Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 209_Jangan Menghindariku 2


Ketika bibir itu saling bertemu dan menyampaikan sesuatu yang tidak bisa tersampaikan oleh kata-kata maka hanya degupan jantung yang menderu yang mampu merasakannya. Berada diketinggian 271,9 meter membuat angin terasa begitu dingin tetapi itu tergantikan dengan hangat ciuman dan pelukan ini.


"Jangan menghindari ku." ucap Vano setelah menyudahi ciumannya. Tangannya mengusap pipi Neva dengan hangat.


Neva menunduk, merasakan degupan pada jantungnya yang luar biasa dahsyat. Vano menciumnya? Hangat nafasnya masih sangat terasa di wajahnya, sentuhan lembut bibirnya masih membekas. Ini... kembali menyalakan pijar yang berusaha mati-matian untuk dia padamkan. Ini... kembali mengisi hatinya yang ingin dia kosongkan.


Vano menatapnya, menatap dia yang tertunduk di hadapannya. Di atas ketinggian 271,9 meter, begitu hening dan hanya ada terpaan angin malam yang dingin. Vano merengkuh tubuhnya dan membawa ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap rambut Neva dengan perhatian.


Mereka memahami, ini akan sulit. Mereka mengerti ini tidak akan mudah. Namun, saat ini jantung itu berdegup dengan seirama.


Beberapa menit mereka saling berpelukan, memahami apa yang baru saja terjadi. Memahami situasi yang indah tetapi penuh dengan rasa gelisah. Kemudian, mereka berdua duduk di atas gedung berlantai lima puluh.


Di ujung malam ini, mereka duduk berdampingan. Merasakan terpaan angin, melihat bintang dan rembulan yang seolah sedang memperhatikan mereka berdua.


Vano memasang earphone bluetooth pada telinganya dan dia memakaikan satu untuk Neva.


Alunan musik dan lagu yang merdu berbahasa Jepang langsung terdengar di telinga mereka.


Lagu yang kata Neva adalah lagu yang bagus. Lagu soundtrack film Doraemon.


Himawari no yakusaku.


Neva tersenyum mendengarnya dan semakin menyayat hatinya.


"Neva," panggil Vano pelan di keheningan malam.


"Hmm," jawab Neva tanpa membuka mulutnya. Dia masih mendengarkan lagu dari earphone yang terpasang di telinganya.


"Aku pernah bilang pada mu, bahwa.... apapun yang terjadi jangan pernah menghindari ku," ujar Vano. Neva tersenyum tipis dan mengangguk pelan mendengar itu. Dia tidak memberi jawaban, bibirnya malah ikut menyanyikan lagu yang tengah dia dengarkan.


"Soba ni iru koto nanigenai kono shunkan mo wasure wa shinai yo wasure wa shinai yo ( Semua momen kebersamaan kita ini jangan pernah lupakan )


Tabidachi no hi te wo furutoki, egao de irareru Youni. ( Agar ketika kepergian ku, kita bersalaman dengan wajah tersenyum )"


Vano menoleh ke arahnya. Tangannya mengulur dan meraih jemari Neva. Mengenggamnya dengan hangat.


"Jika kau pergi, kerena kau ingin pergi maka aku tidak akan mencegah mu tapi jika jika kau pergi karena menghindari ku maka aku akan mencegah mu," ujar Vano. Dia mengusap punggung telapak tangan Neva dengan ibu jarinya. Matanya memperhatikan bintang yang paling terang di atas langit. "Bisakah kau tetap tinggal?" Lanjutnya.


Neva mengambil nafasnya panjang. Dengan pelan, dia membawa kepalanya untuk bersandar di bahu Vano. Matanya menatap ke atas. Dia menyaksikan bintang yang paling terang di antara bintang-bintang yang lain.


"Maafkan aku," ucapnya. Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Vano semakin mengenggam jemari tangannya. Dia mengambil nafasnya dengan dalam dan membiarkannya sejenak.


__Di sana. Di rumah Tuan muda Lee. Pada malam yang sama. Yuna duduk di sofa di balkon kamarnya. Leo sedang mandi saat ini.


Yuna mengecek ponselnya dan membuka chatnya pada Vano. Dia harus kecewa karena chatnya belum terbaca oleh Vano.


"Vano, Leo sudah kembali. Kau harus segera mendapat restunya sebelum Neva benar-benar pergi. Semangat," isi pesan Yuna pada Vano. Yuna keluar dari chatnya dan kemudian menonton lagu artis idolanya di YouTube.


"Sayang, ini sudah malam. Kenapa di luar?" Leo berjalan menghampirinya. Yuna mendongak dan menghentikan Vidio dalam ponselnya.


"Hanya ingin menikmati angin malam," jawab Yuna. Leo tidak menjawabnya dan dia kembali masuk ke dalam, tapi tak lama, dia kembali dengan membawa selimut hangat. Dia duduk di samping Yuna dan dengan perhatian memakaikannya selimut.


"Terima kasih," ucap Yuna dengan senyum yang sangat manis. Leo langsung mencubit pipinya dengan gemas.


"Sayang," panggil Yuna.


