Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 232_Namaku


"Ketika mimpi mu yang begitu indah tak pernah terwujud, ya sudahlah.


Saat kau berlari mengejar angan mu dan tak pernah sampai ya sudahlah."


"Albar," Alea memanggil Albar. Dia menatap Albar dari kaca spion dan itu artinya mata mereka bertemu.


"Ya," jawab Albar. Dia mengalihkan pandangannya sebentar lalu kembali menatap Alea dari kaca spion lagi.


"Apa kau masih dalam waktu kerja saat ini?" Tanya Alea rendah.


"Tidak," jawab Albar. Kemudian dia melanjutkan, "Sebenarnya jam kerja ku berakhir ketika Tuan muda Leo kembali tapi jika ada beberapa hal itu tidak berlaku. Akhir waktu kerja saat ini adalah setelah mengantar mu kembali," jelasnya.


Alea mengangguk, "Karena kau sudah tidak dalam waktu kerja, bagaimana jika kita muter-muter saja? Mmm, mengelilingi Ibu Kota malam hari," ajak Alea. "Apa kau keberatan?" Tanyanya.


"Ah, tentu saja tidak. Itu ide bagus. Berkeliling Ibu Kota malam hari," jawab Albar.


Alea tersenyum mendengar jawaban Albar.


"Terima kasih Albar," ucapnya yang dijawab anggukan oleh Albar.


Mobil melaju sedang, melewati jalanan Ibu Kota yang masih sedikit padat. Musik masih berputar lewat audio. Lagu-lagu yang penuh semangat dan motivasi.


Albar tidak tahu apa yang terjadi pada Alea, dia hanya menangkap ekspresi sedih diwajah Alea. Tentang patah hati? Mungkin, pikirnya.


Alea menurunkan kaca kaca separo. Kemudian, dia sedikit melongokkan kepalanya keluar. Merasakan terpaan angin malam yang dingin, merasakan aroma-aroma jalanan Ibu Kota. Matanya menyaksikan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Namun terkadang, dia memejamkan matanya. Membayangkan betapa cintanya tidak pernah bermuara dengan baik pada hidupnya. Betapa Dewa Amor tidak pernah berpihak pada dirinya.


"Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan, memaksa kita memendam kepedihan," Lagu lama dari Tere ft Pass Band mengalun dari audio, menemani mereka yang saat ini sibuk dengan pikiran masing-masing. Lagu yang seolah memberi semangat.


Alea menarik kepalanya untuk kembali kedalam dan dia menaikkan kembali kaca jendela mobil.


Dia menatap Albar dari kaca spion. Lalu dia ikut bernyanyi dengan semangat.


"Hidup ini hanya kepingan yang terasing di lautan memaksa kita, memendam kepedihan," Suara Alea sedikit serak menyanyikan lagu itu. Dia mengajak Albar untuk ikut bernyanyi lalu mereka berdua saling bernyanyi dan berteriak di dalam mobil. Kemudian, tertawa bersama.


Mobil masih melaju dengan sedang. Saat ini, mobil itu melewati sebuah gedung pencakar langit yang begitu megah.


"Ini kantor milik Tuan muda," kata Albar. Dia mengurangi laju kendaraannya.


Alea mengangguk dan menyaksikan gedung itu.


"Apa Tuan muda Lee galak pada karyawannya?" Tanya Alea.


"Hahaha, kalau itu, aku tidak tahu. Aku supir pribadi Tuan muda tapi semenjak Nyonya muda hamil, aku ditugaskan untuk selalu mengawal Nyonya muda," jawab Albar menjelaskan.


"Tuan muda Lee sangat mencintai Nyonya muda, aku bisa melihatnya betapa Tuan muda Lee begitu mencintainya," ucap Alea yang disambut anggukan kepala oleh Albar. Dia setuju.


"Tentang itu, jangan diragukan lagi. Dunia Tuan muda Leo, sepertinya hanya untuk Nyonya muda," jawab Albar. "Jika nanti, aku memiliki istri, maka aku akan belajar sifat Tuan muda Leo. Dia tampan dan miliader tetapi begitu setia," lanjut Albar.


"Kamu belum menikah?" Tanya Alea.


Albar sedikit kesal mendengar pertanyaan itu.


"Apakah wajahku terlihat sudah menikah?" Tanyanya dengan ekspresi muram diwajahnya.


"Hahaha, tidak. Aku hanya memastikan saja," jawab Alea. "Kau masih terlihat muda kok," lanjut Alea menghiburnya.


