Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Part 22. Joging bareng si tampan


Udara pagi terasa dingin merambat melewati pori-pori kulit karena sang mentari masih enggan menghangatkan bumi. Bulir embun masih betah menempel di dedaunan, bunga, pepohonan dan rerumputan di halaman depan rumah.


Minggu pagi telah tiba.


Tiara bersiap untuk berolahraga.


Joging di jalan reklamasi.


Entah apa yang ingin ia singkirkan dari benaknya hingga nekat joging seorang diri saat luka di kakinya belum mengering dengan sempurna.


Headset yang ia pasang di telinga mengalunkan lagu-lagu ost drama Korea kesukaannya. Dengan penuh semangat mulailah ia berlari pelan menuju ke tempat tujuannya.


Seperti biasa jika libur tiba, pengunjung di jalan reklamasi lumayan banyak. Ada yang joging ada juga yang sekedar jalan-jalan menikmati sejuknya udara pagi di tepi pantai.


Tiara tak terlalu mempedulikan pengunjung lainnya. Ia terus saja melanjutkan larinya sampai-sampai tak sadar, motor Yamaha yang melaju agak kencang di belakangnya hampir saja menabraknya di saat dia berlari agak ke tengah untuk menghindari jalan berlubang di depannya. Beruntung ada sepasang tangan kekar yang menariknya menepi.


Ia kaget mendapati dirinya di pelukan seseorang. Bertepatan dengan sebuah motor yang melewatinya. Tiara mendongak menatap sosok yang begitu dekat dengannya.


" Kak Zian ?" ucapnya sontak melepaskan dirinya setelah melepas headset dari telinganya.


" Kamu gimana sih Ra? lari nggak hati-hati. Untung saja tadi gue nggak terlambat". ujar Zian dengan wajah khawatir.


" Maaf kak, tadi Ara mau hindari jalan yang rusak. Ara nggak tahu kalo ada motor dari arah belakang soalnya lagi pake headset". balas Tiara pelan.


" Nggak usah minta maaf, gue cuma mau ingetin aja biar lain kali nggak kejadian lagi". Zian memamerkan senyumnya.


"Iya kak, makasih. Lain kali Ara pasti lebih hati-hati". Balas Tiara tersenyum senang.


Deg.


Ya Tuhan gadis ini.


Kenapa manis banget sih. Batin Zian seolah tersihir dengan senyum Tiara.


" Eh kak Ara mau lanjut lagi nih". ujar Tiara salah tingkah dan secepatnya memalingkan wajahnya ke arah lain.


" Bareng aja yuk". balas Zian.


Tiara hanya mengangguk mengiyakan.


Kemudian mereka lanjut berlari lagi menuntaskan setengah putaran yang masih tersisa.


Entah kenapa Tiara merasa nyaman berada di dekat Zian. Walaupun pada awal bertemu terjadi hal yang tidak menyenangkan. Tapi sekarang, setelah dekat dengannya Tiara merasakan hal yang berbeda. Zian berubah menjadi pelindungnya.


Keduanya pun berlari beriringan. Tak peduli dengan tatapan iri dari beberapa orang yang mereka lewati.


Tiara berhenti sejenak. Zian pun mengikutinya.


" Ra, masih mau lanjut atau ?"


" Ara udahan kak, nggak sanggup".


" Ya udah istirahat dulu".


Lalu keduanya duduk di bebatuan di tepi laut.


Sejenak mereka menikmati pagi yang mulai ramai dengan segala macam aktivitas. Dari tempat mereka duduk terlihat pasar tradisional di seberang sana.


Sang mentari mulai merangkak naik, menghangatkan bumi. Kicauan burung di pepohonan mulai ramai bersahutan.


" Ra, maafin kesalahan gue yang lalu ya". Zian mulai mengutarakan isi hatinya.


" Yang mana kak?" Tiara pura-pura tidak mengerti. Pandangannya terus diarahkan ke depan.


" Waktu MOS gue udah bikin lo pingsan. Sebenarnya, gue dulu kesal banget sama elo karena udah gangguin gue tidur. Lo kan yang melempar botol air minum itu? sampe kena kepala gue ?"


Deg. Ooo itu masalahnya. ucap Tiara dalam hati. Kini ia mengerti dengan sikap Zian yang lalu.


" Nggak apa-apa kak, udah Ara maafin kok. Btw Ara juga pengen minta maaf sama kak Zian. Waktu itu Ara nggak sengaja nendang botol itu karena kesal ada orang yang membuangnya sembarangan. Ara juga nggak tahu kalo botol itu bakalan nyasar di kepalanya kak Zian. Maafin Ara ya ". Tiara memasang wajah imutnya di depan Zian.


" Oke, jadi sekarang udah clear kan masalahnya. Nggak ada dendam-dendam lagi ya?"


" Dari dulu Ara nggak pernah dendam kok sama kakak, karena Ara tahu pasti Ara pernah buat salah makanya kakak bersikap gitu ". suara Ara terdengar tulus.


" Thanks Ra, kamu baik banget ".


" Sama-sama kak, kakak juga baik orangnya. Buktinya udah berapa kali tolongin Ara. Oh ya kak, Ara udah mau pulang nih kakak masih mau di sini ?" tanya Tiara sambil berdiri dari tempatnya.


" Ya udah barengan aja gue anterin ya?"


" Nggak ada yang marah nih?" selidik Tiara karena tidak mau dapat masalah lagi.


" Nggak ada yang berani marahin gue yuk cabut ". Zian memegang tangan Tiara sambil berjalan menuju ke tempat motornya di parkir.


Dia tidak peduli dengan tangan di genggamannya yang terasa dingin.


\*\*\*\*\*