Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 153_Kotak Kado


Mama melambai pada putrinya yang baru saja pergi bersama Vano. Hmm Mama jadi merasa kesepian. Pesawat Papa akan mendarat pukul 22.00 nanti, tidak mungkin menghubungi Leo. Mama akhirnya membuat panggilan Video pada Dimas.


Neva menunduk sepanjang perjalanan, dia merasa sangat grogi dan bahkan jantungnya berdetak dengan cepat, tangannya menjadi terasa sangat dingin. Vano meliriknya dan tidak mengucapkan apa-apa, dia juga diam sepanjang perjalanan.


"Selamat malam Boss," sapa petugas bioskop dan beberapa karyawan yang dia lewati. Neva semakin menundukkan wajahnya, dia lupa jika ini adalah Mall milik Vano. Neva mengurangi langkahnya agar tidak jalan bersebelahan dengan Vano, namun tangan Vano segera meraih tangannya dan membuatnya tetap berjalan di sebelahnya. Debaran jantung Neva semakin menjadi, dia menunduk dan tersenyum dalam diam. Dia... merasa sangat bahagia.


Vano berjalan dengan menggandeng tangan Neva, dan satu tangannya lagi masuk kedalam saku jaketnya.


Mereka masuk ke dalam bioskop dan sama sekali tidak ada orang disana. Tentu saja... Nyonya Mahaeswara telah mengatur semuanya. Vano tidak kaget dengan ini, tapi tidak dengan Neva. Dia semakin grogi dan jantungnya bahkan hampir meledak. Ia tidak menyangka jika hanya akan ada dia dan Vano.


"Kau mau duduk dimana?" tanya Vano. Dia melepas genggaman tangannya. Neva menunjuk salah satu tempat di tengah. Dan mereka duduk bersebelahan di situ. Tak lama... ada empat pegawai yang masuk dengan membawa minuman, cemilan, cake dan bahkan buket bunga. Vano tertawa kecil melihat buket bunga itu. Mamanya sungguh luar biasa.


"Ambillah," ucap Vano setelah empat pegawai itu meninggalkan area.


"Ini buket bunga dari?" tanya Neva, tangannya membolak-balikkan buket bunga ditangannya.


"Dari seseorang yang juga memberi mu tiket." jawab Vano. Neva mengangguk dan menaruh buket bunga di bangku sebelahnya. Buket bunga ini berarti dari Nyonya Mahaeswara dan bukan dari Vano, dia tidak mau menerimanya.


Film romantis mulai di putar. Vano tidak memperhatikannya. Pun dengan Neva, dia juga tidak memperhatikannya.


"Apa kau mau memakai selimut?" tanya Vano memulai. Upss pertanyaan bodoh, makinya pada diri sendiri.


"Tidak, aku tidak merasa dingin," jawab Neva kaku. Vano mengangguk.


"Apa aku membuat mu tidak nyaman?"


"Hmm?? tidak." jawabnya sedikit gugup karena Vano menatapnya.


"Bagaimana kabar seseorang yang kau sukai? Apa kau masih menyukainya dengan diam-diam?"


"Hu'um," Neva mengangguk. "Tapi sepertinya, aku menyerah. Karena ternyata dia sudah punya pacar heheee."


"Uuhh, kasihan adik kecilnya Kakak..." Vano menatapnya dan mengusap rambutnya pelan.


"Hahaa... Kakak, karena aku patah hati, kau harus mentraktir ku ice cream," dibawah cahaya lampu yang redup Neva menatapnya dengan sayu.


"Tentu. Setelah ini, aku akan mentraktir mu ice cream."


"Bagaimana dengan pacar Kakak? Apa dia tidak marah karena Kakak menemani ku?" Neva menunduk ketika menanyakan ini.


"Aku belum punya pacar."


"Dasar Playboy...," Neva tertawa kecil dan mengangkat wajahnya, ia kembali menatap Vano. "Aku melihat Kakak bersama gadis cantik di Cafe, dia sangat cantik dengan matanya yang mirip orang Korea."


Vano terkekeh mendengar itu.


"Kau berdosa adik. Kakak mu bukan cowok playboy."


"Tapi aku melihat Kakak duduk bersama cewek itu, dan sekarang, Kakak bilang tidak punya pacar. Bukankah itu kelakuan playboy?"


"Hhaaaa... kau terlalu polos anak kecil. Duduk bersama bukan berarti pasangan bukan?"


"Iya, benar," ucap Neva. "Seperti kita saat ini, kita duduk berdua dan bahkan seperti kencan romantis tapi bukan pasangan, hahaaa..., sangat benar," lanjutnya.


Vano tersenyum tipis dan mengusap rambutnya dengan lembut. Tepat saat itu... layar besar itu memperlihatkan adegan ciuman yang penuh gairah. Upss... itu membuat wajah Vano dan Neva memerah dan menjadi canggung. Vano segera berpaling, begitu juga dengan Neva. Mereka saling memalingkan wajah.