Albar tertawa kecil mendengar jawaban Alea.


Sementara disana. Di rumah Tuan muda Lee. Di taman samping kolam renang.


Leo mengajak Yuna untuk masuk ke dalam karena hari semakin malam dan semakin dingin.


"Kak Lee, aku pamit," ujar Neva. Dia mencium pipi Leo dan Yuna secara bergantian, lalu mencium perut Yuna dengan lembut dan penuh kasih. "Selamat malam baby, i love you," ucapnya.


Kemudian, dia kembali berdiri di samping Vano.


"Aku pamit Leo, Yuna," pamit Vano pada tuan rumah, "Selamat malam," dia membungkukkan sedikit badannya.


"Selamat malam, Vano," jawab Yuna.


Leo menatap Vano, kemudian beralih menatap Neva, memperhatikan wajah adiknya yang berseri dan bahagia, lalu dia kembali menatap Vano lagi.


"Ku harap, kau menjaga adikku dengan baik," ucapnya pada Vano. Dia ingin Neva bahagia, sebahagia yang dia inginkan. Melewati hari-hari penuh dengan cinta dan senyuman.


Vano mengangguk dengan pasti, "Pasti," Jawabanya. Dia menoleh ke arah Neva dan meraih tangannya. Menggenggam jemarinya. "Aku pasti akan menjaganya dengan baik, sangat baik. Sekali lagi terima kasih untuk restu mu Leo," lanjut Vano. Leo mengangguk dengan senyum. Tangannya terangkat dan mengusap rambut Neva dengan pelan.


"Sudah larut, segeralah kembali," ucapnya.


Kemudian, Vano dan Neva masuk ke dalam mobil.


"Bye, bye," Neva melambai ketika mobil Vano mulai menyala. Perlahan, mobil itu menjauh dari rumah Leo.


Vano melihat jam di pergelangan tangannya. Pukul 23.16 benar-benar sudah larut.


"Apa jam malam seperti ini Om dan Tante masih terjaga?" Tanya Vano.


"Emm? Tidak pasti. Terkadang Papa bisa gila kerja dan akan tidur sangat larut," jawab Neva.


"Ku harap malam ini aku bisa menemui beliau," kata Vano dengan harapan.


"Ini sudah larut. Lebih baik Kak Van .... "


"Sayang ini sudah tidak ada mereka lho," Vano memotong ucapan Neva. "Kenapa masih memanggil ku Kakak?" Lanjutnya. Kakak? Itu seperti panggilan untuk Leo.


Wajah Neva kembali memerah dengan panggilan itu. Ternyata seperti ini jatuh cinta yang indah itu, ternyata seperti ini rasanya ketika sebuah hubungan itu dimulai. Saat bibir itu menyebutnya dengan kata sayang maka bunga di hatinya akan bermekaran, maka wajah yang cantik itu semakin merona. Hanya sebuah panggilan sayang dari bibir itu, mampu membuat jantungnya meronta.


"Itu bukan karena ada mereka atua tidak ada mereka, itu karena aku belum terbiasa," jawabnya pelan dengan malu.


"Oke, aku akan membuat mu terbiasa," sahut Vano. Dia tidak akan memaksa lagi. "Jadi kenapa kau memalingkan wajah mu," tanya Vano. Dia menoleh ke arah Neva sebentar sebelum kembali fokus memperhatikan jalanan.


"Tidak ada, hanya saja aku takut jika wajah ku kusam," jawab Neva memberi alasan. Padahal sebenarnya dia berpaling karena terlalu tersipu dengan panggilan itu, karena jantungnya berdebar kencang.


Vano terkekeh, "Memang nya kenapa jika wajah mu kusam?" Tanyanya.


"Hmm, jika wajah ku kusam, aku takut kau kau berubah pikiran untuk menjadikan ku pacar," jawab Neva rendah. Dia menggigit bibir bawahnya. Jawabannya membuat Vano tertawa ringan. Dia melepaskan tangan sebelahnya dan kemudian meraih tangan Neva. Menggenggamnya dengan lembut.


Papa masih terjaga saat mereka sampai. Papa sudah tahu semuanya tentang Neva dan Vano. Mama yang menceritakannya tadi. Papa memperhatikan layar kecil di ruang kerjanya.


"Terima kasih sudah mengantarku, Kak," kata Neva. Dia melepas sabuk pengamannya.


"Apa kau tidak berniat menawari ku untuk masuk?" tanya Vano.


