
Kisah kasih masih begitu menggoda. Gerak kaki menari lembut seirama. Yuna meletakkan kepalanya di pundak Leo. Tubuhnya bergerak seirama dengan tubuh Leo. Mendekap dengan romantis.
"Semoga, setelah ini tak ada lagi duka, tak ada lagi tangis yang menyakitkan. Aku ingin terus bahagia bersamamu," tutur Yuna lembut. Leo tersenyum, bibirnya membuat kecupan manis di pundak Yuna.
"Aamiin," jawabnya. "Sepanjang aku hidup, aku akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu. Mari lewati hari-hari kedepan dengan senyum tanpa air mata. Mari lewati detik demi detik dengan penuh cinta."
Kita akan menua bersama maka dari itu semailah cinta yang telah kita tanam dalam taman hati. Mencintaimu lagi dan lagi. Tanpa jeda.
__________________
Sementara disana. Di rumah besar keluarga Nugraha. Berbaris dengan rapi Vano, Neva, Dimas, Nora, dan Mama. Mereka tengah menunggu kabar dari Papa atau Leo. Kenapa Yuna bisa sampai meninggalkan rumah tanpa kabar.
Mama sudah mulai menangis sesenggukan dalam pelukan Dimas. Neva juga mencoba untuk menenangkan Mamanya.
"Kakakmu sangat bodoh," Mama yang tidak tahu apa-apa memaki Leo. Beliau berpikir jika Leo kembali menyakiti Yuna seperti dulu.
Tuan besar Nugraha segera menghampiri setelah keluar dari mobil.
"Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya beliau bingung. Beliau lupa jika hanya beliau yang tahu ide Yuna.
"Bagaimana dengan Yuna dan Lee, mana mereka," Mama balik bertanya. Beliau mencari-cari keberadaan Leo dan Yuna.
"Kak Yuna sudah ketemu atau belum Pa?" sambung Neva cemas. Semua menatap Papa dengan kecemasan.
"Oh, Yuna dan Lee?" Beliau mengusap pundak istrinya. Kemudian menatap anak-anaknya satu persatu. "Mereka berdua sedang kencan."
"KENCAN?!!" ucap mereka dengan serempak. Kompak bak paduan suara. Mama dan yang lainnya terkaget-kaget.
"Apa maksudnya kencan?" tanya Neva.
"Mereka sudah baikan?" sambung Dimas.
"Kencan bagaimana, Pa?" tambah Mama tak sabar lagi.
"Ayo-ayo, masuk dulu. Nanti Papa ceritakan," ujar Beliau dengan perhatian.
Mereka semua masuk dan duduk rapi di ruang keluarga untuk mendengarkan penjelasan dari Tuan besar Nugraha.
Semuanya bernafas dengan lega setelah selesai mendenger penjelasan Papa, tapi ada rasa kesal juga. Karena mereka semua ikut cemas hingga ubun-ubun. Terlebih adalah Mama.
"Keterlaluan, Papa kenapa tidak memberi tahu Mama? Bukankah sebelum Papa pergi dengan Lee, Mama sempat bertanya. Dan Papa bilang jika mereka sedang ada masalah," Mama memukul lengan suaminya dengan kesal.
"Ada Lee, saat Mama menanyakan itu," jawab Papa. "Jika sampai ketahuan dia, nanti takut gagal prank yang sudah Yuna susun," lanjut Papa menjelaskan.
"Hahaaa ternyata kita kena Prank kak Yuna," sambung Neva.
Yuna dan Leo kembali saat pukul 21.00. Dengan bergandengan tangan mereka masuk ke dalam rumah.
___
Keesokan harinya, tak lama setelah sarapan, Neva dan Vano pamit untuk kembali ke tanah air lebih dahulu. Awalnya, Papa juga akan kembali hari ini, tapi ternyata masih ada yang harus diurus di negara A. Mama memberi banyak sekali pesan untuk putrinya.
"Baik, Mama," jawab Neva. Kemudian, Mama juga berpesan pada Vano untuk menjaga Neva.
"Pasti, Ma," jawab Vano. Kemudian, mereka pamit pada semuanya.
"Ku tunggu kau kembali ke tanah air, Leo," ucap Vano pada Leo saat mereka berjabat tangan.
"Ok. Aku pasti akan segera kembali," jawab Leo. Kemudian, Papa sendiri yang mengantar Neva dan Vano ke bandara
"Hati-hati," Papa mencium kening putrinya. Neva mengangguk dan memeluk papanya.
"Papa, jangan lama-lama disini," ucap Neva manja.
"Aku kesepian di rumah sendiri," lanjutnya.
"Baik, Kak Lee sudah membaik, jadi Papa pasti akan segera kembali," jawab Tuan besar Nugraha. Beliau mencium kening putrinya lagi. "Segera kabari jika kau sudah sampai nanti."
___________________
Pukul setengah sebelas malam, Neva dan Vano telah sampai di tanah air. Ada supir Vano yang sudah siap menjemput mereka. Neva mengirim pesan pada Papa dan Mamanya. Mengabarkan jika ia telah sampai tanah air.
Perjalanan dari bandara ke rumah.
"Dirumahmu tidak ada orang 'kan? Bagiamana jika pulang ke rumah ku saja?" kata Vano setelah mobil meninggalkan bandara.
"Ada asisten rumah tangga, banyak," jawab Neva. Dia menguap. "Ada Joe juga," lanjutnya. Vano langsung menoleh ke arahnya.
"Pulang kerumah ku," kata Vano dengan perintah. Tidak boleh tidak. Harus pulang ke rumahnya, Neva tidak boleh dulu pulang ke rumahnya sendiri.
