Sebenarnya Cinta

Sebenarnya Cinta
Bab 210_Permintaan Maaf


Pagi hari. Di kantor Leo. Asisten Dion sudah berdiri di depan pintu utama dengan tegang. Dia seperti akan bertemu pacarnya setelah berpisah sekian lama. Asisten Dion sudah menginstruksikan pada semua karyawan untuk mandi dengan sangat bersih dan tidak memakai parfum secara berlebihan.


Mobil yang di tumpangi Leo, perlahan memasuki gerbang utama dan berhenti di depan pintu utama. Kaki jenjang itu menapak diatas bumi dan semua karyawannya menahan nafasnya sejenak.


"Selamat pagi Boss," sapa Asisten Dion dengan sangat ramah dan penuh rindu.


"Selamat pagi Direktur," sambut para jajaran eksekutif. Leo mengangguk sebagai tanggapan. Kemudian, dia segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam dan langsung di buntuti oleh karyawannya.


"Selamat pagi Direktur," resepsionis membungkuk memberi hormat padanya. Langkah Leo terhenti dan matanya melihat wadah pensil berbentuk burung hantu dan sudah terisi dengan pena karakter berbentuk burung hantu. Dia menggerakkan tangannya pelan dan kemudian kembali melangkah.


Yess, resepsionis memekik bahagia. Asisten Dion segera mengambil kotak itu dan membawanya.


"Terima kasih," ucapnya pada resepsionis yang sudah menyiapkan ini. Dia baru tahu jika Bossnya suka karakter burung hantu.


Pagi di mulai dengan rapat yang sangat panjang bahkan hampir setengah hari. Leo segera kembali ke ruangannya setelah menyelesaikan rapatnya. Asisten Dion membukakan pintu ruangannya dan Leo segera masuk. Mata dan hatinya langsung di penuhi kebahagiaan melihat seseorang yang sudah menunggunya di dalam. Senyumnya langsung merekah setelah dari pagi tidak ada senyum sedikitpun.


"Kau kesini," ucapnya dan langsung mencium kening Yuna.


"Huum," jawab Yuna mengangguk. Leo beralih menyapa jagoannya yang masih di perut Yuna. Asisten Dion selalu suka keharmonisan ini. Dia menyaksikan dengan senyum mengembang, kemudian segera kembali dan segera menyiapkan semua yang Bossnya inginkan.


"Selamat siang, Tuan muda Lee," sapa Alea memberi salam pada Leo. Dia membungkuk pada Leo dan Leo mengangguk pelan menanggapinya.


Kemudian, mereka bertiga duduk. Yuna dan Leo duduk berdampingan, sementara Alea duduk di sofa yang berbeda.


"Aku membawakan mu minuman hangat," ucap Yuna dan langsung membuka minuman yang dia bawa. Leo menerimanya dan langsung menyesapnya.


"Tuan muda Lee," Alea memanggilnya. "Ini ada cake," ucap Alea padanya dan kemudian membuka cake yang dia bawa. Leo melihat cake itu dan mengangguk.


"Terima kasih," ucap Leo pada Alea tetapi dengan mata yang tidak melihatnya.


"Iya, sama-sama, Tuan muda Lee," jawabnya lembut selembut sutra.


Leo menoleh ke Yuna dan mengusap rambutnya pelan.


"Sayang, aku senang kamu kesini tapi aku minta maaf karena tidak bisa lama menemani mu. Setelah ini, aku harus keluar untuk mengunjungi kantor cabang yang lain," ujar Leo menjelaskan.


Yuna mengangguk, "Huum," jawabnya dengan senyum. "Aku hanya mampir sebentar," lanjut Yuna. "Jangan lupa makan siang, okey."


"Baik, Nyonya nakal," ucap Leo dengan memencet hidungnya dengan gemas. Yuna terkekeh mendapat panggilan nakal dari Leo. Dia kemudian, melihat ke Alea yang terus memperhatikannya.


"Hmmm, ada jomblo, hentikan keharmonisan kita," ucap Yuna dengan bercanda, kemudian dia menirukan komplenan Neva padanya. "Hentikan keharmonisan kalian, itu membuat ku gila," suara Yuna menirukan gaya bicara Neva. Alea tertawa kecil mendengar Yuna.


