ya !" pamit Zian bergegas pergi dari tempat itu.


Hesti pun kembali ke tempat duduknya.


" Lama banget sih Hes ?" tanya Tiara.


" Nggak tahu nih ususnya lagi bermasalah kayaknya, hehehe ". jawab Hesti kemudian menghembuskan nafas lega saat melihat Zian berhasil keluar dengan menutupi wajahnya.


Semoga rencana kak Zian lusa nanti berhasil, gumamnya dalam hati.


*****