
Pukul 19.00 ketika Yuna sedang menyaksikan drama Korea di Tv, ia dikejutkan dengan gerbang yang terbuka. Mobil Leo melenggang masuk dan segera parkir di halaman. Yuna menajamkan matanya untuk melihat layar cctv. Itu sungguh Leo, dia tidak mimpi bukan? Ini baru tiga hari dan Leo sudah kembali. Yuna segera berlari dengan perasaan bahagia yang membuncah dalam hatinya. Kedua tangannya mengulur untuk segera meraih gagang pintu dan membukanya.
Seseorang berdiri di depan pintu dengan menutup wajahnya menggunakan buket bunga tulip lambang cinta yang abadi. Yuna tersenyum lebar melihat ini, tangannya terangkat dan dengan pelan dia mengambil buket bunga itu.
Adegan slow yang membuat jantungnya berdegup kencang. Wajah rupawan yang terus dia rindukan perlahan terlihat, wajah rupawan itu tersenyum menyapanya, memberi sedikit embun sejuk pada haus rasa rindunya. Yuna mengenggam buket bunga dengan perasaan haru. Ini... sungguh kejutan, dia tidak berfikir jika Leo akan pulang secepat ini. Hatinya bagai hujan yang sangat deras, hujan cinta dari seseorang yang sangat dia rindukan.
Dengan senyum, Leo merentangkan kedua tangannya, dan Yuna langsung menghambur ke dalam pelukannya. Leo memeluknya dengan erat. Ia menghembuskan nafas dengan perasaan lega karena musim merindu akan segera berlalu.
"Sayang, aku merindukan mu," ucapnya berbisik di telinga Yuna. Yuna mengangguk dalam pelukannya. "Aku segera menyelesaikan semuanya dan datang pada mu, entahlah aku tidak bisa jauh dari mu, Yuna. Aku ingin segera melewati batas rindu ini, dan memeluk mu dengan seluruh cinta ku. Sayang, aku mencintai mu."
Yuna memeluknya erat dengan perasaan haru dan setetes air mata kerinduan. Sungguh ia sangat bahagia karena Leo juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Rindu yang tak bertepi dan cinta yang tak terukur. Mereka berciuman di depan pintu dengan perasaan yang sangat indah, pertemuan yang sangat dinantikan. Leo mengangkat dan menggendongnya untuk masuk ke dalam. Dia menutup pintu dengan kakinya, kemudian menurunkan Yuna di sofa diruang tengah.
"Sayang, apa kau sudah makan?" Leo mengusap pipinya dengan lembut. Yuna menggeleng. "Ini sudah jam 19.00 kenapa kau belum makan?"
"Karena aku tahu, ketika kau disana, kau pasti tidak makan dengan benar," jawabnya.
"Kau bodoh, kenapa kau ikut-ikutan tidak makan dengan benar. Bagaimana jika kau sakit? Aku jauh dari mu, seharusnya kau lebih bisa menjaga dirimu. Aku laki-laki, itu berbeda dengan perempuan, jika aku bisa melewati malam tanpa makan, itu belum tentu dengan tubuh mu. Kenapa kau dengan sengaja tidak makan? Huh?? Aku akan memberi mu hukuman karena ini," Tuan dingin ini menjadi sangat cerewet.
"Bisakah kau diam dan memeluk ku saja?" jawab Yuna. Ia menatap mata Leo dengan penuh rindu. Leo membalas tatapan matanya dan langsung menariknya untuk lebih dekat dengannya. Ia mencium bibir Yuna. Menciumnya dengan sangat dalam. Bibir mereka saling bersentuhan dan membuat haus rindu itu bertambah haus, membuat api rindu itu semakin membara.
Leo menyandarkan Yuna di ujung sofa. Bibirnya yang basah mensyairkan rindu, tangannya yang hangat mempuisikan rindu, lidahnya yang lincah menari meliuk penuh rindu, nafasnya yang tergesa-gesa menyenandungkan rindu. Semua yang ada pada dirinya adalah rindu. Musim merindu ketika berjauhan kini akan segera terganti.
Kemudian, Leo membawa Yuna ke dalam kamar dan kembali menghujaninya ciuman dengan cinta yang tidak terbatas. Dia melupakan semuanya, semua yang ada di bumi, saat ini yang ada hanyalah dirinya dan sang pujaan hati. Dia ingin menyentuh semuanya, tidak ada yang boleh terlewati.
"Sayang...," dia berbisik dengan hembuskan nafasnya ditelinga Yuna. Suaranya menjadi berkarat dan dalam, terdengar lebih seksi dari apapun, terdengar lebih menggoda dari apapun. Mereka saling berpelukan dan tidak membiarkan apapun menghalangi tubuhnya, tubuh mereka saling bersentuhan penuh gairah. Bibirnya yang basah terus bersenandung diatas tubuh milik istrinya, ia membuat kecupan-kecupan merah tentang rindu dan cinta.
Yuna termanjakan dan meleleh dalam pemujaan rindu dari suaminya. Saat ini... yang ada hanyalah kamu dan aku menjadi satu, sesaat dalam surga keabadian.