"Bukan tidak berniat tapi ini sudah larut, Kak Vano harus segera istirahat," jawab Neva dia menoleh ke arah Vano.


"Hm, okey," jawab Vano. "Kau juga harus segera istirahat," kata Vano. Neva mengangguk. Tangan Vano mengulur dan mengusap pipi Neva dengan lembut, "Selamat malam sayang," ucap Vano.


Neva kembali tersipu tetapi saat ini dia tidak berpaling, mereka saling menatap. Rasanya hari ini tidak ingin cepat berlalu. Rasanya ingin bersama sepanjang waktu.


"Selamat malam," jawab Neva pelan. Kemudian, dia membuka pintu mobil dan keluar. "Hati-hati dijalan," pesannya pada Vano.


"Siap," jawab Vano dengan senyum. "Masuklah," kata Vano.


"Tidak, aku menunggu Kak Vano kembali," jawab Neva.


"Aku menunggu kau masuk," kata Vano.


"Aku akan masuk nanti setelah Kak Vano kembali," jawab Neva.


"Okey, ayo ku antar masuk ke dalam," ucap Vano dan itu membuat Neva kalah. Mengantar kedalam? Bertemu papa dalam waktu yang selarut ini? Lalu kapan Papa dan Vano akan beristirahat? Lebih baik tidak sekarang untuk bertemu.


"Baik, aku masuk kedalam," ujar Neva. Dengan berat dia membalik badannya dan melangkah untuk membuka pintu. Dia membukanya tetapi tidak masuk kedalam. Dia berdiri diambang pintu dan kemudian kembali membalik badannya. Dia tersenyum. "Pulanglah, aku sudah ada disini," ucapnya dengan sedikit mengeraskan suaranya. Vano tersenyum dan melambaikan tangannya.


Kemudian dia memutar balik mobilnya.


"Bye," Neva membalas melambaian Vano ketika mobil itu perlahan menjauh. Setelah mobil Vano keluar dari gerbang, Neva melangkah masuk dan menutup pintunya kembali.


Papa menyaksikannya dengan senyum. Putri kecilnya sekarang sudah remaja, putri kecil yang manja. Mungkin ini tidak akan lama lagi, si putri kecil akan dibawa dari rumah ini. Hmm, Papa menjadi memikirkan banyak hal. Beliau berpikir bahwa selama ini dia terlalu sibuk hingga waktu untuk anak-anaknya terlalu sedikit. Neva, rasanya baru kemarin gadis itu manja dalam pangkuannya dan sekarang mungkin dia akan segera meninggalkan rumah ini. Leo, rasanya juga baru kemarin putra tampannya itu mengadu dan memprotesnya karena dihari libur Papa selalu diluar negeri, dan saat ini putranya itu tengah menantikan kelahiran buah cintanya. Dimas, rasanya juga baru kemarin, Dimas bercerita tentang betapa menyebalkannya kemacetan di Ibu Kota. Dan saat ini, dia telah mandiri di pulau seberang. Papa merasa telah melewatkan begitu banyak hal tentang anak-anak, beliau merasa telah melewatkan begitu banyak waktu untuk bekerja dan bekerja.


Mulai saat ini, beliau akan memperbaiki semuanya. Beliau akan lebih sering di rumah bersama istrinya dan anak-anaknya.


__Ditempat lain di rumah Tuan muda Lee.


Leo baru saja membuat susu. Dia membawanya ke kamar. Tidak, ada Yuna, dia meletakkan susu coklat itu di atas meja.


"Sayang, apa kau didalam?" Tanyanya setelah mengetuk pelan pintu kamar mandi. Dia sudah bisa menebak jika Yuna berada di kamar mandi, tetapi dia hanya ingin memastikan saja.


"Iya," jawab Yuna dan dia membuka pintu lalu melangkah keluar.


"Susu coklat kesukaan mu sudah jadi," kata Leo. Yuna mengangguk dengan senyum. Kemudian, Leo membawanya ke sofa.


Setelah Yuna menghabiskan satu gelas susu coklat, Leo mengambil buku dan membacakannya sebuah dongeng. Buku-buku baru yang baru saja dia beli. Setelah selesai dengan dongengnya, Leo melakukan dialog mesra dengan baby nya, membisikkan kata cinta dan untaian doa untuk baby yang masih berada di dalam kandungan istrinya. Terkadang, pipinya menerima tendangan lembut dan itu membuat hatinya teramat bahagia.


"Sayang, dia semakin lincah," ucap Leo dengan tawa ringan penuh bahagia. Yuna mengangguk, tangannya terangkat dan mengusap rambut Leo.


