
Yuna meletakkan gelas berisi air hangat di atas meja. Kemudian, ia melangkah mendekati Leo, menyentuh punggung suaminya lembut.
"Mandi dulu," ucapnya. Lalu dia menempatkan dirinya di samping Leo. Tangannya berpindah ke lengan Leo. Dia memperhatikan kemeja yang Leo pakai.
"Dia baru saja tidur?" tanya Leo tanpa mengubah posisinya, tangannya masih mengusap tangan mungil Baby Arai.
"Tidak, mungkin sebentar lagi juga bangun," jawab Yuna. Dia mengulurkan tangan satunya lagi untuk membuat Leo menghadap padanya. Jemarinya dengan pelan membuka kancing kemeja Leo satu persatu.
"Apa ada yang terjadi?" tanyanya saat jemarinya telah selesai membuka semua kancing kemeja Leo. Dia sadar ada sesuatu. Leo mengirim pesan jika ia akan pulang terlambat lalu Leo kembali hanya memakai kemeja, Yuna tahu itu pasti karena suaminya membuang jasnya. Ia menunduk.
Leo menatapnya, mengusap pipi Yuna lembut. Membawa pandangan Yuna padanya. Dengan pelan ia berucap, "Aku bertemu dengan dia."
"Kiara?"
Leo mengangguk pelan. Tangannya masih mengusap pipi Yuna.
"Tidak terjadi apa-apa," kata Leo. Yuna mengangguk. Tidak terjadi apa-apa. Gumamnya menirukan ucapan Leo. Leo pulang terlambat untuk menemui Kiara, batin Yuna tersakiti membayangkan Leo yang menemui Kiara.
"Hmm. Mandi," ucapnya dan membuka kemeja Leo. Tubuh atletis yang sangat seksi itu terekspos dengan nyata.
"Mandikan aku," jawab Leo dengan manja. Dia mengerucutkan bibirnya dengan imut. Kedua tangannya memeluk pinggang Yuna.
"Males," jawab Yuna kesal. "Kau pulang terlambat karena menemui mantan cantikmu itu," kini Yuna yang mengerucutkan bibirnya. Dia kesal. Leo tersenyum dan mencubit pipi Yuna.
"Ya, kita berbicara empat mata," ucap Leo dengan sengaja. Mata Yuna langsung melebar mendengar itu. Kedua tangannya mendorong tubuh Leo. Tapi pelukan Leo tidak mampu untuk melepaskan dirinya. Yuna kesal setengah mati, dia memukul dada Leo, dada bidang yang tak tertutup oleh apapun. Leo terkekeh dan menangkap tangan Yuna.
"Lepaskan, jangan menyentuh ku," mata Yuna tajam menatap Leo. "Kenapa kau ingat rumah? Kenapa tidak kau habiskan saja waktumu bersamanya," mulut terampil yang bersiap untuk mengomel itu terdiam saat bibirnya terkunci oleh kecupan Leo.
"Aku mengirimnya ke pulau terpencil," ucap Leo segera setelah melepaskan kecupannya.
Yuna mengerutkan keningnya, "Mengirim dia ke pulau terpencil?" tanyanya mengulangi ucapan Leo.
"Ya, agar dia tidak lagi mengganggu mu," jawab Leo.
Yuna langsung melingkarkan tangannya di leher Leo. "Kau terbaik sayang," ucapnya dengan senyum.
"Tentu saja," jawab Leo. "Beri aku ciuman," Leo memonyongkan bibirnya untuk meminta hadiah dari Yuna. Yuna dengan patuh menurutinya. Kakinya naik di atas kaki Leo. Dia membuat kecupan mesra di bibir suaminya.
"Tapi dia tidak akan kenapa-kenapa kan?" tanya Yuna. Tiba-tiba dia merasa bersalah.
"Kenapa-kenapa bagaimana?"
"Dia tetap aman kan disana? Jangan biarkan dia kenapa-napa. Pastikan dia makan dengan benar. Aku tahu dia jahat padaku tapi aku tidak ingin dia menderita. Cukup jauhkan dia dari kehidupan kita tanpa menghancurkan hidupnya," ujar Yuna. Dia menatap Leo. Wajah mereka masih sangat dekat.
"Hmmm sayang. Kenapa kau begitu baik," Leo mematuk bibir Yuna lagi. Bibir merah muda itu sudah menjadi candu untuknya, hingga dia ingin terus menerus menikmatinya.