"Ya," jawab Leo. Dia mematikan ponsel Yuna dan kemudian meletakkannya kembali. Tangannya memeluk Yuna dengan hangat. Dia mencium pipi Yuna berkali-kali. Dia masih sangat merindukan istrinya. Dia tidak bisa membayangkan jika kecelakaan itu lebih parah dari yang kemarin.


Yuna bersandar di dada Leo, "Sayang, aku ingin bercerita pada mu," ucap Yuna serius.


"Hmm, sepertinya serius," jawab Leo.


Yuna mengangguk. "Iya, sangat serius," jawabnya. Kemudian, dia mendongak dan meraih tangan Leo untuk digenggamnya.


"Ketika kau masih di luar negeri, aku...." mata Yuna menatap Leo dengan gelisah dan khawatir. Antara harus bilang dan tidak. Dia takut Leo salah paham padanya. Leo baru saja kembali, bagaimana jika dia marah. Bagaimana jika dia semakin membenci karena pertemuan senja itu.


"Apa? Kenapa menggantung ucapan mu? Apa ketika aku di luar negeri, kau kembali ceroboh?" Ujar Leo. Tangannya mengusap rambut Yuna.


Yuna menggeleng, kemudian mulai meneruskan ucapannya.


"Senja di hari itu, aku... bertemu dengan Vano," ucap Yuna hati-hati. Pupil matanya menatap mata Leo dengan sangat khawatir.


Leo memperlihatkan ekspresi yang datar, dia tidak marah tetapi wajahnya sangat datar.


"Lalu?" Tanyanya singkat. Dia percaya Yuna, dia tahu Yuna tidak akan menemui Vano jika tidak memiliki alasan yang jelas dan tepat.


"Neva bilang pada ku, dia tahu hubungan ku dengan Vano dulu. Neva menolaknya karena itu. Jadi aku berfikir itu tidak adil untuk Vano," lanjut Yuna.


"Kau masih begitu memikirkan perasaan nya," jawab Leo. Jawaban yang membuat Yuna langsung memejamkan matanya rapat, dia menarik nafasnya panjang. Bagaimana menjelaskannya, bukan seperti itu, bukan perasaan seperti itu.


"Bukan seperti itu," ucap Yuna tercekat. Dia menyandarkan kepalanya di dada Leo, tidak lagi mendongak dan menatap Leo. Diam, Leo tidak menyahutnya lagi. "Aku hanya ingin mereka berdua bahagia. Masalah Neva dan Vano begitu rumit adalah salah ku. Aku yang tidak bisa menjaga diri dan membuat Vano hadir dalam hubungan kita. Itu salah ku dan aku hanya mencoba untuk sedikit menebus kesalahanku," ujar Yuna dengan teratur dan hati-hati. "Kau membenci Vano karena aku," lanjutnya.


Leo mengambil nafasnya dengan dalam, tangannya masih mengusap rambut Yuna dan matanya melihat dahan pohon yang tertiup angin malam.


"Aku membenci Vano bukan karena diri mu, tapi karena dia sendiri," jawab Leo. Yuna diam, dia ingin Leo berbicara lagi. "Dia berani mendeklarasikan perang pada ku untuk mengambil mu dari ku. Dia begitu arogan mengancam ku untuk memiliki mu. Dia menyuruh ku untuk meninggalkan mu...." lanjut Leo. "Seberapa dalam dia mencintai mu, aku bahkan tidak bisa membayangkannya," lanjutnya lagi. Sekarang, Yuna yang mengambil nafasnya dengan dalam. Diam. Melewatkan beberapa menit hanya untuk saling diam.


"Aauuu," tiba-tiba Yuna memekik dengan kesakitan. Tangannya memegangi dadanya.


"Kenapa?" Leo langsung melepaskan pelukannya. Dia memegang kedua pundak Yuna dan menatap Yuna dengan sangat cemas. "Sayang, kenapa? Mana yang sakit?"


"Hati ku," jawab Yuna dengan kesakitan. Mendengar jawabannya, Leo langsung melepaskan tangannya dari pundak Yuna, dia bernafas dengan lega. Dia tahu ini tidak serius. Gadis ini masih saja nakal.


"Sini, biar ku periksa sayang," ucapnya dan langsung membuka dan membuang selimut yang membungkus Yuna.


Yuna melebarkan matanya, dia langsung melotot. Gawat, dia ketahuan....


"Mau apa kau?" Tanyanya dengan menahan tubuh Leo menggunakan satu tangannya.


"Memeriksa hati mu," jawabnya dengan senyum menyeringai dan mengambil tangan Yuna yang menahan tubuhnya.


"Sungguh? Tapi aku ingin tetap memeriksanya, aku sangat khawatir," ujar Leo dan menarik tangan Yuna yang menyilang.


"Tidaaaaak...." Yuna berteriak dan berusaha menahan tubuh Leo yang sekarang sudah menguasainya. Tangan itu sudah berhasil membuka ikatan tali piyamanya. Lidah lincah itu menggelikitik leher jenjang yang nampak menggiurkan. Yuna, mulai terbawa, dia memejamkan matanya. Tangannya berada di pinggang Leo.