Kemudian, Leo menggendongnya untuk masuk ke kamar mandi, ia menyabuninya dengan milyaran rindu yang masih ada dalam hatinya. Dan kembali menggendong Yuna untuk keluar dari kamar mandi.
Mereka sepakat untuk makan malam diluar. Leo duduk ditepi ranjang dan membuka ponselnya, dia lupa mengabari Dimas jika dia sudah tiba di Ibu Kota.
"Sayang...," Yuna memanggil tepat ketika Leo selesai mengirim pesan pada Dimas.
"Iya," Leo menjawab dan menaruh ponselnya di atas meja. Dia memperhatikan Yuna yang berdiri dan terlihat kesulitan menaikkan resleting bagian belakang bajunya. Bibir Leo melengkung dan tersenyum gemas, ia segera berdiri untuk membantunya. Tangannya mengulur dan menyisihkan rambut Yuna ke samping, kemudian tangannya memegang resleting pada baju Yuna. Pelan, dia menariknya ke bawah.
"Hei...," Yuna segera memprotesnya dan hanya sampai pada ucapan itu saja karena Leo lebih cepat membalik badannya dan mengunci bibirnya untuk tidak protes. Lidahnya sangat lincah bermain-main dan membuat Yuna terus diam dan hanya mampu bernafas dengan berat.
Baju yang belum terpasang sempurna perlahan tertanggal dari tubuh sang pemilik. Baju itu tergeletak begitu saja di lantai, sementara sang pemilik sudah berada dalam batas antara nyata dan khayalan. Dia sudah terbang bersama pujaan hatinya untuk menyebrangi batas rindu yang masih menggebu, ia sudah menyelami samudra pembatas rindu itu dan menghapus batas itu dengan penuh gairah.
Makan malam hanya menjadi wacana, pada kenyataannya mereka menghabiskan malam dengan saling berpelukan dan tidak ingin berjauhan sebentar pun.
_Pagi harinya.
Yuna terbangun dan masih dalam pelukan Leo. Ini tidak seperti biasanya, Leo biasanya selalu bangun lebih pagi darinya dan bahkan sampai sekarang Yuna tidak tahu, jam berapa Leo bangun pagi.
Yuna memperhatikan wajah tampan yang masih terpejam, dia masih sangat nyenyak, wajahnya sangat halus, dia tertidur seperti bayi. Yuna mengangkat tangannya dan menyentuh wajah yang dia rindukan tiga hari ini, dia tidak ingin membangunkannya. Lingkaran hitam di bawah mata Leo terlihat jelas, itu pasti selama tiga hari ini dia tidak tidur dengan benar.
"Sayang, kau sudah bangun," suara Leo membuat tangannya yang berada di wajah Leo segera menyingkir. Leo masih memejamkan matanya.
"Huum, apa aku membangunkan mu?" tanya Yuna dan di jawab gelengan kepala oleh Leo. Dia dengan manja membenamkan wajahnya di dada Yuna dan memeluknya. Tangan Yuna kembali terangkat dan mengusap rambut Leo dengan perhatian.
"Apa kau tidak tidur dengan benar selama di sana?" tanyanya.
"Aku bahkan hampir tidak tidur. Aku ingin menyelesaikan secepat mungkin dan segera datang pada mu," jawabnya dengan masih membenamkan wajahnya. Yuna menjadi sangat tersentuh, dia pasti melewati hari-harinya dengan sangat melelahkan.
"Kau pasti sangat lelah, jadwal satu minggu dan kau menyelesaikannya dalam tiga hari."
"Iya, sangat lelah. Jadi, kau harus memanjakan ku setiap menit Nyonya."
"Kau mengambil kesempatan dalam masalah ini, Big boss," Yuna memukul punggungnya pelan. Leo terkekeh dalam persembunyiannya.
"Sayang," suara Leo memanggil dengan menggoda.
"Hemm."
"Desahan mu sangat seksi, aku menyukainya."
"Leoo... kau brengsek." Yuna segera memukul punggung Leo dengan keras. "Aku akan membunuh mu jika kau berani mengungkitnya."
"Aku memuji mu sayang." Leo menjawab dan masih membenamkan wajahnya.
"Itu bukan memuji, itu membuat ku malu. Kau Tuan brengsek. Aku tidak akan memberi mu lagi, kau harus puasa selama satu bulan."
"Apa?" Leo mengangkat wajahnya dan menatap Yuna. "Sayang...," dia memasang wajah yang menggemaskan, ia mencoba merayu. "Ampuni aku, aku hanya memuji mu."
"Tutup mulut mu Leo..." Yuna meleparkan bantal pada wajah Leo. Dia sangat malu mendengar itu. Dia segera berdiri. "Ingat kau puasa satu bulan," ucapnya dan beranjak pergi meninggalkan Leo.
"Sayang, itu sungguh kejam," Leo sedikit berteriak. Yuna keluar kamar dengan senyum tertahan di bibirnya.