
"Hai .... " seru Neva dengan semangat. Tangannya masih dalam genggaman Vano. Sebenarnya dia sangat malu dengan ini. Dia mencoba menarik tangannya tetapi Vano menahannya dengan kuat.
Mereka yang ada di meja itu dengan kompak menoleh ke arah samping asal suara. Mereka yang ada di meja itu seperti memiliki aba-aba. Yuna tersenyum melihat mereka berdua datang. Sementara itu, mata Leo langsung tertuju pada genggaman tangan itu. Mereka sudah jadian? Batinnya.
Vano dan Neva berdiri berdampingan dengan masih bergandengan. Kemudian, Vano melepaskan genggaman tangannya, membiarkan Neva menyapa Yuna.
"Hallo, kak Yuna," sapanya dan mencium pipi Yuna.
"Hai sayang," jawab Yuna dengan senyum. Kemudian, Neva menoleh ke arah Kakaknya dengan malu.
"Kak Lee," ucapnya. Dia mendekat dan mematuk pipi Leo singkat, "Terima kasih," ucapnya dengan wajah memerah. Setelah itu, dia segera membalik badan dan kembali berdiri di samping Vano.
"Selamat malam Leo," sapa Vano dengan sopan. Dia membungkukkan badannya. Leo mengangguk menanggapinya. "Selamat malam Yuna," sapanya pada Yuna.
"Malam," jawab Yuna. Lalu Vano menyapa Karel dan Alea. Tangan Vano meraih jemari Neva lagi dan menggenggamnya. Dia menoleh ke arah Neva sebentar lalu ia menatap Leo. Menatapnya dengan ungkapan rasa terima kasih yang tulus. Dia membungkukkan badannya. "Leo, hari ini, aku dan Neva telah menjadi sepasang kekasih," ucapnya pasti, memberitahukan hubungannya kepada Kakak dari kekasihnya.
"Waahhh," Yuna bertepuk tangan dengan sangat bahagia, teramat sangat. Akhirnya mereka bisa bersama. Dia memperhatikan Neva dan Vano secara bergantian. Memperhatikan wajah yang berseri-seri. Dia merasa sangat bahagia. Akhirnya, setelah kisah yang rumit, mereka bisa bersama. Karel dan Alea turut bertepuk tangan. Sementara Leo hanya mengangguk pelan. Dia sudah bisa menebaknya. Dan dia merasa senang karena pada akhirnya Neva bersama dengan orang yang dia sukai. Yuna menoleh ke arahnya dan memeluknya.
"Sayang, terima kasih," ucapnya pada Leo. Tangan Leo terangkat dan menepuk-nepuk dengan lembut kepala Yuna.
Neva dan Vano saling menoleh, "Sepertinya, sangat susah menyaingi mereka berdua," ucap Neva yang disetujui oleh Vano. Mereka tertawa lucu.
Kemudian, Yuna melepaskan pelukannya pada Leo. Dia kemudian merentangkan kedua tangannya, memberi isyarat pada Neva untuk kembali mendekat ke arahnya.
Melihat itu, Vano melepaskan genggaman tangannya dan Neva langsung menghambur kedalam pelukan Yuna. Mereka saling berpelukan, merasakan kebahagiaan yang sangat manis. Bibir mereka tersenyum dengan indah.
"Selamat, Neva," ucap Yuna dengan rasa bahagia di hatinya. Berdamai dengan keadaan dan membiarkan yang lalu hanya menjadi abu yang hanyut di lautan.
"Terima kasih Kak Yuna," jawab Neva. Ya ... mereka telah berdamai pada semuanya, pada sesuatu yang telah lalu dan terasa sangat rumit. Mari bahagia, bersama cinta yang bersemi indah.
Kemudian, Neva lebih dulu duduk, lalu di susul Vano yang duduk di sampingnya. Neva sedikit canggung dengan ini. Oh, sungguh dia dan Vano adalah pasangan saat ini? Rasanya masih seperti mimpi. Itu terjadi beberapa jam yang lalu.
"Wah, sepertinya aku datang disaat yang tepat, apakah kalian sedang mengadakan pesta makan?" Canda Neva setelah memperhatikan meja yang penuh dengan makanan.
"Hahaa, ketidaksengajaan saja," jawab Yuna. "Tiba-tiba, aku ingin semua makanan sepanjang jalan yang dilalui Leo, dan itu pasti sangat banyak sekali. Lalu aku mengundang Kak Er," jelas Yuna. Dia menoleh ke arah Leo dan mengusap lengannya pelan. "Terima kasih sayang," ucapnya pada Leo.
Leo membalas tatapan matanya, dan mengusap telapak tangan Yuna yang berada di lengannya dengan pelan. "Papa yang membelikan semua ini untuk mu," ucap Leo.
Wajah Yuna berbinar mendengar itu, dia menggoyangkan lengan Leo pelan. "Oh ya," serunya, "Apa kau bercerita tentang keinginan ku ini?" Tanya Yuna dengan senyum lebar.
"Papa menanyakan keadaan mu, lalu Beliau mentransfer sejumlah uang ke rekening ku," jawab Leo.
