Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 291_Ada Yang Tidak Sabar


"Emm, kapan kalian berencana untuk menikah? Jangan lama-lama ya," gurau Yuna. "Apalagi sepertinya ...." Yuna menggantung ucapannya dengan tawa yang sengaja ia tahan. Ia mengingat adegan ciuman itu.


"Sepertinya apa?" Vano menatapnya dari samping tapi kemudian ia kembali memperhatikan Baby Arai. Ia menjadi malu jika mengingat Yuna memergoki ciumannya dengan Neva.


"Tidak ada," Yuna menggeleng dengan tawa ringan.


"Aku harus membujuknya dulu agar dia mau segera menikah dengan ku," jawab Vano semangat. Tangannya masih menggenggam lembut tangan Baby Arai. Mata jernih Baby Arai berkedip-kedip dengan lembut.


"Kau raja gombal, aku yakin rayuanmu pasti berhasil," Yuna terkekeh.


"Tentu saja, itu tidak diragukan lagi."


"Hahaaa kau masih selalu PeDe ya, Vano."


"Cowok harus selalu PeDe dong, Yuna," Vano tertawa ringan. Kemudian sebuah suara menyapa mereka berdua.


"Sayang," panggilannya dengan lembut. Yuna dan Vano langsung menoleh ke asal suara. Mama berdiri di belakang mereka berdua. "Aku mencarimu, ternyata kalian disini," ujarnya seraya melangkah ke arah Yuna. Beliau langsung membawa pandangannya pada Baby Arai yang masih menggerakkan kedua tangannya. Vano mengikuti gerakan tangan mungil itu. Namun kemudian, ia melepaskannya.


"Aku tampan kan paman," seru Mama membuat suaranya menjadi kecil. Beliau menunduk dan mencium Baby Arai.


"Sangat tampan," jawab Vano. Kemudian tak lama Leo datang dan berdiri di samping Yuna, ia sedikit melihat ke arah Vano. Lalu tangannya mengusap rambut Yuna pelan.


"Apa aku membuat mu menunggu terlalu lama?" Leo bertanya dengan memperhatikan mamanya yang dengan gemas mencium Baby Arai. Dalam hati ia bersyukur, bahwa ada Mama saat Yuna bertemu dengan Vano. Dia sudah sangat berusaha menekan rasa cemburunya, tetapi meski sedikit rasa itu masih ada, terlebih saat Yuna bertemu langsung dengan Vano tanpa dirinya. Sekelebat mimpinya malam itu hadir dipikirannya, mimpi yang membuatnya susah untuk bernafas. Ketakutan terbesar dalam dirinya adalah kehilangan istrinya.


"Tidak," jawab Yuna. Dia menoleh ke arah Leo dan tersenyum. Leo menatap kedalam matanya, menyampaikan sesuatu yang tidak bisa ia sampaikan lewat bibirnya. Ia sendiri tidak tahu rasa yang ada dalam hatinya. Ia sungguh rela, sungguh menerima Vano masuk dalam keluarga besarnya tetapi dalam dasar hati yang terdalam rasa takut dan khawatir itu masih ada, dia sudah sangat berusaha untuk melawan rasa itu tetapi sungguh itu diluar kemampuannya untuk menghilangkan rasa itu.


Tangan kanan Yuna terangkat untuk mengambil tangan Leo yang masih mengusap rambutnya. Ia menggenggam tangan itu lalu menciumnya dengan lembut. Ia tersenyum dan membalas tatapan Leo padanya. Senyuman dan tatapan mata yang seolah bilang, 'Aku milikmu.' Itu cukup menjawab arti tatapan mata Leo padanya.


Leo membalas genggaman tangan Yuna.


"Sini biar Baby Arai pulang bareng Mama," ujar Mama sambil mengambil Baby Arai dari gendongan Yuna. Yuna memberikan gendongannya pada Mama.


"Sepertinya dia bakal begadang malam ini Ma," kata Yuna. "Dia baru saja bangun karena diganggu Daddy," lanjut Yuna mengadu. Dia menatap Leo. Leo terkekeh. Tangan Leo terangkat dan beralih ke pinggang Yuna.


"Umm, tidak masalah. Oma akan menemanimu begadang sayang," Mama berkata dengan gemas pada Baby Arai. "Paman, apa kau juga mau menemaniku?" Mama bertanya pada Vano. Vano tersenyum lebar dan kembali mengusap tangan mungil milik Baby Arai.


"Bagaimana jika paman bawa pulang saja kau nak, sama Tante Neva," jawab Vano dengan senyum ringan.


Mama tertawa kecil mendengar jawaban Vano. "Oo ... oo, sepertinya ada yang tidak sabar," ledak Mama.


"Hei, hei, sepertinya seru sekali, pada ngobrolin apa diluar," Neva berkata setelah dia gabung. Ia berdiri di samping Vano. Vano langsung menoleh ke arahnya, menatapnya dan tersenyum saat Neva juga menoleh ke arahnya. Mata mereka bertemu dengan senyum manis yang menghiasi bibir mereka.


