
"Kemari," kata Leo. Yuna menutup pintu pelan kemudian, dia melangkah teratur untuk lebih masuk kedalam. Dadanya naik turun mengatur nafas yang terasa setengah-setengah.
Leo mengulurkan tangan kanannya, "Mau mandi bersama?" tanyanya. Yuna menggeleng pelan. Dia menyambut uluran tangan Leo. Menyentuh tangan Leo bak menyentuh bunga putri tidur yang langsung mampu membuatnya tunduk.
"A-aku baru selesai mandi. Rambutku bahkan masih basah," jawab Yuna. Dia membiarkan jantungnya berdegup kencang. "Umm, biar ku bersihkan rambutmu," ucap Yuna. Dia menarik kursi dan duduk di samping bathub.
Dengan telaten dia membasahi rambut Leo dan membersihkannya. Membuat busa yang melimpah disana. Kemudian memainkannya.
"Setelah kembali ke tanah air kita nanti, aku akan membawamu berkunjung ke rumah Ayah," ucap Leo.
"Tidak perlu terburu-buru, kau istirahat saja yang cukup hingga kau benar-benar pulih. Pertemuan dengan Ayah dan Adel kemarin sudah mengobati rinduku. Mengobati rindu Ayah padaku dan Baby Arai," jawab Yuna. Dia membersihkan rambut Leo dari busa yang melimpah. Kemudian memijatnya dengan lembut.
"Tapi kau belum bertemu dengan nenek," sahut Leo.
"Tak apa. Yang penting kau harus sehat dulu. Lagi pula bukankah setelah kita kembali ke tanah air, Neva akan segera menikah?" Yuna telah selesai membersihkan rambut Leo. Sekarang dia mengambil sabun cair dan menumpahkan di atas spons lembut. Kemudian, menggosok punggung Leo dengan halus dan hati-hati.
"Sesegera itu?" tanya Leo. Dia memang hanya sebatas tahu jika Neva akan menikah.
Yuna mengangguk, "Ya, segera setelah kepulangan kita ke tanah air," jawab Yuna. "Semuanya sudah disiapkan, undangan, gedung, baju pengantin, semuanya. Hanya tinggal menunggu hari yang tepat."
Leo mengangguk.
"Mereka menunggu mu kembali ke tanah air," lanjut Yuna. Dia menyiram tubuh Leo dengan air hangat. Selesai.
"Yang bagian depan belum sayang," ucap Leo. Dia menahan tangan Yuna di pundaknya.
"Kau bisa melakukannya sendiri."
"Tapi aku ingin kau yang melakukannya," Leo menarik tangan Yuna kedepan. Tarikan yang membuat Yuna menempel dipunggungnya.
"Ummm," Yuna melebarkan mata saat bibirnya dengan tidak sengaja mencium telinga Leo.
"Jangan setengah-setengah, kenapa hanya punggung yang kau bersihkan?" goda Leo.
"Itu karena kau tidak bisa menggosok punggung mu sendiri," jawab Yuna segera sebelum Leo berucap macam-macam.
Leo menurunkan tangan Yuna. Membuat tangan itu menyentuh dadanya.
"Kau tidak ingin menyabuni ini juga?" tanya Leo.
"Kau bisa sendiri," jawab Yuna cepat. Dia tidak menggerakkan tangannya sama sekali.
"Hhh aku ingin kau yang menyabuninya," jawab Leo. Dia membawa tangan Yuna untuk lebih turun kebawah.
"Aaaaaa .... kau mesum," Yuna berteriak. Dia menarik tangannya dari genggaman Leo dan langsung berdiri. "Ummm ... biar ku siapkan handuk untuk mu," ucap Yuna. Kemudian dia segera melangkah untuk keluar. Leo tertawa kecil dengan gelengan kepala.
"Handuk sudah ada di dalam lemari kamar mandi, sayang," ucap Leo. Oo ... Oo ... Yuna menghentikan langkahnya seketika. Dia salah mencari alasan.
"Umm biar ku siapkan air hangat untuk mu," jawab Yuna. Dia menoleh sebentar sebelum benar-benar keluar kamar mandi. "Jangan minum air hangat dalam bathtub," ujarnya dengan senyum lebar dan langsung kabur.
Yuna keluar kamar dan langsung menuju dapur. Mengisi gelas dengan air hangat. Kemudian dia membuka lemari dan mengambil kotak obat Leo. Saat ia kembali ke dalam kamar, Leo belum keluar dari kamar mandi.
"Sayang kau masih didalam?" Yuna mengetuk pintu pelan. Tak ada jawaban tapi sebagai gantinya, perlahan pintu kamar mandi itu terbuka menampakkan wajah Leo yang segar dan imut setelah mandi. Mata Yuna meleleh menatapnya. Jantungnya kembali berdegup.