"Aku akan menghubungi Papa nanti," ucap Yuna. Leo mengangguk.
"Selamat Tuan muda Vano dan Nona Neva," Karel memberi selamat pada Neva dan Vano. Mereka berdua tersenyum dan mengucapkan terima kasih pada Karel.
"Aku tunggu traktiran nya," gurau Karel.
"Hahaa, tenang saja," jawan Vano.
"Vano dan Nona Neva, selamat ya. Aku turut bahagia untuk kalian berdua," ucap Alea dengan senyum. Dia menatap Vano dan Neva yang duduk berdampingan.
"Terima kasih kak Alea," jawab Neva dengan senyum. "Hmmm, kak Alea yang mungut tulisan ku waktu itu," ucapnya mengingat Vano yang tiba-tiba membawa tulisan itu.
Alea tersenyum menatap Vano dan Neva. "Kata-kata mu begitu menyentuh Nona. Kau menyukainya tetapi tidak mampu untuk mengatakannya. Kau menyukainya dan hanya mampu menatapnya tanpa pernah bisa menyentuhnya. Aku tahu bagaimana rasanya itu," ucap Alea. Neva dan Yuna menatapnya dengan sedih. Betapa rasa itu sangat menyakitkan.
"Apa sampai saat ini, Kak Alea masih menyukainya?" Tanya Neva. Dia masih menatap Alea dengan sedih. Alea mengalihkan pandangannya dan menggeleng.
"Tidak, aku sudah tidak menyukainya lagi. Waktu yang bisa menghapus namanya, tapi entahlah, entah waktu atau karena ada seseorang yang menggantikan posisinya," jawab Alea kemudian.
Neva dan Yuna masih memperhatikan Alea. Sementara Leo mengambil makanan dan meletakkan di piring Yuna. Dia juga menuangkan air ke dalam gelas Yuna.
"Huff, syukurlah jika sudah ada penggantinya," kata Neva. Dia tersenyum dan turut bahagia dengan itu. Tentu saja, karena dia tidak tahu siapa seseorang yang mampu menggantikan posisi itu di hati Alea.
Alea mengangguk, memang ada seseorang yang menggantikan posisi itu dihatinya tetapi ini lebih menyakitkan lagi. Dia menyukai suami dari sahabatnya sendiri. Merebutnya? Itu tidak mungkin, dia tidak ingin menyakiti hati Yuna. Yuna yang menjadikannya sahabat tanpa memandang status sosial.
"Kak Alea," Neva memanggilnya. Alea kembali menatap kearah Neva. "Yang telah berlalu memang seharusnya di lupakan. Ku harap kak Alea bahagia dengan seseorang yang baru di hati Kakak," ucap Neva penuh harap. Dia juga tahu bagaimana rasanya mencintai tanpa dicintai.
Alea menunduk mendengar ucapan Neva. Namun, tak lama, dia sedikit mengangkat wajahnya dan melirik ke arah Leo. Wajah rupawan itu begitu halus, wajah rupawan itu begitu mempesona, sangat mempesona. Jantungnya berdegup.
"Semangat Kak Alea. Semoga kak Alea berjodoh dengan dia," doa Neva untuknya. Alea masih memperhatikan Leo dalam tunduk kepalanya. Berjodoh? Apa mungkin? Berjodoh, dia tidak berani membayangkan itu. Tidak berani juga memiliki harapan itu. "Oh ya, siapa dia?? Siapa namanya?" Tanya Neva dengan semangat.
"Januar," jawab Alea segera, "Namanya Januar."
Neva tertegun mendengar nama itu. Januar?? Januar adalah nama tengah Kakaknya. Leo J Nugraha. Januar adalah singkatan dari J dalam nama panjang Leo.
Jaunuar yang memiliki arti, keteguhan, kebijaksanaan, pengaruh dan kekuasaan. Tidak banyak yang tahu tentang nama tengah Kakaknya ini, bahkan mungkin Yuna sekalipun. Neva menampik pemikiran yang menurutnya konyol, bukankah nama itu biasa dipakai oleh laki-laki. Nama itu bisa dimiliki oleh orang lain. Di dunia ini, tidak mungkin hanya kakaknya saja bukan yang memiliki nama ini.
Sementara Yuna bernafas lega mendengar jawaban Alea. Alea memiliki laki-laki yang dia cintai, itu artinya yang Yuna pikirkan memang salah. Dia menjadi merasa bersalah karena sempat merasa tidak suka dengan pandangan Alea pada Leo. Dia berfikir bahwa itu memang kesalahannya karena terlalu cemburu.
"Hmm, Januar. Nama yang bagus dan luar biasa," ucap Neva. "Pasti orangnya sangat tampan dan memiliki aura yang kuat," lanjutnya. Dia masih menatap Alea.
Alea mengangkat wajahnya dan menatap Leo sebentar sebelum mengalihkan pandangannya pada Neva.
"Ya, sangat tampan dan sempurna," jawabnya sepenuh hati.