"Alea please, pejamkan mata mu sebentar," pinta Yuna dengan memberinya isyarat untuk jangan melihatnya.


"Hahaa... okey," jawab Alea dan segera memejamkan matanya.


Melihat Alea yang sudah terpejam. Yuna langsung mencium pipi Leo dengan singkat. Namun Leo langsung menangkapnya dan mencium bibirnya dengan singkat. Selesai.


"Kau boleh membuka mata mu lagi," ucap Yuna dengan sedikit tawa. Dan Alea langsung membuka matanya.


"Oh, sudah?" Tanyanya terkekeh.


Kemudian, Yuna dan Alea kembali dengan di antara supir Albar.


"Dion," ucap Leo ketika Asisten Dion berada di ruangannya.


"Siap Boss," jawabnya sigap.


"Ambil cake di atas meja itu. Makanlah," ujar Leo. Asisten Dion langsung menoleh ke arah meja.


"Untuk saya?" Tanyanya merasa sangat bahagia karena dia akan merasakan cake buatan Nyonya, pikirnya. Leo mengangguk sambil terus sibuk memeriksa dokumen.


"Cake buatan Nyonya muda, pasti sangat enak," ujar Dion yang langsung dijawab Leo.


"Itu bukan cake buatan dia. jika itu adalah buatan dia, aku tidak mungkin memberikannya pada mu."


Asisten Dion menahan tawanya mendengar itu. Si Boss selalu pelit jika sesuatu tentang Nyonya mudanya.


"Boss," Asisten Dion memanggil dengan pelan ketika mereka di dalam mobil untuk perjalanan kembali ke kantor pusat. Leo mengangguk, mengisyaratkan bahwa Asisten Dion boleh melanjutkan ucapannya.


"Ada satu lagi pertemuan hari ini tapi saya belum menyetujuinya," ucap Asisten Dion. "Tuan muda Mahaeswara meminta bertemu dengan Anda Boss," lanjut Asisten Dion dengan pelan dan hati-hati. Asisten Dion sedikit bisa menebak bahwa hubungan antara mereka berdua tidak baik. Karena dia adalah tangan kanan Leo ketika dulu menarik semua saham dari perusahaan Mahaeswara.


"Bagaimana boss? Apakah Anda bersedia menemuinya?" Tanya Asisten Dion.


"Ok," jawab Leo singkat. Kemudian, Asisten Dion mengirimkan pesan pribadi kepada sekretaris Vano.


___Di sebuah restoran Bintang lima di Ibu Kota. Vano duduk di ruangan VIP. Tak lama, matanya melihat seseorang yang berjalan ke arahnya. Dia segera berdiri dan mengembangkan senyumnya.


"Selamat sore, Tuan muda Leo," sapanya dengan ramah setelah Leo berada di hadapannya. Seperti biasa, Tuan muda Leo hanya mengangguk sebagai tanggapan. Kemudian, dia duduk dengan berwibawa lalu di ikuti Vano. Leo datang lima menit lebih awal dari yang dijanjikan.


"Mau pesan apa?" Tawar Vano dengan bersahabat karena memang sebelum hubungan nya dengan Yuna diketahui oleh Leo, mereka adalah teman. Teman semasa kuliah dan rekan bisnis. Meskipun tidak begitu akrab.


"Tidak ada, aku tidak lama. Jadi, untuk apa kau mengundang ku?" Jawab Leo sekaligus bertanya langsung pada inti. Vano menarik nafasnya panjang sebelum membuka mulutnya.


"Leo... Aku meminta maaf pada mu," ucap Vano dengan tulus dari hatinya yang paling dalam.


"Untuk?" Tanya Leo datar.


"Untuk yang pernah terjadi di masa lalu. Untuk kedekatan ku dengan Yuna, untuk ucapan ku dan kelakuan ku yang buruk, yang menyinggung mu, yang membuat mu marah dan untuk semua yang terjadi antara kita," jawab Vano. Mereka berdua tidak berbelit-belit dalam menyampaikan sesuatu.