Tangan Leo mengulur memeluk pinggangnya sedang satunya lagi menutup pintu. Dia bergerak maju dan membawa Yuna ke samping tempat tidur. Yuna berkedip dengan cepat. Aroma wangi tubuh Leo menguasai otaknya. Tangan sebelah Leo mengusap pipi Yuna lalu perlahan ia menyusupkan ke rambut hitam nan halus milik Yuna. Leo menunduk dan membuat kecupan manis dikening Yuna.
"Terima kasih sudah selalu ada disamping ku," ucapnya tanpa meninggalkan keningnya Yuna. Bibir itu membuat kecupan lagi di tempat yang sama. "Terima kasih sudah menjadi wanita yang hebat untuk ku," ucapnya lagi dengan masih menempelkan bibirnya dikening Yuna.
Yuna mengangguk pelan, kedua tangannya berada di pinggang Leo. Ia memejamkan matanya, rasanya dia tidak mampu bernafas dengan benar.
Leo membuat kecupan lagi dan lagi di tempat yang sama. "Aku mencintaimu, Yuna."
Yuna mengangguk lagi, dengan sangat pelan seolah ia takut jika kecupan Leo terlepas dari keningnya. Namun ternyata, Leo memang melepasnya. Yuna menelan ludahnya kecewa tetapi dia diam dan masih memejamkan matanya.
Kemudian, perlahan ia merasakan sesuatu yang menempel di daun telinganya.
"Aku merindukanmu sayang, sangat rindu," bisik suara halus yang merambat ke jantung dan aliran darah. Yuna diam.
Leo menarik bibirnya dari telinga Yuna dan menatap wajah Yuna yang terpejam. Tangannya berpindah untuk mengusap pipi Yuna. Bibirnya tersenyum.
"Kenapa wajahmu memerah?" tanya Leo menggoda. Padahal tanpa ditayangkan pun dia sudah tahu jawabnya. Yuna tidak lagi mampu menjawab, dia hanya bisa diam merasakan jemari halus Leo membelai wajahnya. "Kau ... sangat cantik ratuku," mulut manisnya merangkai pujian untuk wanita miliknya. Jemari tangannya dengan lembut mengusap bibir sensual Yuna dan kemudian memegang dagu Yuna. Membuat wajah Yuna mendongak kearahnya. "Buka matamu sayang," ucapnya dengan desahan nafas yang menari lembut di wajah Yuna.
Ucapan itu bagai mantra sihir, kini Yuna membuka matanya perlahan, sepasang manik mata indahnya menatap Leo dengan kegilaan. Jantungnya semakin tidak karuan.
"Leo ...." panggilannya halus nyaris tanpa suara.
"Hmm," jawab Leo. Sudut bibirnya terangkat. Dia suka saat Yuna memanggil namanya.
"Lee ... o," suara halus itu menyebut namanya lagi dengan rendah. Dengan tatapan mata yang penuh kerinduan. Dan Leo langsung merebahkan tubuh Yuna di atas ranjang empuk mereka.
iklaaaan ...... π€
_______________
Sementara disana diluar rumah. Vano dan Neva tengah berjalan-jalan santai. Salju turun tipis malam ini.
Trotoar disini sangat nyaman untuk berjalan kaki, tertata dengan rapi, luas, dan yang pasti tidak ada sampah sedikit pun.
"Disini ada roti bakar pisang ala negara I," ujar Neva.
"Oh ya? Ayo kita coba."
"Kedainya kecil, tapi rasanya lezat," jelas Neva. Tangan Vano mengusap lembut tangan Neva lalu memasukkan kedalam saku jaket hangatnya. Dua tangan saling menggenggam di dalam saku jaket hangat. Neva tersenyum lebar dengan wajah yang memerah. Dia ingat, ini ... seperti adegan-adegan drama Korea yang sering ia tonton. Dan saat ini ... dia mengalaminya sendiri. OMG ... rasanya dia ingin berteriak. Ternyata rasanya lebih mendebarkan dari pada hanya baper melihatnya saja.
Mereka masih bergandeng hingga sampai di kedai yang Neva maksud. Kedai kecil yang jauh dari kata mewah.
Neva dan Vano duduk berdampingan di ruang itu. Meskipun dingin, mereka memiliki duduk di ruangan terbuka.
"Waahhh ... ada mie instan khas negara kita juga," Vano melebarkan matanya.
"Haha ... iya. Mie instan yang selalu membuat perut lapar dan air liur menetes," jawab Neva.
"Aku pesan ini saja," ujar Vano.
Mereka berdua tertawa. Menertawakan diri sendiri yang jauh-jauh dari di negara A tetapi memilih menu mie instan ala negeri I. Luar biasa.
Biar lebih lengkap, mereka juga memesan roti bakar dan pisang bakar.
"Tape bakarnya tidak sekalian?" tanya pelayan bergurau.
"Hahaa ini perut apa karung," jawab Neva bercanda. Dia memang sudah akrab dengan pelayan kedai ini.
_____________
Catatan Penulis π₯°
Uhummm siapa yang udah deg-degan tapi iklan πππ€£π€£ Wakakkkkk (Tertawa jahad π)
jangan lupa jempolnya di goyang. Like komen ya kawan tersayang π₯°