"Bagaimana jika lain kali kita makan bersama lagi dan undang dia untuk bergabung bersama?" Sahut Yuna menimpali obrolan mereka. Akhirnya dia membuat suara setelah dari tadi diam dan memperhatikan mereka.
Alea menoleh ke arah Yuna dan menatapnya.
"Dia ada bersama kita saat ini," jawab nya.
Mata Neva langsung melebar mendengar itu. Ada bersama mereka saat ini? Sungguhkah? Apa Januar yang di maksud Alea adalah benar Kakaknya? Otak Neva membeku.
Sementara Yuna menatap Alea dengan penuh tanda tanya. Januar ada disini? Laki-laki disini hanya ada tiga, Karel? Tentu saja bukan. Dia menggeleng. Vano dan Leo. Juga bukan.
Kemudian, Alea tersenyum dengan lebar. "Ya, dia ada di sini bersama kita saat ini," ucap Alea mengulangi, "Dia ada di hatiku," lanjutnya. Yang langsung membuat Neva bernafas dengan lega. Yang langsung membuat Yuna ikut tersenyum.
"Aahh, ku pikir dia sungguh ada di sini," ucap Yuna.
Leo menyentuh pundaknya dengan lembut, "Sayang," panggilannya.
"Hhm?" Yuna segera menoleh. Dan langsung menyadari jika piringnya sudah penuh dengan makanan. Dia kembali menatap Leo. "Terima kasih," ucapnya. Kemudian, dia mengajak semuanya untuk makan.
"Aku udah ngiler dari tadi, tapi kalian asik ngobrol tanpa mempersilahkan ku untuk memakannya," canda Karel dan dia langsung bersiap mengambil makanan yang dia inginkan.
Neva dan Yuna tertawa kecil mendengar itu.
"Haha maafkan aku Kak Er," kata Yuna.
"Ya, ya. Wanita memang begitu, jika sudah asik ngobrol, mereka akan melupakan semuanya," jawab Karel dengan tawa kecil juga. "Lihat saja, Tuan muda Vano, dia membatu dari tadi," lanjutnya yang langsung membuat Yuna tertawa. Neva langsung menoleh ke arah Vano.
"Kak," panggilannya pelan.
"Apa?" Vano menjawab dengan kesal, namun sebenarnya tidak, dia hanya akting. "Ku pikir kau sudah lupa jika ada aku di samping mu," lanjutnya dengan masih berpura-pura kesal.
Neva menjadi merasa bersalah, dia menatap Vano dengan dengan senyum manis, "Siapa yang lupa? Jika namamu selalu di hatiku, tertanam dengan kuat dan terus merindu," kata Neva dengan rayuan. Wajah Vano langsung merah mendengar rayuan itu. Astaga, dia dirayu wanita.
Sementara Leo langsung tersedak mendengar adiknya begitu genit. Yuna tertawa terbahak-bahak dan menepuk-nepuk punggung Leo dengan pelan.
Vano memalingkan wajahnya yang memerah, "Okey, terima kasih," ucapnya. Neva tersenyum lebar melihat tingkah lucu Vano yang merona. Kemudian, dia mengeluarkan ponsel miliknya.
"Ayo kita membuat sebuah kenangan untuk malam ini" ajak Neva. Dia membuka kamera dalam ponselnya. Lalu dia mengarahkan kamera pada semuanya.
Yuna mendekat ke arah Leo dan mengacungkan dua jarinya. Karel dan Alea. Lalu Vano dan Neva yang sangat dekat. Tangan Vano merangkul pundak Neva dengan manis.
"Say cheese," seru Neva. Lalu mereka dengan kompak mengatakan Cheese kecuali satu orang saja. Bisa ditebak siapa dia. Leo.
Namun, ketika Neva mengulangi lagi, Leo tersenyum kearah kamera.
Kenapa? Karena dia baru saja mendapat bisikan lembut di telinganya sebelum kamera itu membidik. Bisikan dari wanitanya. Bisikan yang langsung membuatnya tersenyum.
"I love you," itu yang dibisikkan padanya.
Neva membidik lagi, Kali ini dia ingin hanya keluarganya saja.
"Satu, dua, tiga .... " dia memberi aba-aba dan Vano mencubit pipinya. Sementara Leo mencium pipi Yuna. Satu foto tercipta lagi malam ini.
"Aku akan mengirim ini untuk Papa," ucap Neva dengan bahagia.
____
Catatan Penulis ( Curhatan π₯° )
Hallo, terima kasih kesayangan yang masih setia dan selalu menunggu.
Sehat selalu ya kawan. Diam di rumah. Semangat.... Salam hangat dari ku ππ
Selamat membaca.
Jangan lupa goyang jempol yach. Aku padamu. ππ
Terima kasih yang udah bergabung diGc. Jangan sungkan untuk saling kenalan dan ngobrol seru.
Jangan sungkan juga untuk bertanya pada ku, tentang apapun. Tentang Novel dan semua karakter yang masuk dalam novel ini, atau apapun. Terima kasih semuanya. Aku cinta temen-temen semua. Terima kasih untuk dukungan dan kesetiaan nya selama ini. Luv luv...