Namun tak lama, Leo menyudahi aksinya, "Kau memejamkan mata mu. Sayang, apa kau sedang menunggu melakukan sesuatu yang panas?" ujarnya dengan suaranya yang seksi.


Sial, umpat Yuna. Dia segera membuka matanya dan langsung berdiri.


"Tidak, kau jangan Ge-Er," jawabnya sambil membenarkan piyamanya. Dia segera melangkah untuk masuk ke dalam dan dengan segera menutup pintu dan menguncinya dari dalam.


"Heii...." Leo langsung melompat dari tempat duduknya setelah Yuna mengunci pintu. Dia berdiri di depan pintu kaca itu. "Kenapa kau menguncinya," tanyanya dengan mengeraskan suaranya.


"Kau tidak boleh masuk, silahkan tidur di luar," jawab Yuna dengan suara yang keras pula. Leo menempelkan kedua telapak tangannya di pintu kaca dan menepuk-nepuk nya.


"Sayang, jangan tega please," ucapnya dengan sedih. Yuna tertawa kecil di dalam dan kemudian menjulurkan lidahnya.


"Sayang buka doong," pintanya dengan suara yang begitu merana. Yuna mendekat ke arah pintu kaca tetapi tidak membukanya.


"Kau tidak boleh masuk," jawab Yuna.


"Bagaimana jika aku masuk angin?" Kata Leo masih dengan ekspresi sedihnya.


"Aku tidak perduli."


"Sayang, kau tega," ucapnya dengan teraniaya. Dia menempelkan keningnya di pintu kaca depan pelan. "Nyonya muda, aku minta maaf jika ada salah," ucapnya.


"Mohon maaf, proposal permintaan maaf anda di tolak," jawab Yuna dengan arogan.


"Sayang, aku mencintai mu," ucapnya. Mata indahnya menatapnya Yuna yang berada di dalam. Yuna masih memasang wajah masam.


"Sayang, apa kau membaca berita akhir-akhir ini? Virus Corona sedang mewabah, virus itu sangat mengerikan," Leo mencoba membujuknya. "Sayang...."


Dan kunci itu berputar. Yuna membuka pintunya.


Leo menghembuskan nafasnya dengan lega. Dia menatap Yuna yang berdiri di depannya. Yuna mendongak membalas tatapan mata Leo padanya. Dan Leo segera menyerbu dan menggendongnya, dia merebahkan tubuh Yuna di atas kasur dan menggelikitik telapak kakinya tanpa ampun. Membuat Yuna berteriak dan tertawa terbahak-bahak.


"Kau nakal, kau berniat mengunci ku di luar," ucapnya dengan sangat gemas.


"Tuan suami, ampuni aku," ucap Yuna dengan berteriak. Dan Leo segera beralih ke sampingnya. Menarik Yuna dalam dekapannya dan menciumnya dengan panas.


"Ummm," Yuna tidak mampu berkata-kata lagi.


___Masih malam yang sama, di dalam mobil Vano di depan gerbang rumah Neva.


"Selamat malam gadis," ucap Vano ketika Neva pamit untuk keluar, tangannya mengusap rambut Neva sebentar.


Neva mengangguk, "Selamat malam Kak Vano," jawabnya dengan senyum.


"Mau ku antar ke dalam?" tanyanya sambil melihat ke arah dalam gerbang.


"Ah, tidak, tidak...." tolak Neva dengan menggerakkan kedua tangannya.


"Kenapa? Iya aja doong," ujar Vano dengan senyum lebar.


"Ini bahkan sudah dini hari. Kau akan habis jika bertemu Papa," jawab Neva.


"Justru karena ini sudah dini hari, jadi aku harus mengantar mu ke dalam," ucap Vano.


"Apa ini awal dari perdebatan hari ini? Aku tidak ingin berdebat please," ucap Neva menatap Vano.


"Haha okey, baiklah," ucap Vano dengan terkekeh.


"Sipp," Neva mengacungkan kedua jempolnya.


"Tapi secepatnya, aku akan menemui orang tua mu," ujar Vano serius.


"APPA?"


"Iya, aku akan menemui orang tua mu setelah Leo dengan rela memberi kita restu," jawab Vano.


"Kak Vano..." Neva menatap ke dalam matanya. "Ini tidak ada hubungannya dengan Kak Lee. Ini murni keputusan ku," lanjut nya.


"Semoga aku bisa merubah keputusan mu," ucap Vano dengan keyakinan di hatinya.


____


Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )


Maaf Up-nya telat lagi kawan🙏


Maap keun yachhh... 😘


Like, koment dan vote jangan lupa kawan.


Selamat membaca kesayangannya Thor... muach. Luv luv 🥰😘


"Thor, tolong lunakkan hati Leo. Tolonglah Thor, biar cepat urusannya," pinta Bang Vano pada Thor.


"Apa hadiahnya?" tanya Thor dengan matre.


"Noohh di kasih like, koment dan vote ama pembaca," jawab Bang Vano.


"Serius? Okey, akan Thor pikirkan."


"Awas aja kalau di bikin rumit."


"Thor semedi dulu, okey. Tolong jangan berisik."