"Ma titip Baby Arai," ucap Leo kemudian. Yuna langsung melihat Leo dengan tajam. Pandangan tanya, apa maksudnya? Tapi itu tidak sampai ia tanyakan karena Leo langsung membawanya ke mobil.


Mama terkekeh melihat itu. Lalu mencium cucunya dengan gemas. "Biarkan Daddy dan Mommy jadi remaja lagi, si ganteng sana Oma dulu ya sayang, muach muach," mama berkata dengan gemas pada cucunya.


"Kalian pulang bersama?" Mama bertanya pada Vano dan Neva. Vano segera menjawabnya dengan anggukan.


"Iya. Aku akan mengantarnya pulang Ma," jawab Vano. Emm, panggilan yang manis untuk calon Mama mertua dan calon menantu. Saat ini, rombongan keluarga Mahaeswara memang sudah kembali, hanya tinggal Vano saja yang masih tertinggal.


"Bawa pulang kerumah Mama, jangan kerumah mu," Mama bergurau lagi. Neva dan Vano tertawa mendengar Mama yang lucu meledek mereka.


______


Di dalam mobil Leo.


"Emmm, aku juga tidak tahu," jawabnya, ia mengangkat kedua bahunya.


"Apa?" Mata Yuna sedikit melotot karena ternyata tuan suami tidak memiliki tujuan.


"Kau mau kemana?" Leo balas bertanya.


"Emmm," Yuna menatap Leo dan berfikir sejenak. "Bagaimana jika kita nonton? Lalu setelah itu kita ke karaoke?" usul Yuna yang langsung disetujui oleh Tuan suami. Leo memasang earphone bluetooth di telinganya lalu menghubungi seseorang.


"Kau memesan tiket nonton dan satu ruangan karaoke?" Yuna bertanya saat Leo menyudahi panggilannya pada seseorang.


"Tidak," Leo santai menjawabnya. Yuna mengerucutkan bibirnya lucu. Dia kesal. Tangannya mengulur dan memukul bahu Leo.


"Jangan bilang kau membooking satu tempat hanya untuk kita?"


Leo terkekeh dan langsung mencubit pipi Yuna.


"Benar," jawabnya. Yuna langsung memelototinya dengan tajam.


"Astaga ... kau selalu begitu. Padahal kau tidak perlu begitu, kau hanya perlu memesan dua tiket nonton dan satu ruangan karaoke, cukup. Kenapa harus membooking satu gedung. Oh ... aku kembali gila dengan caramu membuang uang. Demi Upin Ipin yang tidak lulus-lulus sekolah aku tidak setuju dengan caramu."


Leo tertawa mendengar omelan terampil sang istri. Keahlian Yuna satu ini tidak bisa diragukan lagi. Bibirnya sangat lincah saat mengomel dan itu membuat Leo tertawa karena dalam omelannya, ada saja kata lucu yang sangat menggelikan.


"Itu hanya membooking sebuah tempat, tidak berlebihan," jawab Leo yang membuat Yuna semakin kesal.


"Harus berapa kali aku bilang, tidak harus membooking satu gedung, seperlunya saja ...."


"Berapa kali aku bilang, jika uangku tidak akan habis hanya untuk membooking gedung saja. Aku bahkan bisa membeli sebuah pulau jika kau mau," Leo langsung menyahut Yuna. Yuna tidak pernah meminta sesuatu yang berlebih padanya, jika bukan dia yang berinisiatif sendiri maka kapan wanitanya akan menikmati kerja kerasnya. Tangan Yuna mengulur dan kembali memukul bahu Leo.


"Jangan pamerkan uang mu, itu menyebalkan. Bagaimana jika suatu saat nanti kau bangkrut?"


"Ada istri ku yang kaya raya," jawab Leo dengan tawa. Yuna semakin memukul bahunya. "Bukankah tabunganmu sangat banyak sayang?" Leo menggodanya.


"Ya, sangat banyak tapi aku tidak akan membaginya untuk mu," sahut Yuna sombong.


Leo tertawa lagi, "Demi apa?"


"Demikian, sekian dan terima kasih. Jangan berdebat lagi," jawab Yuna cepat. Leo tertawa terbahak-bahak. Tak lama, mobil Leo parkir di depan lobby utama. Sudah ada yang menunggunya di sana. Leo keluar terlebih dahulu lalu membukakan pintu untuk Yuna. Mereka bergandengan tangan menuju bioskop.


Yuna tersenyum dengan bahagia. Dulu dia pernah mengenyam tangan Leo seperti ini tetapi genggaman tangan itu terlepas saat mereka bertemu dengan seorang gadis berlesung pipi. Saat ini, mereka terus bergandengan tanpa seorang pun yang mampu melepasnya.


____


Catatan Penulis πŸ₯°


Jangan lupa jempolnya di goyang ya kawan.


Like koment gratis mbeb... 😘😘


Vote juga Yach yang punya poin berlebih.


Terima kasih semuanya untuk cinta kalian pada novel ini. Ilupyu full...


Lanjuuut ... Kalian luar biasa πŸ₯°πŸ™