Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 69. Pulang


Kicauan burung mulai terdengar bersahutan menyambut datangnya pagi. Tiara menggeliat malas di atas tempat tidur.


Diliriknya Ika yang berlaku sama di sampingnya.


Pintu kamar terbuka.


" Ayok bangun siap-siap berangkat !" ujar kak Nia di depan pintu.


Tanpa menjawab, kedua adiknya mulai bangkit dari tempat tidur.


Beberapa jam kemudian setelah semua selesai packing, ketiganya mulai berpamitan ke yang empunya rumah.


Mobil angkutan yang sudah dicarter sudah standby di depan. Dan tak lama kemudian, mengantar ketiga gadis itu menuju ke pelabuhan.


Seperti biasa Tiara memilih duduk di dekat jendela.


Musik berirama melow yang entah sengaja atau tidak diputar sang sopir, berhasil membuat ingatannya memutar kembali momen-momen saat berada di kota itu.


Ah ya . . . gimana kabarnya Erwin ya ? Dia seperti orang baik-baik tapi kenapa dia berbuat seperti itu padaku? Apa dia tahu kalau hari ini aku akan pulang?


Ting


Bunyi pesan masuk membuyarkan semua lamunannya.


Dari kak Zian.


" Hei kucing nakal, udah ke pelabuhan ya ?"


Tiara tersenyum.


" Iya nih lagi di perjalanan, bentar lagi nyampe". balas Tiara.


" Kenapa nggak ngabarin biar dianterin?"


" Maaf kak, Ara nggak mau ngerepotin. Lagian lumayan banyak nih bawaannya jadi nggak bakal muat di mobil kakak".


" Oh ya udah ". balas Zian kemudian.


Setelah itu tak ada pesan masuk lagi.


Hah? segitu doang? katanya sayang? dasar cowok kulkas ! nggak ada romantis-romantisnya !


Tiara ngomel-ngomel dalam hati.


Tak lama mobil yang mereka tumpangi berhenti di depan pintu gerbang pelabuhan. Setelah membayar karcis masuk, mobil tersebut mulai memasuki pelataran parkir yang sudah ramai.


" Ayok turun ! sementara kita di sini aja dulu sambil menunggu Ami dan lainnya!" ujar kak Nia sambil menurunkan barang dibantu sang sopir.


Sementara Tiara dan Ika turun hanya dengan tas selempang di bahu. Setelah selesai, mobil itu melaju pergi dari situ.


Kemudian kak Nia menyuruh Tiara dan Ika menjaga barang sedangkan kak Nia beranjak untuk mencari keberadaan Ami dan adik-adiknya.


Mata Ika mengitari setiap sudut tempat itu. Tiara membiarkan saja sambil mendudukkan bokongnya di beton pemisah taman.


Taman kecil itu lumayan sejuk dan mampu melindungi keduanya dari sengatan sinar mentari yang mulai memanas. Beruntung tempat duduk mereka tepat berada di bawah pohon rindang.


Tiara sedang asik melihat para calon penumpang yang mondar mandir melewati pintu masuk ke ruang tunggu pelabuhan.


" Kak, Erwin tuh ". bisik Ika kemudian memberi kode dengan matanya di mana posisi cowok itu berada.


Dan bodohnya Tiara mengikuti begitu saja sampai akhirnya pandangannya bertemu dengan Erwin yang saat juga sedang menatapnya. Ia sedang bersama seorang teman cowok.


Erwin mulai berjalan mendekat.


Please jangan ke sini, bisa gawat nih kalau dilihat cowok gila itu. Ucap Tiara dalam hati.


Ia tidak mau keributan yang sama terjadi lagi di tempat itu. Sayangnya, tidak seperti yang ia diharapkan. Erwin kini berada di depannya sambil tersenyum.


Ika segera beranjak dari tempat itu mengikuti ajakan temannya Erwin.


" Hai Tiara ! udah mau pulang nih ?" tanya Erwin sok akrab.


" Eh Win, gimana kabarnya?" tanya Tiara berusaha bersikap biasa.


" Boleh nggak gue duduk di sini ?" Tanya Erwin lagi sambil melirik ke samping Tiara.