"Kenapa kau meminta maaf pada ku?" Tanya Leo lagi. Vano menatapnya. Leo menghadap ke arahnya dengan meletakkan kedua tangannya di atas meja, kedua telapak tangannya bersatu.


"Ya, karena aku sadar aku salah dan memang seharusnya aku minta maaf pada mu," Vano menjawab dengan rendah. Mereka berdua saling membalas tatapan mata.


"Kau meminta maaf pada ku karena ingin memiliki adik ku. Jika... kau tidak jatuh cinta dengan dia, apa saat ini kita duduk di sini berhadapan seperti sore ini? Jika kau tidak jatuh cinta dengan adik ku, apa kau pernah berpikir untuk meminta maaf pada ku? Kau meminta maaf pada ku karena menginginkan sesuatu." ujar Leo dengan teratur dan tenang. "Aku sudah berkali-kali memperingatkan mu tapi kau seperti tidak takut apapun dan menantang ku untuk mengambil dia dari ku. Sekarang, kau duduk di sini bersama ku dan meminta maaf pada ku. Dimana arogansi dulu?"


"Aku salah tentang itu. Aku salah karena pernah menantang mu untuk mendapatkan dia, aku salah karena tidak mengindahkan peringatan dari mu. Dan aku salah karena baru meminta maaf pada mu sekarang. Aku tahu ini terlambat dan bahkan sangat terlambat tapi sungguh aku meminta maaf pada mu dengan tulus. Semoga kau mau dan rela memaafkan ku."


"Kau meminta maaf pada ku untuk mendapatkan adik ku. Aku sudah pernah bilang bahwa aku merestui hubungan kalian, bukankah itu sudah cukup?" ujar Leo. Dia sedikit lebih menegakkan punggungnya dan kemudian berdiri. Melihat Leo berdiri, Vano segera berdiri mengikutinya.


"Selamat sore," ucap Leo pamit.


"Selamat sore, Leo," jawab Vano dengan membungkukkan sedikit badannya. "Terima kasih untuk waktunya," lanjutnya. Leo mengangguk dan melangkah pergi. Sementara Vano kembali duduk sebentar.


__Di sana... Neva melakukan perawatan wajahnya bersama Lula. Esok adalah hari wisuda mereka.


"Kadang aku berkhayal, akan ada pangeran yang datang membawa buket bunga untuk ku dan melamar ku di acara wisuda, hahaaaa," ucap Lula sambil menikmati pijatan di wajahnya.


"Hahaaa... khayalan yang indah," balas Neva yang juga menikmati pijatan lembut di wajahnya.


"Tentu saja, itu keinginan sederhana bukan? Mungkin kalau kamu... impiannya berbeda lagi dengan ku. Sepertinya kau mengharapkan lamaran di kapal pesiar, atau di tempat-tempat mewah di dunia ini," ujar Lula.


"Emmm sepertinya begitu, hahaaa," jawab Neva.


"Eh, siapa yang kau harapkan hadir di wisuda mu nanti selain keluarga mu?" Tanya Lula yang di jawab tawa ringan oleh Neva. "Tuan muda Mahaeswara atau Pangeran sejuta wanita Raizel yang paling tampan?" suara Lula penuh kekaguman ketika menyebut nama Raizel, artis idolanya.


"Dua-duanya boleh nggak?" Jawab Neva dengan bercanda.


"Sepertinya kampus bakalan gempar jika Pangeran sejuta wanita datang dan membawa bunga untuk mu Nona," ujar Lula. "Aaaaa... aku tidak bisa membayangkannya.," Lula histeris karena dalam bayangannya adalah dia yang mendapat bunga dari Raizel.


"Hahhaa... mereka tidak akan mengejar ku dan dia lagi kan?" Neva tertawa kecil mengingat adegan ketika dia dan Raizel berlari karena kejaran teman-temannya.


____


Catatan Penulis ( Curhatan 🥰 )


Hallo pembaca kesayangannya Thor.


Tokoh keluar dengan porsinya masing-masing Yach. Ngikutin alur.... Nggak ada banyak dan sedikit. Okey Dear 😘🥰


Terima kasih kawan.


Like, Koment dan Vote. Luv luv😘🥰