****@****


Setelah menghabiskan tiga hari di New York. Kemudian, berlanjut ke Mesir. Mereka mengunjungi bangunan penuh cinta, Kuil Abu Simbel. Kuil yang di pahat dari tebing batu pasir ini adalah persembahan cinta Ramses ll untuk istrinya Nefertiti.


"Sayang, apa kau tahu kenapa Ramses II membangun patung Nefertiti yang tingginya sejajar dengan dirinya?" Yuna menatap bangunan megah di hadapannya. Kepalanya mendongak memperhatikan patung yang menjulang tinggi, matanya di penuhi kekaguman menyaksikan bangunan yang sangat luar biasa ini.


"Karena Ramses II sangat mencintainya," jawab Leo. Tangannya memeluk pinggang Yuna.


Yuna mengangguk. "Hu'um, benar."


Tangan Leo berpindah dan mengusap rambutnya dengan lembut. "Cinta ku tak kalah besar dari Ramses II pada Nefertiti. Jika kau mau... aku akan meletakkan dunia di pangkuan mu."


Bibir Yuna langsung melengkung mendengar ini, dia tersenyum dengan indah. Dengan pelan, ia membawa pandangannya pada Leo.


"Tuan suami, sejak kapan kau berubah menjadi puitis?"


"Sejak, aku jatuh cinta pada mu," jawabnya membalas pandangan Yuna. Yuna segera berpaling dari pandangan mata Leo, sorot tajam matanya yang penuh cinta membuat jantungnya berdebar.


"Hentikan, kau hampir membuat jantung ku meledak," ucapnya dengan pipi yang merona. Kemudian, Leo meraih tangannya dan membawanya masuk kedalam kuil.


Malam hari, pukul 18.45 waktu Mesir.


"Apa ini?" tanya Yuna setelah menerima kotak kado dari Leo. Mereka duduk berhadapan di atas ranjang raksasa bersprei putih.


"Kau akan mengetahui isinya setelah kau membukanya," jawab Leo dengan senyum misterius. Yuna menaikkan alisnya. Tangannya dengan pelan menarik pita berwarna merah dan kemudian membuka kotak yang ada di pangkuannya.


Matanya membulat, dia segera mengambil sesuatu yang berada di kotak kado itu. Ini... membuat otaknya membeku, wajahnya memerah dan tubuhnya sedikit memanas. Dia memperhatikan sesuatu di tangannya, OMG... lingerie seksi bunny, si kelinci lucu. Dia memejamkan matanya menahan malu dan kemudian mengalihkan pandangannya pada Leo yang menatapnya dengan senyum dan pandangan yang merayu.


"Kau ingin aku memakai ini?" tanyanya sangat malu dengan kelinci lucu di tangannya. Leo mengangguk dengan senyum menggoda. "Mimpi saja. Otak mu mulai liar Tuan suami," ucap Yuna memelototinya dan langsung mengembalikan kelinci lucu itu ke tempat semula. Dia menutupnya dengan rapat dan bahkan kembali mengikat pita merah itu.


"Sayang, kau pasti akan sangat seksi memakai itu," Leo mendekatinya.


"Aku bilang singkirkan otak liar mu itu, aku tidak akan memakainya," Yuna menjawab dengan malu dan mendorong Leo untuk menjauh darinya.


"Sayang...," Leo menyingkirkan kotak itu kesamping dan ia meletakkan kepalanya dipangkuan Yuna. "Ayolah...," pupil matanya menatap Yuna dengan imut


"Jangan merayu," jawabnya masih dengan malu, wajahnya berubah menjadi sangat merah. Dia segera memalingkan wajahnya dari tatapan mata imut itu. Leo masih saja merayunya, dia membawa Yuna pada pandangannya namun Yuna segera berpaling. Ia meraih tangan Yuna dan menciumnya namun Yuna segera menariknya.


"Aku tidak akan memakainya. Kau harus segera menyingkirkan otak liar mu itu," jawab Yuna pasti dan jelas.


"Okey, aku tidak bisa memaksa mu," ucap Leo dengan nada kecewa, bibirnya berkerut dan menjadi sangat imut. Dia menyingkir dari paha Yuna kemudian menjatuhkan dirinya di bantal, ia membelakangi Yuna dan memeluk guling. Dia selalu menjadi imut ketika bertingkah seperti itu. Yuna menjadi sangat gemas padanya.


"Sayang, ini masih sore lho. Apa kau tidak berniat mengajak ku jalan-jalan dan makan malam di luar?" Yuna menyentuh punggungnya dengan pelan.


"Okey, aku cuci muka dulu," jawabnya datar dan segera bangun. Yuna menggelengkan kepalanya dan tersenyum lucu melihatnya. Dia segera berdiri dan menyimpan kotak itu.