Sebenarnya Tiara ingin menolaknya tapi . . .


Erwin keburu mendaratkan bokong di sampingnya.


Tanpa mereka sadari, Zian dan Rio sedang menatap mereka dari jauh. Sebenarnya Zian sudah kesal dari tadi tapi Rio mengingatkan kembali obrolannya dengan Erwin semalam.


Erwin sengaja menelpon Zian untuk meminta ijin bertemu dengan Tiara yang terakhir kalinya. Karena Erwin tahu, Zian sangat posesif terhadap gadis itu.


" Kenapa Ra? kok gelisah gitu ?" tanya Erwin sengaja menggodanya.


" Em nggak . . . nggak apa-apa kok. Sebenarnya aku cuma khawatir kalau nggak sengaja dilihat kak Zian. Aku nggak mau kalian ribut lagi di sini gara-gara aku ". ucap Tiara jujur.


" Oh gitu ya, lo nggak usah khawatir Ra', gue juga ke sini cuma pengen minta maaf atas kejadian kemarin. Gue salah banget karena nggak sengaja udah jadiin lo alat buat nyakitin Zian. Walau sebenarnya gue nggak pernah punya niat seperti itu. Lo mau kan maafin gue?" tanya Erwin sambil menatap lekat wajah Tiara.


Tiara, andai aja lo nggak punya Zian, gue pastiin lo bakal jadi milik gue. Lo nggak nyadar ya udah merebut semua perhatian gue. Udah bikin kacau hati gue. Ah, sudahlah . . . sakit banget rasanya harus merelakan lo dengan Zian. Ucap Erwin dalam hati.


Tiara melihat ketulusan di wajahnya. Tatapan mata yang terlihat sendu tapi Tiara juga tak ingin memaksakan hatinya untuk menerima cinta cowok itu. Karena ia sadar, ada sosok yang perlahan mulai mengisi kekosongan di hatinya.


" Udah aku maafin kok. Aku tahu kamu nggak sengaja melakukannya. Maafin aku juga kalau nggak sengaja udah nyakitin kamu. Maaf banget nggak bisa jadi seperti yang kamu mau ". balas Tiara sambil tersenyum.


" Makasih Ra' lo emang baik banget. Zian beruntung banget bisa dapetin cewek sebaik lo. Ya udah, gue pergi dulu. Hati-hati, jaga diri lo dan semoga lo, kak Nia dan semuanya selamat sampai di tujuan". ujar Erwin seraya bangkit berdiri.


" Aamiin, makasih Win doanya". balas Tiara menahan sedih di hatinya. Sedih bukan karena berpisah dari cowok itu, tapi karena sudah menyakiti hatinya.


Erwin memanggil temannya yang sedang ngobrol dengan Ika kemudian melambaikan tangannya dan menjauh.


" Semoga kamu bertemu dengan seseorang yang sayang sama kamu Win". ucap Tiara lirih.


Beberapa saat kemudian kak Nia bersama rombongannya kak Ami tiba. Saat bersamaan terdengar pengumuman untuk calon penumpang agar segera naik ke atas kapal.


Mereka segera berjalan menuju ke kapal. Saat berjalan tiba-tiba ada yang menarik Tiara.


" Eh ?" Tiara kaget namun berganti senyuman saat melihat siapa yang menariknya.


" Kak Zian ?"


" Hehehe. . .udah jalan lagi yuk takut ditinggal kak Nia". ajak Zian sambil menggenggam tangan Tiara.


Zian memposisikan Tiara tepat di depannya agar bisa melindunginya dari dorongan atau tabrakan penumpang lain yang berdesakan. Sampai akhirnya mereka bisa naik ke kapal.


Zian membantu mereka mencari tempat tidur mereka. Setelah itu Zian pamit.


" Gue pergi dulu ya kucing nakal, jaga diri lo baik-baik. Sampai bertemu lagi di sana ". ucap Zian seraya mengecup dahi Tiara dan memeluknya sesaat.


" Iya,, kakak juga hati-hati ya". Zian pun turun dari kapal yang perlahan membawa pergi belahan jiwanya.


\*\*\*\*\*