"Mandi dulu, nanti jika Baby Arai bangun, kau bisa langsung menggendongnya," ucap Yuna. Dia melepaskan pelukannya lalu melangkah menuju kamar mandi. Dia menyiapkan air hangat untuk Leo.
____________
"Mau kemana lagi Nona?" tawar Vano setelah mereka menghabiskan ice cream.
"Bagaimana jika kita bermain di Mall,"
"Ok," Vano menyetujui. Dia sedikit menunduk untuk mencium aroma tubuhnya sendiri. "Kita pulang dulu," ujarnya. "Aku harus mandi dan ganti baju dulu," lanjutnya memberi alasan. Neva mengangguk menyetujui. Sebenarnya, dia juga harus membersihkan dirinya bukan? Batin Neva.
"Hei kenapa banyak sekali?" Neva bertanya dengan bingung.
"Ini bahkan kurang banyak. Kamu mau pilih yang mana lagi?" jawab Vano sekaligus bertanya.
"Satu saja cukup," Neva menatap wajah Vano.
Dia memperlihatkan satu baju yang dia pilih.
"Baju-baju ini bukan untuk kau bawa pulang. Tapi untuk di rumah ku," jelas Vano.
"Apa?" mata Neva melotot. "Tidak perlu. Kenapa harus menyimpan bajuku di rumah mu."
"Contohnya seperti sekarang ini. Tidak usah membantah, kau akan membutuhkannya," Vano menjawab dengan rendah. Dia membawa satu baju yang Neva pilih. Dan selebihnya meminta pelayan untuk membungkus semua baju keluaran terbaru yang butik mereka miliki. Dia meninggalkan alamatnya dan meminta baju-baju itu di kirim.
"Padahal itu tidak perlu," ucap Neva. Mobil mereka sudah meninggal butik.
"Perlu," tukas Vano. "Aku akan menyimpan baju mu satu lemari dengan bajuku," lanjutnya. Mendengar itu, Neva tersenyum lebar dengan rona di kedua pipinya.
Tak lama, mereka berdua sampai.
Asisten rumah tangga memberi tahu Vano bahwa Tuan besar dan Nyonya besar sedang tidak ada dirumah.
Vano menemani Neva duduk di ruang tengah sebentar. Kemudian, mengajak Neva untuk ikut naik keatas.
"Aku ... disini saja," tolak Neva.
"Tapi kau juga harus mandi," ucap Vano. Neva diam sebentar untuk memikirkannya.
"Kamar mandi tamu ada di atas?" tanyanya kemudian.
Vano menggeleng, "Mandi di kamar mandi kamar ku," jawab Vano yang disambut pukulan tangan Neva di lengannya.
"Sembarangan, tidak mau," tolak Neva.
"Hanya mandi saja. Aku cowok baik-baik, okey. Jangan berpikir yang bukan-bukan," Vano mengacak-acak rambut Neva dengan gemas. Dia beranjak lalu meraih tangan Neva. "Ayo," ajaknya. Dia membawa Neva ke kamarnya.
Dengan degupan jantung yang berdebar kencang, ia mengikuti langkah Vano. Ketika tangan Vano mengulur dan membuka pintu kamarnya, Neva sedikit menarik tangannya dari genggaman Vano.
"Tidak apa-apa," ucap Vano meyakinkannya. Kaki kanan Neva menginjak lantai pertama kamar Vano. Kemudian, dia ikut masuk. Jantungnya berdegup kian cepat, matanya memperhatikan ruangan luas dan rapi. Apakah semua cowok rapi seperti ini? Batinnya, karena kamar kakaknya juga sangat rapi tanpa ada pajangan aneh-aneh yang menempel di dinding. Itu berbeda dengan dirinya yang memiliki banyak pajangan di dinding.
Tanpa sadar, tangannya menggenggam jemari Vano dengan kuat. Dia sedikit takut sebenarnya. Ini adalah pertama kalinya dia masuk ke kamar cowok selain kakaknya.
Vano nutup pintu kamar.
__________
Catatan Penulis 🥰
Terima kasih Sahabat Sebenarnya Cinta 💖 yang masih dengan sabar menunggu kelanjutan kisah ini 🥰 Padamu. Luv luv.
Jangan lupa like koment ya kawan tersayang 🥰
Bersambung .....