"Antar kerumahku," jawab Neva enggan untuk ikut pulang ke rumah Vano. Rasanya tidak sopan jika menginap disana. Neva menguap lagi. Dia sudah sangat mengantuk. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Vano dan memejamkan mata.
"Sayang aku ngantuk. Bangunkan jika nanti sampai," ucapnya.
Vano mengangguk dengan senyum.
"Tidurlah," jawab Vano. Dia mengubah posisi tangannya agar bisa memeluk Neva. "Langsung ke rumah," perintahnya pada supir.
"Baik Tuan muda," jawab supir patuh.
Tak lama, mobil mereka sampai di halaman rumah keluarga Mahaeswara. Neva masih tidur dengan sangat nyenyak. Vano tidak tega untuk membangunkannya. Pada akhirnya, dia menggendong Neva masuk ke dalam rumah. Mama menyambut kedatangan mereka di ruang tengah dengan senang. Vano langsung memberi isyarat Mama Mahaeswara untuk jangan berisik.
"Dia tertidur?" tanya Mama Mahaeswara yang dijawab anggukan oleh Vano.
"Jangan tidur satu kamar," tegur Mama saat Vano menaiki tangga.
"Aku tidak akan macam-macam, Ma," jawab Vano masih terus melangkah menaiki tangga. Mama membuntutinya.
"Tetap saja, Mama khawatir jika kau khilaf. Banyak setan jika dua anak manusia lawan jenis bersama," ucap beliau berbisik takut membangunkan Neva.
"Aku mencintai dia, dan tidak akan merusaknya Mama," jawab Vano lagi. Dia bersikukuh membawa Neva ke kamarnya.
"Awas saja jika kau sampai khilaf Vano. Mama yang akan ngadakan pesta sunatan lagi untuk mu," ancam Mama Mahaeswara yang membuat Vano tertawa tanpa suara karena takut Neva terbangun.
Pada akhirnya, Mama mengizinkan Vano membawa Neva.
"De Vano, awas saja jika kau berani macam-macam," ancam Mama Mahaeswara lagi.
"Iya, Mama," jawab Vano. Dia masuk ke dalam kamar dan mama menutup pintunya. Dengan pelan dan hati-hati, ia merebahkan tubuh Neva di atas ranjangnya. Gadis itu sudah terbawa mimpi jauh, terbang tinggi mengudara. Vano memperhatikan wajah yang tertidur pulas itu dengan seksama. Jari telunjuknya mencolek hidung Neva pelan, tak ada reaksi. Dia melepaskan jaket yang ia pakai lalu mengganti bajunya. Ia menatap Neva, gadis ini masih memakai jaket tebal. Pelan, tangan Vano membuka kancing jaket Neva. Dia bermaksud untuk membantu Neva melepaskan jaketnya.
Sangat tidak nyaman jika tidak masih mengenakan jaket. Vano telah berhasil membuka dua kancing jaket, lalu tiga, empat, selesai. Selanjutnya, bagaimana caranya untuk melepas jaket itu dari tubuh Neva.
Beberapa menit, Vano hanya diam memperhatikan gadis itu. Kemudian, ia menunduk dan membuat usapan lembut di pipi Neva.
"Sayang, buka jaketmu dulu. Biar tidurmu nyaman," ucap Vano pelan. Neva mengangguk.
"Tapi aku sangat ngantuk, Ma," igau Neva. Vano tertawa terbahak-bahak tetapi tanpa suara. Dia semakin gemas. Dengan halus dan perhatian, dia akhirnya bisa membuka jaket Neva. Kini, gadis itu hanya tinggal mengenakan dres. Vano menaikan selimut dan menyelimutinya dengan hangat. Kemudian, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Neva. Matanya terpejam dengan pelan, tetapi kemudian terbuka lagi. Jantungnya berdetak tidak normal. Dia memejamkan matanya lagi dan mengambil nafasnya dengan dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan. Mencoba membuat jantungnya berdetak normal. Namun yang ada, jantungnya malah semakin tidak karuan. Dia memiringkan tubuhnya untuk menatap gadis yang sudah terbuai mimpi. Tidak, tidak ... tangannya dan jiwanya ingin menyentuh gadis itu.
Vano bertengkar sendiri dengan hatinya. Sentuh atau tidak? Hanya menyentuhnya saja, tidak ada yang salah. Bisik sebelah hatinya. Pada akhirnya, ia mengulurkan tangan untuk menyentuh pipi Neva. Kemudian, jemarinya seolah seperti magnet yang ingin terus disana. Mengusap pipi, lalu bibir Neva. Jiwanya berteriak, hawa panas merambat ke tubuhnya. Jarinya masih mengusap bibir Neva, lalu perlahan, jemari itu lebih turun kebawah.
Vano, Vano, Vano hentikan. Sebelah hatinya lagi berteriak. Dia segera menghentikan dan menarik tangannya yang hampir saja khilaf.
"Jangan bodoh, Vano," gumamnya. Dia segera beranjak dari tempat tidur dan membasuh wajahnya. Dan pada akhirnya, dia memutuskan untuk tidur di sofa.
__________________
Catatan Penulis π₯°
Jangan lupa like komen ya kawan tersayang π₯° Vote Vote Vote. Biar tambah semangaaaaaaaaattttttt. ππ Terima kasih temen-temen semua π₯°π Sukses selalu buat kalian.
Maaf kalau ada typo-typo.
Bersambung.
Vote jangan lupa ya, okey. πππ ilupyu full.