"Sayang," panggilnya.


"Ya?" jawab Leo.


"Aku menjadi merasa sangat bersalah pada Alea," kata Yuna.


"Kenapa?" Tanya Leo. Sejujurnya dia tidak membahasnya tetapi dia tidak mungkin tidak mendengarkan Yuna.


Leo mengangkat Yuna untuk pindah ke ranjang, dia membaringkan tubuh Yuna dengan hati-hati. Kemudian, dia menyusul. Yuna tidur di atas lengannya, tangan kanannya memeluk Leo.


"Aku sempat cemburu pada dia karena melihat tatapan matanya pada mu, tapi ternyata itu hanya perasaan ku saja kan? Hhaaa konyol, kenapa aku menjadi pencemburu sekarang?" kata Yuna. Leo diam mendengarkannya. Tangannya mengusap rambut Yuna dengan halus. "Ternyata dia sudah punya pacar," lanjutnya.


Yuna mengingat nama yang Alea sebutkan, nama seseorang yang berada dihatinya. "Januar," Yuna melafalkan nama itu dalam bibirnya. Dia memeluk Leo. "Nama yang bagus," pujinya. "Bagaimana menurut mu?" Tanyanya pada Leo.


"Apanya?" Jawab Leo balik bertanya.


"Januar," jawab Yuna. "Keteguhan, kebijaksanaan, pengaruh dan kekuasaa" lanjutnya melafalkan arti dari mana itu.


"Kau suka dengan nama itu?" Tanya Leo. Dia mengusap lengan Yuna yang berada di perutnya.


"Biasa saja," jawab Yuna. Dia kemudian mendongak untuk menatap Leo. "Aku lebih suka nama Leo," ucapnya dengan pandangan mata penuh cinta. "Leo J Nugraha," lanjutnya. Kedua sudut bibir Leo terangkat. Dia menunduk dan mencium kening Yuna lembut.


"Apa kau pernah bertanya apa itu J dalam namaku?" Tanya Leo. Dia membalas tatapan mata Yuna padanya.


Yuna menggeleng, "Tidak," jawabnya. "Aku hanya berfikir jika nama dari keluarga Nugraha itu unik. Dimas A Nugraha, Leo J Nugraha dan Neva D Nugraha. Nama tengah kalian itu unik," kata Yuna menyampaikan pendapatnya.


"Ada arti dari singkatan itu," ucap Leo. Yuna sedikit menaikkan tubuh nya agar sejajar dengan Leo.


"Oh ya? Ada artinya? Jadi, nama tengah kalian adalah singkatan?" Tanyanya penuh dengan rasa penasaran. Unik dan ternyata dia mengetahui sesuatu yang unik lagi.


Leo mengangguk, "Ya, itu singkatan," jawab Leo.


"Hmm, apa arti J dalam nama mu?" Tanya Yuna dengan penasaran. Manik matanya menatap Leo penuh kasih.


"Januar," jawab Leo. Yuna membeku beberapa saat. Januar? Apa maksudnya ini? Januar adalah nama tengah Leo? Januar yang membuat Alea jatuh cinta, Januar yang saat ini ada di hati Alea. Apakah itu adalah Leo Januar suaminya?? Sungguhkah?


"Sayang jangan bercanda," ucap Yuna menatapnya. Matanya berkaca-kaca, dia tahu Leo berkata jujur, dia tahu Leo tidak bercanda tapi saat ini, dia berharap Leo sedang bercanda.


___


Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )


Up bonus untuk pembaca kesayangan.


Masih betah di rumah??


Nanas itu nggak pelit Up kok, selama inspirasi nya luber, ber ber ber. Dulu juga sering Up estafet. Lagi dan lagi. Itu tergantung semedinya dapet Ilham atau tidak hahaa.


Terima kasih untuk semuanya yang masih setia menunggu kisah ini. Kenapa kadang Upnya lama banget?? Lagi-lagi, Jawabanya adalah inspirasi, terkadang dia benar-benar tidak berpihak.


Ketika tangan dan hati ingin menulis tetapi otak membeku, itu bikin sesek dan kesel sendiri. Jadi mohon pengertiannya Yach kawan jika dilain hari atau yang kemarin-kemarin Upnya lama. Terima kasih untuk dukungannya. Saaaaayang kalian semua. Luv luv luv 🥰


Jan lupa jempolnya di goyang. okey. Like komen vote. Heheeee.


Terima kasih. Luv.